Antek FFI bertanya Muslim menjawab (7)

Antek FFI copy paste :


http://extremeweight.blogspot.com/2007/11/origin-and-development-of-quran-part-4.html

Origin and Development of the Quran (Part 4)
Asal Usul dan Perkembangan Mushaf Quran


Mana manuskrip orisinal dari daftar manuskrip arkeologis Islam sekarang ini ?

A) Manuskrip Samarkand
http://www.islamic-awareness.org/Quran/Text/Mss/samarqand.html

Disimpan Ali ibn Abu Talib di Samarkand, direbut Rusia dan kini berada di Tashken, Uzbekistan. Dipercaya mengandung bercak2 darah Kalif Usman, saat dibunuh oleh saingan politiknya. Ditulis dlm huruf Kufi.

Namun, ini bukan dokumen komplet. Mushaf ini hanya mengandung bagian2 dari surat 2 - 43 dari 114 bab/surat yg ada dlm Quran jaman sekarang. Dari surat2 ini, kebanyakan teksnya hilang. Teks dari codex Samarkand ini juga bermasalah karena sangat tidak teratur. Beberapa halamannya disalin secara rapih dan seragam sementara halaman2 lain agak kacau dan tidak seimbang.

b) Manuskrip Topkapi
http://www.islamic-awareness.org/Quran/Text/Mss/topkapi.html

Juga dlm huruf Kufi, disimpan di Museum Topkapi, Istanbul. Tidak memiliki tanda2 vokalisasi. Spt mushaf di Samarkand, mushaf ini ditambahkan dgn hiasan2 di jaman berikutnya. Ini dianggap Muslim sbg salah satu copy original, dan kemungkinan juga versi yg disusun Zaid ibn Thabit. Namun dibandingkan dgn codex Samarkand, TIDAK MUNGKIN keduanya merupakaan mushaf orisinal dari jaman Usman.

Contoh, codex Topkapi ini memiliki 18 baris pada setiap halaman, sementara codex Samarkand hanya memiliki 8 - 12 baris per halaman; codex Istanbul ditulis secara sangat formal, kata2 dan barisannya ditulis secara seragam, sementara versi Samarkand sering kacau balau dan sangat distorsi. Tidak mungkin kedua manuskrip disalin oleh orang2 yg sama.

c) al-Khatt al-Kufi Script

Ditemukan di Kufa, Iraq, diperkirakan berasal dari jaman 790an. Martin Lings dan Yasin Hamid Safadi mengatakan bahwa ini tidak mugkin manuskrip orisinal, karena bhs Arab BUKAN bahasa dan tulisan dominan di Iraq kala itu.

Tulisan/abjad Kufi disempurnakan pada AKHIR abad 8 (150 thn setelah kematian Muhammad) dan setelah itu digunakan secara luas oleh dunia Muslim.

Ini bisa diterima, karena setelah 750M, kalifat Abbasid menguasai Islam
dan mereka berlatar belakang Persia serta bermarkas di Kufa dan Bagdad. Jelas mereka ingin agar abjad mereka mendominasi.

Karena mereka sendiri didominasi kalifat Umayyad (bermarkas di Damaskus) selama 100 thn, bisa dimengerti bahwa tulisan Arab yg berasal dari wilayah kekuasaan mereka, spt abjad Kufi kemudian berkembang menjadi abjad yg kita temui dlm kedua mushaf tadi.

d) Manuskrip Ma'il dan Mashq :

Mushaf Ma'il dikembangkan di Hijaz, khususnya di Mekan & Medinah. Mushaf Mashq berasal dari Medinah.

Mushaf ini disimpan di British Library di London dan diperkirakan berasal dari akhir abad 8 oleh Martin Lings, mantan kurator Muslim disana. Manuskrip al-Ma'il ini digunakan di abad 7 dan mudah dikenali karena tulisannya yg agak miring.

Manuskrip ini eksis selama 2 abad sebelum kemudian tidak lagi dipakai. Manuskrip Mashq dimulai di abad 7 tapi terus dipakai selama beberapa abad.

Tadinya ini diperkirakan sbg mushaf yg paling tua, sebelum ditemukannya mushaf dari Sana'a.

e) Manuskrip Sana’a

Ditemukan di Yaman th 1972 dan bisa dianggap sbg sumber paling dini. Disimpan di Museum Manuskrip di Sana'a. Tes karbon-14 memperkirakannya berasal dari th 645-690M. Dari paling sedikit 40 fragmen manuskrip tsb, versi Sana'a ini dipercaya berasal dari abad 1AH.

Pemimpin riset tsb, Gerd R. Puin (dikomisi pemerintah Yaman) menguji dan mengungkapkan susunan ayat2 yg tidak konvensional, variasi tekstual dan orthography yg jarang dipakai yg berbeda dari versi kemudian shg membantah teori bahwa Qu'ran adalah kata Tuhan yg murni dan tidak pernah berubah.

Huruf2nya ditulis dlm abjad Arab Hijaz dini, mirip dgn bagian2 Quran yg paling dini yg diketahui eksis. Juga ada ayat2 yg sangat jelas ditulis diatas ayat2 yg lebih dini dan kabur. Manuskrip ini menunjukkan sebuah teks yg berevolusi ketimbang sebuah teks yg konsisten dan tetap.

Lebih dari 15.000 halaman2nya dibersihkan dan di-foto. Puin menuliskan komentarnya dlm essay berjudul "Observations on Early Qur'an Manuscripts in San'a" gy diterbitkan kembali dlm buku What the Koran Really Says oleh Ibn Warraq.

KESIMPULAN

Hampir semua fragmen manuskrip Qur'an diperkirakan tidak berasal dari jaman lebih dini dari 100 thn setelah jamannya Muhammad (610M), yi sekitar abad 8 (750M).

Dari manuskrip2 diatas, tidak mungkin bahwa mushaf2 Usman selamat, karena manuskrip2 Samarkand, Topkapi) & Sa'na ditulis dlm abjad SETELAH jaman Usman, dlm huruf Kufi dan bukan huruf Hijazi.

Jadi kita tidak tahu apa yg terjadi dlm 150 thn antara 610M - 750M karena kami tidak memiliki buktinya. Terserah pada pembaca utk menyimpulkan apakah mushaf Quran ini memang konsisten selama sejarah eksistensinya.



Muslim menjawab :

Para ulama mengatakan bahwa susunan surah yang ada sekarang identik dengan Mushaf 'Uthmani. Setiap orang yang berkeinginan mengopi Al-Qur'an secara keseluruhan diharuskan mengikuti urutan yang ada, dan bagi yang hendak mengopi surah tertentu, mengikuti susunan seperti yang tampak pada Mushaf 'Uthmani tidaklah wajib. Sebuah analogi dapat diambil saat saya bepergian naik pesawat; di mana saya ingin membawa pekerjaan namun ingin mengangkut satu jilid tebal dalam bag, maka saya hanya mengopi sebagian yang saya perlukan selama perjalanan.

Di masa lampu mushaf ditulis di atas kertas kulit, dan biasanya lebih berat timbangannya dari kertas biasa. Maka mushaf seluruhnya mencapai beberapa kilogram berat. Kita memiliki beberapa contoh AI-Qur' an yang tertulis dalam kaligrafi besar dan satu mushaf lengkap akan melebihi satu meter panjangnya.


Melihat mushaf yang dicetak oleh penerbit Raja Fahd di Madinah sebagai standard ukuran utama, ia akan dapat mencapai enam ribu halaman (lebih kurang 9000 baris). Hal yang sangat menarik, semua naskah dalam kertas kulit seperti terlihat pada gambar 5.2 hanya setengah baris dari mushaf cetakan Madinah. Artinya seluruh mushaf jika tertulis dalam ukuran itu akan memerlukan 18,000 halaman. Kaligrafi berjilid-jilid tentu saja jarang didapat, akan tetapi secara umum hal itu menunjukkan bahwa yang disebut mushaf terdiri dari banyak surah. Semua rak buku di perpustakaan di seluruh dunia akan dipenuhi bagian­bagian dari mushaf tertulis. Daftar di bawah ini sekadar beberapa contoh yang terdapat di satu perpustakaan, the Salar Jung museum di Hyerabad, India.
No. Manuskrip No. Surah Susunan Surah Tanggal

244 29 36, 48, 55, 56, 62, 67, 75, 76, 78, 93, 94, 72, 97, dan 99 - 114.
± awal abad ke-11

246 16 62 ( 8 ayat pertama saja ), 110, 1, 57, 113, 56, 94, 114, 64, 48, 47, 89, 112, 36, 78 dan 67.
naskah ± awal abad
ke-10 dan akhir abad ke-11

247 10 1, 36, 48, 56, 67, 78,109, dan 112-114

248 9 73, 51, 67, 55, 62, 109, dan 112-114
1076 H. (= 1666 M.)

249 9 17, 18, 37, 44, 50, 69, 51, 89 dan 38
1181 H.(= 1767 M.)

250 9 20, 21, 22, 63,dan 24 - 28
± awal abad ke-12

251 8 6, 36, 48, 56, 62, 67, 76 dan 78
± awal abad ke 11

252 8 1, 6, 18, 34, 35, 56, 67 dan 78
± awal abad ke-11

255 8 1, 36, 48, 55, 67, 73, 56 dan 78
± awal abad ke-14

253 8 36, 48, 56, 62, 67, 71, 73 dan 78
± akhir abad ke-11

254 7 1, 55, 56, 62, 68, 73 dan 88
± akhir abad ke-12

256 7 36, 48, 78, 56, 67, 55 dan 73
± awal abad ke-11
257 7 36, 48, 78, 67, 56, 73 dan 62
± pertengahan abad ke-11
258 7 18, 32, 36, 48, 56, 67 dan 78
± akhir abad ke-11
259 7 18, 36, 37, 48, 56, 67 dan 78
± akhir abad ke-11
260 7 36, 48, 56, 67, 78, 55 dan 62
± akhir abad ke-12
261 7 36, 48, 78, 56, 67, 55 dan 73
± akhir abad ke-13
262 6 1, 36, 48, 56, 67 dan 78
± 1115 H (= 1704 M)

263 6 36, 48, 55, 56, 67 dan 68
± 1278 H. (= 1862 M)

264 644 1, 36, 48, 56, 78 dan 67
± akhir abad ke-10

265 645 18, 36, 71, 78, 56 dan 67
± akhir abad ke-13

266 6 36, 55, 56, 62, 63 dan 78
± 989 H. (= 1581 M)

267 5 36, 48, 56, 67 dan 78
± 1075 H.(= 1664 M)

268 5 36, 48, 56, 67 dan 78
± 1104 H.(= 1692 M.)

270 5 36, 48, 56, 67 dan 78
± 1106 H.(= 1694 M.)

271 5 36, 48, 67, 72 dan 78
± 1198 H.(= 1783 M.)

272 5 36, 48, 56, 67 dan 78
± 1200 H.(= 1786 M.)

273 5 36, 48, 55, 56 dan 67
1237 H.

275 5 36, 78, 48, 56 dan 67
± 626 H. (= 1228 M.)

279 5 36, 48, 56, 67 dan 78
Di salin oleh Yaqut al­ Musta'simi

280 5 1, 6, 18, 34 dan 35
± 1084 H.(= 1673 M.)

281 5 36, 48, 56, 59 dan 62
± awal abad ke-10

282 5 1, 6, 18, 34 dan 35
± awal abad ke-10

284 5 6, 36, 48, 56 dan 67
± akhir abad ke-10

296 5 18, 36, 44, 67 dan 78
± awal abad ­ke 12

308 4 6, 18, 34 dan 35
± akhir abad ke-9

310 4 6-9
± akhir abad ke-12

Sampai sekarang, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir
adalah salinan mushaf hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit
pada masa khalifah Usman bin Affan. Mushaf pertama ditemukan di kota
Tasyqand yang tertulis dengan Khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh
kekaisaran Rusia pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard
(sekarang St.PitersBurg).

Pada tahun yang sama setelah kemenangan komunis di Rusia, Lenin
memerintahkan untuk memindahkan Mushaf tersebut ke kota Opa sampai tahun
1923 M. Tapi setelah terbentuk Organisasi Islam di Tasyqand para
anggotanya meminta kepada parlemen Rusia agar Mushaf dikembalikan lagi
ketempat asalnya yaitu di Tasyqand (Uzbekistan, negara di bagian asia
tengah).



Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di kota Kairo mesir dan
Mushaf ketiga dan keempat terdapat di kota Istambul Turki. Umat islam
tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang asli apa adanya.



Sampai suatu saat ketika umat islam sudah terdapat hampir di semua
belahan dunia yang terdiri dari berbagai bangsa, suku, bahasa yang
berbeda-beda sehingga memberikan inspirasi kepada salah seorang sahabat
Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah pada waktu itu yang bernama
Abul-Aswad as-Dualy untuk membuat tanda baca (Nuqathu I'rab) yang
berupa tanda titik.



Atas persetujuan dari khalifah, akhirnya ia membuat tanda baca tersebut
dan membubuhkannya pada mushaf. Adapun yang mendorong Abul-Aswad
ad-Dualy membuat tanda titik adalah riwayat dari Ali r.a bahwa suatu
ketika Abul-Aswad adDualy menjumpai seseorang yang bukan orang arab dan
baru masuk islam membaca kasrah pada kata "Warasuulihi" yang seharusnya
dibaca "Warasuuluhu" yang terdapat pada QS. At-Taubah (9) 3 sehingga
bisa merusak makna.



Abul-Aswad ad-Dualy menggunakan titik bundar penuh yang berwarna merah
untuk menandai fathah, kasrah, Dhammah, Tanwin dan menggunakan warna
hijau untuk menandai Hamzah. Jika suatu kata yang ditanwin bersambung
dengan kata berikutnya yang berawalan huruf Halq (idzhar) maka ia
membubuhkan tanda titik dua horizontal seperti "adzabun alim" dan
membubuhkan tanda titik dua Vertikal untuk menandai Idgham seperti
"ghafurrur rahim".



Adapun yang pertama kali membuat Tanda Titik untuk membedakan
huruf-huruf yang sama karakternya (nuqathu hart) adalah Nasr bin Ashim
(W. 89 H) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafy, salah seorang
gubernur pada masa Dinasti Daulah Umayyah (40-95 H). Sedangkan yang
pertama kali menggunakan tanda Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, dan
Tasydid seperti yang-kita kenal sekarang adalah al-Khalil bin Ahmad
al-Farahidy (W.170 H) pada abad ke II H.



Kemudian pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad
untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Al Quran
khususnya bagi orang selain arab dengan menciptakan tanda-tanda baca
tajwid yang berupa Isymam, Rum, dan Mad.



Sebagaimana mereka juga membuat tanda Lingkaran Bulat sebagai pemisah
ayat dan mencamtumkan nomor ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca),
ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap
surah yang terdiri dari nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah
'ain.



Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Al Quran adalah Tajzi'
yaitu tanda pemisah antara satu Juz dengan yang lainnya berupa kata Juz
dan diikuti dengan penomorannya (misalnya, al-Juz-utsalisu: untuk juz 3)
dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima,
sepersepuluh, setengah Juz dan Juz itu sendiri.



Sebelum ditemukan mesin cetak, Al Quran disalin dan diperbanyak dari
mushaf utsmani dengan cara tulisan tangan. Keadaan ini berlangsung
sampai abad ke16 M. Ketika Eropa menemukan mesin cetak yang dapat
digerakkan (dipisah-pisahkan) dicetaklah Al-Qur'an untuk pertama kali di
Hamburg, Jerman pada tahun 1694 M.



Naskah tersebut sepenuhnya dilengkapi dengan tanda baca. Adanya mesin
cetak ini semakin mempermudah umat islam memperbanyak mushaf Al Quran.
Mushaf Al Quran yang pertama kali dicetak oleh kalangan umat islam
sendiri adalah mushaf edisi Malay Usman yang dicetak pada tahun 1787 dan
diterbitkan di St. Pitersburg Rusia.



Kemudian diikuti oleh percetakan lainnya, seperti di Kazan pada tahun
1828, Persia Iran tahun 1838 dan Istambul tahun 1877. Pada tahun 1858,
seorang Orientalis Jerman , Fluegel, menerbitkan Al Quran yang
dilengkapi dengan pedoman yang amat bermanfaat.



Sayangnya, terbitan Al Quran yang dikenal dengan edisi Fluegel ini
ternyata mengandung cacat yang fatal karena sistem penomoran ayat tidak
sesuai dengan sistem yang digunakan dalam mushaf standar. Mulai Abad
ke-20, pencetakan Al Quran dilakukan umat islam sendiri. Pencetakannya
mendapat pengawasan ketat dari para Ulama untuk menghindari timbulnya
kesalahan cetak.



Cetakan Al Quran yang banyak dipergunakan di dunia islam dewasa ini
adalah cetakan Mesir yang juga dikenal dengan edisi Raja Fuad karena
dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis berdasarkan Qiraat Ashim
riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344 H/
1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Al Quran
dicetak dengan tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan memakai
huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa
seorang ahli kaligrafi turki yang terkemuka Said Nursi.

Cetakan Al Quran yang banyak dipergunakan di dunia islam dewasa ini
adalah cetakan Mesir yang juga dikenal dengan edisi Raja Fuad karena
dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis berdasarkan Qiraat Ashim
riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344 H/
1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Al Quran
dicetak dengan tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan memakai
huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa
seorang ahli kaligrafi turki yang terkemuka Said Nursi.



Al-Qur`an merupakan target utama serangan misionaris dan orientalis—Yahudi dan Kristen–setelah gagal menghancurkan sirah dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sayangnya, serangan tersebut didasari oleh asumsi yang keliru.

Pertama, mereka mengasumsikan bahwa Al-Qur`an adalah dokumen tertulis atau teks, bukan “hafalan yang dibaca”. Padahal, pada prinsipnya Al-Qur`an bukanlah tulisan (rasm atau writing), tetapi bacaan (qira’ah atau recitation) dalam arti ucapan dan sebutan. Baik proses turunnya (pewahyuan), penyampaian, pengajaran, sampai periwayatannya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan. Dari dahulu, yang dimaksud dengan ”membaca Al-Qur`an” adalah membaca dari ingatan (qara’a ‘an zhahri qalbin atau to recite from memory).

Tulisan yang ada berfungsi sebagai penunjang semata-mata. Sebab pada awalnya ayat-ayat Al-Qur`an dicatat di atas tulang, kayu, kertas, daun, berdasarkan hafalan sang qari’/muqri’. Proses transmisi semacam ini–dengan isnad (narasumber) secara mutawatir dari generasi ke generasi–terbukti berhasil menjamin keutuhan dan keaslian Al-Qur`an hingga hari ini.

Ini sungguh berbeda dengan kasus Bibel. Tulisannya—fakta manuskrip dalam bentuk papyrus, perkamen, dan sebagainya–memegang peran utama dan berfungsi sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum (perjanjian) alias Gospel.

Dengan asumsi keliru ini—menganggap Al-Qur`an semata-mata sebagai teks– mereka lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form criticism, dan textual criticism. Akibatnya, mereka menganggap Al-Qur`an sebagai produk sejarah, hasil interaksi orang Arab abad ke-7 Masehi dan 8 dengan masyarakat sekeliling mereka.

Mereka mengatakan bahwa mushaf yang ada sekarang tidak lengkap dan berbeda dengan aslinya (yang mereka sendiri tidak tahu pasti!). Karena itu mereka mau membuat edisi kritis, merestorasi teksnya, dan hendak membuat naskah baru berdasarkan manuskrip-manuskrip yang ada.

Kedua, meskipun pada prinsipnya Al-Qur`an diterima dan diajarkan melalui hafalan, namun juga dicatat melalui berbagai medium tulisan. Sampai Rasulullah wafat, hampir seluruh catatan awal tersebut milik pribadi para sahabat sehingga kualitas dan kuantitasnya berbeda satu sama lain. Ini karena para sahabat menuliskan catatan tambahan sebagai keterangan atau komentar (tafsir glosses) di pinggir atau di sela-sela ayat untuk keperluan masing-masing.

Baru setelah menyusutnya jumlah penghafal Al-Qur`an karena gugur di medan perang, usaha kodifikasi (jam’) pun dilakukan oleh sebuah tim yang dibentuk atas inisiatif Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu ’anhu hingga Al-Qur`an terkumpul dalam satu mushaf berdasarkan periwayatan langsung (first-hand) dan mutawatir dari Nabi.

Setelah wafatnya Abu Bakr (13H/634M), mushaf tersebut disimpan oleh Khalifah ‘Umar bin Khattab sampai wafat (23H/644M), lalu disimpan oleh Hafshah, sebelum kemudian diserahkan kepada Khalifah ‘Utsman bin Affan.

Pada masa inilah, atas desakan sejumlah sahabat, sebuah tim ahli dibentuk dan diminta mendata kembali semua qira’at yang ada. Mereka juga ditugasi meneliti dan menentukan nilai keshahihan periwayatannya untuk kemudian melakukan standardisasi demi mencegah kekeliruan dan perselisihan. Hasilnya dibukukan dalam beberapa mushaf standar yang masing-masing mengandung qira’ah-qira’ah mutawatir yang disepakati keshahihan periwayatannya dari Nabi. Jadi, sangat jelas fakta sejarah dan proses kodifikasinya.

Namun, para orientalis biasanya akan mulai dengan mempertanyakan fakta ini dan menolak hasilnya. Mereka menganggap sejarah kodifikasi tersebut hanya kisah fiktif dan mengatakan bahwa proses kodifikasi baru dilakukan pada abad ke-9 M. Di sini kelihatan bahwa para orientalis tidak mengerti atau sengaja tidak peduli bahwa Al-Qur`an tidak sama dengan Bibel. Al-Qur`an bukan lahir dari manuskrip, tapi sebaliknya, manuskrip lahir dari Al-Qur`an.

Ketiga, salah faham tentang rasm dan qira’ah-qira’ah. Sebagaimana diketahui, tulisan Arab atau khat mengalami perkembangan sepanjang sejarah. Pada kurun awal Islam, Al-Qur`an ditulis gundul, tanpa tanda-baca sedikit pun. Sistem vokalisasi baru diperkenalkan kemudian. Namun rasm ‘Utsmani sama sekali tidak menimbulkan masalah, mengingat kaum Muslimin saat itu belajar Al-Qur`an langsung dari para sahabat dengan cara menghafal, dan bukan dari tulisan. Mereka tidak bergantung pada manuskrip atau tulisan.

Lucunya, orientalis semacam Arthur Jeffery dan Gerd R Joseph Puin menyimpulkan sendiri bahwa teks gundul inilah sumber variant readings (ragam pembacaan)–sebagaimana terjadi dalam kasus Bibel–serta keliru menyamakan qira’ah dengan readings. Mereka tidak tahu bahwa kaidah yang berlaku pada Al-Qur`an adalah tulisan mengacu pada bacaan yang diriwayatkan dari Nabi (rasmu taab’iun li riwaayah), bukan sebaliknya.

Para orientalis itu juga salah faham mengenai rasm Al-Qur`an. Dalam bayangan mereka, munculnya bermacam-macam qira’ah disebabkan oleh rasm yang sangat sederhana itu, sehingga setiap pembaca bisa saja berimprovisasi dan membaca sesuka hatinya. Padahal ragam qira’ah telah ada lebih dahulu sebelum adanya rasm.

Mereka juga tidak mengerti bahwa rasm Al-Qur`an telah disepakati dan didesain sedemikian rupa sehingga dapat mewakili dan menampung pelbagai qira’ah yang diterima. Misalnya, dengan menyembunyikan (hadzf) ”alif” pada kata ”m-l-k” (Al-Fatihah: 4) demi mengakomodasi qira’ah ‘Ashim, al-Kisa’i, Ya’qub, dan Khalaf—yang menggunakan “maaliki”atau panjang–sekaligus qira’ah Abu ‘Amr, Ibnu Katsir, Nafi’, Abu Ja’far, dan Ibnu ‘Amir–”maliki” atau pendek.

Mungkin ada yang bertanya: Apakah semua qira’ah telah tertampung oleh rasm Utsmani? Adakah qira’ah mutawatir yang tidak terwakili oleh rasm Utsmani? Atau, apakah naskah-naskah yang dikirim oleh Khalifah ‘Utsman ke berbagai kota (Makkah, Basrah, Kufah, Damaskus) seragam rasm-nya dan sama dengan yang ada di Madinah atau berbeda-beda, yakni sesuai dengan harf atau qira’ah yang dominan di kota tersebut?

Yang masuk katagori ketiga cukup banyak. Menurut Prof Dr Sya’ban Muhammad Ismail dari Universitas Al-Azhar, Kairo (Mesir), jumlah qira`ah yang ditulis dengan rasm berbeda-beda dalam mashahi ‘Utsman, tanpa pengulangan, mencapai 58 kata.

Dari sini jelas, mushaf-mushaf yang dikirim oleh Khalifah ‘Utsman ke berbagai kota itu beragam rasm-nya, sesuai dengan bacaan sahabat yang diutus untuk mengajarkannya. Namun demikian tetap saja bacaan tidak bergantung pada teks. Dan memang, qira’ah sahabat (yang dikirim ke sebuah kota) atau perawinya tidak otomatis sama dengan mushaf yang beredar di kota itu, tetapi pada umumnya sama.

Boleh saja seorang imam atau perawi membacanya sesuai dengan riwayat dan rasm yang ada di mushaf kota lain. Contohnya, Imam Hafsh di Kufah membaca Surat Az-Zukhruf: 71 dengan bacaan ”tasytahiihi al-anfus” (dengan dua ha), seperti tertera dalam mushaf Madinah dan Syam. Padahal dalam mushaf Kufah tertulis ”tasytahi” (dengan satu ha). Ini dibolehkan mengingat salah satu syarat diterimanya sebuah qira’ah adalah sesuai dengan salah satu rasm mushaf ‘Utsmani.

Sebaliknya, jika suatu qira’ah tidak tercatat dalam salah satu mushaf Utsmani, qira’ah tersebut dianggap syadz’ (janggal) dan tidak dapat diterima. Itu karena bertentangan dengan rasm yang disepakati atau rasm yang telah menampung dan mewakili semua qira’ah mutawatir.


next...

0 comments: