Perkara bani Quraidzah

sumber : Ovie (swaramuslim)




Peristiwa yang menimpa Bani Qurayzhah selalu menjadi sorotan yang dilakukan oleh kaum orientalis yang selalu menyudutkan Muhammad, dan lucunya tanpa diketahui apa latar belakang yang menyebabkan peristiwa juga menjadi cemoohan para netter non muslim di forum ini.
Berikut, saya mencoba menceritakan apa yang saya ketahui dari peristiwa tersebut yang saya kutip dari buku Muhammad: His Life Based on The Earlist Source, Martin Lings, The Islamic Texts Society, Cambridge, United Kingdom, 1991

Setelah Nabi Muhammad hijrah dan menetap di Madinah, beliau membuat sebuah perjanjian yang saling menguntungkan antara pengikutnya dengan kaum Yahudi di Madinah.Kaum muslim dan Yahudi memiliki status yang sama. Jika seorang Yahudi bersalah, maka ia harus diluruskan baik oleh muslim maupun Yahudi. Demikian pula sebaliknya. Ketika berperang melawan kaum musyrik, mereka harus bersatu padu, untuk perdamaian, baik Yahudi maupun muslim tidak dibeda-bedakan.

Kaum yahudi menerima perjanjian ini karena alasan politis. Sejauh ini, Nabi Muhammad menjadi orang yang paling berkuasa di Madinah dan kaum Yahudi tidak mempunyai pilihan selain menerimanya. Sebagian dari kaum Yahudi ada yang mau menerima bahwa Tuhan mengutus Nabi yang bukan dari kaum Yahudi, namun dilain pihak diantara mereka pun ada yang berpotensi sebagai orang-orang munafik dan pada masa2 inilah turun surah al-baqarah dan pada ayat 109 disebutkan sbb:

”Sebagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiransetelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri”

Kaum Yahudi Bani Nadhir yang terusir dan bermukim di Khaybar ingin merebut kembali tanah mereka yang hilang. Harapan mereka terpusat pada persiapan kaum Quraysy yang akan melakukan penyerangan kepada Nabi Muhammad dan pengikutnya pada akhir tahun 5 H.

Sejak lama kaum Yahudi tidak merasa terikat dengan perjanjian yang mereka buat dengan Nabi Muhammad dan mereka justru memihak kepada kaum musyrik daripada kaum muslim yang menyembah Tuhan Yang Esa. Setiap serangan kaum Qurays dari Mekah, maka mereka akan diperkuat oleh pasukan Yahudi pada saat-saat genting. Sikap musuh dalam selimut. Di depan Nabi berkata lain tapi di belakang Nabi, pemimpin mereka selalu memotivasi kaum Qurays untuk menebus kehormatan mereka dan membalas dendam kepada Nabi.

Kemudian nabi Muhammad pada saat itu baru saja menerima perintah:

”Dan Jika kamu mengetahui penghianatan suatu kaum, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-oran yang berkhianat” (QS.8:58)

Puncaknya salah seorang pemimpin mereka Huyayy menemui Abu Sofyan pemimpin Qurays untuk bersekongkol menangkap Nabi Muhammad. Kedua sekutu ini mulai membuat beberapa rencana dalam rangka penyerangan ke Madinah tsb. Huyayy juga menemui pemimpin Bani Qurayzhah yang bentengnya memblokir jalan ke Madinah dari arah Tenggara, Huyayy meyakinkan Abu Sofyan bahwa ia akan dengan mudahnya membujuk Bani Qurayzhah untuk melanggar perjanjian dengan Muhammad.
Seperti yang telah diperkirakan oleh Huyayy, akhirnya pertahanan Ka’b pemimpin Bani Qurayzhah melemah dan ini diikuti oleh pengikutnya, sehingga akhirnya mereka berbalik mendukung Qurays dan sekutunya.

Penghianatan Bani Qurayzhah atas perjanjian mereka dengan Nabi tak dapat disembunyikan lagi. Di antara para Sahabat, Umar-lah yang pertama kali mendengar kaum Yahudi kini telah menjadi musuh dalam selimut. Umar menyampaikan kepada Nabi dan Beliau mengirim utusan kepada Bani Qurayzhah untuk memperingatkan Bani Qurayzhah dan agar kembali kepada perjanjian itu sebelum semuanya terlambat. Tapi Bani Qurayzhah menampik tawaran tersebut. Mereka mempunyai keyakinan bahwa koalisi Huyayy dan Abu Sofyan bisa mengalahkan Nabi Muhammad dan mereka akan mendapat fasilitas dari koalisi tersebut, namun yang terjadi malah sebaliknya. Mereka turut serta lebih menginginkan harta rampasan daripada permusuhan kepada kaum muslimdan keinginan yang mendorong mereka datang ke Yastrib telah terbukti gagal total. Di anatara para penyerang itupun saling menyalahkan dan saling tidak percaya. Ekspedisi ini jelas sekali tidak membawa hasil.

Selama tiga hari setelah shalat wajib, Nabi Muhammad memanjatkan doa, “Ya Allah, Yang menurunkan Kitab, Yang Paling Cepat melakukan perhitungan! Hancurkan persekutuan menjadi perpecahan, ubahlah mereka kepada permusuhan dan hancurkanlah mereka. Dan ketika semuanya telah berakhir, turunlah ayat berikut ini: QS.33:9, sbb:

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni`mat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya [1205]. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.

Perkara Bani Qurayzhah inipun diputuskan juga tidak terlepas dari keputusan Bani Qurayzhah yang menginginkan dibunuh daripada membayar upeti dan sekutu mereka ‘ Suku Aws, mengirim deputasi kepada Nabi, meminta beliau agar bermurah hati, akhirnya Nabi pun berkata:” Apakah akan memuaskan kalian, hai kaum Aws, Jika seorang dari kalian sendiri memberikan keputusan tentang mereka’? Mereka mengiyakan, maka beliau mengirimkan pesan kepada pemimpin mereka, Sa’d ibn Mu’adz.

Sa’d Merupakan salah serang utusan bagi Qurayzhah, ia lelaki terhormat, tampan dan berwibawa. Nabi mempersilahkan Sa’d yang memutuskan perkara Bani Qurayzhah dan Sa’d pun berkata: Baiklah aku akan memutuskan,” kata Sa’d, bahwa orang-orang itu harus dibunuh , harta benda mereka dibagi-bagi, dan kaum wanita dan anak-anak dijadikan tawanan”. Keputusan Sa’d , tidak diragukan, ditujukan terutama untuk melawan pengkhianatan Bani Qurayzhah, namun hal ini berkaitan dengan hukum Yahudi tentang perlakukan terhadap kota yang dikepung, meskipun jika terdapat orang-orang yang tidak bersalah.

Keputusan mengeksekusi para pengkhianat Bani Qurayzhah tidak bertentangan karena sesuai dg instruksi dalam alqur’an Qs 8:58, harus dikembalikan dengan cara mereka, bagaimana cara mereka???

Hukum Yahudi tentang perlakuan terhadap kota yang dikepung, meskipun jika terdapat orang-orang yang tidak bersalah:

Ketika Tuhanmu telah menyerahkannya kepada tanganmu, engkau harus membunuh setiap lelaki dengan pedang; namun bagi para wanita dan anak-anak, dan harta benda dan semua yang terdapat di dalam kota; sekalipun semua dari rampasan, harus engkau ambil menjadi milikmu. Deuteronomy 20:12

Huyay sendiri pun berkata seraya menoleh ke Nabi ”Aku tidak mengutuk diriku sendiri karena telah menentangmu, namun siapapun yang mengabaikan Tuhan, iapun akan diabaikan pula.” Kemudian ia menuju rekan-rekannya dan berkata, “Perintah Tuhan tidak mungkin salah-perintah tertulis, keputusan, dan pembantaian yang telah Tuhan tetapkan di dalam kitabnya terhadap keturunan Israel.” Dan akhirnya ia pun dipenggal.

Kesimpulan, perkara Bani Qurayzhah ini tidak terjadi begitu saja, keputusan mengeksekusi mereka juga atas keputusan sekutu mereka pemimpin suku Aws, bukan Nabi Muhammad, dan mereka membenarkan perintah tertulis dalam kitab mereka.

0 comments: