No Santanic verses in Qur'an

Daftar berikut adalah pandangan-pandangan (secara implementatif dan spekulatif) terhadap beberapa klaim bahwa terdapat ayat-ayat setan dalam AlQuran. Perspektif yang diambil disini adalah berdasar akan penafsiran tentang ayat-ayat ini secara literal dan implementatif (tekstual Quran) dan bukan berdasar dari latar belakang mengapa ayat ini turun (Asbabun nuzul). Untuk dasar yang lebih akurat yang menyangkut tentang latar belakang sebenarnya dari beberapa sampel ayat-ayat yang saya bahas disini (yang mana klaim ini sebenarnya berasal dari tulisan At Tabari dan Ibnu Sa'd yang dijadikan hujjah bagi kaum misionaris), silahkan anda klik di sini. Daftar ini akan terus saya tambah jika atau sesuai dengan data-data di lapangan yang saya temukan tentang komplain-komplain apa saja bahwa di dalam Alquran terdapat ayat-ayat setan.


1. Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

Maksud secara tekstual dari pengertian ayat diatas adalah Allah akan melupakan dalam pikiran orang muslim tentang ajaran ayat-ayat yang pernah diturunkannya sebelumnya, sehingga orang-orang muslim tidak merasa terbebani atau menggemari/fanatik dengan ajaran ayat tersebut dan pikirannya dapat fokus ke dalam ajaran ayat yang lebih baru kepada Allah, karena sebagian ayat memang diturunkan untuk situasi tertentu (kondisional, temporari) dan akan diganti dengan ayat yang lebih baik atau permanen.

Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja." Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. (QS. 16:101)

Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 559:
Narrated Abdullah:
The Prophet said, "Why does anyone of the people say, 'I have forgotten such-and-such Verses (of the Qur'an)?' He, in fact, is caused (by Allah) to forget."



Hal-hal seperti ini juga difirmankan seperti yang tersebut dalam Bibel:

ibrani 7:18-19

Memang suatu hukum yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, kalau hukum itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu tidak berguna, --sebab hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan--tetapi sekarang ditimbulkan pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Allah.

Apakah hal ini menunjukkan Allah tidak konsisten atau terburu-buru? Kalau terburu-buru jawabannya adalah tidak, karena memang ada situasi temporari yang sedang dihadapi. Akan tetapi kalau jawabannya Allah tidak konsisten, silahkan anda cari indeks atau klik tautan ini "[1], [2] dan [3]" untuk memahami logika hukum Allah yang bekerja ini yang menjelaskan bahwa Allah Maha Berkuasa atas sesuatu dan manusia tidak dapat memprotes terhadap keputusan Allah jika Allah sudah menghendaki atau menetapkannya. Tidak ada yang bisa mengubah-ubah kalimat Allah kecuali Allah sendiri yang mengubahnya dalam Quran. Mari ambil satu contoh ayat-ayat yang dinasakh-kan:

.Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. 2:129)

Salah satu ayat dimana saat itu minum khamar belum diharamkan (pendekatan persuasif/preliminary, terutama bagi para mualaf saat ayat ini diturunkan), akan tetapi setelah berlalu selang waktu maka Allah SWT benar-benar mengharamkan minum khamar (selama di dunia karena di surga tidak ada orang mabuk tapi orang bahagia penuh kenikmatan):

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:90)

Dan kalau dibandingkan dengan ajaran Bibel, hal-hal seperti ini ternyata tidak pernah dihapus di era kenabian Yesus (yang hanya sebentar):

31:6 Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. 31:7 Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya. (amsal 31:6-7)

2:7 Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan merekapun mengisinya sampai penuh.
2:8 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu merekapun membawanya.
2:9 Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya--ia memanggil mempelai laki-laki,
2:10 dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."
(yohanes 2:7-10)

5:23 Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah. (1 timotius 5:23)

Extra comment (edited by muslim):

Islam critics often erroneously assumes that Allah is changing his mind when it comes to the laws of drinking. They have to understand the wisdom behind the evolvement of the prohibition of drinking. Allah did not send down all the laws at one time. The Quran was sent down over a period of 23 years. In the first 13 years of Mecca, none of these laws were sent down. As a matter of fact, if you analyze the Meccan Surahs, they all talk about Tawheed, Shirk, Day of Judgment, and Hell, Heaven etc. This was done in order to first build up the faith of the believers. Then in Madina, the laws were sent down. This is to teach us that people change gradually and not just overnight. This is the wisdom that Muslims even apply today. That if there is a sinner and wishes to turn back to God, he doesn’t conform to all the of laws and quit all the sins he does over night. His mind would eventually pop and lose hope of ever changing. But a person is to change gradually.

Drinking was a part of the lives of the people at that time and Allah in his divine wisdom had them quit gradually. This was Allah’s plan the whole time. But if Allah were to completely prohibit drinking all at once, it would have been very difficult for them to abide by that law immediately. This simply shows Allah’s mercy and consideration for his creation (Bassam Zawadi)

Penjelasan lebih lanjut tentang masalah nasikh-mansukh:

Dikutip dari http://sunni.blog.m3-access.com/posts/28709_Tafsir-Surah-Al-Baqarah-106-107.html

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir mengatakan, penakwilan ayat itu adalah sebagai berikut, “Tidaklah engkau mengetahui, wahai Muhammad, bahwa milik-Ku-lah semua kerajaan langit dan bumi dan kekuasaan terhadap keduanya, bukan milik selain Aku. Aku menentukan hukum di langit dan di bumi dan apa yang ada di antara keduanya sekehendak-Ku, Aku memerintahkan sekehendak-Ku, dan Aku melarang sekehendak-Ku pula. Aku menasakh, mengganti, dan mengubah hukum-hukum yang Aku tetapkan pada hamba-hamba-Ku sekehendak-Ku dengan apa yang Aku kehendaki.”

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, “Meskipun ini ucapan Allah yang ditunjukan kepada nabi-Nya dalam bentuk kalimat berita yang menyatakan keagungan-Nya, ini merupakan pernyataan yang menunjukkan dustanya orang-orang Yahudi yang menyangkal di-nasakh-nya hukum-hukum Taurat dan mengingkari kenabian Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW, yang datang dengan membawa risalah Allah yang mengubah hukum-hukum Taurat. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi serta kekuasaan atas keduanya, bahwa makhluk-makhluk itu merupakan warga kerajaan-Nya.

Mereka wajib mendengar dan taat terhadap perintah dan larangan-Nya. Allah berhak memerintahkan dan melarang mereka sekehendak-Nya, menghapus sesuatu yang dikehendaki-Nya, dan menetapkan sesuatu yang dikehendaki-Nya.”

Yang membuat kaum Yahudi mengingkari nasakh adalah kekafiran dan penentangan mereka, karena terjadinya nasakh dalam hukum-hukum Allah bukan sesuatu yang tidak masuk akal, karena Dia menghukumi sekehendak-Nya sebagaimana Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Di samping itu nasakh juga telah benar-benar terjadi dalam kitab-kitab dan syariat-syariat terdahulu, seperti Dia menghalalkan kepada Adam untuk mengawinkan putri-putrinya dengan putra-putranya, kemudian mengharamkannya, menghalalkan semua jenis binatang kepada Nabi Nuh setelah mendarat dari kapal, tetapi kemudian menasakh sebagiannya.

Dahulu, menikahi dua saudara dibolehkan bagi Bani Israil dan keturunannya, kemudian hal itu diharamkan oleh syariat kitab Taurat dan yang sesudahnya. Allah menyuruh Ibrahim menyembelih putranya, kemudian dinasakh sebelum hal itu dilakukan. Masih banyak lagi yang lainnya jika mau disebutkan.

Kaum Yahudi mengakui hal itu, namun mereka berpaling darinya. Sedangkan kaum muslimin sepakat atas kemungkinan terjadinya nasakh dalam hukum-hukum Allah Ta’ala, karena mengandung hikmah yang sangat baik.


Selanjutnya Allah SWT berfirman:

Allah Ta’ala melarang kaum mukmin banyak bertanya kepada Nabi SAW mengenai perkara-perkara yang belum terjadi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan kepada nabimu hal-hal yang, jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian, dan jika kalian menanyakan pada saat Al-Quran sedang diturunkan niscaya akan diterangkan kepada kalian.” (QS Al-Maidah:101).

Artinya, “Apabila kalian menanyakan perinciannya setelah suatu ayat diturunkan, akan dijelaskan kepada kalian. Tetapi janganlah kalian bertanya tentang perkara yang belum terjadi, karena boleh jadi perkara itu akan diharamkan karena ditanyakan. Karena itu, dalam hadits shahih dikatakan, “Sesungguhnya seorang muslim yang paling besar kejahatannya adalah yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian menjadi diharamkan lantaran pertanyaannya itu.

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat hadits dari Al-Muqhirah bin Syu’bah, Rasulullah SAW melarang banyak berkata begini dan begitu, menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya. Dalam Shahih Muslim dikatakan, “Biarkanlah aku pada apa yang aku biarkan untuk kalian, karena binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan mereka banyak bertanya dan banyak menentang para nabi mereka. Maka apabila aku menyuruh kalian sesuatu, kerjakanlah semampu kalian; dan jika aku melarang kalian dari sesuatu, jauhilah ia.”

Nabi SAW mengatakan demikian setelah beliau memberitahukan para sahabatnya bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk menunaikan haji, kemudian seorang laki-laki bertanya, “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?”

Beliau terdiam meskipun pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Tidak. Seandainya aku katakan ya, niscaya akan menjadi wajib (diwajibkan); dan seandainya menjadi wajib, kalian tak akan mampu melakukannya.” Lalu beliau melanjutkan sabdanya, “Biarkanlah aku pada apa yang aku biarkan untuk kalian…(dan seterusnya).”


Karena itu Anas bin Malik mengatakan, “Kami dilarang untuk bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sesuatu.” Tentu yang dimaksudkannya adalah pertanyaan-pertanyaan sebagaimana yang dijelaskan di atas, bukan masalah-masalah yang perlu ditanyakan, baik masalah hukum maupun yang lainnya. Berkaitan dengan ini Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah aku melihat suatu kaum yang lebih baik daripada para sahabat Nabi Muhammad SAW. Mereka hanya bertanya kepada beliau tentang 12 masalah, dan semuanya itu disebutkan dalam Al-Quran.”

Mengapa harus ada nasikh mansukh?

Jawab: Karena ayat-ayat yang turun setahap demi setahap mengikuti perkembangan kejadian di jazirah Arabia (kejadian yang menimpa kaum mukminin). Ayat-ayat Quran diturunkan selama hampir 23 tahun. Tentu saja hal ini memungkinkan terjadinya ayat yang dibatalkan (secara kronologis waktu) karena adanya perkembangan dan gejolak yang terjadi di masyarakat dalam rentang waktu yang lama. Ayat-ayat Quran membentuk suatu alur cerita dan hanya Allah sendiri yang tahu mengapa demikian. Bahkan dalam Taurat atau Bible sendiri ayat-ayatnya juga saling menggugurkan satu sama lain. Jadi adalah pemikiran yang aneh jika non muslim tidak memahami hal ini, seolah-olah dalam kitab lain hal-hal seperti tidak ada. Dalam segi waktu, kitab Taurat dan Injil hanya diturunkan bisa jadi cuma 1 hari, bedakan dengan Al-Quran yang menjalani masa "operasional" selama 23 tahun sebelum benar-benar utuh/terkumpul menjadi 6234 ayat. Ayat-ayat ini kemudian disatukan menjadi sebuah shuhuf dikarenakan banyak penghapal Quran yang meninggal pada perang Yamamah. Karena memang sejak awal nabi mengijinkan agar dibuat variasi Quran, maka pada suatu waktu variasi-variasi ini ternyata menimbulkan suatu ketegangan/masalah sehingga akhirnya disusunlah shuhuf ini kedalam satu mushaf, yaitu mushaf Utsmani dengan sebelumnya melalui beberapa proses pembukuan dan kesepakatan yang akhirnya menjadi suatu standar (bedakan dengan Bibel yang terus menerus mengalami revisi dari tahun ke tahun bahkan sampai milenium kedua ini). Adapun proses penyusunan shuhuf dan mushaf ini mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh nabi SAW selama hidup beliau dan setiap proses yang berhubungan dengan sejarah perkembangan ayat Quran dan hadis (termasuk atsar) dicatat oleh para sahabat nabi melalui metode periwayatan sehingga dapat ditelusuri asal muasal peristiwa dan dasar hukumnya.

Sedangkan mengenai ayat apa yang diganti, diubah, dihapus, diperbaruhi telah tercatat sebelumnya/terlebih dahulu dalam Lauh Mahfuzh:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. 6:59)

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. 22:70)

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh). (QS. 13:39)

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (QS. 85:21-21)


2. "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (orang musyrik) seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia (orang musyrik) mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayatNya (dengan para Nabi). Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana," (QS. 22:52 )

Ayat sebelumnya:


"Dan mereka (orang musyrik) meminta kepadamu (nabi SAW) agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu (manusia) adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu (manusia). Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya (orang musyrik terdahulu), yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka (orang musyrik), dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu). Katakanlah (Allah SWT menyuruh nabi SAW berkata): "Hai manusia, sesungguhnya aku (nabi SAW) adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu (orang musyrik). Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia. Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat- ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka." (QS. 22:49-51 )

Ayat sesudahnya:

"agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya (orang-orang musyrik). Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,"
(QS. 22:53 )

Sudah jelas dalam kronologi ayat-ayat diatas, bahwa kata kamu, dia, manusia, orang dsb adalah orang-orang yg didalam hatinya ada penyakit, orang-orang yg menentang para rasul, dan diuji (diazab) dengan setan-setan yg membisiki dirinya. Dan Allah SWT menghalau setan-setan tsb dengan menguatkan ayat-ayatNya (dengan diutusnya para Nabi).

Versi cerita/tulisan Ibnu Ishaq:

Yang dimaksud ia dalam tulisan Tabari/Ibnu Sa'd adalah pribadi nabi Muhammad SAW berdasarkan tulisannya di kitab tarikh beliau:

"Have you thought of al-Lat and al-Uzza and Manat, the third ... these are the exalted Gharaniq whose intercession is approved. (Ibn Ishaq, pp. 165-166)"

"Satan ... put upon his (Muhammad's) tongue "these are the exalted Gharaniq whose intercession is approved". (Ibn Ishaq, p. 165-166)"

"When Quraysh heard that, they were delighted and greatly pleased at the way in which he spoke of their gods and they listened to him ... Then the people dispersed and Quraysh went out, delighted at what had been said about their gods, saying, "Muhammad has spoken of our gods in splendid fashion". (Ibn Ishaq, p. 166)"

"Then Gabriel came to the apostle and said , "What have you done, Muhammad? You have read to these people something I did not bring you from God and you have said what He did not say to you." (Ibn Ishaq, p. 166)"

"When the annulment of what Satan had put upon the prophet's tongue came from God, Quraysh said: "Muhammad has repented of what he said about the position of your gods with Allah, altered it and brought something else." (Ibn Ishaq, p. 166-167)"

Silahkan anda klik di sini ("Those Are The High Flying Claims") untuk mengikuti sanggahan tentang maksud ayat diatas. Sebagai, tanggapan pribadi, anggap apa yang ditulis Tabari merupakan isu benar, maka logika pengertian ayat diatas adalah sebagai berikut:

1- Setan mencoba untuk merintangi dakwah nabi dengan menimbulkan hasrat tertentu kepada nabi SAW, yaitu mencoba mengatakan apa yang tidak diwahyukan oleh Allah SWT kepada nabi SAW.

2- Akan tetapi Allah SWT kemudian "membatalkan apa yang setan bisikkan kepada nabi SAW." Artinya disini setan gagal, dan tidak sanggup untuk mengalahkan kehendak keilahian Tuhan..

3- Alasan mengapa Allah SWT mengijinkan setan untuk menipu nabi adalah untuk menguji para nabi dan menunjukkan bagaimana Allah SWT akan mengatasi para setan. (Bukti-bukti bahwa God mengijinkan setan untuk menggoda Yesus)

  • Sahih Muslim Book 039, Number 6759:

    A'isha the wife of Allah's Apostle (may peace be upon him), reported that one day Allah's Messenger (may peace be upon him) came out of her (apartment) during the night and she felt jealous. Then he came and he saw me (in what agitated state of mind) I was. He said: A'isha, what has happened to you? Do you feel jealous? Thereupon she said: How can it he (that a woman like me) should not feel jealous in regard to a husband like you. Thereupon Allah's Messenger (may peace be upon him) said: It was your devil who had come to you, and she said: Allah's Messenger, is there along with me a devil? He said: Yes. I said: Is devil attached to everyone? He said: Yes. I (Aisha) again said: Allah's Messenger, is it with you also? He said: Yes, but my Lord has helped me against him and as such I am absolutely safe from his mischief.

Dari sumber yang sahih didapat keterangan bahwa setan menangis/meratap (tak berdaya) ketika:

1- Dia dilaknat.

2- Dia diusir dari surga.

3- Rasulullah diutus...!! (Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 206)

4- Diturunkannya suratul Fatihah.

Dari poin-poin diatas dapat dilihat bahwa setan meratap ketika momen diutusnya nabi SAW tiba. Jadi logikanya disini, bagaimana bisa setan mampu dan berani menggoda nabi SAW yang diriwayatkan dalam hadis lain juga pernah akan menangkap setan dan bahkan mengurungnya jika karena tidak doa nabi Sulaiman as yang menghalangi beliau menangkapnya?

  • Sahih Bukhari Volume 2, Book 22, Number 301:
    Narrated Abu Huraira:
    The Prophet once offered the prayer and said, "
    Satan came in front of me and tried to interrupt my prayer, but Allah gave me an upper hand on him and I choked him. No doubt, I thought of tying him to one of the pillars of the mosque till you get up in the morning and see him. Then I remembered the statement of Prophet Solomon, 'My Lord ! Bestow on me a kingdom such as shall not belong to any other after me.' Then Allah made him (Satan) return with his head down (humiliated)."

Nabi-nabi lain yang pernah di coba atau diuji oleh setan, sepanjang pengetahuan saya adalah nabi Nuh as, nabi Musa as, nabi Dzulkifli as dan nabi Isa as, namun tidak satupun dari para setan itu berhasil mempengaruhi para nabi tersebut, kecuali nabi Isa yang pernah digoda setan selama 40 hari mempunyai atau ada perspektif sendiri tentang hal ini. Bahkan disebutkan dalam hadis sahih bahwa para setan sekali-kali tidak bisa menyerupai nabi SAW:

"Barangsiapa yang melihat aku dalam tidurnya (mimpi melihat aku) maka sesungguhnya ia betul-betul telah melihat aku, karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai aku". (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesimpulannya cerita-cerita atau riwayat-riwayat tentang godaan setan terhadap nabi Muhammad SAW tidak pernah ada dalam Al Quran kecuali rekaan-rekaan atau desas-desus belaka terhadap peristiwa yang pernah terjadi di masyarakat lampau dan hal ini ternyata dicoba dirangkai-rangkai sendiri oleh para musuh-musuh Islam untuk mengambil kesimpulan sendiri terhadap ketidakkredibelan dakwah nabi SAW...

Artikel terkait:

Yesus berlaku hipokrit

Yesus digoda oleh iblis

3. "Maka apakah patut kamu menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian." (QS. 53:19-20 )

Ayat sebelumnya:


"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi...Lalu dia (Jibril) menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya (nabi SAW) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha..Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar...

...Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)

Ayat sesudahnya:

Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu (orang musyrik) dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia."
(QS. 53:1-25 )

Konteks ayat diatas diturunkan ketika orang-orang Mekah mempertanyakan tentang peristiwa Isra Mi'raj yang dilakukan oleh nabi SAW. Dapat dilihat dari kronologi peristiwa bahwa kata kamu yang dimaksud Allah SWT adalah orang-orang musyrikin.


4. "Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." (QS. 2:23 )

"Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain."
(QS. 17:88 )

Sudah jelas bahwa ayat diatas adalah sebuah tantangan yang ditujukan kepada manusia (dalam konteks peristiwa dijaman nabi SAW adalah orang-orang musyrikin yang meragukan kenabian Muhammad dan ajarannya (Quran)) dan bukan ditujukan kepada Muhammad SAW. Nabi Muhammad tidak bisa membuat Quran karena beliau sendiri juga manusia (QS. 17:88), karena itu bagaimana bisa ada logika yang menyatakan bahwa AlQuran di buat oleh Muhammad (yang seorang manusia) padahal surah 17:88 menyatakan tidak yang bisa membuat yang semisal Alquran baik dari kalangan jin (setan) maupun manusia.


5. "Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga." (QS. 2:78 )

Tidak ada yang aneh dengan ayat diatas. Ayat diatas adalah ditujukan kepada umat Yahudi yang sebagian buta huruf dan tidak mengerti Taurat, dan hanya tahu cerita dongeng-dongeng yang diceritakan pendeta-pendeta mereka. Ayat diatas mengikuti ayat sebelumnya yaitu QS. 2:77 dan ayat sebelumnya lagi. Alur cerita dimulai dari ayat 2:47.


6. Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.(QS. 17:73)

Nabi SAW mendapat tekanan mental yang berat dari kaum musyrikin sehingga nabi SAW mengalami kesukaran untuk menyampaikan wahyu dan cenderung sedikit mengurangi kegigihan beliau (karena guncang hatinya sebab kematian-kematian keluarganya), yang mana jika tekanan kaum musyrikin ini berhasil tentu kaum musyrikin akan sangat gembira dan mengangkat nabi SAW sebagai temannya dan semakin menjadi-jadi kemusyrikan (kebohongan) mereka (cek di sini untuk mengikuti analisis ini). Akan tetapi sayang sekali bahwa Allah telah menyelamatkan dan membantu nabi SAW dan memperjalankan beliau dengan hadiah istimewa yaitu Isra Miraj/pergi ke langit ketujuh.


7. "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (QS. 54:17 )

Memang ayat AlQuran itu mudah, misal tunaikan shalat, saum (puasa), berhaji bagi yg mampu. Mudah dicerna toh? Cuma masalahnya kembali kepada manusianya sendiri mau mengerti apa tidak?

Surah 3, Ali Imran ayat 7 menyatakan bahwa AlQur'an terbagi atas dua babak : muhkamat dan mutasyabihat.


"Dia-lah yang menurunkan Kitab (AlQur'an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi AlQur'an, dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah /perselisihan/ dan untuk mencari-cari pengertiannya, padahal tidak ada yang mengetahui pengertiannya melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya. Katakanlah:"Kami beriman kepada yang semua ayat-ayatnya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang yang mau memikirkan."(QS. 3:7 )

Yang muhkamat adalah petunjuk hidup yang mudah dimengerti yang terdapat didalam AlQur'an, termasuk didalamnya masalah halal-haram, perintah dan larangan serta hal-hal lainnya dimana ayat-ayat tersebut dapat dipahami oleh siapa saja secara gamblang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran-pemikiran yang berat.

Sedangkan mutasyabihat/kiasan/metafora/allegorical adalah hal-hal yang susah dimengerti karena berupa keterangan tentang petunjuk banyak hal yang mesti diteliti dan merangkaikan satu sama lain hingga dengan begitu terdapat pengertian khusus tentang hal yang dimaksudkan, termasuk didalamnya adalah dapat diungkapkan melalui kemajuan teknologi dan cara berpikir manusia
.

Dan menurut apa yang dinyatakan dalam surat QS. 3:7 maka sebagian ayat tersebut ada yang perlu dicari pengertiannya. Bagaimana cara mencarinya. Ada ilmunya yaitu yang dinamakan ilmu tafsir. Dan sumber ilmu tafsir ini termasuk didalamnya adalah dapat diungkapkan melalui kemajuan teknologi dan cara berpikir manusia. Jelas sekali koq maksudnya. Keterangan tentang ilmu tafsir dapat di klik di sini.

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. 7:52)

Sementara ayat surah 3:7 tidaklah bertentangan dengan surah 54:17, yang pengertiannya bahwa ayat satu menjelaskan ayat lain, ayat satu berkorelasi dengan ayat lain. Contoh ayat buatan saya sendiri misalnya:

Ayat 1: menulis memakai bolpen adalah mudah

Ayat 2: di bidang tulis menulis, ada banyak ayat tulis seperti pensil, bolpen, kuas, dsb. Sebagian alat-alat itu ada yg mudah dipakai dan yg lain memerlukan ketrampilan khusus.

Dari alur berpikir logika diatas, maka seharusnya orang awampun akan bisa mengurai maksud dari ayat-ayat diatas.


8. Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS. 16:43)

Coba perhatikan ayat sebelumnya:

"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati." (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta." (QS 16:38-39).

Kamu disini adalah mewakili kaum musyrikin. Ayat ini sebenarnya menjelaskan jika kaum kufur tersebut tidak mempercayai akan apa yang disampaikan oleh Muhammad SAW maka hendaklah bertanya (membandingkan) kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang agama-agama terdahulu (pemuka-pemuka ahli kitab) tentang peristiwa atau nasib umat-umat terdahulu yang mendustakan Allah SWT. Ayat QS. 16:43 diatas diperjelas dengan surah 21:1-7.


9. Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." (And they say: "Tales of the ancients which he has caused to be written: and they are dictated before him morning and evening.") (QS. 25:5 )

Ayat sebelumnya:

Dan orang-orang kafir berkata: "Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain"; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. (But the Misbelievers say: "Naught is this but a lie which he has forged and others have helped him at it." In truth it is they who have put forward an iniquity and a falsehood) (QS. 25:4 )

Ayat sesudahnya:

Katakanlah: "Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Say: "The (Qur'an) was sent down by Him Who knows the Mystery (that is) in the heavens and the earth: verily He is Oft-Forgiving Most Merciful.") (QS. 25:6 )

Jadi maksud dari ayat diatas (surah 25:3-4 ) adalah kaum pagan mengolok-olok nabi SAW bahwa beliau pernah membaca kisah-kisah sejarah terdahulu dan menuduh bahwa nabi SAW telah menulis dan mengajarkan pada orang-orang beriman suatu kisah bualan belaka, akan tetapi Allah SWT membantah dalam ayat 25:6 bahwa Al-Quran adalah benar-benar diturunkan dari Allah SWT dan bukan karangan atau kompilasi buatan nabi Muhammad SAW.

Ayat serupa tentang anggapan orang kafir:

Dan orang-orang kafir berkata: "Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain"; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. (QS. 25:4 )

Sayang semua anggapan orang kafir telah dibantah oleh Allah SWT dalam ayat-ayat berikut:

  • dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. 53:3-4 )

  • Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar." (QS. 10:38 )

  • Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (QS. 29:48 )


10. Answering-islam.org wrote:

Idolatry, sin of Muhammad

[Guillaume said:] The only authentic story of Muhammad's early years is contained in an unpublished manuscript of his biographer Ibn Ishaq. It reads as follows:

I was told that the apostle of Allah said, as he was talking about Zayd son of 'Amr son of Nufayl, 'He was the first to upbraid me for idolatry and forbade me to worship idols. I had come from al-Ta'if along with Zayd son of Haritha when we passed Zayd son of 'Amr who was in the highland of Mecca. Quraysh had made a public example of him for abandoning his religion, so that he went out from their midst. I sat down with him. I had a bag containing meat which we had sacrificed to our idols -- Zayd b. Haritha was carrying it -- and I offered it to Zayd b. 'Amir -- I was but a lad at the time -- and I said, "Eat some of this food, my uncle." He replied, "Surely it is part of those sacrifices of theirs which they offer to their idols?" When I said that it was, he said, "Nephew mine, if you were to ask the daughters of 'Abd al-Muttalib they would tell you that I never eat of these sacrifices, and I have no desire to do so." Then he upbraided me for idolatory and spoke disparagingly of those who worship idols and sacrifice to them, and said, "They are worthless: they can neither harm nor profit anyone," or words to that effect.' The apostle added, 'After that I never knowingly stroked one of their idols nor did I sacrifice to them until God honoured me with his apostleship. (A. Guillaume, Islam, pp. 26-27; emphasis mine)

Koreksi:

He was the first to upbraid me for idolatry and forbade me to worship idols, he upbraided me for idolatory artinya: Muhammad memarahi/mencela kepada sang narator agar jangan menyembah berhala dan melarang narator tersebut tentang hal ini. He disini menunjuk kepada Muhammad dan me untuk sang narator.

I had a bag containing meat which we had sacrificed to our idols artinya: narator cerita mempunyai tas yang berisi daging yang mereka (narator dan Zayd b. Haritha) persembahkan kepada berhala. I disini menunjuk kepada sang narator, dan we menunjuk ke sang narator dan Zayd b. Haritha bukan kepada Muhammad SAW.


11. http://www.bibleandscience.com/science/quran.htm wrote:

The earth is spread out like a carpet.
The Qur’an 20:53, talks of God who has, "...made the earth for you like a carpet spread out..." (see also 71:19). This could hardly be a clearer way of describing the earth as flat. The Qur’an repeatedly refers to how the earth is "wide" or "spread out" (Qur’an 13:3; 15:19; 18:7; 19:6; 21:30; 35:40; 41:10; 43:10; 50:7; 51:48; 55:10; 78:6; 79:30; 88:20), which is not the language used to describe a round sphere.

Made the earth for your like a carpet spread out?, tidak ada kalimat/ayat Quran yang menyebut bahwa bumi itu datar, namun arti literal ayat diatas adalah membuat bumi SEPERTI karpet yang dihamparkan. Apakah bisa dibedakan antara kata SEPERTI dihamparkan dan datar?

Corrected:
071.019 "'And God has made the earth for you as a carpet (spread out), Do you clearly understand about that? It said as or like

71,19. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan (arabic,
bisaathan),

The following verse is (ayat berikutnya):

071.020 "'That ye may go about therein, in spacious roads.'" Ayat diatas bermakna bahwa bumi dihamparkan/dibentangkan/diluaskan dalam arti bumi terasa datar/didatarkan dan menjadi luas bagi manusia dan manusia bisa berjalan diatasnya.

Ayat lain (spread out, wide expansed): 13:3, 15:19, 43:10, 50:7, 51:48, 55:10, 78:6, 79:30, 88:20 bermakna seperti diatas. Ayat berikut bahkan tidak ada hubungannya sama sekali: 18:7, 19:6, 21:30, 35:40, 41:10, .

Coba perhatikan ayat dibawah:


S 2:22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

Apakah maksudnya langit sebagai atap berarti langit seperti genting atau plafon rumah yang datar? Atau lagi-lagi Quran menyajikan scientific error?

Mari bandingkan dengan ayat Bibel sebagai berikut:

yesaya 40:22 Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!

isaiah 40:22 It is he that sitteth upon the circle of the earth, and the inhabitants thereof are as grasshoppers; that stretcheth out the heavens as a curtain, and spreadeth them out as a tent to dwell in:

Saya juga bisa menyatakan bahwa Bibel melakukan scientific error, yaitu penduduk bumi adalah belalang. Dan langit seperti kain (artinya langit adalah kain) atau langit adalah kemah/tenda...:-)

Semuanya terjadi karena para ilmuwan kafirin tidak bisa membedakan kata hubung SEPERTI dengan makna ayat itu sendiri dan menuduh Al-Quran melakukan scientific error dan kalau logika seperti ini yang dipakai, saya juga bisa bilang bahwa ternyata Bibel juga melakukan hal serupa.. :-)

Adapun bumi adalah bulat sebenarnya dinyatakan secara implisit oleh Quran dalam ayat berikut:

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan (yukawiru, huruf arab) malam atas siang dan menutupkan (yukawiru, huruf arab) siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (QS. 39:5 )

Saling menutupkan satu hal dg hal lain = mutual overlap

Dalam istilah atau kosakata arab Yukawiru/takwir (menggulung) mempunyai kata dasar kura yg berarti bola atau gulungan, maka kata kerja Yukawiru mempunyai arti membentuk bola atau bulatan. Dan overlaping malam dan siang akan membentuk pengertian bola. Dan perhatikan bahwa konteks menutupkan siang-malam adalah menunjuk ke obyek bumi dan bukan langit (mengikuti QS. 7:54).

Karena bentuk bumi tidak bulat seutuhnya/agak melebar (http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/ast99/ast99162.htm), maka dalam ayat lain secara spesifik dinyatakan bahwa bentuk bumi adalah seperti telur:

He made the earth egg-shaped *. (QS.79:30)

* The Arabic word ``dahhaahaa'' is derived from ``Dahhyah'' which means ``egg.''

sumber : Faithfreedomwatch.r8.org

0 comments: