Matahari Bergerak?

2
Oleh : endrie123

Umat nonmuslim terlalu mempermasalahkan ayat ayat Alquran yang menyatakan matahari berjalan / beredar / apalah yang mengindikasikan matahari BERGERAK

lalu apakah secara sains matahari hanya DIAM ????
ataukah sains modern membuktikan matahari bergerak ???
mari kita buktikan !


Demi Langit Yang Mempunyai Jalan-jalan
Tatkala merujuk kapada Matahari dan Bulan di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa Matahari dan Bulan tersebut masing-masing bergerak di dalam orbit atau garis edar tertentu.

Quran Surah Al Anbiyaa 33 menyatakan :

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

Dalam ayat ini Allah SWT. mengarahkan perhatian manusia kepada kekuasaan-Nya dalam menciptakan waktu malam dan siang, serta matahari yang bersinar di waktu siang, dan bulan bercahaya di waktu malam. Masing-masing beredar pada garis edarnya dalam ruang cakrawala yang amat luas yang hanya Allahlah yang mengetahui batas-batasnya.
Adanya waktu siang dan malam disebabkan karena perputaran bumi pada sumbunya, di samping peredarannya mengelilingi matahari. Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami waktu siang, sedang bagiannya yang tidak mendapatkan sinar matahari tersebut mengalami waktu malam. Sedang cahaya bulan adalah sinar matahari yang dipantulkan bulan ke bumi. Di samping itu, bulan juga beredar mengelilingi bumi.

Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat di atas adalah untuk menjadi bukti-bukti alamiyah, di samping dalil-dalil yang rasional dan keterangan-keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu, tentang wujud dan kekuasaan Allah SWT., untuk memperkuat apa yang telah disebutkan-Nya dalam firman-Nya yang terdahulu, bahwa "apabila" di langit dan di bumi ini ada tuhan-tuhan selain Allah niscaya rusak binasalah keduanya".

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa Matahari tidaklah diam tetapi bergerak dalam garis edar tertentu. Quran Surah Yaasin 38 yang menyatakan :

[ Wasy syamsu tajrii li mustaqarril lahaa dzaalika taqdirul ?aziizil ?aliim.

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Kata tajrii digunakan untuk menggambarkan perpindahan satu benda dari satu tempat ke tempat lain, perpindahan yang dinilai cepat dibandingkan dengan pepindahan benda lain yang serupa. Ia juga digunakan untuk menunjuk perjalanan sangat jauh yang ditempuh dalam waktu yang relatif singkat.

Huruf lam pada kalimat limustaqarrin ada yang memahami sebagai menujuatau batas akhir. Sedang kata mustaqarr terambil dari kata qaraar yang berari kemantapan/pemberhentian. Dengan demikian kata ini dapat berarti Matahari bergerak (beredar) menuju ke tempat pemberhentiaannya atau sampai waktu pemberhentiannya, atau agar dia mencapai tempat atau waktu pemberhentiannya.. Bergerak menuju tempat pemberhentian dimaksud adalah peredarannya setiap hari di garis edarnya dalam keadaan sedikitpun tang menyimpang hingga dia terbenam. Atau dalam arti bergerak terus menerus sampai waktu yang telah ditetapkan oleh Allah untuk penghentian geraknya, yakni pada saat dunia akan kiamat. Atau peredarannya itu bertujuan agar ia sampai pada waktu atau tempat yang ditentukan untuknya.

Kata [i]taqdiir[i] digunakan dalam arti menjadikan sesuatu memiliki kadar serta system tertentu dan teliti. Ia juga berarti menetapkan kadar sesuatu, baik yang berkaitan dengan materi, maupun waktu. Kata yang digunakan ayat diatas, mencakup kedua makna tersebut. Allah menetapkan bagi Matahari kadar sistem perjalanan/peredarannya yang sangat teliti dan dalam saat yang sama Yang Maha Kuasa itu mengatur dan menetapkan pula kadar waktu bagi peredarannya itu.

Ayat diatas ditutup dengan dua sifat Allah, yakni [i]al-Aziiz ? Maha Perkasa dan al-Aliim ? Maha Mengetahui. Itu bertujuan menjelaskan bahwa pengaturan Allah terhadap benda langit seperti Matahari yang demikian besar, dapat terlaksana karena [u]Dia Maha Perkasa sehingga semua tunduk kepadaNya, dan Maha Mengetahui sehingga pengaturanNya sangat teliti dan mengagumkan.

Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al-Quran ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomi di zaman moderen. Menurut perhitungan para ahli astronomi matahari bergerak dengan kecepatan 720.000 km/jam kea rah bintang vega dalam suatu garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak kurang lebih 17.280.000 km/hari. Bersama matahari semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana. Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan seperti ini dinyatakan dalam Al-Quran surah Adz Dzaariyaat ayat 7 yang menyatakan :

Was samaai dzaatil hubuk.

Demi langit yang memiliki jalan-jalan

Lafal Al Hubuk adalah bentuk jamak dari Habiikah, sama halnya dengan lafal Thariiqah yang bentuk jamaknya Thuruq, yakni sejak ia diciptakan mempunyai jalan-jalan, sebagaimana jalan di padang pasir.

Terdapat sekitar 200 milyard galaxy di seluruh alam semesta dan masing-masing terdiri dari 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planit dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut berada dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti.

Selama jutaan tahun masing-masing seolah-olah berenang sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan dengan kecepatan luar biasa dalam suatu garis edar yang terhitung dan terencana. Selama pergerakkan ini tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain atau bertabrakan dengan lainnya.

Telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan yang satu dengan yang lain tak satu pun bagian-bagiannya saling bersentuhan. Dapat dipastikan bahwa pada saat Al-Quran diturunkan, manusia tidak mempunyai telescope masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa yang berjarak jutaan kilo meter. Tidak pula pengetahuan Fisika ataupun Astronomi moderen karena saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa alam semesta dipenuhi oleh lintasan dan garis edar sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran


tambahan mengenai solar apex, dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Solar_apex

Solar apex
From Wikipedia, the free encyclopedia

The solar apex, or the Apex of the Sun's Way, refers to the direction that the Sun travels with respect to the Local Standard of Rest. This is not to be confused with the Sun's apparent motion through the constellations of the zodiac, which is illusory – this supposed motion is actually caused by the Earth revolving around the Sun.

The general direction of the solar apex is southwest of the star Vega near the constellation of Hercules. There are several coordinates for the solar apex. The visual coordinates (as obtained by visual observation of the apparent motion) is right ascension (RA) 18h 28m 0s and declination (dec) of 30° North (in galactic coordinates: 56.24° longitude, 22.54° latitude). The radioastronomical position is RA 18h 03m 50.2s and dec 30° 00′ 16.8″ (galactic coordinates: 58.87° longitude, 17.72° latitude).

The speed of the Sun towards the solar apex is about 16.5 km/s. This speed is not to be confused with the orbital speed of the Sun around the Galactic center, which is about 220 km/s and is included in the movement of the Local Standard of Rest. The sun's motion in the Milky Way is also more complex than might be immediately supposed[1].

The nature and extent of the solar motion was first demonstrated by William Herschel in 1783.

The solar antapex, the direction opposite of the solar apex, is located near the star Zeta Canis Minoris.

sumber : moslem-answering.getforum.org

Islam agama kekerasan?

3
Seperti diketahui bersama kata ‘Islam’ berarti ‘tunduk/menyerah’, berasal dari bahasa Arab, juga mempuunyai hubungan dengan kata ‘Salam’ yang berarti ‘damai’. Perlu diketahui di saat nabi Muhammad saw menyerukan kitab suci Al Quran kepada bangsa Arab 14 abad lalu, salah satu misi utama beliau ialah menghentikan aktifitas pembunuhan masal seperti yang kita saksikan pada WTC 11 Sept, Bom Bali 1 dan 2, dst.

Pada masa pra-Islam, Arab dirundung oleh perang suku, dimana hampir tiap suku-suku mempunyai dendam dan rasa ingin balas dendam terhadap suku lain, sehingga sering terjadi perang antar puak saat itu. Bahkan Nabi Muhammad pun beberapa kali menjadi target pembunuhan namun beliau selamat. Juga pengikut beliau pada masa awal Islam, harus melakukan Hijrah karena siksaan yang di lancarkan oleh komunitas Quraisy.

Nabi beserta pengikutnya di paksa turun ke medan perang demi menyelamatkan diri, namun setelah situasi membaik dan kondisi masyarakat Muslim saat itu semakin mapan. Nabi pun mengalihkan perhatiannya dengan membangun kualisi damai dengan suku-suku disekitar Madinah (Yastrib) dan memperoleh kemenangan mutlak di bumi Anshar itu. Di saat wafatnya, beliau telah menjadikan hampir seluruh tanah Arab dalam situasi damai.

Al Quran kitab yang didalamnya membahas banyak isu sosial, oleh karenanya wajar jika pada sejumlah ayat terdapat pembicaraan tentang perang, karena saat itu perang merupakan realitas sosial yang dihadapi oleh kaum Muslim generasi awal. Perang adalah aktifitas yang kejam pada masa itu, eksekusi mati pada tawanan perang sering terjadi, karenanya Al Quran pun pada masa itu memerintahkan “tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya,” (Qs 4: 89). Ayat inilah yang kerap di bawa oleh nonMuslim demi meyakinkan pembacanya bahwa Islam agama haus darah. Namun sayangnya mereka tidak meneruskan ayat selanjutnya yang berbunyi; “tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” (Qs 4: 90).

Dalam al Quran, perang di izinkan untuk mempertahankan diri. Kaum Muslim tidak diperkenankan memulai permusuhan (Qs 2: 190). Perang memang aktifitas mengerikan pula kejam, namun adakalanya kamu harus melakukannya demi tujuan membebaskan/menyelamatkan diri dari penyiksaan seperti halnya yang dialami umat Muslim saat di tindas oleh Musyrikin Mekah (Qs 2: 191; 2: 217) dan membela yang lemah (4: 75; 22: 40). Permusuhan dan peperangan harus dihentikan selekas mungkin, dan jika musuh ingin berdamai maka umat Muslim wajib damai (2: 192- 3).

Islam bukanlah agama yang kecanduan perang, bahkan jihad pun tidak termasuk dalam salah satu rukun Islam, maupun rukun Iman. Arti Jihad sebenarnya pun bukan ‘Perang Suci’ melainkan ‘Berjuang’. Perjuangan tidak selalu dalam konteks perang, berjuang melawan diri sendiri dan hawa nafsu munkar, adalah Jihad.

Islam tidak memperkenalkan dirinya dengan pedang, sebaliknya Islam merubah budaya pedang dengan budaya saling menghormati dan menghargai. Dalam satu surah Al Quran mengatakan,” Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);” (2: 256). Oleh karenanya umat Muslim dapat hidup berdampingan dengan komunitas Yahudi dan Nasrani di Madinah, atau biasa di sebut ‘Ahli Kitab’ yang menyembah Tuhan yang sama (Qs 29: 46).

Bahkan pada khotbah terakhirnya nabi Muhammad mengatakan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.”(Qs 49: 13). Perhatikan ayat ini mengatakan; ”Supaya kamu saling kenal-mengenal” – “Bukan saling membunuh, Bukan saling menaklukan” – “Tapi saling mengenal!”. Allah Ta’lla menginginkan tercipta suasana damai harmonis dan saling menghargai satu sama lain – seperti layaknya dua yang saling kenal.

Maka salah kaprahlah bagi mereka yang berpendapat bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap ‘Kafir’, pendapat ini sama sekali tidak ada landasannya, bahkan ia bertentangan dengan konsep Islam yang mengedepankan keadilan dan berbuat baik kepada sesama manusia, seperti tertulis pada ayat:


Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Qs 60:



Islam bukan agama yang menyerukan umatnya untuk selalu berperang, namun sebaliknya menyebarkan rahmat kepada seluruh alam dan menjadi contoh terbaik bagi seluruh Manusia. Islam tidak menyerukan umatnya untuk membunuhi non Muslim yang tidak memeranginya (Qs, 5:32 : 25:6.

Dan bagi non Muslim yang bersahabat maka ia mendapat perlindungan dari penguasa Islam, istilah bagi nonMuslim seperti ini ialah Kafir Dhimi (atau Dzimmi) berasal dari kata Dzimah yang bermakna aman atau janji, yakni golongan nonMuslim yang hidup berdamai dalam naungan pemerintahan Islam (Daulah Islam). Mengenai Kafir jenis ini Nabi Muhammad saw berpesan:


"Barangsiapa yang mengganggu seorang kafir dzimmi maka aku yang menjadi lawannya nanti pada hari kiamat!". [HR. Al Khathib dalam At Tarikh dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu dengan sanad shahih]



Selanjutnya ada juga istilah Kafir Mu'aahad, yaitu orang kafir yang tinggal di negeri mereka sendiri, namun mempunyai perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling menyerang. Rasulullah Shallallah 'alaihi wa Sallam pun juga memberikan pesan kepada umatnya berkenaan kafir jenis ini:

"Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu'aahad maka dia tidak akan mencium aroma wangi al Jannah (padahal) sesungguhnya aroma wangi al Jannah itu didapati (tercium) sejauh perjalanan 40 tahun." [HR. Al Bukhari 3166, 6914; An Nasaa-i 4764; Ibnu Majah 2736; Ahmad V/36]



Adapula jenis kafir yang di sebut kafir Musta’min, ialah orang kafir yang memasuki daulah Islam, ia bukan golongan dzimmi bukan pula mua’ahaad, dengan maksud meminta perlindungan. Maka umat Islam diwajibkan untuk melindunginya, seperti teredaksi pada surah At Taubah 9:6:

"…Dan jika salah seorang dari kaum musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya..."[QS. At Taubah 9:6]



Maka sungguh sangat disayangkan melihat kenyataan dewasa ini, agama Islam dibajak oleh sebagian golongan Muslim demi menjustifikasi tindakan berdarah mereka untuk membunuhi nonMuslim. Yang padahal golongan kafir yang boleh di perangi hanyalah golongan kafir Harbi, ialah kafir yang jelas-jelas memerangi Islam dan kaum Muslim. Namun begitu Islam tetap menahan umatnya agar tidak memulai perang dengan golongan harbi ini, kecuali mereka diperangi terlebih dahulu;

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Qs 2:190].



Karena Islam agama dakwah, yang menyerukan umatnya agar menyebarkan ajaran Islam. Tentu menyebarkannya dengan kekerasan bukanlah cara yang tepat, namun berdakwah dengan hikmah dan cara yang baik:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..." (QS.16:125)


Dan jika mereka menolak seruan kita maka;

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (al-Quran, 10:99)“



Jika mereka menolak maka seorang Muslim tidak diperkenankan untuk memaksanya.

Sebagai Penutup seorang Mukmin ialah orang;


Al Furqaan (25):68 ” Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan(alasan) yang benar,"



Allahu a’llam Bissawab.

Wassallam Alikum Warrohmatullahi Wabbarakatuhu…

sumber : http://abibakar.blogspot.com/2007/07/wajah-damai-dienul-islam.html

menjawab tuduhan Al qur'an kontradiksi

Sejak masa nabi Muhammad SAW sampai sekarang kalangan orientalis tak henti-hentinya untuk menyerang risalah Ilahi. Mereka mempertanyakan dan bahkan berusaha mengaburkan sejarah awal Al-Qur'an dan menganggap bahwa Al-Qur'an adalah karangan Muhammad. Hujatan tersebut yang dilontarkan sejak abad ke-8 M, muncul karena mereka meyakini kitab-kitab mereka seperti Bibel sebagai God's word. Menurut mereka, jika Al-Qur'an mengkritik kitab mereka, maka Al-Qur'an adalah karya setan. Bibel dijadikan tolak ukur menilai Al-Qur'an. Apa saja yang bertentangan dengan Bibel, maka Al-Qur'anlah yang dianggap salah.

Salah satu wujud kritikan mereka adalah menuduh bahwa ayat-ayat Al-Quran berkontradiksi satu sama lain. Sebenarnya hal ini terjadi karena pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur'an sangat fragmentatif yaitu tidak melihat pra (sibaq), paska (lihaq) dan suasana (siyaq) ketika ayat tersebut diturunkan.

Tulisan ini akan sedikit memberikan pencerahan tentang hal-hal yang dianggap berkontradiksi dalam Quran dengan beberapa contoh:

All along, the unbelievers asked Muhammad to perform a miracle so that they could believe. All they got in response was,
Q. 03: 138
Q. 17: 90
Q. 17: 93

People doubted Muhammad because they saw nothing extraordinary or miraculous in him.
Q. 17: 94
Q. 25: 7
Q. 25: 8

But Muhammad kept telling them that he is just an ordinary man not an angel, meaning people should not expect miracles from him!
Q. 17: 95

The common sense dictates that no one would deny and call a man who performs such mighty miracles like splitting the moon, as believed by all the Muslims a mad man or possessed. But the people who knew him actually called him by these names.
Q. 15: 06
Q. 15: 07
Q. 15: 08

The Quraishites kept asking for a sign or a miracle to believe and Muhammad kept saying that he is only a warner.
Q. 13: 07


There are many more ayat that tell the same story. People asking miracles and him saying I am just a man, just like you, only a warner. A clear proof that Muhammad never performed any miracles is in this verse where it says that people rejected even other messengers who came with miracles and clear signs, meaning miracles are not helpful.
Q. 3: 184

In the above verses Muhammad is denying any supernatural power. If he could perform the miracles attributed to him in those Ahadith, what is the meaning of these verses? In the following verse he clearly rejects miracles as the proof of prophethood comparing them to witchcrafts.
Q. 2: 3

Hal/pernyataan yang serupa:

Did Muhammad perform miracles?

The Qur'an says that Allah did not give Muhammad power to perform miracles (al-An`am 6:109-112; bani Isra'il 17:92-97; al-Kahf 18:10; al-`Ankabut 29:49-50), that he was a mortal like anyone else (Ha Mim Sajdah 41:6) and that he was an ordinary man, (bani Isra'il 17:90-96).

which clearly contradict the Qur'an verse (note: items 14-16 are not usually associated with miracles). If these miracles occurred before those verses were revealed, then it seems odd that the verse should say no power was given for performing them. On the other hand, if these miracles occurred after the revelations, then clearly the revelation of Allah failed to account for a future event. If the hadiths of Muhammad's miracles were not true, this casts a great doubt on many other details of Muhammad's life, since even the two sahihs (supposedly the most authentic of the traditions) recorded some of them.


Respon:

Apakah setiap permintaan harus dibuktikan atau dikabulkan? Tentu saja tidak! Inilah sebenarnya esensi dari kejadian-kejadian yang dialami oleh rasulullah SAW. Dalam surah 17:90 misalnya, kaum pagan meminta agar rasulullah memancarkan air, mempunyai rumah emas, mempunyai kebun anggur, dan lain-lain untuk membuktikan kerasulannya. Dan dalam konteks ini rasulullah tidak perlu melayani permintaan mereka karena permintaan (tuntutan) mereka bersifat berlebihan dan tidak ada upaya dari mereka sendiri untuk memahami kebenaran dan sebenarnya mereka hanya bermaksud mengejek dan mengolok-olok saja dan malah mencemooh nabi Muhammad SAW sebagai seorang yang gila (QS. 15:8).

Keingkaran akan kebenaran dan ketidakseriusan mereka ini dinyatakan dalam surah 17:94 : Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?"

Pengertian ayat diatas adalah menunjukkan bahwa dalam keadaan mengertipun mereka tetap saja menuntut meminta bukti dan terlalu banyak bertanya (menuntut). Maka surah 17:96 menjawab komplain-komplain mereka: Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."

  • Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman.. (QS. 6:111)

Ayat lain sebagai bantahan/sikap rasulullah atas orang-orang kafir yang menuntut agar suatu mukjizat diperlihatkan:

  • Mereka (orang-orang kafir, pen. muslim) berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)." (QS. 41:5)

  • Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata."(QS. 29:50)

  • Perhatikanlah, bagaimana mereka (orang-orang kafir, pen. muslim) membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu). (QS. 25:9)

  • Dan mereka berkata: "Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?" Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar (QS. 43:58)

  • Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman." (QS. 25:21)

  • Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin. (QS. 2:118)


    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 118) sehubungan dengan Rafi' bin Khuzaimah. Ketika itu ia berkata kepada Rasulullah SAW: "Jika tuan seorang Rasulullah sebagaimana tuan katakan, mintalah kepada Allah agar Ia berbicara (langsung) kepada kami sehingga kami mendengar perkataan-Nya. Ayat ini (S. 2: 118) turun sebagai penjelasan bahwa kalau pun Allah mengabulkan permintaan mereka, mereka akan tetap kufur.
    (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Sa'id atau 'Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Sesungguhnya jawaban atas konteks 'kontradiksi mukjizat' ini adalah bukannya nabi SAW 'tidak memiliki' atau dikaruniai mukjizat, akan tetapi ada suatu konteks dimana Allah SWT tidak memperkenankan/menghendaki nabi SAW untuk melakukan/menunjukkan suatu mukjizat saat itu misalnya, karena orang-orang tersebut sebenarnya tidak serius untuk mengimani apa yang sudah disampaikan oleh nabi SAW. Nabi SAW sendiri sangat jarang menunjukan mukjizat yg disengaja, dalam arti begitu ada yg minta agar ditunjukkan, maka nabi SAW mengeluarkan mukjizatnya (misal Musa yg melempar tongkat dihadapan Firaun).Adapun kemukjizatan-2 yg dilakukan oleh nabi adalah pada saat memang orang-orang membutuhkan mukjizat untuk menolong keperluan mereka atau dalam momen yang tepat, misal orang yang kekurangan air, dll.

Kemudian ada pemahaman yang keliru dengan membandingkan mukjizat Musa as dengan Muhammad SAW bahwa nabi yang dinubuatkan dalam kitab-kitab bukanlah Muhammad SAW karena nabi SAW 'tidak melakukan hal-hal luar biasa' sehebat Musa berdasar ayat dibawah:

  • ulangan 34:10-12

    34:10 Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel,
    34:11 dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya,
    34:12 dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel.


Pengertian yang harus dipahami disini adalah bahwa mukjizat tidak bisa dijadikan bahan perbandingan, karena mukjizat berasal dari kehendak Allah dan bukan dari nabi itu sendiri atau dari kemampuan nabi itu sendiri. Al-Qur'an sendiri menyatakan bahwa mukjizat itu berasal dari Allah:

  • Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. (QS. 2:87)

  • Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QS. 61:6)

  • Demikianlah (kisah 'Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Quran yang penuh hikmah. (QS. 3:58)


Arti mukjizat menurut bahasa adalah sesuatu yang melemahkan atau menundukkan. Dan menurut syariat Islam, mukjizat adalah sesuatu keajaiban yang dimiliki para rasul, yang sukar dijangkau kemampuan akal manusia, sebagai bukti atas pengakuan mereka menjadi utusan Allah. Adapun kedudukan mukjizat bagi para rasul adalah termasuk perkara yang jaiz atau mungkin terjadinya pada diri para rasul. Mukjizat bukanlah perkara mustahil dan bukan pula wajib. Kalau Allah menghendaki terjadinya, maka terjadilah. Bentuknya tidak terbatas, apa saja yang dikehendaki Allah menjadi mukjizat, bisa menjadi mukjizat. Karena mukjizat berasal dari Allah maka mukjizat tentu disesuaikan dengan konteks masanya. Jika pada masa Musa dilengkapi dengan banyak mukjizat hal itu semata-mata karena yang dihadapi Musa adalah dedengkot penguasa Mesir yang memiliki kekuasaan yang sangat besar, sementara pada masa hidup rasulullah SAW yang dihadapi adalah dari kalangan rakyat biasa dan konteks mukjizat akan menyesuaikan dengan konteks masalah atau situasi yang dihadapi oleh masing-masing rasul. Sebenarnya nabi SAW sendiri juga banyak melakukan hal-hal yang luar biasa sebagai pertanda mukjizatnya sehingga tetap sepadan dengan mukjizat yang dilakukan oleh nabi Musa as.


sumber : http://mrdnet.110mb.com/

pernikahan Nabi Muhammad saw dan Zaenab binti Jash

0

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. 33:36)

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya:"Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu'min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (QS. 33:37)

Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (QS. 33:38)

According to 'A'isha, who said: "I became very uneasy because of what we heard about her beauty and another thing, the greatest and loftiest of matters - what God had done for her by giving her in marriage. I said she would boast of it over us." (The History of Al-Tabari: The Victory of Islam, translated by Michael Fishbein [State University of New York Press, Albany, 1997], Volume VIII, pp. 2-3; bold emphasis ours)

Narrated by Yunis, narrated by Ibn Wahab, narrated by Ibn Zaid who said, "The prophet –pbuh– had married Zaid son of Haritha to his cousin Zainab daughter of Jahsh. One day the prophet –pbuh– went seeking Zaid in his house, whose door had a curtain made of hair. The wind blew the curtain and the prophet saw Zainab in her room unclothed and he admired her in his heart. When Zainab realized that the prophet desired her SHE BEGAN TO HATE ZAID.

Zaid then came to the prophet –pbuh– and said, "O apostle of Allah, I wish to separate from my mate." The prophet responded, "Why? Has anything evil come from her?" Zaid responded, "No, by Allah! I haven’t seen anything evil from her only good."

The prophet said, "Hold unto your wife and fear Allah." That is what Allah said in the Quran, "Thou didst say to one who had received the grace of Allah and thy favor: ‘Retain thou (in wedlock) thy wife, and fear Allah.’ But thou didst hide in thy heart that which Allah was about to make manifest." For the prophet was concealing the fact that he would marry Zainab when Zaid had divorced her. (Source; translated by Dimitrius)

Tuduhan:

Nabi SAW menyukai Zainab, Zainab membenci Zaid, dan ingin dikawin oleh nabi SAW, nabi SAW jatuh cinta dan main mata pada Zainab, Allah SWT melakukan blunder pada pernikahan Zaid dan Zainab.

* Respon:

1. Keotentikan narasi cerita versi dari Tabari dipertanyakan. Silahkan baca: http://www.islamic-awareness.org/Polemics/sverses.html (Tabari's Disclaimer).

Quote: Sheikh Hammudah Abdallati stated:

Some of the Prophet's marriages were for legislative reasons and to abolish certain corrupt traditions. Such was his marriage to Zaynab, divorcee of the freed slave Zayd. Before Islam, the Arabs did not allow divorcees to remarry. Zayd was adopted by the Prophet (peace and blessings be upon him) and called his son as was the custom among the Arabs before Islam. But Islam abrogated this custom and disapproved of its practice. Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) was the first man to express this disapproval in a practical way. So he married the divorcee of his "adopted" son to show that adoption does not really make the adopted child a real son of the adopting father and also to show that marriage is lawful for divorcees. Incidentally, this very Zaynab was Muhammad's cousin, and had been offered to him in marriage before she married Zayd. He refused her then, but after she was divorced he accepted her for the two legislative purposes: the lawful marriage of divorcees and the real status of adopted children. The story of this Zaynab has been associated in some minds with ridiculous fabrications regarding the moral integrity of Muhammad. These vicious fabrications are not even worth considering here (see Qur'an, 33: 36, 37, 40).

(Source: Islam in Focus, p.177-179 by Hammudah Abdallati, bold and underlined emphasis ours)

Masalah disini jika nabi SAW sejak semula tertarik dengan Zainab, mengapa dahulu tidak dikawini sendiri oleh nabi, akan tetapi malah dikawinkan dengan Zaid? Nabi SAW sendiri juga tidak pernah main mata:

  • Sunan Abu Dawud Book 38, Number 4346:
    Narrated Sa'd ibn AbuWaqqas:
    On the day of the conquest of Mecca, Abdullah ibn Sa'd ibn AbuSarh hid himself with Uthman ibn Affan. He brought him and made him stand before the Prophet (peace_be_upon_him), and said: Accept the allegiance of Abdullah, Apostle of Allah! He raised his head and looked at him three times, refusing him each time, but accepted his allegiance after the third time.
    Then turning to his companions, he said: Was not there a wise man among you who would stand up to him when he saw that I had withheld my hand from accepting his allegiance, and kill him?
    They said: We did not know what you had in your heart, Apostle of Allah! Why did you not give us a signal with your eye? He said: It is not advisable for a Prophet to play deceptive tricks with the eyes.

2. Alasan nabi SAW menikahi Zainab sebenarnya lebih bersifat social construct. Zaid bukanlah anak dari rasulullah tapi mantan anak angkat. Demikian pula Zainab bukan menantu nabi SAW.

  • Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.. (QS. 33:4-5)

Berikut komentar dari Syaik Maududi

Social Reforms

In this connection, an important thing that needed to be reformed was the question of the adoption of a son. Whoever was adopted by the Arabs as a son was regarded as one of their own offspring: he got share in inheritance; he was treated like a real son and real brother by the adopted mother and the adopted sister; he could not marry the daughter of his adopted father and his widow after his death. And the same was the case if the adopted son died or divorced a wife. The adopted father regarded the woman as his real daughter-in-law. This custom clashed in every detail with the laws of marriage and divorce and inheritance enjoined by Allah in Surahs Al-Baqarah and An-Nisa. It made a person who could get no share in inheritance entitled to it at the expense of those who were really entitled to it....[skipped] ...That is why the Islamic law of marriage and divorce, the law of inheritance and the law of the prohibition of adultery required that the concept and custom of regarding the adopted son as the real son should be eradicated completely...[skipped].... Therefore, it was inevitable that the custom should be eradicated practically, and through the Holy Prophet himself. For no Muslim could ever conceive that a thing done by the Holy Prophet himself, and done by him under Allah's Command, could be detestable. Therefore, a little before the Battle of the Trench, the Holy Prophet was inspired by Allah that he should marry the divorced wife of his adopted son, Zaid bin Harithah (may Allah be pleased with him), and he acted on this Command during the siege of the Bani Quraizah. (The delay probably was caused for the reason that the prescribed waiting period had not yet ended, and in the meantime the Holy Prophet had to become busy in the preparation for war).

Verses 36-48 deal with the Holy Prophet's marriage with Hadrat Zainab. In this section the opponents' objection about this marriage have been answered; the doubts that were being created in the minds of the Muslims have been removed; the Muslims have been acquainted with the Holy Prophet's position and status; and the Holy Prophet himself has been counseled to exercise patience on the false propaganda of the disbelievers and the hypocrites.

3. Allah SWT tidak melakukan blunder dalam ayat 33:36 karena waktu ayat ini turun justru konteksnya masyarakat Quraisy tidak dapat menerima perubahan tradisi. Tetapi dengan turunnya ayat ini hakekatnya justru menunjukkan bahwa Allah SWT telah menyediakan semacam batu loncatan awal/pembuka hutan untuk mendobrak tradisi berikutnya.

Quote:

Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal BAGIAN KETUJUH BELAS: ISTERI-ISTERI NABI

Sungguhpun begitu ia merasa tidak perlu memaksa wanita lain untuk itu di luar keluarganya. Biarlah Zainab bt. Jahsy, sepupunya sendiri itu juga yang menanggung, yang karena telah meninggalkan tradisi dan menghancurkan adat-lembaga Arab, menjadi sasaran buah mulut orang tentang dirinya, suatu hal yang memang tidak ingin didengarnya. Juga biarlah Zaid, bekas budaknya yang dijadikannya anak angkat, dan yang menurut hukum adat dan tradisi Arab orang yang berhak menerima waris sama seperti anak-anaknya sendiri itu, dia juga yang mengawininya. Maka dia pun bersedia berkorban, karena sudah ditentukan oleh Tuhan bagi anak-anak angkat yang sudah dijadikan anaknya itu. Biarlah Muhammad memperlihatkan desakannya itu supaya Zainab dan saudaranya Abdullah b. Jahsy juga mau menerima Zaid sebagai suami. Dan untuk itu biarlah firman Tuhan juga yang datang:

Dari surah 33:36-38 berdasar komentar dari Syaik Maududi, nabi SAW/Islam telah merombak tradisi jahiliyah bahwa anak angkat tidak lagi mendapat warisan, dan seorang muslim dapat mengawini mantan istri dari anak angkat.

Di ayat 33:36, Allah SWT telah memecah tradisi Arabiyah bahwa seseorang muslim dapat mengawini muslim lain tanpa dibedakan status. Dan di ayat 33:37, kedua-kalinya Islam mendobrak tradisi Arab jika seorang istri dapat diceraikan oleh suaminya (dalam hukum Islam) dan juga mantan istri anak angkat mempunyai status dapat dikawin.

4. Kalimat "sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia" adalah rahasia yang tak dikatakan bahwa nabi SAW kelak akan menikahi Zainab atau nabi SAW tidak mau mengatakan hal ini. Jadi bukannya nabi menyembunyikan nafsunya pada Zainab. Yang ditakutkan nabi adalah penilaian masyarakat karena nabi (bakal) menikahi Zainab, yg mantan istri anak angkatnya.

Sedang kalimat "supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka" itu maksudnya juga bukan masyarakat mukmin yg keberatan, akan tetapi pengertiannya adalah: "supaya orang-orang muslim selanjutnya (muslim yang lain di jaman nabi) tahu bahwa mengawini bekas istri anak angkatnya hukumnya diperbolehkan dalam Islam" alias HALAL. Jadi inti ayat 33:37 adalah seorang muslim dapat menikahi istri terdahulu dari anak yg diadopsi, jika sudah diceraikan dan nabi telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai pelopornya (apa para sahabat cukup pantas melakukannya, apalagi ini terjadi dilingkungan "keluarga" rasul?).

  • [Rashad Khalifa] The prophet is not committing an error by doing anything that is made lawful by GOD. Such is GOD's system since the early generations. GOD's command is a sacred duty. (QS. 33:38)

5. Apakah benar bahwa orang-orang sebelum nabi SAW dapat menikahi wanita dari mantan anak angkatnya semisal kasus Zaid? Bukti Bibel ternyata menunjukkannya:

  • Deuteronomy 25:5

    (MKJV) If brothers live together, and one of them dies and has no child, the wife of the dead shall not marry outside to a stranger. Her husband's brother shall go in to her and take her as a wife for himself, and perform theb duty of a husband's brother to her.


Moral Code of prophet Luth???, lihat juga kejadian 19:8


Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: "Ini adalah hari yang amat sulit. Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" (QS. 11:77-78 )

Nabi Luth sendiri menawarkan anak-anaknya tanpa perlu mengawinkan mereka, padahal disampingnya ada malaikat-malaikat yang sanggup menghajar orang-orang kafir tersebut....... apakah nabi Luth mendukung perzinahan?

sumber : http://mrdnet.110mb.com/ffi/

Menepis isu bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat adalah pembunuh berdarah dingin

0

Kalangan pengritik Islam seringkali menuduh bahwa Rasul dan para sahabat adalah pembunuh kejam dan berdarah dingin dimasanya yang menunjukkan seolah ajaran Islam memang disebarkan dengan pedang. Hal ini sebenarnya tidaklah tepat, karena kalau dapat dipahami latar belakang peristiwanya, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal. Karena itu artikel ini akan mencoba untuk memberikan gambaran dan juga tautan-tautan yang menepis anggapan-anggapan tersebut:

Pengantar:

Nabi SAW lahir, hidup dan tinggal diantara atau dikelilingi oleh 360 suku pagan dan 3 suku Yahudi yang masing-masing memiliki kemampuan berperang. Oleh karena itu situasi dimana nabi SAW berada adalah diselimuti oleh bahaya demi bahaya. Tentu dapat dimengerti bahwa dalam situasi yang tidak menguntungkan seperti ini, dimana nabi SAW dan kaum muslimin harus tetap survive dan tidak mempunyai pilihan lain, akan mengakibatkan terjadinya banyak benturan disana-sini berupa peperangan-peperangan dan pertentangan yang cukup sulit untuk dihindarkan.

Hal ini juga harus dipahami bahwa status Muhammad adalah sebagai seorang nabi yang diutus dan ditugaskan untuk menyampaikan ajaran agama. Sementara kalau dibandingkan dengan nabi-nabi terdahulu saja dapat diketahui bagaimana nasib mereka, seperti Yohanes Pembaptis dan nabi Zakariya yang tidak berdaya dibunuh oleh Yahudi dan bahkan Yesus sendiri yang harus mengalami peristiwa seperti penyaliban dan tidak berdaya melawan keganasan orang-orang Yahudi.

Jadi dalam keadaan dikelilingi oleh 360 suku-suku musyrik penyembah berhala dan orang-orang munafik, otomatis tidaklah mudah hidup dalam lingkungan seperti itu, dimana dalam situasi seperti itu bentrokan fisik, maupun pengkhianatan-pengkhianatan sering terjadi, termasuk propaganda, hasutan dan upaya-upaya pembunuhan terhadap kaum muslimin.

Lingkungan tidak kondusif ini juga diakibatkan karena banyaknya orang-orang munafik dan juga sifat-sifat Yahudi yang cenderung tidak bersahabat dengan nabi SAW dan bahkan dengan para nabi yang pernah diutus sebelumnya, seperti ditunjukkan dalam ayat-ayat berikut:

matius 23:37

23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

yohanes 7:19

Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu.
Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?"

1 raja-raja 19:13-14

19:13 Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" 19:14 Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam,
karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku."

Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 277:
Narrated Abu Huraira:
The Prophet said, "Had only ten Jews (amongst their chiefs) believe me, all the Jews would definitely have believed me."

Sahih Bukhari Volume 9, Book 88, Number 229:
Narrated Abi Waih:
Hudhaifa bin Al-Yaman said, '
The hypocrites of today are worse than those of the lifetime of the Prophet, because in those days they used to do evil deeds secretly but today they do such deeds openly.'

Sahih Bukhari Volume 9, Book 88, Number 230:
Narrated Abi Asha'sha:
Hudhaifa said, '
In fact, it was hypocrisy that existed in the lifetime of the Prophet but today it is Kufr (disbelief) after belief.'

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): "Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (QS. 3:72)

Tuduhan: Muhammad's treatment of enemies

Muhammad, on the whole, appeared to be a pious man. There are, however, several interesting contradictions in his own life. One of the most damaging was his relationship with his enemies.

  • Ka`b bin al-Ashraf
  • Sallam Ibn Abu'l-Huqayq (Abu Rafe) (Abu Rafi)
  • Al-Nadr bin al-Harith
  • `Uqba bin Abi Mu`ayt
  • `Abdullah bin Ubai bin Salul al-`Aufi
  • Umaiya bin Khalaf Abi Safwan
  • `Amr b. Jihash
  • An anonymous man
  • Ibn Sunayna, Sirat p. 369 + note 580
  • Abd Allah Ibn Sa`d Ibn Abi Sarh
  • Abu `Afak
  • `Asma' Bint Marwan
  • The Meccan Ten:
    • Ikrimah Ibn Abi Jahl
      Habbar Ibn al-Aswad
      Miqyas Ibn Sababah al-Laythi
      Abd Allah Ibn Sa`d Ibn Abi Sarh (more detail in the above article)
      Al-Huwayrith Ibn Nuqaydh
      Abd Abbah Ibn Hilal Ibn Khatal al-Adrami
      Hind Bint Utbah
      Sarah the mawlat of `Amr Ibn Hashim
      Fartana
      Qaribah
  • Al-Yusayr b. Rizam and Khalid b. Sufyan b. Nubayh, Sirat 665-6
  • the tribe of Banu Qurayza

Also, excessive cruelty in the cases of

  • Kinana b. al-Rabi` and
  • the people from Urayna.

Respon:

1. Pembunuhan K'ab bin al-Ashraf, respon: klik sini

2. Pembunuhan Al-Nadr bin al-Harith, respon: klik sini

3. Pembunuhan Uqba bin Abi Mu`ayt, respon: klik sini

4. Pembunuhan Umaiya bin Khalaf Abi Safwan, respon: klik sini

5. Pembunuhan Amr b. Jihash, respon: klik sini
Komentar saya:
Seorang Nabi tentu saja dianugrahi atau setidaknya telah diberi wangsit oleh Allah SWT agar melakukan sesuatu tindakan. Karena itu anggapan bahwa nabi SAW telah membunuh Amr b. Jihash berdasar dugaan adalah argumen yang tidak mempunyai dasar. Hal ini seperti disebut dalam ayat berikut:

  • (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:26-27)

  • Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan". (QS. 46:9)

6. Pembunuhan No Name,

- Sahih Bukhari Volume 4, Book 52, Number 286:
Narrated Salama bin Al-Akwa:
"An infidel spy came to the Prophet while he was on a journey. The spy sat with the companions of the Prophet and started talking and then went away. The Prophet said (to his companions), 'Chase and kill him.' So, I killed him." The Prophet then gave him the belongings of the killed spy (in addition to his share of the war booty).

Respon: Sudah cukup jelas bahwa orang tersebut adalah seorang mata-mata dari orang kafir. Karena kegiatannya tersebut dapat membahayakan posisi kaum muslimin, maka dalam konteks perang, mata-mata tersebut layak dibunuh. Jika dibandingkan dengan Bibel, nabi Daud sendiri membunuh orang yang hanya menyampaikan kabar bahwa sahabat nabi Daud (Saul) telah meninggal:

  • 2 samuel 4:9-10

    4:10
    Ketika ada orang yang membawa kabar kepadaku demikian: Saul sudah mati! dan memandang dirinya sebagai orang yang menyampaikan kabar baik, maka aku menangkap dan membunuh dia di Ziklag, dan dengan demikian aku memberikan kepadanya upah kabarnya;


7. Pembunuhan Ibn Sunayna, respon: klik sini

8. Pembunuhan Abd Allah Ibn Sa`d Ibn Abi Sarh, respon: klik sini dan klik sini

- Sahih Muslim Book 38, Number 4345:
Narrated Abdullah ibn Abbas:
Abdullah ibn AbuSarh used to write (the revelation) for the Apostle of Allah (peace_be_upon_him). Satan made him slip, and he joined the infidels. The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) commanded to kill him on the day of Conquest (of Mecca). Uthman ibn Affan sought protection for him. The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) gave him protection.


9. Pembunuhan Abu `Afak, respon: klik sini

10. Pembunuhan Asma' Bint Marwan, respon: klik sini

11. Pembunuhan The Meccan Ten, respon: klik sini

12. Pembunuhan the tribe of Banu Qurayza, respon: klik sini

13. Pembunuhan Kinana b. al-Rabi, respon: klik sini

14. Pembunuhan Bani Urayna, respon: klik sini dan klik sini
Komentar Osama:

The tribe of Uraina or Bani Uraina (in Arabic) were one of the worst Pagan tribes that the Muslims had to face. Their style in fighting was to attack the Muslims during the night and kill as much men as possible. They also used all of the dirty tricks they could to (1) defeat the Muslims; (2) sneaking up on the Muslims; and (3) cause enmity between the Muslims and other Pagan tribes.

In all of the battles that Prophet Muhammad peace be upon him entered, he never killed any captive, nor did he torture any captive. Only the tribe of Uraina did it.

The men from Bani Uraina who came to the Muslims and pretended to embraced Islam played the same tricks that their tribe always played. They pretended to be Muslims, and then when the opportunity presented itself, they would kill as much as possible and run away.

Notice how Prophet Muhammad peace be upon him trusted them at first, regardless of the bad history that this tribe had. He never generalized, and he gave those men a chance and the benefit of the doubt.

Prophet Muhammad peace be upon him didn't order the hard punishment for those hypocrites because they were hypocrites. Muslims during the weak times of Islam suffered from lots and lots of hypocrites. The People of the Book (Jews and Christians) were among the worst hypocrites; "A section of the People of the Book (Jews and Christians) say: Believe in the morning what is revealed to the believers (Muslims), but reject it at the end of the day; perchance they may (themselves) turn back (from Islam). (The Noble Quran, 3:72)"

Prophet Muhammad never ordered for any of the Jewish or Christian hypocrite's hands or legs to be cut off. He only did it to Bani Uraina, because they highly deserved it!.

So the point is, Islam DOES NOT order the cutting of the right hand and left leg, or the left hand and right leg of any hypocrite who UNTRUTHFULLY embraces Islam and then leaves it later on, because many during the weak times of Islam embraced Islam and left it, and no such torture happened to them.

  • Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, (QS. 5:33)

Bunyi ayat diatas sebenarnya tidak mengagetkan, sebab dalam masa-masa sebelum Islam, para nabi dan raja juga melakukan hukuman-hukuman yang berat terhadap musuh-musuhnya, misal:

  • 1 samuel 17:51-54

    Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu.

    17:53 Kemudian pulanglah orang Israel dari pemburuan hebat atas orang Filistin, lalu menjarah perkemahan mereka.
    17:54 Dan Daud mengambil kepala orang Filistin yang dipancungnya itu
    dan membawanya ke Yerusalem,

  • 2 samuel 4:12

    Sesudah itu Daud memberi perintah kepada anak buahnya untuk membunuh mereka; tangan dan kaki mereka dipotong, kemudian mayat mereka digantung di tepi telaga di Hebron. Tetapi kepala Isyboset diambil dan dikuburkan di dalam kubur Abner di Hebron.


Namun perkembangan selanjutnya, Islam telah melarang memutilasi lawannya dalam peperangan:

  • Sahih Muslim Book 019, Number 4294:
    It has been reported from Sulaiman b. Buraid through his father that when the Messenger of Allah (may peace be upon him) appointed anyone as leader of an army or detachment he would especially exhort him to fear Allah and to be good to the Muslims who were with him. He would say: Fight in the name of Allah and in the way of Allah. Fight against those who disbelieve in Allah. Make a holy war, do not embezzle the spoils; do not break your pledge; and do not mutilate (the dead) bodies; do not kill the children. When you meet your enemies who are polytheists, invite them to three courses of action. If they respond to any one of these, you also accept it and withold yourself from doing them any harm. Invite them to (accept) Islam; if they respond to you, accept it from them and desist from fighting against them. Then invite them to migrate from their lands to the land of Muhairs and inform them that, if they do so, they shall have all the privileges and obligations of the Muhajirs. If they refuse to migrate, tell them that they will have the status of Bedouin Muilims and will be subjected to the Commands of Allah like other Muslims, but they will not get any share from the spoils of war or Fai' except when they actually fight with the Muslims (against the disbelievers). If they refuse to accept Islam, demand from them the Jizya. If they agree to pay, accept it from them and hold off your hands. If they refuse to pay the tax, seek Allah's help and fight them. When you lay siege to a fort and the besieged appeal to you for protection in the name of Allah and His Prophet, do not accord to them the guarantee of Allah and His Prophet, but accord to them your own guarantee and the guarantee of your companions for it is a lesser sin that the security given by you or your companions be disregarded than that the security granted in the name of Allah and His Prophet be violated When you besiege a fort and the besieged want you to let them out in accordance with Allah's Command, do not let them come out in accordance with His Command, but do so at your (own) command, for you do not know whether or not you will be able to carry out Allah's behest with regard to them.

  • Malik Muwatta Book 21, Number 21.3.11:
    Yahya related to me from Malik that he had heard that Umar ibn Abd al-Aziz wrote to one of his governors, "It has been passed down to us that when the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, sent out a raiding party, he would say to them, 'Make your raids in the name of Allah in the way of Allah. Fight whoever denies Allah. Do not steal from the booty, and do not act treacherously.
    Do not mutilate and do not kill children.' Say the same to your armies and raiding parties, Allah willing. Peace be upon you."


15. Nabi Muhammad SAW "mengampuni" (tanpa memberi hukuman) seorang laki-laki buta yang telah membunuh gundiknya karena membela rasul dan seorang laki-laki yang membunuh seorang Yahudi juga tidak dihukum:

- Sahih Muslim Book 38, Number 4348:
Narrated Abdullah Ibn Abbas:
A blind man had a slave-mother who used to abuse the Prophet (peace_be_upon_him) and disparage him. He forbade her but she did not stop. He rebuked her but she did not give up her habit. One night she began to slander the Prophet (peace_be_upon_him) and abuse him. So he took a dagger, placed it on her belly, pressed it, and killed her. A child who came between her legs was smeared with the blood that was there. When the morning came, the Prophet (peace_be_upon_him) was informed about it.
He assembled the people and said: I adjure by Allah the man who has done this action and I adjure him by my right to him that he should stand up. Jumping over the necks of the people and trembling the man stood up.
He sat before the Prophet (peace_be_upon_him) and said: Apostle of Allah! I am her master; she used to abuse you and disparage you. I forbade her, but she did not stop, and I rebuked her, but she did not abandon her habit. I have two sons like pearls from her, and she was my companion. Last night she began to abuse and disparage you. So I took a dagger, put it on her belly and pressed it till I killed her. Thereupon the Prophet (peace_be_upon_him) said: Oh be witness, no retaliation is payable for her blood.

Respon Kasus 1:

1. Wanita tersebut setiap hari kerjanya memaki-maki orang lain. Hal ini bukanlah kelihatan sebagai hal yang wajar jika ini dilakukan.

2. Nabi SAW tidak mengetahui bahwa laki-laki buta tersebut telah membunuh gundiknya. Jika beliau tahu bisa saja wanita tsb akan disembuhkan dari penyakit "kronis"nya tsb. Keterlanjuran membunuh oleh laki-laki tadi bukanlah peristiwa yg diketahui dan dikehendaki oleh rasul.

3. Majikan buta tsb kelihatan seperti seorang yg tidak terpelajar. Jika rasul menghukum laki-laki tsb karena membela rasul, maka bisa jadi dikhawatirkan akan timbul fitnah baik bagi kaum muslimin maupun keimanan orang buta itu sendiri.

4. Dari sisi hukum Islam, status majikan adalah lebih tinggi dari budak/gundik tersebut, karena Qishas harus terjadi dgn status yg setara:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. (QS. 2:178 )


- Sahih Muslim Book 38, Number 4349:
Narrated Ali ibn AbuTalib:
A Jewess used to abuse the Prophet (peace_be_upon_him) and disparage him. A man strangled her till she died. The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) declared that no recompense was payable for her blood.

Respon Kasus 2:

Konteks peristiwa ini hanya menjelaskan bahwa hukum Qishas atau diyat tidak berlaku atau tidak terjadi jika yang terbunuh adalah seorang non muslim. Namun harus dipahami bahwa secara konteks, situasi saat itu adalah tidaklah mungkin bagi nabi SAW untuk mencegah atau mengontrol setiap orang agar tidak membunuh seseorang yang lain, karena nabi SAW sendiri tidak selalu berada di tempat kejadian perkara. Karena dalam narasi hadis diatas tidak dijelaskan bahwa Yahudi yang terbunuh tidak meninggalkan keluarga, maka dapat diasumsikan bahwa Yahudi tersebut tidaklah meninggalkan keluarga.

Meski begitu, jika yang terbunuh (non muslim) meninggalkan keluarga, maka keluarga ahli warisnya berhak mendapat diyat (denda/ganti rugi) sebesar 1/3 dari diyat orang Islam jika yang terbunuh adalah orang Nasrani/Yahudi, dan 3/10 dari diyat orang Islam jika yang terbunuh adalah orang Majusi.

  • Sahih Bukhari Volume 9, Book 83, Number 36:
    Narrated Sahl bin Abi Hathma:
    (a man from the Ansar) that a number of people from his tribe went to Khaibar and dispersed, and then they found one of them murdered. They said to the people with whom the corpse had been found, "You have killed our companion!" Those people said, "Neither have we killed him, nor do we know his killer." The bereaved group went to the Prophet and said, "O Allah's Apostle! We went to Khaibar and found one of us murdered." The Prophet said, "Let the older among you come forward and speak." Then the Prophet said, to them, "Bring your proof against the killer." They said "We have no proof." The Prophet said, "Then they (the defendants) will take an oath." They said, "
    We do not accept the oaths of the Jews." Allah's Apostle did not like that the Blood-money of the killed one be lost without compensation, so he paid one-hundred camels out of the camels of Zakat (to the relatives of the deceased) as Diya (Blood-money).


Sumber tambahan:

Refuting Emotionalism: MUHAMMAD, ISLAM, AND TERRORISM

16. Sirat Rasul Allah, Al-Tabaqat, dan The History of Tabari,

Quote:
The Sirat Rasul Allah was written by Ibn Ishaq in 750 A.D. It was edited and abridged by Ibn Hisham in 830 and translated by Alfred Guillaume under the title, The Life of Muhammad in 1955 by Oxford Press. Referred to as the Sira, or Biography, Ishaq’s Hadith Collection is comprised of oral reports from Muhammad and his companions. It provides the only written account of Muhammad’s life and the formation of Islam composed within two centuries of the prophet’s death. There is no earlier or more accurate source.

The History of al-Tabari, called the Ta’rikh, was written by Abu Muhammad bin al-Tabari between 870 and 920 A.D. His monumental work was translated and published in 1987 through 1997 by the State University of New York Press. Tabari’s History is comprised entirely of Islamic Hadith. It is arranged chronologically. Tabari is Islam’s oldest uncensored source.

[Ishaq:550] "Muhammad ordered that certain men should be assassinated even if they were found behind the curtains of the Ka'aba. Among them was Abdallah bin Sa'd [the Qur'an's one and only scribe]. The reason that Allah's Messenger ordered that he should be slain was because he had become a Muslim and used to write down Qur'an Revelation. Then he apostatized [rejected Islam]."

[Tabari VIII:40] "The Messenger commanded that furrows should be dug in the ground for the Qurayza. Then he sat down. Ali and Zubayr began cutting off their heads in his presence."

[Tabari VIII:38] "The Messenger of Allah commanded that all of the Jewish men and boys who had reached puberty should be beheaded. Then the Prophet divided the wealth, wives, and children of the Banu Qurayza Jews among the Muslims."

[Tabari vol.vii, pp.97-98] Rasul Allah berkata, “Yahudi manapun yang jatuh ke tanganmu, bunuh dia.” Jadi ketika Muhayyish b. Masud bertemu Ibn Sunaynah, yakni seorang pedagang Yahudi yang kenal dekat dengan mereka dan biasa berdagang dengan mereka, Muhayyish pun lalu membunuh Ibn Sunaynah. Kakak laki Muhayyish yang bernama Huwayyish b. Masud belum memeluk Islam saat itu dan ketika Huwayyish tahu akan pembunuhan yang dilakukan adiknya Muhayyish, dia lalu mulai memukuli Muhayyish sambil berkata, “O musuh Tuhan, kau membunuh dia? Demi Tuhan, perutmu itu jadi gemuk karena kekayaan dari dia (Ibn Sunaynah).” Muhayyish berkata, “Kukatakan padanya, ‘Demi Tuhan, jika dia yang memerintahku untuk membunuhnya (Ibn Sunaynah) lalu memerintahku untuk membunuhmu, maka aku akan memancung kepalamu.’” Dan demi Tuhan, itu adalah saat awal Huwayyish menerima Islam. Dia (Huwayyish) berkata, “Jika Muhammad memerintahmu untuk membunuhku, apakah kau akan membunuhku?” dan aku jawab, “Ya, demi Tuhan, jika dia memerintahku untuk membunuhmu, aku akan memancung kepalamu.” “Demi Tuhan,” kata dia (Huwayyish), “sungguh luar biasa imanmu itu.” Lalu Huwayyisah memeluk Islam.

[Ibn Sa’d, vol. ii p.201] Muhammad mengirim al-Dahak ibn Sufyan ke al-Zuji untuk mengajak orang2 B. Kilab memeluk Islam. Ketika mereka menolak, tentara2 Muslim menyerang mereka dan memaksa mereka berlarian pergi ketakutan. Diantara para Muslim terdapat seorang Jihadis tulen bernama al-Asyad . Dia bertemu dengan ayahnya yang bernama Salamah yang sedang mengendarai kuda. Al-Asyad meminta ayahnya masuk Islam. Tapi ayahnya malah menegurnya karena memeluk Islam. Al-Asyad jadi marah dan dia memotong kuda ayahnya. Ketika ayahnya terjatuh, dia lalu menangkapnya sampai para Muslim yang lain tiba di tempat itu dan membunuhnya .

[Tabari, vol. viii, p.55] Ketika terjadi pertikaian antara orang2 Muslim Ansar (dipimpin oleh Abd Allah ibn Ubayy) dan Muslim Muhajidin, anak laki Abd Allah ibn Ubayy yakni Abd Allah b. Abd Allah b. Ubayy datang menghadap Muhammad dan menawarkan diri untuk membunuh ayahnya sendiri. Dia berkata, “Rasul Allah, aku diberitahu bahwa kau ingin membunuh Abd Allah b. Ubayy karena apa yang dikabarkan padamu tentang dirinya. Jika kau memang ingin melakukan itu, perintahkan aku untuk melakukannya dan aku akan membawa kepalanya padamu. Demi Tuhan, al-Khazraj tahu bahwa tidak ada seorang pun diantara mereka yang lebih berbakti kepadanya ayahnya daripada aku. Aku khawatir engkau akan memerintah orang lain untuk membunuh ayahku dan dia akan melakukannya; dan aku akan tidak tahan melihat pembunuh Abd Allah b. Ubayy berjalan diantara orang2. (Karena itu) Aku bersedia membunuhnya, membunuh seorang Muslim untuk membalas dendam seorang kafir, dan karenanya (aku) akan masuk Api [neraka].”

[Ibn Sa'd page 249] The apostle of Allah and his companions ate from it. It (goat) said: "I am poisoned." He [Muhammad] said to his Companions, "Hold you hands! because it has informed me that it is poisoned!" They withdrew their hands, but Bishr Ibn al-Bara expired. The apostle of Allah sent for her (Jewess) and asked her, "What induced you to do what you have done?" She replied, "I wanted to know if you are a prophet, in that case it will not harm you and if you are a king, I shall relieve the people of you. He gave orders and she was put to death.

[Ibn Hisham Al Sira Al-Nabawia, Bahagian 4, ms.180] "Tatkala Nabi Muhammad telah wafat, ramai 'penganut-penganut' Islam di kota Mekkah dengan cepatnya ingin meninggalkan Islam. Maka telah bangunlah Suhayl bin 'Amru, dia berkata: ‘Siapa saja yang meninggalkan Islam, kami akan pancung kepalanya!' Ramai orang pun membatalkan niatnya karena takut dibunuh."

Respon:

Sumber-sumber hadis dari Al Tabari, Ibnu Ishaq, Ibnu S'ad dan beberapa lainnya tidaklah termasuk hadis-hadis otentik karena hadis-hadis ini juga tidak mempunyai sanad dan atau isnad. Jadi tidak bisa dipakai sebagai argumentasi. Apalagi Tabari juga menyebut dalam pembukaan kitab Tarikhnya bahwa beliau tidak menyaring berita-berita yang ada. Komentar selengkapnya dapat dilihat di:

http://www.islamic-awareness.org/Polemics/sverses.html (Tabari's Disclaimer)

Penutup:

Banyak non muslim yang menyatakan bahwa orang-orang muslim dijaman nabi membunuh atau nabi SAW sendiri membunuh karena untuk kepentingan atau keegoisan nabi SAW. Hal ini tidak benar, karena nabi SAW tidaklah membunuh atau memerintahkan seperti itu atas kepentingan sendiri, tetapi hanya semata-mata perintah dari Allah SWT. Hal ini ditunjukkan dalam hadis berikut:

  • Sahih Bukhari Volume 4, Book 56, Number 760:
    Narrated 'Aisha:
    Whenever Allah's Apostle was given the choice of one of two matters, he would choose the easier of the two, as long as it was not sinful to do so, but if it was sinful to do so, he would not approach it.
    Allah's Apostle never took revenge (over anybody) for his own sake but (he did) only when Allah's Legal Bindings were outraged in which case he would take revenge for Allah's Sake.


  • Sahih Bukhari Volume 4, Book 56, Number 840:
    Narrated Anas bin Malik:
    Allah's Apostle reached Khaibar in the early morning and the people of Khaibar came out with their spades, and when they saw the Prophet they said, "Muhammad and his army!" and returned hurriedly to take refuge in the fort. The Prophet raised his hands and said, "Allah is Greater! Khaibar is ruined ! If we approach a nation, then miserable is the morning of those who are warned."


Nabi SAW juga sudah mewanti-wanti agar umat sesudahnya tidak mudah menumpahkan darah di antara sesamanya atau sesama muslim:

  • Sahih Bukhari Volume 9, Book 83, Number 8:
    Narrated Abu Zur'a bin 'Amr bin Jarir:
    The Prophet said during Hajjat-al-Wada', "
    Let the people be quiet and listen to me. After me, do not become disbelievers, by striking (cutting) the necks of one another."

  • Sahih Bukhari Volume 9, Book 83, Number 14:
    Narrated Al-Ahnaf bin Qais:
    I went to help that man (i.e., 'Ali), and on the way I met Abu Bakra who asked me, "Where are you going?" I replied, "I am going to help that man." He said, "
    Go back, for I heard Allah's Apostle saying, 'If two Muslims meet each other with their swords then (both) the killer and the killed one are in the (Hell) Fire.' I said, 'O Allah's Apostle! It is alright for the killer, but what about the killed one?' He said, 'The killed one was eager to kill his opponent."

  • Sunan Abu Dawud Book 38, Number 4350:
    Narrated AbuBakr:
    AbuBarzah said: I was with AbuBakr. He became angry at a man and uttered hot words. I said: Do you permit me, Caliph of the Apostle of Allah (peace_be_upon_him), that I cut off his neck? These words of mine removed his anger; he stood and went in. He then sent for me and said: What did you say just now? I said: (I had said:) Permit me that I cut off his neck. He said: Would you do it if I ordered you? I said: Yes. He said: No,
    I swear by Allah, this is not allowed for any man after Muhammad (peace_be_upon_him).

  • Sashih Bukhari Volume 3, Book 49, Number 856:
    Narrated Anas:
    It was said to the Prophet "Would that you see Abdullah bin Ubai." So, the Prophet went to him, riding a donkey, and the Muslims accompanied him, walking on salty barren land. When the Prophet reached 'Abdullah bin Ubai, the latter said, "Keep away from me! By Allah, the bad smell of your donkey has harmed me." On that an Ansari man said (to 'Abdullah), "By Allah! The smell of the donkey of Allah's Apostle is better than your smell." On that a man from 'Abdullah's tribe got angry for 'Abdullah's sake, and the two men abused each other which caused the friends of the two men to get angry, and the two groups started fighting with sticks, shoes and hands. We were informed that the following Divine Verse was revealed (in this concern):--
    "And if two groups of Believers fall to fighting then, make peace between them." (49.9)


Karena itu pendapat yang dikemukakan oleh non muslim bahwa orang-orang Islam tega membunuh sesama saudara muslim gara-gara ajaran Islam yang diajarkan oleh nabi SAW adalah tidak berdasar karena nabi SAW sendiri sudah pernah memperingatkan agar tidak mudah menggunakan cara-cara kekerasan.



sumber : http://mrdnet.110mb.com/

Penjelasan tafsir surah At-Taubah 9:123

0
sebelumnya salah satu antek FFI (duladi) mengutip artikel muslim untuk dimasukan ke blognya :


JIHAD OFENSIF
(Tafsir QS at-Taubah [9]: 123)
Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

]يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قَاتِلُوْا الَّذِيْنَ يَلُوْنَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوْا فِيْكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ[


Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS al-Taubah [9]: 123).

Ayat ini terdapat dalam surat at-Taubah. Dalam surat ini, dalam beberapa ayatnya, kaum Muslim diperintahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrik. Ayat ini termasuk di antaranya.

Ketika ayat ini diturunkan, perintah memerangi kaum musyrik langsung bisa dijalankan. Pasalnya, saat itu Daulah Islamiyah sudah berdiri kokoh. Surat ini termasuk yang terakhir diturunkan kepada Rasulullah saw. 1

Tafsir Ayat


Allah Swt. berfirman: Y? ayyuh? alladz?na ?manu q?til? al-ladz?na yal?nakum min al-kuff?r (Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu). Kata q?til? merupakan fi'l al-amr dari mashdar kata al-qit?l atau al-muq?talah. Secara bahasa, kata al-muq?talah berarti al-muh?rabah (peperangan).2 Pengertian peperangan yang dimaksud tentulah perang fisik.3

Adapun kata yal?na merupakan bentuk mudh?ri dari al-waly yang berarti al-qurb wa al-dunuw (dekat).4 Kata yal?nakum pun dapat dimaknai dengan yaqrub?na minkum (yang dekat dari kalian).5 Bertolak dari makna-makna tersebut, ayat ini dapat dipahami sebagai perintah terhadap kaum Mukmin untuk memerangi kaum kafir yang dekat dengan mereka.6

Beberapa ayat dalam QS at-Taubah di atas (yakni ayat 5, 29, dan 36) memang memerintahkan kaum Muslim memerangi kaum kafir secara keseluruhan. Akan tetapi, untuk bisa memerangi mereka dalam waktu bersamaan tentu tidak mungkin. Yang mungkin bisa dilakukan adalah memerangi sekelompok di antara mereka terlebih dulu. Karena harus dipilih, maka kaum yang paling dekat dengan merekalah harus didahulukan.7 Inilah skala prioritas yang ditetapkan ayat ini.

Ar-Razi, az-Zuhayli, dan ash-Shabuni menuturkan, ketika Allah Swt. memerintahkan kaum Mukmin untuk memerangi kaum kafir secara keseluruhan. Dia pun mengajarkan metode yang paling tepat dan cocok untuk ditempuh, yakni mereka harus memulai dari yang dekat-dekat, lalu beralih kepada yang jauh-jauh.8 Dengan metode ini, kewajiban untuk memerangi kaum kafir secara keseluruhan dapat tercapai.9

Metode inilah yang ditempuh Rasulullah saw. dan para Sahabat ra. Pada awalnya beliau memerangi kaumnya, lalu bangsa Arab di Hijaz, kemudian Syam.10 Dari Madinah, Syam memang lebih dekat dibandingkan dengan Irak, Persia, atau Mesir. Setelah Syam dapat dikuasai pada masa Sahabat, kaum Muslim baru beralih ke Irak, berikutnya ke wilayah-wilayah lain.11

Selanjutnya Allah Swt. berfirman: Walyajid? f?kum ghilzhah (dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian). Makna ghilzhah adalah dhidd ar-riqqah (lawan dari halus);12 bisa juga berarti syiddah (keras), quwwah (kuat), dan hamiyyah (gagah berani).13 Menurut al-Andalusi dan al-Baqa'i, dalam ayat ini, kata ghildhah digunakan untuk menunjukkan syiddah li al-harb (kerasnya peperangan).14

Menurut lahiriah ayat ini, yang diperintah untuk merasakan sifat ghilzhah adalah kaum kafir. Akan tetapi, perintah itu sebenarnya ditujukan kepada kaum Mukmin. Mereka diperintahkan memiliki sifat-sifat yang disebutkan itu, yakni sifat ghilzhah dengan segala makna yang tercakup di dalamnya.15 Dengan demikian, ayat ini menggunakan musabab untuk menyatakan sebab. Artinya, jika kaum kafir bisa merasakan kerasnya kaum Muslim, hal itu disebabkan oleh kerasnya kaum Muslim terhadap mereka.16

Perintah untuk memiliki segala sifat yang tercakup dalam kata ghilzhah itu amat tepat. Sebab, demikianlah tabiat dan kemaslahatan dalam peperangan.17 Untuk bisa memenangkan peperangan, sifat tersebut harus dimiliki kaum Muslim (Lihat juga: QS at-Taubah [9]: 73).

Ayat ini ditutup dengan firman-Nya: Wa'lam? anna All?h ma'a al-muttaq?n (Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa). Di akhir ayat ini Allah Swt. mengingatkan bahwa Dialah Penolong hamba-hamba-Nya yang bertakwa.18

Beberapa Pelajaran


Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ayat ini. Di antaranya:

1. Jihad ofensif.


Menurut ayat ini, jihad yang diwajibkan terhadap kaum Muslim tidak hanya bersifat dif?'? (defensif, membela diri), namun juga ibtid?'i (ofensif, memulai perang terlebih dulu). Ayat ini jelas memberikan kesimpulan demikian.

Patut dicatat, jihad ibtid?'i ini harus dilakukan di bawah komando Daulah Islamiyah. Pasalnya, jihad ini dilancarkan dalam kerangka fut?h?t, yakni upaya memperluas wilayah kekuasaan Daulah Islamiyah dengan cara menaklukkan wilayah-wilayah lain yang sebelumnya dikuasai penguasa kafir dan sistem kufur. Selanjutnya, wilayah yang telah ditaklukkan tersebut diintegrasikan dengan Daulah Islamiyah. Bertolak dari fakta ini, jihad fut?h?t tidak bisa dilakukan jika tidak ada Daulah Islamiyah.

Inilah yang dikerjakan Rasulullah saw. dulu. Ketika Rasulullah saw. berhasil mendirikan negara di Madinah, beliau pun mengirim banyak detasemen dan pasukan perang ke wilayah-wilayah lain. Tidak jarang, beliau memimpin langsung pasukan tersebut. Selama Rasulullah saw. hidup, beliau telah memimpin 27 kali peperangan. Adapun jumlah utusan dan ekspedisi militer yang tidak beliau pimpin langsung mencapai 60 kali.19

Dengan jihad ibtid?'i inilah wilayah kekuasaan Islam terus mengalami perluasan. Jika di awal berdirinya, luas wilayah Daulah Islamiyah sekitar 274 mil persegi (kota Madinah), maka sepuluh tahun kemudian-ketika Rasulullah saw. menghadap Tuhannya-luas wilayah Daulah mencapai lebih dari 1.000.000 mil persegi.20

Kewajiban jihad ibtid?'i ini juga tidak terlepas dari konteks dakwah. Disebutkan bahwa tatkala Rasulullah saw. memberangkatkan pasukan perang, beliau menyampaikan beberapa pesan kepada panglimanya. Di antara pesan beliau:

?وَإِذَا لَقِيْتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثِ حِصَالٍ أَوْ خِلاَلٍ, فَأَيَّتَهُ مَا أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ, اُدْعُهُمْ إِلىَ اْلإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ? فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ, فَإِنْ هُمْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ, فَإِنْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَقَاتِلْهُمْ?


Jika kalian bertemu dengan musuh kalian dari kalangan kaum musyrik maka serulah mereka pada tiga pilihan, mana saja di antara ketiganya, selama mereka bersedia memenuhi seruanmu, maka terimalah dan tahanlah dirimu dari menyerang mereka. Ajaklah mereka memeluk Islam. Jika mereka memenuhi seruan kalian, terimalah dan tahanlah dirimu untuk menyerang mereka?.Jika mereka enggan (memenuhi seruan kalian), mintalah mereka membayar jizyah. Jika mereka memenuhi seruan kalian, terimalah dan tahanlah diri kalian untuk menyerang mereka. Jika mereka enggan juga, mintalah perlindungan kepada Allah, kemudian perangilah mereka. (HR Muslim).

2. Keharusan bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban jihad.


Dalam ayat ini, kaum Muslim diperintahkan agar memiliki sifat ghilzhah dalam perang menghadapi kaum kafir. Ini berarti, mereka harus menyiapkannya secara sungguh-sungguh sehingga kaum kafir bisa merasakan kerasnya pasukan kaum Muslim dalam pertempuran.

Prinsip ini patut dicamkan dalam diri kaum Muslim. Kendati jihad terkategori tindakan menolong agama-Nya, dan bagi siapapun yang menolong agama-Nya dijanjikan memperoleh pertolongan-Nya (QS Muhammad [47]: 7), kaum Muslim tidak boleh meninggalkan faktor-faktor sababiyyah yang bisa mengantarkan kemenangan. Mereka harus mengerahkan segala kemampuan sehingga menjadi pasukan yang kuat dan handal. (Lihat juga: QS al-Anfal [8]: 60).

Jika kaum Muslim bisa menunjukkan keperkasaan kekuatan militernya, jelas setiap musuh akan merasa gentar menghadapi kaum Muslim. Rasa gentar ini akan menyebar luas kepada musuh-musuh yang nyata maupun yang potensial, sehingga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mencegah kemunculan pihak-pihak yang hendak melakukan makar. Pasukan Islam pun tidak perlu menemui banyak perlawanan. Dengan begitu, pertumpahan darah pun dapat dihindari. Inilah yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Amat sering pasukan Islam memperoleh kemenangan tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti dan tertumpahnya darah. Di antaranya adalah peristiwa dibebaskannya Makkah. Makkah dapat dikuasai pasukan kaum Muslim tanpa harus menumpahkan darah. Demikian juga pada saat Perang Tabuk. Ketika pasukan Islam yang berjumlah 30.000 personel sampai di Tabuk, pasukan Romawi-negara adidaya saat itu-sudah pergi meninggalkan daerah itu. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:

?نُصِرْتُ بِالرَّعْبِ شَهْرًا يَرْعَبُ مِنِّي الْعَدُوَّ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ?


Aku dimenangkan dengan rasa takut (yang dialami pasukan musuh) sepanjang satu bulan perjalanan. (HR al-Bukhari).

3. Resep memperoleh pertolongan.


Dalam ayat ini ditegaskan, Allah Swt. bersama orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana dijelaskan para mufassir, ma'iyyah dalam ayat ini bermakna pertolongan dan perlindungan Allah Swt. Itu berarti, siapapun yang ingin mendapatkan pertolongan Allah Swt., dia harus mengikatkan dirinya dengan semua perintah dan larangan-Nya, termasuk kewajiban jihad dengan segala ketentuannya.

Bertolak dari prinsip tersebut, kaum Muslim tidak perlu takut, cemas, ragu, dan khawatir terhadap kekuatan musuh-musuhnya dalam menjalankan jihad, karena Allah Swt. bersama mereka. Jika Allah Swt. telah menjadi Penolong mereka, tentu tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan mereka. Jadi, masih takutkah kaum Muslim mengibarkan bendera jihad melawan musuh-musuh mereka?

Wall?h a'lam bi ash-shaw?b. []


Catatan Kaki :


  1. Ash-Shabuni, Shofwat al-Taf?s?r, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), 421.

  2. Ar-Raghib al-Ashfahani, Mu'jam Mufrad?t Alf?zh al-Qur'?n (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 407.

  3. Zahid Ivan Salam, Jihad dan Kabijakan Luar Negeri (terj. Abu Faiz, dkk) (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2003), 58.

  4. Abd al-Qadir al-Razi, Tart?b Mukht?r al-Shihah (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 879.

  5. Az-Zamakhsyari, al-Kasysy?f, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 312; al-Nasafi, Mad?rik al-Tanz?l wa Haq?iq al-Ta'w?l, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001), 525; al-Baqa'i, Nazhm Durar f? Tan?sub al-Ay?t wa al-Suwar, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 403; al-Qasimi, Mah?sin al-Ta'w?l, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 530.

  6. Ath-Thabari, J?mi' al-Bay?n f? Ta'w?l al-Qur'?n, vol. 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992), 517; Abu Ali al-Fadhl, Majm?' al-Bay?n f? Tafs?r al-Qur?n, vol. 5 (Beirut: Dar al-Ma'rifah, tt), 127; al-Alusi, R?h al-Ma'?n?, vol. 9 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 47.

  7. Al-Jashash, Ahk?m al-Qur'?n, vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 230.

  8. Fakhruddin al-Razi, al-Tafs?r al-Kab?r Aw Maf?t?h al-Ghayb, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), 181; al-Qinuji, Fath al-Bayan, vol. 5, 427; al-Zuhayli, al-Tafs?r al-Mun?r, vol. 11, 80; al-Shabuni, Shafwat al-Taf?s?r, vol. 1, 529.

  9. Al-Khazin, Lub?b al-Ta'w?l f? Ma'?n? al-Tanz?l, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 423; Sulaiman al-'Ajili, al-Futuh?t al-Il?hiyyah, vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 2003), 239.

  10. Al-Zamakhsyari, al-Kasy?f, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 312.

  11. Sulaiman al-'Ajili, al-Fut?h?t al-Il?hiyyah, vol. 3, 240.

  12. Al-Qasimi, Mah?sin al-Ta'w?l, vol. 5, 531; Fakhruddin al-Razi, al-Tafs?r al-Kab?r, vol. 15, 182; al-Khazin, Lub?b al-Ta'w?l f? Ma'?n? al-Tanz?l, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 423.

  13. Al-Quthubi, al-J?mi' li Ahk?m al-Qur'?n, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 189; al-Shabuni, Shofwat al-Taf?s?r, vol. 1, 529.

  14. Abu Hayyan al-Andalusi, Tafs?r al-Bahr al-Muhith, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 118; al-Baqa'i, Nazham Durar, vol. 3, 403.

  15. Al-Qinuji, Fath al-Bayan, vol. 5, 426- 427

  16. Sulaiman al-'Ajili, al-Futuh?t al-Il?hiyyah, vol. 3, 240.

  17. Al-Zuhayli, al-Tafs?r al-Mun?r, vol. 11, 80

  18. Abu Ali al-Fadhl, Majm?' al-Bay?n, vol. 5, 127; al-Alusi, R?h al-Ma'?n?, vol. 9, 47.

  19. Abu al-Hasan Ali al-Nadwi, Sirah Nabaiyyah, terj. Muhammad Halabi dkk. (Yogyakarta: Mardiyah Press, 2005), 454.

  20. Abu al-Hasan Ali al-Nadwi, Sirah Nabaiyyah, 456.


Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id


salah satu strategi para antek FFI adalah menggunakan tulisan-tulisan muslim yang dianggap mendukung tuduhan mereka.

maka perlu sekali kita melihat penjelasan lain mengenai masalah ini

Mari lihat bagaimana tafsir Quran surah 9:123 tersebut:

Dari tafsir Ibnu Kathir, http://www.tafsir.com/default.asp?sid=9&tid=22240


The Order for Jihad against the Disbelievers, the Closest, then the Farthest Areas

Allah commands the believers to fight the disbelievers, the closest in area to the Islamic state, then the farthest. This is why the Messenger of Allah started fighting the idolators in the Arabian Peninsula. When he finished with them and Allah gave him control over Makkah, Al-Madinah, At-Ta'if, Yemen, Yamamah, Hajr, Khaybar, Hadramawt and other Arab provinces, and the various Arab tribes entered Islam in large crowds, he then started fighting the People of the Scriptures. He began preparations to fight the Romans who were the closest in area to the Arabian Peninsula, and as such, had the most right to be called to Islam, especially since they were from the People of the Scriptures. The Prophet marched until he reached Tabuk and went back because of the extreme hardship, little rain and little supplies. This battle occurred on the ninth year after his Hijrah. In the tenth year, the Messenger of Allah was busy with the Farewell Hajj. The Messenger died eighty-one days after he returned from that Hajj, Allah chose him for what He had prepared for him [in Paradise]. After his death, his executor, friend, and Khalifah, Abu Bakr As-Siddiq, may Allah be pleased with him, became the leader. At that time, the religion came under attack and would have been defeated, if it had not been for the fact that Allah gave the religion firmness through Abu Bakr, who established its basis and made its foundations firm. He brought those who strayed from the religion back to it, and made those who reverted from Islam return. He took the Zakah from the evil people who did not want to pay it, and explained the truth to those who were unaware of it. On behalf of the Prophet , Abu Bakr delivered what he was entrusted with. Then, he started preparing the Islamic armies to fight the Roman cross worshippers, and the Persian fire worshippers. By the blessing of his mission, Allah opened the lands for him and brought down Caesar and Kisra and those who obeyed them among the servants. Abu Bakr spent their treasures in the cause of Allah, just as the Messenger of Allah had foretold would happen. This mission continued after Abu Bakr at the hands of he whom Abu Bakr chose to be his successor, Al-Faruq, the Martyr of the Mihrab, Abu Hafs, `Umar bin Al-Khattab, may Allah be pleased with him. With `Umar, Allah humiliated the disbelievers, suppressed the tyrants and hypocrites, and opened the eastern and western parts of the world. The treasures of various countries were brought to `Umar from near and far provinces, and he divided them according to the legitimate and accepted method. `Umar then died as a martyr after he lived a praise worthy life. Then, the Companions among the Muhajirin and Ansar agreed to chose after `Umar, `Uthman bin `Affan, Leader of the faithful and Martyr of the House, may Allah be pleased with him. During `Uthman's reign, Islam wore its widest garment and Allah's unequivocal proof was established in various parts of the world over the necks of the servants. Islam appeared in the eastern and western parts of the world and Allah's Word was elevated and His religion apparent. The pure religion reached its deepest aims against Allah's enemies, and whenever Muslims overcame an Ummah, they moved to the next one, and then the next one, crushing the tyranical evil doers. They did this in reverence to Allah's statement,

[يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ قَاتِلُواْ الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِّنَ الْكُفَّارِ]

(O you who believe! Fight those of the disbelievers who are close to you,) Allah said next,

[وَلِيَجِدُواْ فِيكُمْ غِلْظَةً]

(and let them find harshness in you), meaning, let the disbelievers find harshness in you against them in battle. The complete believer is he who is kind to his believing brother, and harsh with his disbelieving enemy. Allah said in other Ayah,

[فَسَوْفَ يَأْتِى اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَـفِرِينَ]

(Allah will bring a people whom He will love and they will love Him; humble towards the believers, stern towards the disbelievers...)[5:54],

[مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ]

(Muhammad is the Messenger of Allah. And those who are with him are severe against the disbelievers, and merciful among themselves.)[48:29], and,

[يَأَيُّهَا النَّبِىُّ جَـهِدِ الْكُفَّـرَ وَالْمُنَـفِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ]

(O Prophet! Strive hard against the disbelievers and the hypocrites, and be harsh against them.)[9:73] Allah said,

[وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ]

(And know that Allah is with those who have Taqwa), meaning, fight the disbelievers and trust in Allah knowing that Allah is with you if you fear and obey Him. This was the case in the first three blessed generations of Islam, the best members of this Ummah. Since they were firm on the religion and reached an unsurpassed level of obedience to Allah, they consistently prevailed over their enemies. During that era, victories were abundant, and enemies were ever more in a state of utter loss and degradation. However, after the turmoil began, desires and divisions became prevalent between various Muslim kings, the enemies were eager to attack the outposts of Islam and marched into its territory without much opposition. Then, the Muslim kings were too busy with their enmity for each other. The disbelievers then marched to the capital cities of the Islamic states, after gaining control over many of its areas, in addition to entire Islamic lands. Verily, ownership of all affairs is with Allah in the beginning and in the end. Whenever a just Muslim king stood up and obeyed Allah's orders, all the while trusting in Allah, Allah helped him regain control over some Muslim lands and took back from the enemy what was compatible to his obedience and support to Allah. We ask Allah to help the Muslims gain control over the forelocks of His disbeliever enemies and to raise high the word of Muslims over all lands. Verily, Allah is Most Generous, Most Giving.

[وَإِذَا مَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـذِهِ إِيمَـناً فَأَمَّا الَّذِينَ ءامَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَـناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَأَمَّا الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كَـفِرُونَ]
(124. And whenever there comes down a Surah, some of them (hypocrites) say: "Which of you has had his faith increased by it'' As for those who believe, it has increased their faith, and they rejoice.) (125. But as for those in whose hearts is a disease, it will add Rijs (doubt) to their Rijs (doubt); and they die while they are disbelievers.)


Penjelasan:

Konteks surah 9:123 adalah perlawanan yang harus dilakukan oleh kaum muslimin untuk mengakhiri intimidasi dari orang-orang musyrik yang selama ini terus menerus meneror kaum muslimin. Satu-satunya jalan adalah dengan mendahului untuk menyerang mereka, karena demikianlah sifat peperangan secara alamiah dimana musuh/perusuh yang selama ini terus-menerus menganggu dapat ganti dilawan balik sebagai balasan atau tindakan tanpa menunggu musuh menyerang terlebih dahulu .

Dari http://mengenal-islam.t35.com/Tafsir_QS9-123.htm sendiri dikutip:

Jika kalian bertemu dengan musuh kalian dari kalangan kaum musyrik maka serulah mereka pada tiga pilihan, mana saja di antara ketiganya, selama mereka bersedia memenuhi seruanmu, maka terimalah dan tahanlah dirimu dari menyerang mereka. Ajaklah mereka memeluk Islam. Jika mereka memenuhi seruan kalian, terimalah dan tahanlah dirimu untuk menyerang mereka….Jika mereka enggan (memenuhi seruan kalian), mintalah mereka membayar jizyah. Jika mereka memenuhi seruan kalian, terimalah dan tahanlah diri kalian untuk menyerang mereka. Jika mereka enggan juga, mintalah perlindungan kepada Allah, kemudian perangilah mereka. (HR Muslim).

Dimana cukup jelas disebutkan bahwa sekalipun kaum muslimin diperbolehkan untuk mendahului menyerang sebagai suatu bentuk perlawanan, kaum muslimin dapat menawarkan beberapa opsi kepada musuh.

Inti dari surah 9:123 adalah perlawanan kepada musuh dengan menyerang terlebih dahulu dengan catatan bahwa musuh telah mengintimidasi kaum muslimin sebelumnya. Sumber referensi yang diajukan oleh Duladi tidak lebih dari penafsiran tentang cara-cara berperang melawan para musuh (ofensifitas) dan bukan menekankan pada aspek 'penyerangan' membabi buta sebagai simbol ajaran Islam seperti yang dipahami oleh Duladi.

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (QS. 22:39)


Dari tafsir Syaik Maududi: http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/maududi/mau9.html#S9

Subject: Problems of Peace and War

In continuation of Surah AL-ANFAL, this Surah also deals with the problems of peace and war and bases the theme on the Tabuk Expedition.

Topics and their Interconnection

This portion deals with the sanctity of treaties and lays down principles, rules and regulations which must be kept in view before breaking them, in case the other party does not observe them sincerely. 1 - 12

In this portion the Muslims have been urged to fight in the Way of Allah with the mushrik Arabs, the Jews and the Christians, who were duly warned of the consequences of their mischievous and inimical behaviour. 13 - 37

In this discourse, the Muslims have been told clearly and explicitly that they will inherit the rewards promised by Allah only if they take active part in the conflict with kufr, for that is the criterion which distinguishes true Muslims from hypocrites. Therefore true Muslims should take active part in Jihad, without minding dangers, obstacles, difficulties, temptations and the like. 38 - 72

This portion deals with the problems of hypocrites and lays down rules and regulations governing the treatment that should be meted out to them and points out their distinctive marks from true Muslims. 73 - 90

This portion deals with the case of those who remained behind and did not accompany the Holy Prophet for Jihad to Tabuk. For this purpose they have been separated in different categories, that is, the disabled, the sick, the indigent, the hypocrites, the believers who realized their guilt and punished themselves before the return of the Holy Prophet from Tabuk and those who confessed their error. Their cases have been dealt with in accordance with the nature and extent of their offence. 91 - 110

In order to make their noble qualities look all the more conspicuous and dignified by contrast, the characteristics of the Believers have been mentioned, and they have been reassured that Allah, the Sovereign of the Universe, is their helper and guardian. Accordingly, because of their sincerity, He has forgiven the Three Believers who did not take part in the expedition. 111 - 118

In the concluding portion, general instructions have been given to the Believers for their guidance. 119 - 127

This is the conclusion: "Follow the Messenger who is gentle and compassionate and your greatest well-wisher, and trust in Allah, the Lord of the Universe". 128 - 129

Dari kutipan diatas ditunjukkan bahwa kaum kafir telah melanggar perjanjian sebelumnya dengan kaum muslimin sehingga tidak alasan bahwa mereka tidak bisa diperangi.

sumber : http://muslim-christianity.webs.com/

tulisan terkait

  1. menjawab tantangan Duladi (penghujat Islam) bag 1
  2. menjawab tantangan Duladi bag :2
  3. menjawab tantangan Duladi bag :3
  4. Menjawab tantangan Duladi bag 4
  5. Menjawab tantangan Duladi bag : 5
  6. menjawab tantangan Duladi bag 6
  7. menjawab tantangan Duladi bag 7
  8. Menjawab masalah perang