Antek FFI bertanya Muslim menjawab (6)

Antek FFI wrote:

Apakah Qur’an itu asli/murni?
http://www.harvardhouse.com/quran_purity.htm
Is the Qur'an Pure? Why did Muhammad's close companions write unique versions of the Qur'an?

--------------------------------------------------------------------------------

Kenapa para sahabat dekat Muhammad masing2 memiliki versi Quran tersendiri ? Dan kenapa versi2 tsb kemudian dibakar?

Ketika Muhammad mati ditahun 632, Quran belum dicatat dan dikumpulkan menjadi buku tapi hanya eksis dlm bentuk hafalan dlm benak muslim. Ini khususnya dilakukan oleh orang2 yg kenal Muhammad secara langsung. Bisa jadi beberapa ayat ditulis pada tulang, batu atau kulit sebelum Muhammad mati. Tidak lama kemudian, muslim menetapkan perlunya mengumpulkan Quran dalam sebuah buku.

Quran yg pertama diselesaikan sekitar 634. Penting sekali diketahui bahwa sebuah proses politislah yg akhirnya menghasilkan Quran. Ditahun 633, peperangan mengakibatkan 700 muslim terbunuh. Teman dekat Muhammad (Salim) yg hafal banyak isi Quran juga tewas. Apa yg akan terjadi jika semua pengikut terdekat Muhammad terbunuh juga? Oleh karena itu Muslim saat itu merasa perlu utk mencatatkan dan mempertahankan kemurnian Quran persis seperti yg telah diucapkan Muhammad.

1) Versi Abu Bakr/Usman/Naskah Hafsah

Jadi disusunlah Quran pertama ditahun 634 selama pemerintahan Abu Bakr. Quran ini dikenal sebagai naskah Hafsah (karena berada di tangan Hafsah). Tapi 33 thn kemudian, pd th 667M manuskrip awal yg penting ini akhirnya juga dihancurkan oleh para penguasa muslim saat itu. KENAPA ?

Hafsah adalah salah satu istri Muhammad. Dia merawat Quran orisinil ini hingga ia meninggal ditahun 667. Pemimpin2 muslim ingin menghancurkan Quran ini sebelum Hafsah meninggal. Tapi dia menolak menyerahkan naskah tsb utk dibakar. Dia berhasil mempertahankan naskah tsb hingga kematiannya [rujukan Al-Masahif 24].

JADI : kenapa Hafsah tidak ingin naskah Quran ini dibakar? Dan apa yg menyebabkan perubahan drastis 33 thn kemudian hingga mengakibatkan penghancuran Quran orisinil? Kenapa naskah Hafsah tidak dipelihara lagi sejak pembuatannya (th 634) hanya dua tahun setelah Muhammad mati (632)?

Masalah2 Quran mulai muncul selama pemimpin politik Islam ke-3, yi Usman (644 s/d 656). Kelihatannya, berbareng dg menyebarnya kepercayaan islam melalui penaklukan militer dibanyak daerah, para tentara membaca Quran dg versi yg berbeda-beda. Tentara2 ini bertanya-tanya, “Apa betul Quran ini sungguh2 murni, sama seperti apa yg dipercaya dan diajarkan Muhammad ?”

Hadis yg paling dipercaya disebut Sahih Bukhari. Dalam Volume 6 Buku 61, Nomor 510, diceritakan mengenai tentara muslim yg berdebat mengenai versi2 Quran yg berbeda :
“Hudhaifa takut karena cerita yg berbeda-beda dari Quran, jadi dia tanya Usman, “Oh pemimpin kaum beriman! Selamatkan bangsa ini sebelum mereka berbeda pendapat mengenai Quran seperti yg dilakukan Yahudi dan Kristen dulu.”

Jawabannya, Kalifah Usman mengirim pesan pada Hafsah :
“Serahkan naskah Quran itu shg kita bisa mengumpulkan materi2 Quran dari salinannya yg sempurna dan naskah itu akan dikembalikan lagi padamu.” Hafsah mengirim salinannya ke Usman. Kalifah Usman menyuruh orang yg mengenal Quran utk menyusunnya kembali. Setelah selesai, naskah Hafsah dikembalikan pada Hafsah.

Setelah mempunyai versi baru ini, Usman menyuruh semua Quran lain dibakar. Usman mengirim kesetiap provinsi Islam masing2 satu salinan utk mereka miliki/salin dan memerintahkan semua Quran lain, baik yg tertulis dalam naskah sepotong2 maupun berupa salinan lengkap, utk dibakar. KENAPA harus dibakar ? Jawabannya ada pada pernyataan awal: Hudhaifa takut akan beredarnya versi Quran yg berbeda-beda. Bagi Hudhaifa, kesatuan Quran berarti kesatuan semua muslim. Jika tentara muslim tidak bersatu, islam akan jatuh.


Muslim menjawab :

Banyak usaha orientalis untuk memfitnah islam dengan mencari-cari kesalaha Qur'an, namun semua itu terbantahkan berkat sangat baiknya sistem pencatatan hadist seputar peristiwa yang terjadi khususnya pada masa penyusunan Qur'an di masa khalifahur rasyidin.

Kompilasi Pertama Al-Quran


Pada perang Yamâmah (12 H) yang dilancarkan untuk menumpas Musailamah al-Kadzdzâb, banyak huffâz yang syahid. ‘Umar ra. dengan jeli melihat bahaya apabila huffâz terus berguguran. Ia kemudian menyampaikan pendapatnya kepada Abû Bakr untuk mengumpulkan Al-Quran. Peristiwa bersejarah ini terekam dalam riwayat Bukhârî:



Zayd ibn Tsâbit berkata: “Aku menerima surat dari Abû Bakr tentang peperangan Yamamah, sedang Umar ibn Al-Khattâb bersamanya. Abû Bakr menulis: ‘Sesungguhnya ‘Umar mendatangiku dan berkata, ‘Sungguh perang Yamamah telah menelan korban banyak dari huffâz, dan aku khawatir perang-perang lain akan menimbulkan korban huffâz yang banyak pula hingga banyak bagian al-Quran akan hilang. Maka aku mengusulkan agar engkau mengumpulkan al-Quran’’ Aku berkata pada ‘Umar, ‘Bagaimana mungkin kita melakukan suatu perkara yang tak pernah diperbuat Rasulullah Saw.?’ ‘Umar menjawab, ‘Demi Allah, ini perkara yang baik.’ Kemudian ‘Umar membujukku hingga Allah Swt melapangkan dadaku untuk menerima dan menyetujui pendapatnya.’’” Zayd meneruskan, “Abû Bakr berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya engkau pemuda yang cerdas dan kami tak mencelamu, engkau telah menuliskan wahyu bagi Rasulullah Saw., maka telusurilah al-Quran lalu kumpulkan. Demi Allah, apabila mereka menuntutku untuk memindahkan sebuah gunung tidaklah lebih berat bagiku daripada mengumpulkan al-Quran!’ Aku berkata, ‘Bagaimana mungkin kalian memperbuat sesuatu yang tak pernah dilakukan Rasulullah Saw.?’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, ini perkara yang baik.’ Kemudian Abû Bakr membujukku hingga Allah melapangkan dadaku sebagaimana Abû Bakr dan ‘Umar. Lalu aku menelusuri dan mengumpulkan Al-Quran dari pelepah Kurma, bebatuan dan hafalan. Hingga aku mendapatkan akhir surat At-Taubah pada Abû Khuzaymah yang tidak aku dapatkan dari sahabat selainnya ‘laqad jâ’akum rasûlun min anfusikum ‘azîzun ‘alayhi mâ ‘anittum’ sampai akhir surat. Kemudian suhuf tersebut berada di tangan Abû Bakr hingga wafat, lalu ‘Umar, dan akhirnya berpindah kepada Hafshah.”

Friedrich Schwally mengatakan bahwa kompilasi al-Quran pada periode Abû Bakr adalah fiktif. Menurutnya, riwayat di atas palsu karena jumlah huffâz yang meninggal pada perang itu sebenarnya hanya dua orang. Selain itu al-Quran sudah tertulis sejak masa Nabi Saw., sehingga syahidnya huffâz di perang Yamâmah tidak bisa dijadikan alasan.

Al-Thabari menyebutkan bahwa yang syahid pada hari itu berjumlah 300 orang. Sementara Ibnu Katsîr berpendapat 450 orang. Sedang menurut riwayat lain 70 orang. Walaupun berbeda, namun secara umum dapat kita simpulkan bahwa jumlah huffâz yang syahid memang banyak. Mengenai alasan kedua, al-Quran memang sudah tertulis, namun belum tersusun rapi. Kondisi demikian tidak menafikan urgensi sebuah mushaf resmi yang mempunyai otoritas. Apalagi jika dihadapkan dengan status shahîh hadits di atas, maka dapat dikatakan bahwa alasan Schwally tidak berdasar.

Dari riwayat Zayd ibn Tsâbit tadi, setidaknya kita bisa mengambil beberapa poin:

Pertama, motivasi pembukuan al-Quran di zaman Abû Bakr adalah kekhawatiran akan hilangnya al-Quran apabila huffâz terus berguguran seperti pada perang Yamamah.

Kedua, secara eksplisit hadits tersebut menyatakan bahwa ‘Umar ra. adalah orang yang pertama kali mengusulkan pembukuan al-Quran.

Ketiga, tidak didapatkannya dua ayat terakhir surat Barâ’ah –sebagaimana tersurat dalam hadits Zayd ibn Tsâbit- kecuali dari Abû Khuzaymah bukan berarti ayat tersebut tidak mutawatir. Al-Quran telah dihafal secara sempurna oleh banyak sahabat, tak terkecuali Zayd. Namun Zayd bersikap hati-hati dalam mengumpulkan al-Quran dengan memastikan wujud tulisan sebagai bukti penguat eksistensi sebuah ayat.

Keempat, bagian akhir hadits menunjukkan bahwa mushaf pertama tersimpan di rumah Abû Bakr, lalu diserahkan pada ‘Umar, kemudian dipegang oleh Hafshah, dan pada akhirnya digunakan oleh ‘Utsmân untuk menjadi rujukan utama kodifikasi.



tentang mushaf utsman

Menanggapi kanonisasi al-Quran oleh khalifah ‘Utsmân, Arthur Jeffery (seorang orientalis asal Australia) menganggapnya tidak lepas dari alasan-alasan politis. Ia menyoroti keputusan ‘Utsmân untuk membakar mushaf selain mushafnya. Menurut Jeffery, ‘Utsmân akan mendapat keuntungan-keuntungan politis di balik usaha ini.

Namun tafsiran Jeffery ternyata salah.

Sebab kodifikasi al-Quran di zaman ini dipicu oleh perbedaan bacaan yang tajam antar penduduk Iraq. Dalam shahîhnya Imam Bukhârî meriwayatkan:


“Hudzaifah ibn al-Yamân datang kepada ‘Utsmân. Ia memimpin penduduk Syam dan Iraq dalam penaklukan Armenia dan Azerbaijan. Ia merasa cemas dengan pertengkaran mereka dalam qirâ’ah. Maka Hudzaifah berkata kepada ‘Utsmân: “Wahai pemimpin kaum Muslimin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka bertengkar mengenai kitabnya sebagaimana yang telah terjadi atas Yahudi dan Nasrani.” Selanjutnya ‘Utsmân mengirim utusan kepada Hafshah dengan pesan: “Kirimkanlah kepada kami shuhuf (lembaran-lembaran). Kami akan menyalinnya kemudian akan kami kembalikan kepadamu.” Selanjutnya Hafshah mengirimkan mushaf kepada utsman yang kemudian memerintahkan Zayd ibn Tsâbit, ‘Abdullâh ibn al-Zubayr, Sa‘îd ibn al-‘Âsh dan ‘Abdurrahmân ibn al-Hârits untuk menyalinnnya ke dalam beberapa mushaf. ‘Utsmân berkata kepada kelompok itu: “Jika kalian berbeda pendapat dengan Zayd mengenai al-Quran, maka tulislah dalam dialek Quraisy, karena al-Quran diturunkan dalam bahasa mereka.” Selanjutnya mereka mengerjakan, hingga setelah menyalin shuhuf tersebut ke dalam mushaf-mushaf ‘Utsmâni, mereka mengembalikannya kepada Hafsah. Setelah itu ‘Utsmân mengirim mushaf yang telah mereka salin ke setiap daerah dan ia memerintahkan agar selain al-Quran, seluruh lembaran dan mushaf dibakar.”


Dari riwayat tersebut diketahui bahwasanya ‘Utsmân telah meminjam mushaf Abû Bakr sebagai rujukan pertama. Sehingga mata rantai bacaan mushaf ‘Utsmâni tidak terputus dan dapat dijamin kesahihannya.

Bentuk rasm mushaf ‘Utsmâni masih tidak berharakat dan tidak ber-syakl sehingga memberikan peluang bagi satu kalimat untuk dibaca dengan dua qirâ’ah atau lebih. Seperti : إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينواbisa saja dibaca dengan إن جاءكم فاسق بنبإ فتثبتوا . Bentuk kalimat yang demikian ditulis dalam satu mushaf. Sedang bentuk kalimat yang tidak memungkinkan untuk dibaca dengan dua qirâ’ah ditulis dalam mushaf yang berbeda. Misalnya: dalam satu qirâ’ah dibaca ووصى بها إبراهيم بنيه ويعقوب sedang dalam qirâ’ah lain dibaca وأوصى بها إبراهيم بنيه ويعقوب , maka keduanya ditulis dalam mushaf yang berbeda. Dengan metode ini, praktis keseluruhan qirâ’ah mutawatir sudah terkandung di dalamnya.

Demi kevalidan qirâ’ah, ‘Utsmân ra. berinisiatif untuk mengirimkan seorang muqri’ (pembaca) yang sudah diakui kesahihan qirâ’ahnya bersama dengan setiap mushaf. Zaid ibn Tsabit muqri’ mushaf Madinah, ‘Abdullâh ibn Sâ’ib muqri’ mushaf Makkah, al-Mughîrah ibn Syihâb muqri' mushaf Syam, Abû ‘Abdirrahmân al-Salmâ muqri’ mushaf Kufah, dan ‘Âmir ibn ‘Abdi’l Qays muqri’ mushaf Basrah.

Untuk mengantisipasi perbedaan bacaan yang mungkin akan terjadi di kemudian hari, ‘Utsmân memerintahkan untuk membakar mushaf-mushaf selain mushaf ‘Utsmâni. Pada mulanya, ‘Abdullâh ibn Mas‘ûd dan Ubay ibn Ka‘b enggan membakar mushafnya, akan tetapi akhirnya mereka menerima pendapat ‘Utsmân lalu membakarnya.

Secara umum, keputusan ‘Utsmân sekitar al-Quran mendapat persetujuan dari para sahabat. Mengenai pembakaran mushaf selain ‘Utsmâni, ‘Ali ibn Abî Thâlib sendiri mengemukakan persetujuannya dengan keputusan tersebut, “Jika saya berada dalam posisi ‘Utsmân, maka saya akan melakukan hal yang serupa.”

Antek FFI menulis


2) Versi2 Abdullah Ibn Mas’ud, Salim, Ubayy B. Ka’ab & Muadh

Sumber2 muslim melaporkan bahwa paling sedikit ada empat versi berbeda dari Quran sebelum perintah pembakaran dititahkan. (rujukan Al-Tamhid 2, 247).

Empat versi tsb ditulis oleh orang2 yg kenal langsung Muhammad. Tiap orang ini membuat versi unik Quran mereka sendiri. Berdasarkan sumber2 muslim, perbedaannya begitu serius hingga menyebabkan perpecahan diantara muslim. K. al Masahif melaporkan bahwa perbedaannya begitu serius hingga bisa membuat satu kelompok muslim menuduh kelompok lain murtad.

Selama pemerintahan Usman, guru2 mengajar bacaan2 pada murid2nya. Waktu para murid2 itu bertemu dan dan mereka saling berdebat mengenai ajaran gurunya, mereka melaporkan perbedaan2 dari ajaran guru2 mereka. Para guru membela bacaannya sendiri, menyalahkan pihak lain sebagai musyrik. (Abu Bakr ‘Abdullah b. abi Da’ud, “K. al Masahif).

Jadi sebuah keputusan politik dibuat agar hanya ada satu versi Quran. Hal ini tidak diterima dg baik oleh orang2 pembuat versi unik mereka sendiri. Siapa saja para pembuat Quran unik ini?

Sumber muslim mengungkapkan adanya sebagian dari orang2 terpilih yg dikenal telah membuat versi Unik Quran :
Kudengar sang nabi berkata, “pelajarilah pengajian Quran dari empat orang:
(1) Abdullah Ibn Mas’ud,
(2) Salim (yg terbunuh dalam perang th 633), budak yg dibebaskan oleh Abu Hudhaifa,
(3) Ubayy B. Ka’ab dan
(4) Muadh bin Jabal.” (Sahih Bukhari, Volume 5, Book 58, nomor 150)


Mereka itulah segelintir orang terpilih yg dekat dg Muhammad yg dianggap hapal Quran dan membuat koleksi mereka sendiri2. Versi2 Quran ini mulai disebarluaskan. Ini sebabnya kenapa para tentara muslim saling berdebat dan menuduh sesama Muslim = murtad.

Setelah Quran ‘resmi’ dan perintah utk membakar semua versi lain dikeluarkan, mulailah timbul keresahan. Informasi berikut dari sumber2 Muslim mungkin penting utk mempelajari orang2 yg benar2 kenal langsung Muhammad. Mari kita mulai dg Mas’ud, yg diminta langsung utk membakar Quran versi pribadinya.

“Bagaimana mungkin kau memerintahkanku utk mengkaji tulisan Zaid, sedangkan aku bisa mengkaji sekitar 70 surat yg langsung berasal dari mulut nabi ?” “Apakah aku,” pinta Abdullah, “harus mengabaikan apa yg kudapat langsung dari mulut sang nabi?” (Masahif" by Ibn abi Daud, 824-897 AD, pp. 12, 14).

Apakah Mas’ud percaya bahwa Qurannya murni shg dia menolak utk membakar versinya sendiri ?

Mas’ud adalah teman dekat dan pembantu pribadi Muhammad. Sang Nabi sendiri yg mengajarkan Quran pada Mas’ud. Karena kedekatannya dg Muhammad, Mas’ud punya keyakinan bahwa dia memenuhi syarat utk membuat Quran versinya sendiri.

Mas’ud, pindah ke Kufa-Irak, dimana dia menyelesaikan versi Qurannya (belakangan disebut dg naskah Kufan). Quran unik yg dibuat Mas’ud diselesaikan bertahun2 setelah dibuatnya naskah aslinya di th 634 yg dipegang Hafsah. TAPI Quran versi Mas’ud ini tidak memiliki bab 1, 113 dan 114 yg ada pada Quran ‘resmi’ sekarang. JADI apakah Quran jaman sekarang persis sama dgn Quran orisinal tsb ?

Quran unik lain dibuat oleh Ubayy B. Ka’ab. Dia juga teman dekat & sekretaris Muhammad. Ubayy dapat menghapal banyak ayat Quran yg dia pelajari dari Muhammad sendiri. TAPI para ilmuwan menemukan bahwa versi Ubayy berbeda dari versi ‘resmi’. Ada dua bab tambahan (berjudul: Surat Al-Khal dan Surat Al-Afd). Karena Ubayy belajar Quran dari nabi Muhammad, kenapa Quran ‘resmi’ tidak berisi dua bab tambahan tsb?

Ubayy mati semasa pemerintahan Umar, yi sebelum beredarnya Quran ‘resmi’ dibuat Usman. Oleh karena itu, Ubayy tidak menyaksikan versinya dibakar. Karena Ubayy membuat versi Qurannya tersendiri yg diakuinya langsung dari mulut Muhammad, bgm kira2 pendapatnya ttg Quran versi Mas’ud yg tidak ingin ia serahkan utk dibakar ?

Karena keputusan Usman utk membuat Quran ‘resmi’, Quran versi Ubayy dibakar. JADI, apakah Quran sekarang itu murni ?

3) Versi Zaid ibn Thabit

Quran ‘resmi’ saat ini datang dari Zaid ibn Thabit (teman Abu Bakr), yg merupakan anggota termuda dari para penulis Quran. Karena usianya yg muda, Zaid hidup lebih lama dari orang2 yg lebih tua yg pernah bersama-sama Muhammad. Tapi, akhirnya versi Quran dari Zaidlah yg terpilih oleh Usman sebagai Versi ‘Resmi’. [Mungkin versi Zaid ini mirip dgn naskah Hafzah ?] Ini sama sekali tidak disukai oleh Muslim2 lain yg memiliki versi Quran mereka masing.


Muslim Menjawab :

Pada zaman Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu pada tahun dua puluh lima Hijriyah. Sebabnya adalah perbedaan kaum muslimin pada dialek bacaan Al-Qur’an sesuai dengan perbedaan mushaf-mushaf yang berada di tangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Hal itu dikhawatirkan akan menjadi fitnah, maka Utsman Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf tersebut menjadi satu mushaf sehingga kaum muslimin tidak berbeda bacaannya kemudian bertengkar pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akhirnya berpecah belah.

Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan, bahwasanya Hudzaifah Ibnu Yaman Radhiyallahu ‘anhu datang menghadap Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu dari perang pembebasan Armenia dan Azerbaijan. Dia khawatir melihat perbedaaan mereka pada dialek bacaan Al-Qur’an, dia katakan : “Wahai Amirul Mukminin, selamtakanlah umat ini sebelum mereka berpecah belah pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti perpecahan kaum Yahudi dan Nasrani!” Utsman lalu mengutus seseorang kepada Hafsah Radhiyallahu ‘anhuma : “Kirimkan kepada kami mushaf yang engkau pegang agar kami gantikan mushaf-mushaf yang ada dengannya kemudian akan kami kembalikan kepadamu!”, Hafshah lalu mengirimkan mushaf tersebut.

Kemudian Utsman memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Az-Zubair, Sa’id Ibnul Ash dan Abdurrahman Ibnul Harits Ibn Hisyam Radhiyallahu ‘anhum untuk menuliskannya kembali dan memperbanyaknya. Zaid Ibn Tsabit berasal dari kaum Anshar sementara tiga orang yang lain berasal dari Quraisy. Utsman mengatakan kepada ketiganya : “Jika kalian berbeda bacaan dengan Zaid Ibn Tsabit pada sebagian ayat Al-Qur’an, maka tuliskanlah dengan dialek Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan dialek tersebut!”, merekapun lalu mengerjakannya dan setelah selesai, Utsman mengembalikan mushaf itu kepada Hafshah dan mengirimkan hasil pekerjaan tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam serta memerintahkan untuk membakar naskah mushaf Al-Qur’an selainnya.

Utsman Radhiyallahu ‘anhu melakukan hal ini setelah meminta pendapat kepada para sahabat Radhiyalahu ‘anhum yang lain sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia mengatakan : “Demi Allah, tidaklah seseorang melakukan apa yang dilakukan pada mushaf-mushaf Al-Qur’an selain harus meminta pendapat kami semuanya”, Utsman mengatakan : “Aku berpendapat sebaiknya kita mengumpulkan manusia hanya pada satu Mushaf saja sehingga tidak terjadi perpecahan dan perbedaan”. Kami menjawab : “Alangkah baiknya pendapatmu itu”.

Mush’ab Ibn Sa’ad mengatakan : “Aku melihat orang banyak ketika Utsman membakah mushaf-mushaf yang ada, merekapun keheranan melihatnya”, atau dia katakan : “Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya, hal itu adalah termasuk nilai positif bagi Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu yang disepakati oleh kaum muslimin seluruhnya. Hal itu adalah penyempurnaan dari pengumpulan yang dilakukan Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu.

Perbedaan antara pengumpulan yang dilakukan Utsman dan pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar Radhiyallahu anhuma adalah : Tujuan dari pengumpulan Al-Qur’an di zaman Abu Bakar adalah menuliskan dan mengumpulkan keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an dalam satu mushaf agar tidak tercecer dan tidak hilang tanpa membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf ; hal itu dikarenakan belih terlihat pengaruh dari perbedaan dialek bacaan yang mengharuskannya membawa mereka untuk bersatu pada satu mushaf Al-Qur’an saja.

Sedangkan tujuan dari pengumpulan Al-Qur’an di zaman Utsman Radhiyallahu ‘anhu adalah : Mengumpulkan dan menuliskan Al-Qur’an dalam satu mushaf dengan satu dialek bacaan dan membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf Al-Qur’an karena timbulnya pengaruh yang mengkhawatirkan pada perbedaan dialek bacaan Al-Qur’an.

Hasil yang didapatkan dari pengumpulan ini terlihat dengan timbulnya kemaslahatan yang besar di tengah-tengah kaum muslimin, di antaranya : Persatuan dan kesatuan, kesepakatan bersama dan saling berkasih sayang. Kemudian mudharat yang besarpun bisa dihindari yang di antaranya adalah : Perpecahan umat, perbedaan keyakinan, tersebar luasnya kebencian dan permusuhan.



Sejarah mencatat setidaknya ada empat orang sahabat yang diberi otoritas langsung oleh Rasulullah SAW untuk menuliskan wahyu yang diturunkan dengan di diektekan secara langsung oleh Rasulullah SAW.

"Dari Qatadah ia berkata, saya bertanya kepada Anas Ibnu Malik : "Siapa yang mengumpulkan Alquran pada zaman nabi ?, dia berkata : " empat orang, mereka semua dari kaum anshar : Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zayd. (Bukhari, Kitab Fada’ilu’l-Qur’an)

Beberapa orang mengunjungi Zaid bin Tsabit, dan memintanya untuk menceritakan beberapa cerita mengenai Rasulullah. Dia menjawab : " Saya adalah tetangga Rasulullah Saw, dan ketika wahyu datang kepadanya dia memanggilku dan aku datang kepadanya dan aku menuliskannya (wahyu tersebut) untuknya .(Tirmidhi, Mishkat al-Masabih, No. 5823)


Disamping itu banyak sahabat yang juga , menulis sendiri apa yang dia dapat dari Rasulullah SAW.

Rasulullah Saw ketika di madinah mempunyai 48 penulis yang bertugas menulis untuknya (M.M.Azami, Kuttab al-Nabi,Beirut, 1974)

"Dan berkata kepada kami Yahya bin yahya Attamiimy ia mengatakan saya belajar dari malik dari Zaid bin Aslam dar al-Qa 'qaa' bin Hakim dari Abi Yunus pembantu Aisyah dia mengatakan : Aisyah menyuruhku menulis untuknya mushaf dan ia mengatakan jika sudah sampai pada ayat ini maka panggilah saya "Jagalah oleh kalian Sholat-sholat kalian dan shalat pertengahan", maka ketika sudah sampai pada ayat ini aku memanggilnya (Aisyah) dan ia mendiktekannya kepadaku "Jagalah oleh kalian shalat shalat kalian dan shalat pertengahan serta shalat ashar dan berdirilah dengan khusyu", Aisyah mengatakan saya mendengarnya dari Rasulullah SAW"(HR. Muslim)

Penulisan Quran juga tidak berlangsung lama berselang setelah wahyu turun tapi segera Rasul menyuruh untuk menuliskannya, ini untuk menjaga orisinalitas Quran itu sendiri.

"Dari Ubaidullah kepada kami dari musa dari israil dari abi ishaq dari al barraa' ia mengatakan Ketika turun ayat "Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri dari para mukmin dengan mereka yang berjihad dijalan Allah", nabi SAW berkata panggilkan untukku Zaid dengan membawa batu tulis dan tinta serta tulang, atau tulang dan tinta kemudian berkata : Tulislah "Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri dari para mukmin dengan mereka yang berjihad dijalan Allah" (HR. Bukhari)

Tidak hanya itu Rasulullah juga memerintahkan para sahabat untuk tidak menuliskan sesuatupun yang berasal dari mulut beliau kecuali Alquran.

Berkata kepada kami dari haddaab bin Khaalid al Azdy, berkata kepada kami hammaam dari zaid bin Aslam dar Athaa bin Yasar dar Abi Sa'id Al khudry, bahwa Rasulullah Saw bersabda : "Janganlah kalian menulis apa apa dariku, barangsiapa yang menulis dariku selain al-Quran maka hendaklah ia menghapusnya, dan berbicaralah tentang diriku dan itu diperbolehkan, dan barangsiapa dengan sengaja berbohong atas diriku maka bersiap siaplah untuk tinggal diatas neraka" (HR. Muslim)

Hal ini menjadi wajar dan amat tepat sebab tidak ada yang bisa menjamin bahwa Hadits dan Al-Quran tidak bercampur aduk satu sama lainnya sehingga untuk mencegah hal ini maka Rasulullah dengan petunjuk Allah melarang penulisan apapun dari Rasul kecuali Al-Quran.



Pengumpulan Qur`an dalam Arti Penulisannya pada Masa Nabi
Rasullullah telah mengangkat para penulis wahyu Qur`an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, `Ubai bin K`ab dan Zaid bin Sabit, bila ayat turun ia memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan didalam hati.

Disamping itu sebagian sahabatpun menuliskan Qur`an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Sabit: Kami menyusun Qur`an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang.

Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam menulis Qur`an. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain sarana-sarana tersebut. Dan denagn demikian, penulisanQur`an ini semakin menambah hafalan mereka.

Jibril membacakan Qur`an kepada Rasulullah pada malam-malam bulan ramadan setiap tahunnya Abdullah bin Abbas berkata:`Rasulullah adalah orang paling pemurah, dan puncak kemurahan pada bulan ramadan, ketika ia ditemui oleh jibril. Ia ditemui oleh jibril setiap malam; jbril membacakan Qur`an kepadanya, dan ketika Rasulullah ditemui oleh jibril it ia sangat pemurah sekali.

Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur`an kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.Tulisan-tulisan Qur`an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain.

Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka`ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas`ud telah menghafalkan seluruh isi Qur`an dimasa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Sabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur`an dihadapan Nabi, diantara mereka yang disebutkan diatas.

Rasulullah berpulang kerahmatullah disaat Qur`an telah dihafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan diatas; ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan, atau diterbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf.

TetapiQur`an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyuruh (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra dan ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang manasih (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya.

Susunan atau tertib penulisanQur`an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan ditempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu.

Andaikata (pada masa Nabi)Qur`an itu seluruhnya dikumpulkan diantara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi. Az-zarkasyi berkata:`Qur`an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudahQur`an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah.`

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabit yang mengatakan:`Rasulullah telah wafat sedang Qur`an belum dikumpulkan sama sekali.` Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

Al-Katabi berkata:` Rasulullah tidak mengumpulkan Qur`an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya . Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar



Demikian halnya Qur'an itu semasa hidup Nabi, dan demikian juga halnya kemudian sesudah Nabi wafat; tetap tercantum dalam kalbu kaum mukmin. Berbagai macam bagiannya sudah tercatat belaka dalam naskah-naskah yang makin hari makin bertambah jumlahnya itu. Kedua sumber itu sudah seharusnya benar-benar cocok. Pada waktu itu pun Qur'an sudah sangat dilindungi sekali, meskipun pada masa Nabi masih hidup, dengan keyakinan yang luarbiasa bahwa itu adalah kalam Allah. Oleh karena itu setiap ada perselisihan mengenai isinya, untuk menghindarkan adanya perselisihan demikian itu, selalu dibawa kepada Nabi sendiri. Dalam hal ini ada beberapa contoh pada kita: 'Amr bin Mas'ud dan Ubayy bin Ka'b membawa hal itu kepada Nabi. Sesudah Nabi wafat, bila ada perselisihan, selalu kembali kepada teks yang sudah tertulis dan kepada ingatan sahabat-sahabat Nabi yang terdekat serta penulis-penulis wahyu.


Sesudah selesai menghadapi peristiwa Musailima - dalam perang Ridda - penyembelihan Yamama telah menyebabkan kaum Muslimin banyak yang mati, di antaranya tidak sedikit mereka yang telah menghafal Qur'an dengan baik. Ketika itu Umar merasa kuatir akan nasib Qur'an dan teksnya itu; mungkin nanti akan menimbulkan keragu-raguan orang bila mereka yang telah menyimpannya dalam ingatan itu, mengalami suatu hal lalu meninggal semua. Waktu itulah ia pergi menemui Khalifah Abu Bakr dengan mengatakan: "Saya kuatir sekali pembunuhan terhadap mereka yang sudah hafal Qur'an itu akan terjadi lagi di medan pertempuran lain selain Yamama dan akan banyak lagi dari mereka yang akan hilang. Menurut hemat saya, cepat-cepatlah kita bertindak dengan memerintahkan pengumpulan Qur'an."

Abu Bakr segera menyetujui pendapat itu. Dengan maksud tersebut ia berkata kepada Zaid bin Thabit, salah seorang Sekretaris Nabi yang besar: "Engkau pemuda yang cerdas dan saya tidak meragukan kau. Engkau adalah penulis wahyu pada Rasulullah s.a.w. dan kau mengikuti Qur'an itu; maka sekarang kumpulkanlah."

Oleh karena pekerjaan ini terasa tiba-tiba sekali di luar dugaan, mula-mula Zaid gelisah sekali. Ia masih meragukan gunanya melakukan hal itu dan tidak pula menyuruh orang lain melakukannya. Akan tetapi akhirnya ia mengalah juga pada kehendak Abu Bakr dan Umar yang begitu mendesak. Dia mulai berusaha sungguh-sungguh mengumpulkan surah-surah dan bagian-bagiannya dari segenap penjuru, sampai dapat juga ia mengumpulkan yang tadinya di atas daun-daunan, di atas batu putih, dan yang dihafal orang. Setengahnya ada yang menambahkan, bahwa dia juga mengumpulkannya dari yang ada pada lembaran-lembaran, tulang-tulang bahu dan rusuk unta dan kambing. Usaha Zaid ini mendapat sukses.

Ia melakukan itu selama dua atau tiga tahun terus-menerus, mengumpulkan semua bahan-bahan serta menyusun kembali seperti yang ada sekarang ini, atau seperti yang dilakukan Zaid sendiri membaca Qur'an itu di depan Muhammad, demikian orang mengatakan. Sesudah naskah pertama lengkap adanya, oleh Umar itu dipercayakan penyimpanannya kepada Hafsha, puterinya dan isteri Nabi. Kitab yang sudah dihimpun oleh Zaid ini tetap berlaku selama khilafat Umar, sebagai teks yang otentik dan sah.

Tetapi kemudian terjadi perselisihan mengenai cara membaca, yang timbul baik karena perbedaan naskah Zaid yang tadi atau karena perubahan yang dimasukkan ke dalam naskah-naskah itu yang disalin dari naskah Zaid. Dunia Islam cemas sekali melihat hal ini. Wahyu yang didatangkan dari langit itu "satu," lalu dimanakah sekarang kesatuannya? Hudhaifa yang pernah berjuang di Armenia dan di Azerbaijan, juga melihat adanya perbedaan Qur'an orang Suria dengan orang Irak.

Karena banyaknya dan jauhnya perbedaan itu, ia merasa gelisah sekali. Ketika itu ia lalu meminta agar Usman turun tangan. "Supaya jangan ada lagi orang berselisih tentang kitab mereka sendiri seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani." Khalifahpun dapat menerima saran itu. Untuk menghindarkan bahaya, sekali lagi Zaid bin Thabit dimintai bantuannya dengan diperkuat oleh tiga orang dari Quraisy. Naskah pertama yang ada di tangan Hafsha lalu dibawa, dan cara membaca yang berbeda-beda dari seluruh persekemakmuran Islam itupun dikemukakan, lalu semuanya diperiksa kembali dengan pengamatan yang luarbiasa, untuk kali terakhir. Kalaupun Zaid berselisih juga dengan ketiga sahabatnya dari Quraisy itu, ia lebih condong pada suara mereka mengingat turunnya wahyu itu menurut logat Quraisy, meskipun dikatakan wahyu itu diturunkan dengan tujuh dialek Arab yang bermacam-macam." "Selesai dihimpun, naskah-naskah menurut Qur'an ini lalu dikirimkan ke seluruh kota persekemakmuran. Yang selebihnya naskah-naskah itu dikumpulkan lagi atas perintah Khalifah lalu dibakar. Sedang naskah yang pertama dikembalikan kepada Hafsha


Sekarang, sesudah ternyata bahwa Qur'an yang kita baca ialah teks Mushhaf Usman yang tidak berubah-ubah, baiklah kita bahas lagi: Adakah teks ini yang memang persis bentuknya seperti yang dihimpun oleh Zaid sesudah adanya persetujuan menghilangkan segi perbedaan dalam cara membaca yang hanya sedikit sekali jumlahnya dan tidak pula penting itu? Segala pembuktian yang ada pada kita meyakinkan sekali, bahwa memang demikian. Tidak ada dalam berita-berita lama atau yang patut dipercaya yang melemparkan kesangsian terhadap Usman sedikitpun, bahwa dia bermaksud mengubah Qur'an guna memperkuat tujuannya. Memang benar, bahwa Syi'ah kemudian menuduh bahwa dia mengabaikan beberapa ayat yang mengagungkan Ali. Akan tetapi dugaan ini tak dapat diterima akal. Ketika Mushhaf ini diakui, antara pihak Umawi dengan pihak Alawi (golongan Mu'awiya dan golongan Ali) belum terjadi sesuatu perselisihan faham. Bahkan persatuan Islam masa itu benar-benar kuat tanpa ada bahaya yang mengancamnya. Di samping itu juga Ali belum melukiskan tuntutannya dalam bentuknya yang lengkap. Jadi tak adalah maksud-maksud tertentu yang akan membuat Usman sampai melakukan pelanggaran yang akan sangat dibenci oleh kaum Muslimin itu. Orang-orang yang memahami dan hafal benar Qur'an seperti yang mereka dengar sendiri waktu Nabi membacanya mereka masih hidup tatkala Usman mengumpulkan Mushhaf itu. Andaikata ayat-ayat yang mengagungkan Ali itu sudah ada, tentu terdapat juga teksnya di tangan pengikut-pengikutnya yang banyak itu. Dua alasan ini saja sudah cukup untuk menghapus setiap usaha guna menghilangkan ayat-ayat itu. Lagi pula, pengikut-pengikut Ali sudah berdiri sendiri sesudah Usman wafat, lalu mereka mengangkat Ali sebagai Pengganti.

Dapatkah diterima akal - pada waktu kemudian mereka sudah memegang kekuasaan - bahwa mereka akan sudi menerima Qur 'an yang sudah terpotong-potong, dan terpotong yang disengaja pula untuk menghilangkan tujuan pemimpin mereka?! Sungguhpun begitu mereka tetap membaca Qur'an yang juga dibaca oleh lawan-lawan mereka. Tak ada bayangan sedikitpun bahwa mereka akan menentangnya. Bahkan Ali sendiripun telah memerintahkan supaya menyebarkan naskah itu sebanyak-banyaknya. Malah ada diberitakan, bahwa ada beberapa di antaranya yang ditulisnya dengan tangannya sendiri.


Memang benar bahwa para pemberontak itu telah membuat pangkal pemberontakan mereka karena Usman telah mengumpulkan Qur'an lalu memerintahkan supaya semua naskah dimusnahkan selain Mushhaf Usman. Jadi tantangan mereka ditujukan kepada langkah-langkah Usman dalam hal itu saja, yang menurut anggapan mereka tidak boleh dilakukan. Tetapi di balik itu tidak seorangpun yang menunjukkan adanya usaha mau mengubah atau menukar isi Qur'an.
Tuduhan demikian pada waktu itu adalah suatu usaha perusakan terang-terangan.

Sekarang kita dapat mengambil kesimpulan dengan meyakinkan, bahwa Mushhaf Usman itu tetap dalam bentuknya yang persis seperti yang dihimpun oleh Zaid bin Thabit, dengan lebih disesuaikan bahan-bahannya yang sudah ada lebih dulu dengan dialek Quraisy. Kemudian menyisihkan jauh-jauh bacaan-bacaan selebihnya yang pada waktu itu terpencar-pencar di seluruh daerah itu.


Penulisan Al Quran sebenarnya sudah dilakukan pada zaman Rasulullah Saw, sedangkan Abu bakar hanya sekedar mengumpulkan shuhuf/catatan yang tercecer dan mengumpulkan para Hufadz yang kemudian di salin kedalam bentuk mushaf yang kemudian menjadi induk dari proses penulisan Quran setelahnya.

Berkata kepada kami dari Musa bin Isma'il dari Ibrahim bin Sa'ad, berkata kepada kami dari Ibnu Syihab dari 'Ubaid bin As-Sibaq bahwa Zaid bin Tsabit ra mengatakan : Telah datang kepadaku dari abu bakar shiddiq setelah peperangan di yamamah, kebetulan Umar bin Khattab bersamanya, Abu bakar mengatakan : Sungguh Umar telah datang kepadaku dan berkata : "Peperangan telah menyebabkan kematian beberapa penghapal Al Quran, dan saya sangat khawatir jika kematian meluas kebeberapa Qurra' di daerah daerah hingga menyebabkan hilangnya kebanyakan Al Quran, dan saya berpendapat agar engkau segera memerintahkan kodifikasi atas Al Quran". Saya mengatakan kepada Umar : "bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw ?, Umar berkata : Demi Allah ini adalah sesuatu yang sangat baik", maka Umar tetap memintaku hingga Allah melapangkan dadaku atas hal itu dan aku melihat , masalah itu sebagaimana yang umar lihat ". Zaid Berkata : Bahwa Abu bakar mengatakan : "Sesungguhnya engkau seorang yang masih muda lagi cerdas, bukannya kamu menuduhmu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah Saw, maka cermatilah Al Quran dan lakukanlah kodifikasi ". Maka demi Allah seandainya mereka memerintahkanku memindahkan salah satu dari beberapa gunung tidaklah lebih berat dari perintah kodifikasi Quran. Saya berkata bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw.?, Berkata Abu Bakar : "Demi Allah inilah yang terbaik". Abu Bakar tetap memintaku hingga Allah melapangkan dadaku untuk dapat memahami pendapat Abu Bakar dan Umar, maka segera kulakukan penelusuran dan pengumpulan Al Quran dari rumput dan pelepah pohon serta hafalan para Qurra', sampai saya temukan akhir dari surat At taubah pada Abu Khuzaimah Al Anshary yang tidak terdapat pada surat yang lainnya, Lembaran-lembaran tersebut berada ditangan Abu Bakar hingga beliau wafat, kemudian Umar dan kemudian ditangan Hafsah binti Umar bin Khattab. (HR. Bukhari)

Jadi proses pengumpulan serta penelusuran Al Quran telah berlangsung di zaman Abu Bakar yang di awasi langsung oleh asisten pribadi Rasul dalam menulis wahyu Zaid bin Tsabit, proses penulisan tidak saja berlangsung dari satu sumber akan tetapi melalui pengecekan yang mengakibatkan keabsahan mushaf Al Quran tersebut tidak dapat diganggu gugat karena telah mencerminkan representasi dari berbagai macam sumber yang dapat dipertanggung jawabkan keakuratannya.

Dalam menjalankan tugasnya Zaid bin Tsabit mempunyai pedoman dalam menentukan keotentikan dalam menentukan suatu naskah artinya ada beberapa faktor yang harus dipenuhi apabila suatu teks bisa dimasukkan sebagai bagian dari Al Quran atau bukan. Penelitian keabsahan suatu teks harus memenuhi syarat-syarat yang Rasulullah ajarkan diantarannya adalah.

1. Materi tersebut harus benar benar tertulis dalam keadaan Rasulullah Saw hadir ketika penulisan Quran itu berlangsung. Tidak ada satupun materi yang ditulis setelah Rasulullah, dan ditulis sendiri oleh sahabat bisa diterima.

Hal ini dapat dimengerti sebab tidak tertutup kemungkinan adanya pencampuran antara Al Quran dan Hadits dalam ingatan para sahabat jika hanya mengandalkan hapalan. Oleh karenanya keberadaan teks dalam bentuk tertulis sangat dibutuhkan.

Berkata kepada kami dari haddaab bin Khaalid al Azdy, berkata kepada kami hammaam dari zaid bin Aslam dar Athaa bin Yasar dar Abi Sa'id Al khudry, bahwa Rasulullah Saw bersabda : "janganlah kalian menulis apa apa dariku, barangsiapa yang menulis dariku selain al-Quran maka hendaklah ia menghapusnya, dan berbicaralah tentang diriku dan itu diperbolehkan, dan barangsiapa dengan sengaja berbohong atas diriku maka bersiap siaplah untuk tinggal diatas neraka" (HR. Muslim)

Zayd ibn Tsâbit berkata: “Kami mencatat Alquran dihadapan Rasul saw. diatas lembaran kulit atau kertas" (HR. Alhakim)

Rasulullah telah memberikan petunjuk bahwa Al Quran adalah satu satunya materi yang diperintahkan untuk ditulis. Sehingga keberadaan teks Quran dalam bentuk materi tulisan adalah suatu hal yang niscaya.

Pendapat ini juga dibenarkan Al Hakim : "menurut pendapat dua imam (Bukhari dan Muslim) tradisi ini selalu dilakukan, sekalipun mereka tidak menyebutkannya .( Muhammad b. ' Abd Allah al-Hakim al-Nisapiuri, Al-Mustadrak 'ala al-Sahihayn fi al-Hadith wa fi Dhaylihi Talkhis al-Mustadrak, 4 vols. (Riyadh: Maktabat wa Matba'at al-Nasr al-Hadithah, n.d.), vol. 2, p. 611)

Quran telah diturunkan pada priode 23 tahun dan telah ditulis semuanya pada saat Rasulullah masih hidup, sekalipun ayat ayat tersebut tidak disatukan dalam satu mushaf pada saat itu .

Adalah kebiasaan Rasulullah Saw untuk meminta penulis wahyu untuk membaca kembali ayat tersebut setelah menuliskannya, menurut Zaid bin Tsabit, jika ada kesalahan dari penulisan dia membetulkannya, setelah selesai barulah Rasulullah Saw membolehkan menyebarkan ayat tersebut.

Ibn Abu Daud meriwayatkan melalui Yahya bin Abdurrahman bin Hatib, yang mengatakan : ` Umar datang lalu berkata: `Barang siapa menerima dari Rasulullah sesuatu dari Qur`an, hendaklah ia menyampaikannya.` Mereka menuliskan Qur`an itu pada lembaran kertas , papan kayu dan pelepah kurma. (Al-Katani, V.2, p.384)

2. Materi tulisan tersebut harus dikonfirmasikan oleh dua orang saksi, mereka harus bersaksi telah bahwa mereka telah mendengar teks tersebut dari Rasulullah Saw sendiri .

Al Quran adalah sesuatu yang mutawatir, sebab Al Quran itu sendiri merupakan Wahyu dari Allah yang harus disampaikan.

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. 3:164)

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 4:170)

Maka bagaimana mungkin hanya satu orang saja yang mendengarkan ayat yang Allah turunkan?, dari logika ini saja dapat dikatakan amat tidak mungkin bila ada seseorang yang seorang diri saja mendengar dan bersaksi bahwa ia telah mendengar ayat ini dan ayat itu tanpa sahabat lain mendengarnya secara langsung. Bagaimanapun juga percampuran antara hadits dengan Quran bisa terjadi bila hal itu hanya diingat oleh hanya satu orang.

Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 524:
Narrated 'Abdullah (bin Mas'ud) :
By Allah other than Whom none has the right to be worshipped! There is no Sura revealed in Allah's Book but I know at what place it was revealed; and there is no Verse revealed in Allah's Book but I know about whom

Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 521:
Narrated Masriq:
'Abdullah bin 'Amr mentioned 'Abdullah bin Masud and said, "I shall ever love that man, for I heard the Prophet saying, 'Take (learn) the Qur'an from four: 'Abdullah bin Masud, Salim, Mu'adh and Ubai bin Ka'b.' "

Inilah yang kemudian mengharuskan Zaid bin Tsabit mencari ayat terakhir dari surat At Taubah pada sahabat lainnya sebab dia sendiri harus memenuhi persyaratan ini, walaupun ia sendiri telah menghapal Al Quran.

Zaid bin Tsabit telah menghapal seluruh Al Quran kedalam ingatannya (Labib as-Said, The Recited Koran, tr. Bernard Weiss, et al., 1975, p. 21)

"Sampai saya temukan akhir dari surat At taubah pada Abu Khuzaimah Al Anshary yang tidak terdapat pada surat yang lainnya" (Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 509)

Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata pada Umar dan Zaid: `Duduklah kamu berdua dipintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, maka tulislah yang dimaksudkan ialah kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapan Rasulullah; atau dua orang saksi itu menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara yang dengan itu Qur`an diturunkan "(HR. Bukhari)


Proses Kodifikasi Quran Pada Zaman Utsman



Berkata kepada kami Musa, berkata kepada kami ibrahim, berkata kepada kami Ibnu Syihab bahwa Anas bin Malik mengatakan kepadanya: "khuzaifah bin Al yaman datang kepada Utsman, dan sebelumnya ia memerangi warga syam dalam menaklukan Armenia dan Azarbaizan bersama warga irak, maka terkejutlah Khuzaifah akan adanya pebedaan mereka dalam hal perbedaan Al Qur'an, maka berkatalah Khuzaifah kepada Utsman : "Wahai pemimpin orang-orang yang beriman, beritahulah umat ini sebelum mereka berselisih dalam masalah kitab sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani", Utsman lalu berkirim surat kepada Hafsah : "Kirimkan kepada kami lembaran lembaran untuk kami tulis dalam Masahif ( bentuk plural dari Mushaf ), kemudian kami kembalikan kepadamu", Hafsah segera mengirimkannya kepada Utsman, maka Utsman segera memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit, Abdulah bin Zubair, Sa'id bin A'sh, serta Abdurahman bin Al-Harits bin Hisyam untuk menyalinnya kedalam mushaf-mushaf, dan dia (Utsman) mengatakan kepada ketiga otoritas Qurasy tersebut diatas : "Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit tentang masalah Quran maka tulislah Al Quran dengan lisan Qurasy sebab Al Quran diturunkan dengan dialek mereka". dan mereka melakukan hal itu, maka ketika mereka selesai menyalin lembaran lembaran kedalam beberapa Mushaf, Utsman segera mengembalikan lembaran lembaran tersebut kepada Hafsah, kemudian mengirim ketiap tempat satu Mushaf yang telah mereka salin, dan memerintahkan agar selain Mushaf tersebut entah berupa lembaran sahifah atau sudah berupa mushaf untuk dibakar (HR Bukhari)



"Kalimat huzaifah bin Al yaman yang menyatakan : "Wahai pemimpin orang-orang yang beriman, beritahulah umat ini sebelum mereka berselisih dalam masalah kitab sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani"
Sebenarnya adalah persoalan awal kenapa terjadi kodifikasi lanjutan dizaman Utsman, jika pada awalnya kodifikasi Quran dimaksudkan untuk mencegah hilangnya Al Quran sebab banyak para penghapal Quran yang meninggal dalam peperangan, maka dizaman khalifah Utsman maka persoalannya menjadi berbeda, oleh karenanya akan sangat dapat dipahami sikap Utsman yang kemudian menjadikan mushaf induk yang telah ada pada zaman khalifah Abu bakar menjadi rujukan utama bagi setiap perbedaan mengenai Al Quran.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa terjadi perbedaan dan bukankah perbedaan itu sendiri di perbolehkan oleh Rasulullah Saw?, jawaban yang dapat kita analisis pada kasus ini adalah bahwa ada beberapa fakta yang menyebabkan hal itu terjadi:

1. Yang dimaksud oleh Hudzaifah ini adalah perbedaan mengenai Quran yang mempengaruhi makna ayat hal ini yang kemudian menyebabkan ia menjadi kaget, "dan sebelumnya ia memerangi warga Syam dalam menaklukan Armenia dan Azarbaizan bersama warga Irak, maka terkejutlah Huzaifah akan adanya pebedaan mereka dalam hal perbedaan Al Qur'an. Harus kita fahami bahwa sahabat sudah banyak yang mahfum mengenai qiraah saba'ah namun yang dimaksud Hudzifah disini adalah perbedaan qiraat yang menyebabkan perbedaan makna inilah yang kemudian dipermasalahkan olehnya.

2. Perbedaan Qiraat yang menyebabkan perbedaan makna memang sejak awal dicurigai ada dikarenakan adanya pengaruh Qiraat dari negeri-negeri yang merupakan hasil ekspansi dari dakwah Islam, yang menyebabkan keotentikan Qiraat menjadi dipertanyakan, sebab percampuran antara qiraat satu dengan yang lainnya menjadi suatu hal yang niscaya. hal ini yang kemudian menyebabkan berkembangnya qiraat yang walaupun menisbatkan dirinya kepada para sahabat akan tetapi justru menyimpang jauh dari apa yang kemudian diajarkan para sahabat bukti otentik dari hal ini adalah kesaksian beberapa tabiin tentang mushaf yang di nisbatkan kepada Ibnu Mas'ud. Ibnu Ishaq misalnya yang meneliti beberapa mushaf yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas'ud tidak menemukan satupun redaksional masing masing mushaf yang sama persis satu dengan yang lainnya, Demikian pula Ibnu al-Nadîm dalam al-Fihritsnya bahwa ia melihat sebuah salinan mushaf Ibnu Mas’ûd yang terdapat di dalamnya, surah al-Fâtihah berbeda dengan keyakinan beberapa orang bahwa beliau tidak mencantumkannya dalam mushafnya .(Muhammad ‘Abd Allâh Dirâz, Madkhal ilâ al-Qur`ân al-Karîm. Kuwait: Dâr al-Qalam, 1993, cet. II, hal 44-45)

Sekali lagi berkembangnya bacaan yang diyakini bersumber dari bacaan Rasulullah yang tanpa mempunyai bentuk fisik materi dalam bentuk tulisanlah yang kemudian menjadi biang keladi munculnya penyimpangan bacaan yang berimplikasi pada makna tersebut .Hal ini membuktikan kepada kita bahwa banyak sekali perbedaan yang disebabkan ketidak jelasan sumber dikarenakan interaksi qiraat yang memang rasulullah ajarkan dengan qiraat yang menjadi kebudayaan bangsa bangsa yang baru masuk kedalam daerah kekuasaan Islam.

3. Disamping berita dari Huzaifah sebenarnya Utsman juga khawatir akan perbedaan bacaan yang kemudian berakibat pada perpecahan umat dan pengkafiran satu sama lainnya. Ibn Jarir : `Ya`kub bin Ibrahim berkata kepadaku: Ibn `Ulyah menceritakan kepadaku: Ayyub mengatakan kepadaku: bahwa Abu Qalabah berkata: pada masa kekahlifahan Usman telah terjadi seorang guru qiraat mengajarkan qiraat seseorang, dan guru qiraat lain mengajarkan qiraat pada orang lain. Dua kelompok anak-anak yang belajar qiraat itu suatu ketika bertemu dan mereka berselisih, dan hal demikian ini menjalar juga kepada guru-guru tersebut.` Kata A yyub: aku tidak mengetahui kecuali ia berkata: `sehingga mereka saling mengkafirkan satu sama lain karena perbedaan qiraat itu,` dan hal itu akhirnya sampai pada khalifah Usman. Maka ia berpidato: `Kalian yang ada dihadapanku telah berselisih paham dan salah dalam membaca Qur`an. Penduduk yang jauh dari kami tentu lebih besar lagi perselisihan dan kesalahannya. Bersatulah wahai sahabat-sahabat Muhammad, tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur`an pedoman) saja ! (Ibn 'Abd al-Muttaqi, Muntakhab Kanz al- 'Ummal in the margin of Ibn Hanbal, Musnad, vol. 2)

Pertanyaan kedua adalah mengapa Utsman menggunakan logat Quraisy ?, "Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit tentang masalah Quran maka tulislah Al Quran dengan lisan Quraisy sebab Al Quran diturunkan dengan dialek mereka". Bukankah Rasul sendiri telah membolehkan Al Quran ditulis dalam tujuh harf?

Diriwayatkan daripada Umar bin al-Khattab r.a katanya: Aku mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surah al-Furqan tidak sama dengan bacaanku yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w kepadaku. Hampir-hampir aku mencela beliau ketika masih dalam pembacaannya. Namun aku masih dapat menahan kemarahanku ketika itu. Setelah selesai aku mendekati Hisyam lalu ku pegang kain serbannya. Kemudian aku mengajaknya menghadap Rasulullah s.a.w. Aku berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya tadi aku mendengar orang ini membaca surat al-Furqan tidak sebagaimana yang kamu bacakan kepadaku. Rasulullah s.a.w bersabda: Suruhlah dia membacanya sekali lagi. Hisyam pun memenuhi permintaan Rasulullah s.a.w tersebut. Dia membaca sebagaimana sebelumnya. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: Memang demikianlah surah itu diturunkan. Kemudian baginda menyuruhku pula: Bacalah! Aku pun membacanya. Baginda pun bersabda: Demikianlah surah itu diturunkan. Sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dengan tujuh huruf (kaedah bacaan) maka kamu bacalah yang mudah bagi kamu (HR. Bukhari)

Betul Rasulullah telah memperbolehkan tujuh bacaan adalam penulisan dan pembacaan Al quran, akan tetapi itu sebatas kompensasi yang beliau pinta kepada Allah Azza Wa Jalla. Sebab awalnya memang Al Quran turun hanya pada satu bacaan yaitu bacaan Quraisy (Sahih Bukhari, Volume 6, Book 61, Number 507):

Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Jibril a.s pernah membacakan kepadaku dengan satu bacaan. Aku minta supaya dia mengulangi bacaannya itu, selalu juga aku minta supaya dia menambahnya dan permintaanku itu dipenuhi hinggalah berakhir dengan tujuh bacaan (HR. Bukhari-Muslim) --- (lihat Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 513).

Dari Ubay bin Kaab mengatakan : Rasulullah bertemu dengan Jibril, maka beliau berkata: "Wahai Jibril sesungguhnya saya diutus kepada kaum yang buta huruf. diantara mereka ada orang tua dan sudah uzur, anak-anak, wanita hamba sahaya, serta orang-orang yang tidak pernah membaca buku sama sekali", Jibril berkata: "Wahai Muhammad sesungguhnya Al Qur'an diturunkan atas tujuh macam huruf” (HR. Ibnu Majah)

Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 514:
Narrated 'Umar bin Al-Khattab:
I heard Hisham bin Hakim reciting Surat Al-Furqan during the lifetime of Allah's Apostle and I listened to his recitation and noticed that he recited in several different ways which Allah's Apostle had not taught me. I was about to jump over him during his prayer, but I controlled my temper, and when he had completed his prayer, I put his upper garment around his neck and seized him by it and said, "Who taught you this Sura which I heard you reciting?" He replied, "Allah's Apostle taught it to me." I said, "You have told a lie, for Allah's Apostle has taught it to me in a different way from yours." So I dragged him to Allah's Apostle and said (to Allah's Apostle), "I heard this person reciting Surat Al-Furqan in a way which you haven't taught me!" On that Allah's Apostle said, "Release him, (O 'Umar!) Recite, O Hisham!" Then he recited in the same way as I heard him reciting. Then Allah's Apostle said, "It was revealed in this way," and added, "Recite, O 'Umar!" I recited it as he had taught me. Allah's Apostle then said, "It was revealed in this way. This Qur'an has been revealed to be recited in seven different ways, so recite of it whichever (way) is easier for you (or read as much of it as may be easy for you)."


Ini berarti bahwa tujuh macam dialek diturunkan atas permintaan Rasul Saw. Dari Hadits diatas jelas dinyatakan bahwa Al Quran memang diturunkan awalnya dalam dialek Quraisy.

Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 512:
Narrated Al-Bara:
There was revealed: 'Not equal are those believers who sit (at home) and those who strive and fight in the Cause of Allah.' (4.95) The Prophet said, "Call Zaid for me and let him bring the board, the inkpot and the scapula bone (or the scapula bone and the ink pot)."' Then he said, "Write: 'Not equal are those Believers who sit..", and at that time 'Amr bin Um Maktum, the blind man was sitting behind the Prophet . He said, "O Allah's Apostle! What is your order For me (as regards the above Verse) as I am a blind man?" So, instead of the above Verse, the following Verse was revealed: 'Not equal are those believers who sit (at home) except those who are disabled (by injury or are blind or lame etc.) and those who strive and fight in the cause of Allah.' (4.95)

Dalam narasi hadis diatas ditunjukkan bahwa seorang butapun (pada masa-masa belum terkompilasinya Al-Quran) ternyata memilki dialek Quran tersendiri. Namun akhirnya dialek-dialek ini disatukan kembali pada masa pemerintahan kalifah Utsman.

Sahih Bukari Volume 6, Book 61, Number 507:
Narrated Anas bin Malik:
(The Caliph 'Uthman ordered Zaid bin Thabit, Said bin Al-As, 'Abdullah bin Az-Zubair and 'Abdur-Rahman bin Al-Harith bin Hisham to write the Quran in the form of a book (Mushafs) and said to them. "In case you disagree with Zaid bin Thabit (Al-Ansari) regarding any dialectic Arabic utterance of the Quran, then write it in the dialect of Quraish, for the Quran was revealed in this dialect." So they did it.

Pertanyaan ketiga apakah para sahabat telah menyetujui pendapat Utsman tersebut hingga tidak mendapat pertentangan yang keras dari para sahabat ?. Perintah Utsman agar kaum muslimin hanya menggunakan satu bacaan saja merupakan ijtihad yang amat diperlukan mengingat pertentangan yang akan membesar jika hal tersebut tetap dibiarkan.

Suwaid bin Gaflah berkata: `Ali mengatakan: `Katakanlah segala yang baik tentang Usman. Demi Allah apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Qur`an sudah atas persetujuan kami. (Fathul bahri)

Riwayat diatas menunjukkan bahwa langkah Utsman telah mendapat persetujuan dari para sahabat Hal ini diperkuat dengan riwayat riwayat lainnya yang mengatakan bahwa langkah Utsman adalah tepat dan mendapat persetujuan dari mayoritas kaum muslimin pada masa itu.

Ali berkata jika aku berada di tempat Utsman sekarang maka aku akan melakukan hal yang sama. (Al-Hadis)

Musab ibnu Sa'ad ibnu Waqqas berkata: "Aku melihat orang-orang berkumpul dalam jumlah yang besar ketika Utsman melakukan pembakaran Quran, dan mereka terlihat senang dengan tindakannya, dan tidak ada satupun yang berbicara menentangnya (HR. Abu Dawud)

Satu-satunya penolakan yang ada adalah dari Abdullah bin Mas'ud yang menolak untuk membakar mushaf yang dimiliki olehnya dengan mengatakan :

Bagaimana mungkin kalian menyuruhku membaca qiraat Zayd. Ketika Zayd masih kecil bermain dengan kawan sebayanya saya telah menghafal lebih dari tujuh puluh surah langsung dari lisan Rasulullah (Ibn Abi Da'ud, Kitab a-Masahif)

Yang menarik dari riwayat ini adalah kita sama sekali tidak melihat satupun riwayat Utsman untuk memaksa Abdullah bin Mas'ud untuk menyerahkan Mushafnya, ini sekaligus memperlihatkan kebijaksanaan Utsman yang kemudian mematahkan tuduhan bahwa Utsman bersikap Aristrokat seperti yang dikatakan Robert Morey, padahal Abu Dawud juga meriwayatkan Abdullah bin Mas'ud mengumumkan kepada pengikutnya (orang-orang yang memegang mushaf Ibnu Masud) untuk tidak menyerahkan Mushaf mereka. Bahkan yang terjadi adalah semua orang mengikuti perintah Utsman untuk membakar Salinan Mushaf miliknya.

Musab ibnu Sa'ad ibnu Waqqas berkata: "Aku melihat orang-orang berkumpul dalam jumlah yang besar ketika Utsman melakukan pembakaran Quran, dan mereka terlihat senang dengan tindakannya, dan tidak ada satupun yang berbicara menentangnya (HR. Abu Dawud)

Perkataan "Terlihat senang dengan tindakannya " menunjukkan tidak adanya pemaksaan atau ancaman atas tindakan yang menentang perintah tersebut, tidak ada satupun riwayat yang menyatakan adanya seseorang yang dhukum atas tindakan penentangan terhadap perintah Utsman.

Bahkan berulang kali Utsman menegaskan bahwa dia tidak menolak bacaan bacaan Quran yang berlangsung secara oral yang dia ingin satukan adalah bacaan dalam bentuk tertulis untuk menghindari perpecahan dan penyimpangan makna.

“Adapun Alquran, saya tidak akan menghalangi kalian, hanya saja saya khawatir bila terjadi perpecahan di antara kalian (sebab perbedaan bacaan Alquran) dan silakan kalian membaca (Alquran) dengan harf yang menurut kalian mudah”. (Muhammad ‘Abd Allâh Dirâz, op.cit. 42)

Kemudahan yang diberikan Utsman inilah yang kemudian menyebabkan kita dapat menemukan bacaan-bacaan yang bersumber dari Rasulullah Saw walaupun hanya berpegang pada riwayat ahad. hal inilah yang kemudian memberikan bukti kepada kita semua bahwa Allah Azza Wajalla yang menurunkan Al Quran dan Dialah yang akan menjaganya.




sumber :postingan sdr Panda di Answering-ff.org

1 comments:

Anonim mengatakan...

Pertanyaanya
1. Apakah ke-3 versi Al-quran yang dibakar tidak lengkap atau tidak benar?
2. Apakah 1 versi Al-quran yang dikodifikasi sudah benar dan lengkap?

Sudahkah terdapat Hadist atau Sirat yang menunjukkan proses evaluasi ketidakbenarara 3 versi Al-quran yang dibakar