Tentang masjidil Aqsa dan masjid pertama

3

Terdapat kekeliruan besar para pengritik Islam dengan menyebut bahwa Al-Aqsha adalah sebuah masjid yang dikenal dengan nama Dome of the Rock atau Qubat As Sakhra Mosque. Padahal di Yerusalem terdapat dua masjid bersejarah dan tentunya ini adalah dua bangunan yang berbeda. Bahkan masjid Al Aqsha adalah masjid yang diklaim Yahudi ekstrimis dibangun di atas tanah yang dulunya adalah bekas Kuil Sulaiman yang dibangun pada masa pemerintahan Sulaiman as (Salomo, lihat 2 tawarikh 3,4,5 ). Meski tidaklah ada bukti yang mendukung klaim Yahudi ini akan tetapi hal ini jelas menunjukkan bahwa Al Aqsha bukanlah Dome of Rock itu sendiri. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Dome_of_the_Rock juga disebutkan bahwa Dome of the Rock adalah Masjid Umar dan bukan Al-Aqsa. Dari sini secara jelas sumber Encylopedia Britannica melakukan kesalahan analisis sejarah dengan menyebut bahwa Dome of Rock adalah Masjid Al Aqsha.


  • Sahih bukhari, Volume 4, Book 55, Number 585: Narrated Abu Dhar:
    I said, "O Allah's Apostle! Which mosque was first built on the surface of the earth?" He said, "Al-Masjid-ul-,Haram (in Mecca)." I said, "Which was built next?" He replied "The mosque of Al-Aqsa ( in Jerusalem) ." I said, "What was the period of construction between the two?" He said, "Forty years." He added, "Wherever (you may be, and) the prayer time becomes due, perform the prayer there, for the best thing is to do so (i.e. to offer the prayers in time)."

  • Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. 3:96 )

Adapun bangunan yang disebut Ka'bah ini adalah bangunan tua yang dibuat oleh para malaikat sebelum Adam turun ke bumi (yang kemudian diangkat ke langit) atau Adam yang membangun Ka'bah seperti yang dibangun para malaikat tadi. Dan ini sangat logis karena begitu Adam turun ke bumi beliau belum memiliki tempat perlindungan. Hanya seiring berjalannya waktu Ka'bah mengalami erosi dan tak terurus dan dibangun kembali oleh nabi Ibrahim dan anak sulungnya yaitu Ismail. Tulisan ini ditujukan untuk menjelaskan kaitan masjidil Aqsha pada peristiwa Isra Mi'raj nabi dalam surat 17:1, dimana yang disebut masjidil Al Aqsha itu apakah sebuah masjid yang berada di Yerusalem ataukah sebuah tempat sujud (masjid) ditempat yang lain?


  • Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 17:1)

  • Sahih Muslim, Book 001, Number 0328:
    It is narrated on the authority of Abu Huraira that the Messenger of Allah (may peace be upon him) said: I found myself in Hijr and the Quraish were asking me about my might journey. I was asked about things pertaining to Bait-ul-Maqdis which I could not preserve (in my mind). I was very much vexed, so vexed as I had never been before. Then Allah raised it (Bait-ul-Maqdis) before my eyes. I looked towards it, and I gave them the information about whatever they questioned me I also saw myself among the group of apostles. I saw Moses saying prayer and found him to be a well-built man as if he was a man of the tribe of Shanu'a. I saw Jesus son of Mary (peace be upon him) offering prayer, of all of men he had the closest resemblance with 'Urwa b. Masu'd al-Thaqafi. I saw Ibrahim (peace be upon him) offering prayer; he had the closest resemblance with your companion (the Prophet himself) amongst people. When the time of prayer came I led them. When I completed the prayer, someone said: Here is Malik, the keeper of the Hell; pay him salutations. I turned to him, but he preceded me in salutation.

  • Sahih Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 233:
    Narrated Jabir bin 'Abdullah:
    The Prophet said, "When the Quraish disbelieved me (concerning my night journey), I stood up in Al-Hijr (the unroofed portion of the Ka'ba) and Allah displayed Bait-ul-Maqdis before me, and I started to inform them (Quraish) about its signs while looking at it."

Referensi sejarah (setidaknya saya hanya mengacu dari Enyclopedia Britannica (1956) vol.13 hal.8 waktu artikel ini ditulis, yang masih perlu dicek lagi kebenarannya karena antara Encyclopedia Britannica dan http://en.wikipedia.org/wiki/Masjid_al-Aqsa#First_qibla tidak sama keterangannya) menunjukkan bahwa masjid Aqsha yang sekarang (yang berada di Yerusalem) dibangun antara tahun 637/638-687/688 M dan ini bersesuaian dengan isi sahih bukhari, Volume 4, Book 55, Number 585 yang menyatakan bahwa masjid kedua yang dibangun setelah masjidil Haram adalah masjid Aqsha dalam jarak waktu sekitar 40 tahun.

Sementara masjidil Haram "secara resmi dibangun" sejak ditaklukkannya/direbutnya Mekah oleh umat Islam (mulai tahun 630 M dan tidak dijelaskan sejak mulai tahun berapa sebuah bangunan masjid utuh didirikan disekeliling Ka'bah.

Kalau begitu apakah ada kesalahan atau ada pergantian oleh pihak-pihak tertentu dalam ayat 17:1?

Jawaban secara logis adalah saat Quran menyebut kata masjidil Aqsha (wahyu ini diturunkan saat tahun sebelum 622 M, yaitu sebelum nabi SAW hijrah ke Medina (periode Mekah)) secara jelas hal ini terjadi sebelum masjid Al Aqsha di Yerusalem dibangun, sehingga tentunya kata Aqsha yang dimaksud tidak menunjuk ke masjid Aqsha di Yerusalem yang dibangun tahun 637/638-687/688 M.

Kalau disimak dalam ayat 17:1 disebutkan bahwa perjalanan nabi adalah dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha, sementara 'diketahui' bahwa masjidil Haram dimasa itu hanya sebuah Ka'bah (dan belum seperti sebuah Masjid seperti yang tampak seperti saat ini di Mekah Al Mukaromah) karena perintah shalat baru turun tahun 621 M dan Ka'bah berada di bawah kekuasaan suku-suku Quraisy, sehingga kata "masjid" disini lebih bermakna tempat/daerah sujud (masjid berasal dari akar kata sajdah, yang artinya sujud). Tentang penggunaan kata masjid yang tidak lebih berarti tempat sujud juga dimengerti dari ayat lain dalam surah sesudah 17:1 yaitu surah 18:21 yaitu:


  • Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka." Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah masjid (tempat sujud, pen. muslim) di atasnya." (QS. 18:16-17, 21 )

  • Sunan Abudawud Book 2, Number 0489:
    Narrated AbuDharr:
    The earth has been made for me purifying and as a mosque (place for prayer).

Adapun istilah masjidil aqsha sendiri secara terminologi (arabic) berarti tempat sujud yang jauh dan arti asal kata masjid itu sendiri bukan bangunan tapi tempat untuk bersujud (beribadah). Karena itu arti kata masjidil Aqsha sendiri dalam surah 17:1 tidak selalu berarti itu adalah masjid Al Aqsha di Yerusalem. Dan dalam ayat 17:1 diatas Allah juga tidak menyebut kata Ka'bah akan tetapi menggunakan kata masjidil Haram yang juga menunjukkan tempat sujud di sekitar Ka'bah. Dengan demikian sudah jelas bahwa masjidil Aqsha (yang wahyu ini diturunkan tahun sebelum 622 SM) bukan menunjuk ke masjid al Asha di Yerusalem (yang baru dibangun tahun 637/638-687/688 M).

Kalau begitu tempat sujud yang mana yang dimaksud masjid Al Aqsha dalam surah 17:1 tersebut? Ada beberapa kemungkinan seperti berikut:

1. Tempat sujud tersebut tepat berada diatas tanah masjid Al Aqsha yang baru akan dibangun secara resmi dan dalam bentuk yang permanen tahun 637/638-687/688 M dan kemungkinan Umar (jika memang benar Umar yang membangunnya??) pada masa kekhalifannya mengabadikan isi surah 18:1 tersebut dan hadis-hadis (perkataan) nabi SAW tentang 3 tempat yang paling baik untuk dikunjungi salah satunya Yerusalem, kepada nama masjidnya yaitu masjid Aqsha.

2. Masjid Al Aqsha sudah berdiri saat itu meski mungkin bentuknya belum sempurna dan para analis sejarah melakukan kekeliruan logika atau mengaburkan fakta. Saya menduga bahwa apa yang dimaksud oleh Quran dengan masjid "al Aqsa" adalah menunjuk ke posisi Baitul Maqdis (Bait Suci) yang terletak di Yerusalem yang pernah dikenal baik oleh umat Yahudi dan umat Nasrani saat itu dan di atas tanah bekas atau disekitar Bait Suci ini didirikanlah masjid (baik dalam bentuk bangunan atau sekedar tempat sujud) atau kemungkinan lain Bait Suci ini sendirilah yang dijadikan tempat shalat dan telah diperbaiki kembali, setelah sebelumnya mungkin dirusak oleh Chosroes II dari Persia (614 M) atau pasukan Romawi (i.e Titus) sebelumnya. Apalagi setelah dirusak, mungkin ada yang membangun kembali tempat ibadah diatas tanahnya (bekas Bait Suci). Karena itulah nabi dapat melakukan penggambaran secara tepat sewaktu ditanya oleh orang-orang Quraisy bentuk dari Bait Suci tersebut.

  • markus 15:29-31

    15:29 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari,
    15:30 turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!"
    15:31 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!

  • Sahih Muslim,

    Book 007, Number 3220:
    Abu Haraira (Allah be pleased with him) reported Allah's Messenger (way peace be upon him) as saying: One should undertake journey to three mosques: the mosque of the Ka'ba, my mosque, and the mosque of Elia (Bait al-Maqdis).

    Book 019, Number 4381:
    This hadith has been narrated on the authority of Ibn Shihab with the same chain of transmitters but with the addition:" When Allah inflicted defeat on the armies of Persia, Caesar moved from Hims to Aelia (Bait al-Maqdis) for thanking Allah as He granted him victory." In this hadith these words occur:" From Muhammad, servant of Allah and His Messenger," and said:" The sin of your followers," and also said the words:" to the call of Islam".

    Book 023, Number 4985:
    Abu Huraira reported that Allah's Messenger (may peace be upon him) was presented two cups at Bait al-Maqdis on the night of Heavenly Journey, one containing wine and the other containing milk. He looked at both of them, and be took the one containing milk, whereupon Gabriel (peace be upon him) said: Praise is due to Allah Who guided you to the true nature; had you taken the one containing wine, Your Umma would have gone astray.

    Book 023, Number 4986:
    This hadith is narrated on the authority of Abu Huraira through another chain of transmitters, but he did not mention Aelia (Capitolina. i. e. Bait al-Maqdis).

3. Tempat tersebut berada di suatu tempat tertentu yang tidak dijelaskan oleh Quran.

4. Tempat tersebut mungkin berada di Turki (asumsi saya pribadi), karena menurut penelitian sejarah, gua yang disebut dalam surat 18 yang mengikuti surat 17 tentang sekelompok orang yang diberkati oleh Allah SWT (Ashabul Kahfi) yang mendirikan sebuah masjid (tempat bersujud) dimana Allah menunjukkan tanda-tanda kebesarannya berada di daerah tersebut.

*18:16-20 Ephesus is located about 200 miles south of ancient Nicene, and 30 miles south of today's Izmir in Turkey. The dwellers of the cave were young Christians who wanted to follow the teachings of Jesus, and worship God alone. They were fleeing the persecution of neo-christians who proclaimed a corrupted Christianity three centuries after Jesus, following the Nicene Conferences, when the Trinity doctrine was announced. In 1928, Franz Miltner, an Austrian archeologist discovered the tomb of the seven sleepers of Ephesus. Their history is well documented in several encyclopedias. *18:17 This sign, or hint, tells us that the cave was facing north. (Rashad Khalifa)

5. Tempat sujud tersebut berada disuatu batas langit atau diatas langit tertentu di alam semesta dan tidak berada di bumi (tempat sujud yang jauh). Hal ini seperti ditunjukkan dalam Sahih Muslim, Book 001, Number 0328 diatas dimana secara visioner/virtual (karena nabi SAW lupa untuk mengingat-ingat tempat sujud tersebut), nabi ditunjukkan gambaran dimana para nabi seperti Musa, Ibrahim, dan Isa mengajak nabi SAW shalat diatasnya dan merupakan tempat yang diberkati disekelilingnya. Dan menurut al Hadis (Sahih Muslim Book 001, Number 0309, Sahih Muslim Book 001, Number 0314, Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 227, Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 227) memang ada juga Ka'bah yang berada di langit yang digunakan oleh para malaikat untuk beribadah dengan satu menaranya yang tingginya 500 tahun yang mana menara tersebut dinamakan Baitul Ma'mur (Surah 52:4).







sumber :faithfreedomwatch.r8.org

No Santanic verses in Qur'an

0
Daftar berikut adalah pandangan-pandangan (secara implementatif dan spekulatif) terhadap beberapa klaim bahwa terdapat ayat-ayat setan dalam AlQuran. Perspektif yang diambil disini adalah berdasar akan penafsiran tentang ayat-ayat ini secara literal dan implementatif (tekstual Quran) dan bukan berdasar dari latar belakang mengapa ayat ini turun (Asbabun nuzul). Untuk dasar yang lebih akurat yang menyangkut tentang latar belakang sebenarnya dari beberapa sampel ayat-ayat yang saya bahas disini (yang mana klaim ini sebenarnya berasal dari tulisan At Tabari dan Ibnu Sa'd yang dijadikan hujjah bagi kaum misionaris), silahkan anda klik di sini. Daftar ini akan terus saya tambah jika atau sesuai dengan data-data di lapangan yang saya temukan tentang komplain-komplain apa saja bahwa di dalam Alquran terdapat ayat-ayat setan.


1. Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

Maksud secara tekstual dari pengertian ayat diatas adalah Allah akan melupakan dalam pikiran orang muslim tentang ajaran ayat-ayat yang pernah diturunkannya sebelumnya, sehingga orang-orang muslim tidak merasa terbebani atau menggemari/fanatik dengan ajaran ayat tersebut dan pikirannya dapat fokus ke dalam ajaran ayat yang lebih baru kepada Allah, karena sebagian ayat memang diturunkan untuk situasi tertentu (kondisional, temporari) dan akan diganti dengan ayat yang lebih baik atau permanen.

Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja." Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. (QS. 16:101)

Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 559:
Narrated Abdullah:
The Prophet said, "Why does anyone of the people say, 'I have forgotten such-and-such Verses (of the Qur'an)?' He, in fact, is caused (by Allah) to forget."



Hal-hal seperti ini juga difirmankan seperti yang tersebut dalam Bibel:

ibrani 7:18-19

Memang suatu hukum yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, kalau hukum itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu tidak berguna, --sebab hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan--tetapi sekarang ditimbulkan pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Allah.

Apakah hal ini menunjukkan Allah tidak konsisten atau terburu-buru? Kalau terburu-buru jawabannya adalah tidak, karena memang ada situasi temporari yang sedang dihadapi. Akan tetapi kalau jawabannya Allah tidak konsisten, silahkan anda cari indeks atau klik tautan ini "[1], [2] dan [3]" untuk memahami logika hukum Allah yang bekerja ini yang menjelaskan bahwa Allah Maha Berkuasa atas sesuatu dan manusia tidak dapat memprotes terhadap keputusan Allah jika Allah sudah menghendaki atau menetapkannya. Tidak ada yang bisa mengubah-ubah kalimat Allah kecuali Allah sendiri yang mengubahnya dalam Quran. Mari ambil satu contoh ayat-ayat yang dinasakh-kan:

.Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. 2:129)

Salah satu ayat dimana saat itu minum khamar belum diharamkan (pendekatan persuasif/preliminary, terutama bagi para mualaf saat ayat ini diturunkan), akan tetapi setelah berlalu selang waktu maka Allah SWT benar-benar mengharamkan minum khamar (selama di dunia karena di surga tidak ada orang mabuk tapi orang bahagia penuh kenikmatan):

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:90)

Dan kalau dibandingkan dengan ajaran Bibel, hal-hal seperti ini ternyata tidak pernah dihapus di era kenabian Yesus (yang hanya sebentar):

31:6 Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. 31:7 Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya. (amsal 31:6-7)

2:7 Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan merekapun mengisinya sampai penuh.
2:8 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu merekapun membawanya.
2:9 Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya--ia memanggil mempelai laki-laki,
2:10 dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."
(yohanes 2:7-10)

5:23 Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah. (1 timotius 5:23)

Extra comment (edited by muslim):

Islam critics often erroneously assumes that Allah is changing his mind when it comes to the laws of drinking. They have to understand the wisdom behind the evolvement of the prohibition of drinking. Allah did not send down all the laws at one time. The Quran was sent down over a period of 23 years. In the first 13 years of Mecca, none of these laws were sent down. As a matter of fact, if you analyze the Meccan Surahs, they all talk about Tawheed, Shirk, Day of Judgment, and Hell, Heaven etc. This was done in order to first build up the faith of the believers. Then in Madina, the laws were sent down. This is to teach us that people change gradually and not just overnight. This is the wisdom that Muslims even apply today. That if there is a sinner and wishes to turn back to God, he doesn’t conform to all the of laws and quit all the sins he does over night. His mind would eventually pop and lose hope of ever changing. But a person is to change gradually.

Drinking was a part of the lives of the people at that time and Allah in his divine wisdom had them quit gradually. This was Allah’s plan the whole time. But if Allah were to completely prohibit drinking all at once, it would have been very difficult for them to abide by that law immediately. This simply shows Allah’s mercy and consideration for his creation (Bassam Zawadi)

Penjelasan lebih lanjut tentang masalah nasikh-mansukh:

Dikutip dari http://sunni.blog.m3-access.com/posts/28709_Tafsir-Surah-Al-Baqarah-106-107.html

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir mengatakan, penakwilan ayat itu adalah sebagai berikut, “Tidaklah engkau mengetahui, wahai Muhammad, bahwa milik-Ku-lah semua kerajaan langit dan bumi dan kekuasaan terhadap keduanya, bukan milik selain Aku. Aku menentukan hukum di langit dan di bumi dan apa yang ada di antara keduanya sekehendak-Ku, Aku memerintahkan sekehendak-Ku, dan Aku melarang sekehendak-Ku pula. Aku menasakh, mengganti, dan mengubah hukum-hukum yang Aku tetapkan pada hamba-hamba-Ku sekehendak-Ku dengan apa yang Aku kehendaki.”

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, “Meskipun ini ucapan Allah yang ditunjukan kepada nabi-Nya dalam bentuk kalimat berita yang menyatakan keagungan-Nya, ini merupakan pernyataan yang menunjukkan dustanya orang-orang Yahudi yang menyangkal di-nasakh-nya hukum-hukum Taurat dan mengingkari kenabian Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW, yang datang dengan membawa risalah Allah yang mengubah hukum-hukum Taurat. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi serta kekuasaan atas keduanya, bahwa makhluk-makhluk itu merupakan warga kerajaan-Nya.

Mereka wajib mendengar dan taat terhadap perintah dan larangan-Nya. Allah berhak memerintahkan dan melarang mereka sekehendak-Nya, menghapus sesuatu yang dikehendaki-Nya, dan menetapkan sesuatu yang dikehendaki-Nya.”

Yang membuat kaum Yahudi mengingkari nasakh adalah kekafiran dan penentangan mereka, karena terjadinya nasakh dalam hukum-hukum Allah bukan sesuatu yang tidak masuk akal, karena Dia menghukumi sekehendak-Nya sebagaimana Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Di samping itu nasakh juga telah benar-benar terjadi dalam kitab-kitab dan syariat-syariat terdahulu, seperti Dia menghalalkan kepada Adam untuk mengawinkan putri-putrinya dengan putra-putranya, kemudian mengharamkannya, menghalalkan semua jenis binatang kepada Nabi Nuh setelah mendarat dari kapal, tetapi kemudian menasakh sebagiannya.

Dahulu, menikahi dua saudara dibolehkan bagi Bani Israil dan keturunannya, kemudian hal itu diharamkan oleh syariat kitab Taurat dan yang sesudahnya. Allah menyuruh Ibrahim menyembelih putranya, kemudian dinasakh sebelum hal itu dilakukan. Masih banyak lagi yang lainnya jika mau disebutkan.

Kaum Yahudi mengakui hal itu, namun mereka berpaling darinya. Sedangkan kaum muslimin sepakat atas kemungkinan terjadinya nasakh dalam hukum-hukum Allah Ta’ala, karena mengandung hikmah yang sangat baik.


Selanjutnya Allah SWT berfirman:

Allah Ta’ala melarang kaum mukmin banyak bertanya kepada Nabi SAW mengenai perkara-perkara yang belum terjadi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan kepada nabimu hal-hal yang, jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian, dan jika kalian menanyakan pada saat Al-Quran sedang diturunkan niscaya akan diterangkan kepada kalian.” (QS Al-Maidah:101).

Artinya, “Apabila kalian menanyakan perinciannya setelah suatu ayat diturunkan, akan dijelaskan kepada kalian. Tetapi janganlah kalian bertanya tentang perkara yang belum terjadi, karena boleh jadi perkara itu akan diharamkan karena ditanyakan. Karena itu, dalam hadits shahih dikatakan, “Sesungguhnya seorang muslim yang paling besar kejahatannya adalah yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian menjadi diharamkan lantaran pertanyaannya itu.

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat hadits dari Al-Muqhirah bin Syu’bah, Rasulullah SAW melarang banyak berkata begini dan begitu, menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya. Dalam Shahih Muslim dikatakan, “Biarkanlah aku pada apa yang aku biarkan untuk kalian, karena binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan mereka banyak bertanya dan banyak menentang para nabi mereka. Maka apabila aku menyuruh kalian sesuatu, kerjakanlah semampu kalian; dan jika aku melarang kalian dari sesuatu, jauhilah ia.”

Nabi SAW mengatakan demikian setelah beliau memberitahukan para sahabatnya bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk menunaikan haji, kemudian seorang laki-laki bertanya, “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?”

Beliau terdiam meskipun pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Tidak. Seandainya aku katakan ya, niscaya akan menjadi wajib (diwajibkan); dan seandainya menjadi wajib, kalian tak akan mampu melakukannya.” Lalu beliau melanjutkan sabdanya, “Biarkanlah aku pada apa yang aku biarkan untuk kalian…(dan seterusnya).”


Karena itu Anas bin Malik mengatakan, “Kami dilarang untuk bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sesuatu.” Tentu yang dimaksudkannya adalah pertanyaan-pertanyaan sebagaimana yang dijelaskan di atas, bukan masalah-masalah yang perlu ditanyakan, baik masalah hukum maupun yang lainnya. Berkaitan dengan ini Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah aku melihat suatu kaum yang lebih baik daripada para sahabat Nabi Muhammad SAW. Mereka hanya bertanya kepada beliau tentang 12 masalah, dan semuanya itu disebutkan dalam Al-Quran.”

Mengapa harus ada nasikh mansukh?

Jawab: Karena ayat-ayat yang turun setahap demi setahap mengikuti perkembangan kejadian di jazirah Arabia (kejadian yang menimpa kaum mukminin). Ayat-ayat Quran diturunkan selama hampir 23 tahun. Tentu saja hal ini memungkinkan terjadinya ayat yang dibatalkan (secara kronologis waktu) karena adanya perkembangan dan gejolak yang terjadi di masyarakat dalam rentang waktu yang lama. Ayat-ayat Quran membentuk suatu alur cerita dan hanya Allah sendiri yang tahu mengapa demikian. Bahkan dalam Taurat atau Bible sendiri ayat-ayatnya juga saling menggugurkan satu sama lain. Jadi adalah pemikiran yang aneh jika non muslim tidak memahami hal ini, seolah-olah dalam kitab lain hal-hal seperti tidak ada. Dalam segi waktu, kitab Taurat dan Injil hanya diturunkan bisa jadi cuma 1 hari, bedakan dengan Al-Quran yang menjalani masa "operasional" selama 23 tahun sebelum benar-benar utuh/terkumpul menjadi 6234 ayat. Ayat-ayat ini kemudian disatukan menjadi sebuah shuhuf dikarenakan banyak penghapal Quran yang meninggal pada perang Yamamah. Karena memang sejak awal nabi mengijinkan agar dibuat variasi Quran, maka pada suatu waktu variasi-variasi ini ternyata menimbulkan suatu ketegangan/masalah sehingga akhirnya disusunlah shuhuf ini kedalam satu mushaf, yaitu mushaf Utsmani dengan sebelumnya melalui beberapa proses pembukuan dan kesepakatan yang akhirnya menjadi suatu standar (bedakan dengan Bibel yang terus menerus mengalami revisi dari tahun ke tahun bahkan sampai milenium kedua ini). Adapun proses penyusunan shuhuf dan mushaf ini mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh nabi SAW selama hidup beliau dan setiap proses yang berhubungan dengan sejarah perkembangan ayat Quran dan hadis (termasuk atsar) dicatat oleh para sahabat nabi melalui metode periwayatan sehingga dapat ditelusuri asal muasal peristiwa dan dasar hukumnya.

Sedangkan mengenai ayat apa yang diganti, diubah, dihapus, diperbaruhi telah tercatat sebelumnya/terlebih dahulu dalam Lauh Mahfuzh:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. 6:59)

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. 22:70)

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh). (QS. 13:39)

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (QS. 85:21-21)


2. "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (orang musyrik) seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia (orang musyrik) mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayatNya (dengan para Nabi). Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana," (QS. 22:52 )

Ayat sebelumnya:


"Dan mereka (orang musyrik) meminta kepadamu (nabi SAW) agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu (manusia) adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu (manusia). Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya (orang musyrik terdahulu), yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka (orang musyrik), dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu). Katakanlah (Allah SWT menyuruh nabi SAW berkata): "Hai manusia, sesungguhnya aku (nabi SAW) adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu (orang musyrik). Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia. Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat- ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka." (QS. 22:49-51 )

Ayat sesudahnya:

"agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya (orang-orang musyrik). Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,"
(QS. 22:53 )

Sudah jelas dalam kronologi ayat-ayat diatas, bahwa kata kamu, dia, manusia, orang dsb adalah orang-orang yg didalam hatinya ada penyakit, orang-orang yg menentang para rasul, dan diuji (diazab) dengan setan-setan yg membisiki dirinya. Dan Allah SWT menghalau setan-setan tsb dengan menguatkan ayat-ayatNya (dengan diutusnya para Nabi).

Versi cerita/tulisan Ibnu Ishaq:

Yang dimaksud ia dalam tulisan Tabari/Ibnu Sa'd adalah pribadi nabi Muhammad SAW berdasarkan tulisannya di kitab tarikh beliau:

"Have you thought of al-Lat and al-Uzza and Manat, the third ... these are the exalted Gharaniq whose intercession is approved. (Ibn Ishaq, pp. 165-166)"

"Satan ... put upon his (Muhammad's) tongue "these are the exalted Gharaniq whose intercession is approved". (Ibn Ishaq, p. 165-166)"

"When Quraysh heard that, they were delighted and greatly pleased at the way in which he spoke of their gods and they listened to him ... Then the people dispersed and Quraysh went out, delighted at what had been said about their gods, saying, "Muhammad has spoken of our gods in splendid fashion". (Ibn Ishaq, p. 166)"

"Then Gabriel came to the apostle and said , "What have you done, Muhammad? You have read to these people something I did not bring you from God and you have said what He did not say to you." (Ibn Ishaq, p. 166)"

"When the annulment of what Satan had put upon the prophet's tongue came from God, Quraysh said: "Muhammad has repented of what he said about the position of your gods with Allah, altered it and brought something else." (Ibn Ishaq, p. 166-167)"

Silahkan anda klik di sini ("Those Are The High Flying Claims") untuk mengikuti sanggahan tentang maksud ayat diatas. Sebagai, tanggapan pribadi, anggap apa yang ditulis Tabari merupakan isu benar, maka logika pengertian ayat diatas adalah sebagai berikut:

1- Setan mencoba untuk merintangi dakwah nabi dengan menimbulkan hasrat tertentu kepada nabi SAW, yaitu mencoba mengatakan apa yang tidak diwahyukan oleh Allah SWT kepada nabi SAW.

2- Akan tetapi Allah SWT kemudian "membatalkan apa yang setan bisikkan kepada nabi SAW." Artinya disini setan gagal, dan tidak sanggup untuk mengalahkan kehendak keilahian Tuhan..

3- Alasan mengapa Allah SWT mengijinkan setan untuk menipu nabi adalah untuk menguji para nabi dan menunjukkan bagaimana Allah SWT akan mengatasi para setan. (Bukti-bukti bahwa God mengijinkan setan untuk menggoda Yesus)

  • Sahih Muslim Book 039, Number 6759:

    A'isha the wife of Allah's Apostle (may peace be upon him), reported that one day Allah's Messenger (may peace be upon him) came out of her (apartment) during the night and she felt jealous. Then he came and he saw me (in what agitated state of mind) I was. He said: A'isha, what has happened to you? Do you feel jealous? Thereupon she said: How can it he (that a woman like me) should not feel jealous in regard to a husband like you. Thereupon Allah's Messenger (may peace be upon him) said: It was your devil who had come to you, and she said: Allah's Messenger, is there along with me a devil? He said: Yes. I said: Is devil attached to everyone? He said: Yes. I (Aisha) again said: Allah's Messenger, is it with you also? He said: Yes, but my Lord has helped me against him and as such I am absolutely safe from his mischief.

Dari sumber yang sahih didapat keterangan bahwa setan menangis/meratap (tak berdaya) ketika:

1- Dia dilaknat.

2- Dia diusir dari surga.

3- Rasulullah diutus...!! (Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 206)

4- Diturunkannya suratul Fatihah.

Dari poin-poin diatas dapat dilihat bahwa setan meratap ketika momen diutusnya nabi SAW tiba. Jadi logikanya disini, bagaimana bisa setan mampu dan berani menggoda nabi SAW yang diriwayatkan dalam hadis lain juga pernah akan menangkap setan dan bahkan mengurungnya jika karena tidak doa nabi Sulaiman as yang menghalangi beliau menangkapnya?

  • Sahih Bukhari Volume 2, Book 22, Number 301:
    Narrated Abu Huraira:
    The Prophet once offered the prayer and said, "
    Satan came in front of me and tried to interrupt my prayer, but Allah gave me an upper hand on him and I choked him. No doubt, I thought of tying him to one of the pillars of the mosque till you get up in the morning and see him. Then I remembered the statement of Prophet Solomon, 'My Lord ! Bestow on me a kingdom such as shall not belong to any other after me.' Then Allah made him (Satan) return with his head down (humiliated)."

Nabi-nabi lain yang pernah di coba atau diuji oleh setan, sepanjang pengetahuan saya adalah nabi Nuh as, nabi Musa as, nabi Dzulkifli as dan nabi Isa as, namun tidak satupun dari para setan itu berhasil mempengaruhi para nabi tersebut, kecuali nabi Isa yang pernah digoda setan selama 40 hari mempunyai atau ada perspektif sendiri tentang hal ini. Bahkan disebutkan dalam hadis sahih bahwa para setan sekali-kali tidak bisa menyerupai nabi SAW:

"Barangsiapa yang melihat aku dalam tidurnya (mimpi melihat aku) maka sesungguhnya ia betul-betul telah melihat aku, karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai aku". (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesimpulannya cerita-cerita atau riwayat-riwayat tentang godaan setan terhadap nabi Muhammad SAW tidak pernah ada dalam Al Quran kecuali rekaan-rekaan atau desas-desus belaka terhadap peristiwa yang pernah terjadi di masyarakat lampau dan hal ini ternyata dicoba dirangkai-rangkai sendiri oleh para musuh-musuh Islam untuk mengambil kesimpulan sendiri terhadap ketidakkredibelan dakwah nabi SAW...

Artikel terkait:

Yesus berlaku hipokrit

Yesus digoda oleh iblis

3. "Maka apakah patut kamu menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian." (QS. 53:19-20 )

Ayat sebelumnya:


"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi...Lalu dia (Jibril) menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya (nabi SAW) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha..Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar...

...Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)

Ayat sesudahnya:

Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu (orang musyrik) dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia."
(QS. 53:1-25 )

Konteks ayat diatas diturunkan ketika orang-orang Mekah mempertanyakan tentang peristiwa Isra Mi'raj yang dilakukan oleh nabi SAW. Dapat dilihat dari kronologi peristiwa bahwa kata kamu yang dimaksud Allah SWT adalah orang-orang musyrikin.


4. "Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." (QS. 2:23 )

"Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain."
(QS. 17:88 )

Sudah jelas bahwa ayat diatas adalah sebuah tantangan yang ditujukan kepada manusia (dalam konteks peristiwa dijaman nabi SAW adalah orang-orang musyrikin yang meragukan kenabian Muhammad dan ajarannya (Quran)) dan bukan ditujukan kepada Muhammad SAW. Nabi Muhammad tidak bisa membuat Quran karena beliau sendiri juga manusia (QS. 17:88), karena itu bagaimana bisa ada logika yang menyatakan bahwa AlQuran di buat oleh Muhammad (yang seorang manusia) padahal surah 17:88 menyatakan tidak yang bisa membuat yang semisal Alquran baik dari kalangan jin (setan) maupun manusia.


5. "Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga." (QS. 2:78 )

Tidak ada yang aneh dengan ayat diatas. Ayat diatas adalah ditujukan kepada umat Yahudi yang sebagian buta huruf dan tidak mengerti Taurat, dan hanya tahu cerita dongeng-dongeng yang diceritakan pendeta-pendeta mereka. Ayat diatas mengikuti ayat sebelumnya yaitu QS. 2:77 dan ayat sebelumnya lagi. Alur cerita dimulai dari ayat 2:47.


6. Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.(QS. 17:73)

Nabi SAW mendapat tekanan mental yang berat dari kaum musyrikin sehingga nabi SAW mengalami kesukaran untuk menyampaikan wahyu dan cenderung sedikit mengurangi kegigihan beliau (karena guncang hatinya sebab kematian-kematian keluarganya), yang mana jika tekanan kaum musyrikin ini berhasil tentu kaum musyrikin akan sangat gembira dan mengangkat nabi SAW sebagai temannya dan semakin menjadi-jadi kemusyrikan (kebohongan) mereka (cek di sini untuk mengikuti analisis ini). Akan tetapi sayang sekali bahwa Allah telah menyelamatkan dan membantu nabi SAW dan memperjalankan beliau dengan hadiah istimewa yaitu Isra Miraj/pergi ke langit ketujuh.


7. "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (QS. 54:17 )

Memang ayat AlQuran itu mudah, misal tunaikan shalat, saum (puasa), berhaji bagi yg mampu. Mudah dicerna toh? Cuma masalahnya kembali kepada manusianya sendiri mau mengerti apa tidak?

Surah 3, Ali Imran ayat 7 menyatakan bahwa AlQur'an terbagi atas dua babak : muhkamat dan mutasyabihat.


"Dia-lah yang menurunkan Kitab (AlQur'an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi AlQur'an, dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah /perselisihan/ dan untuk mencari-cari pengertiannya, padahal tidak ada yang mengetahui pengertiannya melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya. Katakanlah:"Kami beriman kepada yang semua ayat-ayatnya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang yang mau memikirkan."(QS. 3:7 )

Yang muhkamat adalah petunjuk hidup yang mudah dimengerti yang terdapat didalam AlQur'an, termasuk didalamnya masalah halal-haram, perintah dan larangan serta hal-hal lainnya dimana ayat-ayat tersebut dapat dipahami oleh siapa saja secara gamblang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran-pemikiran yang berat.

Sedangkan mutasyabihat/kiasan/metafora/allegorical adalah hal-hal yang susah dimengerti karena berupa keterangan tentang petunjuk banyak hal yang mesti diteliti dan merangkaikan satu sama lain hingga dengan begitu terdapat pengertian khusus tentang hal yang dimaksudkan, termasuk didalamnya adalah dapat diungkapkan melalui kemajuan teknologi dan cara berpikir manusia
.

Dan menurut apa yang dinyatakan dalam surat QS. 3:7 maka sebagian ayat tersebut ada yang perlu dicari pengertiannya. Bagaimana cara mencarinya. Ada ilmunya yaitu yang dinamakan ilmu tafsir. Dan sumber ilmu tafsir ini termasuk didalamnya adalah dapat diungkapkan melalui kemajuan teknologi dan cara berpikir manusia. Jelas sekali koq maksudnya. Keterangan tentang ilmu tafsir dapat di klik di sini.

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. 7:52)

Sementara ayat surah 3:7 tidaklah bertentangan dengan surah 54:17, yang pengertiannya bahwa ayat satu menjelaskan ayat lain, ayat satu berkorelasi dengan ayat lain. Contoh ayat buatan saya sendiri misalnya:

Ayat 1: menulis memakai bolpen adalah mudah

Ayat 2: di bidang tulis menulis, ada banyak ayat tulis seperti pensil, bolpen, kuas, dsb. Sebagian alat-alat itu ada yg mudah dipakai dan yg lain memerlukan ketrampilan khusus.

Dari alur berpikir logika diatas, maka seharusnya orang awampun akan bisa mengurai maksud dari ayat-ayat diatas.


8. Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS. 16:43)

Coba perhatikan ayat sebelumnya:

"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati." (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta." (QS 16:38-39).

Kamu disini adalah mewakili kaum musyrikin. Ayat ini sebenarnya menjelaskan jika kaum kufur tersebut tidak mempercayai akan apa yang disampaikan oleh Muhammad SAW maka hendaklah bertanya (membandingkan) kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang agama-agama terdahulu (pemuka-pemuka ahli kitab) tentang peristiwa atau nasib umat-umat terdahulu yang mendustakan Allah SWT. Ayat QS. 16:43 diatas diperjelas dengan surah 21:1-7.


9. Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." (And they say: "Tales of the ancients which he has caused to be written: and they are dictated before him morning and evening.") (QS. 25:5 )

Ayat sebelumnya:

Dan orang-orang kafir berkata: "Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain"; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. (But the Misbelievers say: "Naught is this but a lie which he has forged and others have helped him at it." In truth it is they who have put forward an iniquity and a falsehood) (QS. 25:4 )

Ayat sesudahnya:

Katakanlah: "Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Say: "The (Qur'an) was sent down by Him Who knows the Mystery (that is) in the heavens and the earth: verily He is Oft-Forgiving Most Merciful.") (QS. 25:6 )

Jadi maksud dari ayat diatas (surah 25:3-4 ) adalah kaum pagan mengolok-olok nabi SAW bahwa beliau pernah membaca kisah-kisah sejarah terdahulu dan menuduh bahwa nabi SAW telah menulis dan mengajarkan pada orang-orang beriman suatu kisah bualan belaka, akan tetapi Allah SWT membantah dalam ayat 25:6 bahwa Al-Quran adalah benar-benar diturunkan dari Allah SWT dan bukan karangan atau kompilasi buatan nabi Muhammad SAW.

Ayat serupa tentang anggapan orang kafir:

Dan orang-orang kafir berkata: "Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain"; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. (QS. 25:4 )

Sayang semua anggapan orang kafir telah dibantah oleh Allah SWT dalam ayat-ayat berikut:

  • dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. 53:3-4 )

  • Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar." (QS. 10:38 )

  • Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (QS. 29:48 )


10. Answering-islam.org wrote:

Idolatry, sin of Muhammad

[Guillaume said:] The only authentic story of Muhammad's early years is contained in an unpublished manuscript of his biographer Ibn Ishaq. It reads as follows:

I was told that the apostle of Allah said, as he was talking about Zayd son of 'Amr son of Nufayl, 'He was the first to upbraid me for idolatry and forbade me to worship idols. I had come from al-Ta'if along with Zayd son of Haritha when we passed Zayd son of 'Amr who was in the highland of Mecca. Quraysh had made a public example of him for abandoning his religion, so that he went out from their midst. I sat down with him. I had a bag containing meat which we had sacrificed to our idols -- Zayd b. Haritha was carrying it -- and I offered it to Zayd b. 'Amir -- I was but a lad at the time -- and I said, "Eat some of this food, my uncle." He replied, "Surely it is part of those sacrifices of theirs which they offer to their idols?" When I said that it was, he said, "Nephew mine, if you were to ask the daughters of 'Abd al-Muttalib they would tell you that I never eat of these sacrifices, and I have no desire to do so." Then he upbraided me for idolatory and spoke disparagingly of those who worship idols and sacrifice to them, and said, "They are worthless: they can neither harm nor profit anyone," or words to that effect.' The apostle added, 'After that I never knowingly stroked one of their idols nor did I sacrifice to them until God honoured me with his apostleship. (A. Guillaume, Islam, pp. 26-27; emphasis mine)

Koreksi:

He was the first to upbraid me for idolatry and forbade me to worship idols, he upbraided me for idolatory artinya: Muhammad memarahi/mencela kepada sang narator agar jangan menyembah berhala dan melarang narator tersebut tentang hal ini. He disini menunjuk kepada Muhammad dan me untuk sang narator.

I had a bag containing meat which we had sacrificed to our idols artinya: narator cerita mempunyai tas yang berisi daging yang mereka (narator dan Zayd b. Haritha) persembahkan kepada berhala. I disini menunjuk kepada sang narator, dan we menunjuk ke sang narator dan Zayd b. Haritha bukan kepada Muhammad SAW.


11. http://www.bibleandscience.com/science/quran.htm wrote:

The earth is spread out like a carpet.
The Qur’an 20:53, talks of God who has, "...made the earth for you like a carpet spread out..." (see also 71:19). This could hardly be a clearer way of describing the earth as flat. The Qur’an repeatedly refers to how the earth is "wide" or "spread out" (Qur’an 13:3; 15:19; 18:7; 19:6; 21:30; 35:40; 41:10; 43:10; 50:7; 51:48; 55:10; 78:6; 79:30; 88:20), which is not the language used to describe a round sphere.

Made the earth for your like a carpet spread out?, tidak ada kalimat/ayat Quran yang menyebut bahwa bumi itu datar, namun arti literal ayat diatas adalah membuat bumi SEPERTI karpet yang dihamparkan. Apakah bisa dibedakan antara kata SEPERTI dihamparkan dan datar?

Corrected:
071.019 "'And God has made the earth for you as a carpet (spread out), Do you clearly understand about that? It said as or like

71,19. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan (arabic,
bisaathan),

The following verse is (ayat berikutnya):

071.020 "'That ye may go about therein, in spacious roads.'" Ayat diatas bermakna bahwa bumi dihamparkan/dibentangkan/diluaskan dalam arti bumi terasa datar/didatarkan dan menjadi luas bagi manusia dan manusia bisa berjalan diatasnya.

Ayat lain (spread out, wide expansed): 13:3, 15:19, 43:10, 50:7, 51:48, 55:10, 78:6, 79:30, 88:20 bermakna seperti diatas. Ayat berikut bahkan tidak ada hubungannya sama sekali: 18:7, 19:6, 21:30, 35:40, 41:10, .

Coba perhatikan ayat dibawah:


S 2:22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

Apakah maksudnya langit sebagai atap berarti langit seperti genting atau plafon rumah yang datar? Atau lagi-lagi Quran menyajikan scientific error?

Mari bandingkan dengan ayat Bibel sebagai berikut:

yesaya 40:22 Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!

isaiah 40:22 It is he that sitteth upon the circle of the earth, and the inhabitants thereof are as grasshoppers; that stretcheth out the heavens as a curtain, and spreadeth them out as a tent to dwell in:

Saya juga bisa menyatakan bahwa Bibel melakukan scientific error, yaitu penduduk bumi adalah belalang. Dan langit seperti kain (artinya langit adalah kain) atau langit adalah kemah/tenda...:-)

Semuanya terjadi karena para ilmuwan kafirin tidak bisa membedakan kata hubung SEPERTI dengan makna ayat itu sendiri dan menuduh Al-Quran melakukan scientific error dan kalau logika seperti ini yang dipakai, saya juga bisa bilang bahwa ternyata Bibel juga melakukan hal serupa.. :-)

Adapun bumi adalah bulat sebenarnya dinyatakan secara implisit oleh Quran dalam ayat berikut:

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan (yukawiru, huruf arab) malam atas siang dan menutupkan (yukawiru, huruf arab) siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (QS. 39:5 )

Saling menutupkan satu hal dg hal lain = mutual overlap

Dalam istilah atau kosakata arab Yukawiru/takwir (menggulung) mempunyai kata dasar kura yg berarti bola atau gulungan, maka kata kerja Yukawiru mempunyai arti membentuk bola atau bulatan. Dan overlaping malam dan siang akan membentuk pengertian bola. Dan perhatikan bahwa konteks menutupkan siang-malam adalah menunjuk ke obyek bumi dan bukan langit (mengikuti QS. 7:54).

Karena bentuk bumi tidak bulat seutuhnya/agak melebar (http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/ast99/ast99162.htm), maka dalam ayat lain secara spesifik dinyatakan bahwa bentuk bumi adalah seperti telur:

He made the earth egg-shaped *. (QS.79:30)

* The Arabic word ``dahhaahaa'' is derived from ``Dahhyah'' which means ``egg.''

sumber : Faithfreedomwatch.r8.org

Menepis isu bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat adalah pembunuh berdarah dingin

0
Kalangan pengritik Islam seringkali menuduh bahwa Rasul dan para sahabat adalah pembunuh kejam dan berdarah dingin dimasanya yang menunjukkan seolah ajaran Islam memang disebarkan dengan pedang. Hal ini sebenarnya tidaklah tepat, karena kalau dapat dipahami latar belakang peristiwanya, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal. Karena itu artikel ini akan mencoba untuk memberikan gambaran dan juga tautan-tautan yang menepis anggapan-anggapan tersebut:

Pengantar:

Nabi SAW lahir, hidup dan tinggal diantara atau dikelilingi oleh 360 suku pagan dan 3 suku Yahudi yang masing-masing memiliki kemampuan berperang. Oleh karena itu situasi dimana nabi SAW berada adalah diselimuti oleh bahaya demi bahaya. Tentu dapat dimengerti bahwa dalam situasi yang tidak menguntungkan seperti ini, dimana nabi SAW dan kaum muslimin harus tetap survive dan tidak mempunyai pilihan lain, akan mengakibatkan terjadinya banyak benturan disana-sini berupa peperangan-peperangan dan pertentangan yang cukup sulit untuk dihindarkan.

Hal ini juga harus dipahami bahwa status Muhammad adalah sebagai seorang nabi yang diutus dan ditugaskan untuk menyampaikan ajaran agama. Sementara kalau dibandingkan dengan nabi-nabi terdahulu saja dapat diketahui bagaimana nasib mereka, seperti Yohanes Pembaptis dan nabi Zakariya yang tidak berdaya dibunuh oleh Yahudi dan bahkan Yesus sendiri yang harus mengalami peristiwa seperti penyaliban dan tidak berdaya melawan keganasan orang-orang Yahudi.

Jadi dalam keadaan dikelilingi oleh 360 suku-suku musyrik penyembah berhala dan orang-orang munafik, otomatis tidaklah mudah hidup dalam lingkungan seperti itu, dimana dalam situasi seperti itu bentrokan fisik, maupun pengkhianatan-pengkhianatan sering terjadi, termasuk propaganda, hasutan dan upaya-upaya pembunuhan terhadap kaum muslimin.

Lingkungan tidak kondusif ini juga diakibatkan karena banyaknya orang-orang munafik dan juga sifat-sifat Yahudi yang cenderung tidak bersahabat dengan nabi SAW dan bahkan dengan para nabi yang pernah diutus sebelumnya, seperti ditunjukkan dalam ayat-ayat berikut:

matius 23:37

23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

yohanes 7:19

Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu.
Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?"

1 raja-raja 19:13-14

19:13 Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" 19:14 Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam,
karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku."

Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 277:
Narrated Abu Huraira:
The Prophet said, "Had only ten Jews (amongst their chiefs) believe me, all the Jews would definitely have believed me."

Sahih Bukhari Volume 9, Book 88, Number 229:
Narrated Abi Waih:
Hudhaifa bin Al-Yaman said, '
The hypocrites of today are worse than those of the lifetime of the Prophet, because in those days they used to do evil deeds secretly but today they do such deeds openly.'

Sahih Bukhari Volume 9, Book 88, Number 230:
Narrated Abi Asha'sha:
Hudhaifa said, '
In fact, it was hypocrisy that existed in the lifetime of the Prophet but today it is Kufr (disbelief) after belief.'

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): "Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (QS. 3:72)

Tuduhan: Muhammad's treatment of enemies

Muhammad, on the whole, appeared to be a pious man. There are, however, several interesting contradictions in his own life. One of the most damaging was his relationship with his enemies.

  • Ka`b bin al-Ashraf
  • Sallam Ibn Abu'l-Huqayq (Abu Rafe) (Abu Rafi)
  • Al-Nadr bin al-Harith
  • `Uqba bin Abi Mu`ayt
  • `Abdullah bin Ubai bin Salul al-`Aufi
  • Umaiya bin Khalaf Abi Safwan
  • `Amr b. Jihash
  • An anonymous man
  • Ibn Sunayna, Sirat p. 369 + note 580
  • Abd Allah Ibn Sa`d Ibn Abi Sarh
  • Abu `Afak
  • `Asma' Bint Marwan
  • The Meccan Ten:
    • Ikrimah Ibn Abi Jahl
      Habbar Ibn al-Aswad
      Miqyas Ibn Sababah al-Laythi
      Abd Allah Ibn Sa`d Ibn Abi Sarh (more detail in the above article)
      Al-Huwayrith Ibn Nuqaydh
      Abd Abbah Ibn Hilal Ibn Khatal al-Adrami
      Hind Bint Utbah
      Sarah the mawlat of `Amr Ibn Hashim
      Fartana
      Qaribah
  • Al-Yusayr b. Rizam and Khalid b. Sufyan b. Nubayh, Sirat 665-6
  • the tribe of Banu Qurayza

Also, excessive cruelty in the cases of

  • Kinana b. al-Rabi` and
  • the people from Urayna.

Respon:

1. Pembunuhan K'ab bin al-Ashraf, respon: klik sini

2. Pembunuhan Al-Nadr bin al-Harith, respon: klik sini

3. Pembunuhan Uqba bin Abi Mu`ayt, respon: klik sini

4. Pembunuhan Umaiya bin Khalaf Abi Safwan, respon: klik sini

5. Pembunuhan Amr b. Jihash, respon: klik sini
Komentar saya:
Seorang Nabi tentu saja dianugrahi atau setidaknya telah diberi wangsit oleh Allah SWT agar melakukan sesuatu tindakan. Karena itu anggapan bahwa nabi SAW telah membunuh Amr b. Jihash berdasar dugaan adalah argumen yang tidak mempunyai dasar. Hal ini seperti disebut dalam ayat berikut:

  • (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:26-27)

  • Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan". (QS. 46:9)

6. Pembunuhan No Name,

- Sahih Bukhari Volume 4, Book 52, Number 286:
Narrated Salama bin Al-Akwa:
"An infidel spy came to the Prophet while he was on a journey. The spy sat with the companions of the Prophet and started talking and then went away. The Prophet said (to his companions), 'Chase and kill him.' So, I killed him." The Prophet then gave him the belongings of the killed spy (in addition to his share of the war booty).

Respon: Sudah cukup jelas bahwa orang tersebut adalah seorang mata-mata dari orang kafir. Karena kegiatannya tersebut dapat membahayakan posisi kaum muslimin, maka dalam konteks perang, mata-mata tersebut layak dibunuh. Jika dibandingkan dengan Bibel, nabi Daud sendiri membunuh orang yang hanya menyampaikan kabar bahwa sahabat nabi Daud (Saul) telah meninggal:

  • 2 samuel 4:9-10

    4:10
    Ketika ada orang yang membawa kabar kepadaku demikian: Saul sudah mati! dan memandang dirinya sebagai orang yang menyampaikan kabar baik, maka aku menangkap dan membunuh dia di Ziklag, dan dengan demikian aku memberikan kepadanya upah kabarnya;


7. Pembunuhan Ibn Sunayna, respon: klik sini

8. Pembunuhan Abd Allah Ibn Sa`d Ibn Abi Sarh, respon: klik sini dan klik sini

- Sahih Muslim Book 38, Number 4345:
Narrated Abdullah ibn Abbas:
Abdullah ibn AbuSarh used to write (the revelation) for the Apostle of Allah (peace_be_upon_him). Satan made him slip, and he joined the infidels. The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) commanded to kill him on the day of Conquest (of Mecca). Uthman ibn Affan sought protection for him. The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) gave him protection.


9. Pembunuhan Abu `Afak, respon: klik sini

10. Pembunuhan Asma' Bint Marwan, respon: klik sini

11. Pembunuhan The Meccan Ten, respon: klik sini

12. Pembunuhan the tribe of Banu Qurayza, respon: klik sini

13. Pembunuhan Kinana b. al-Rabi, respon: klik sini

14. Pembunuhan Bani Urayna, respon: klik sini dan klik sini
Komentar Osama:

The tribe of Uraina or Bani Uraina (in Arabic) were one of the worst Pagan tribes that the Muslims had to face. Their style in fighting was to attack the Muslims during the night and kill as much men as possible. They also used all of the dirty tricks they could to (1) defeat the Muslims; (2) sneaking up on the Muslims; and (3) cause enmity between the Muslims and other Pagan tribes.

In all of the battles that Prophet Muhammad peace be upon him entered, he never killed any captive, nor did he torture any captive. Only the tribe of Uraina did it.

The men from Bani Uraina who came to the Muslims and pretended to embraced Islam played the same tricks that their tribe always played. They pretended to be Muslims, and then when the opportunity presented itself, they would kill as much as possible and run away.

Notice how Prophet Muhammad peace be upon him trusted them at first, regardless of the bad history that this tribe had. He never generalized, and he gave those men a chance and the benefit of the doubt.

Prophet Muhammad peace be upon him didn't order the hard punishment for those hypocrites because they were hypocrites. Muslims during the weak times of Islam suffered from lots and lots of hypocrites. The People of the Book (Jews and Christians) were among the worst hypocrites; "A section of the People of the Book (Jews and Christians) say: Believe in the morning what is revealed to the believers (Muslims), but reject it at the end of the day; perchance they may (themselves) turn back (from Islam). (The Noble Quran, 3:72)"

Prophet Muhammad never ordered for any of the Jewish or Christian hypocrite's hands or legs to be cut off. He only did it to Bani Uraina, because they highly deserved it!.

So the point is, Islam DOES NOT order the cutting of the right hand and left leg, or the left hand and right leg of any hypocrite who UNTRUTHFULLY embraces Islam and then leaves it later on, because many during the weak times of Islam embraced Islam and left it, and no such torture happened to them.

  • Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, (QS. 5:33)

Bunyi ayat diatas sebenarnya tidak mengagetkan, sebab dalam masa-masa sebelum Islam, para nabi dan raja juga melakukan hukuman-hukuman yang berat terhadap musuh-musuhnya, misal:

  • 1 samuel 17:51-54

    Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu.

    17:53 Kemudian pulanglah orang Israel dari pemburuan hebat atas orang Filistin, lalu menjarah perkemahan mereka.
    17:54 Dan Daud mengambil kepala orang Filistin yang dipancungnya itu
    dan membawanya ke Yerusalem,

  • 2 samuel 4:12

    Sesudah itu Daud memberi perintah kepada anak buahnya untuk membunuh mereka; tangan dan kaki mereka dipotong, kemudian mayat mereka digantung di tepi telaga di Hebron. Tetapi kepala Isyboset diambil dan dikuburkan di dalam kubur Abner di Hebron.


Namun perkembangan selanjutnya, Islam telah melarang memutilasi lawannya dalam peperangan:

  • Sahih Muslim Book 019, Number 4294:
    It has been reported from Sulaiman b. Buraid through his father that when the Messenger of Allah (may peace be upon him) appointed anyone as leader of an army or detachment he would especially exhort him to fear Allah and to be good to the Muslims who were with him. He would say: Fight in the name of Allah and in the way of Allah. Fight against those who disbelieve in Allah. Make a holy war, do not embezzle the spoils; do not break your pledge; and do not mutilate (the dead) bodies; do not kill the children. When you meet your enemies who are polytheists, invite them to three courses of action. If they respond to any one of these, you also accept it and withold yourself from doing them any harm. Invite them to (accept) Islam; if they respond to you, accept it from them and desist from fighting against them. Then invite them to migrate from their lands to the land of Muhairs and inform them that, if they do so, they shall have all the privileges and obligations of the Muhajirs. If they refuse to migrate, tell them that they will have the status of Bedouin Muilims and will be subjected to the Commands of Allah like other Muslims, but they will not get any share from the spoils of war or Fai' except when they actually fight with the Muslims (against the disbelievers). If they refuse to accept Islam, demand from them the Jizya. If they agree to pay, accept it from them and hold off your hands. If they refuse to pay the tax, seek Allah's help and fight them. When you lay siege to a fort and the besieged appeal to you for protection in the name of Allah and His Prophet, do not accord to them the guarantee of Allah and His Prophet, but accord to them your own guarantee and the guarantee of your companions for it is a lesser sin that the security given by you or your companions be disregarded than that the security granted in the name of Allah and His Prophet be violated When you besiege a fort and the besieged want you to let them out in accordance with Allah's Command, do not let them come out in accordance with His Command, but do so at your (own) command, for you do not know whether or not you will be able to carry out Allah's behest with regard to them.

  • Malik Muwatta Book 21, Number 21.3.11:
    Yahya related to me from Malik that he had heard that Umar ibn Abd al-Aziz wrote to one of his governors, "It has been passed down to us that when the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, sent out a raiding party, he would say to them, 'Make your raids in the name of Allah in the way of Allah. Fight whoever denies Allah. Do not steal from the booty, and do not act treacherously.
    Do not mutilate and do not kill children.' Say the same to your armies and raiding parties, Allah willing. Peace be upon you."


15. Nabi Muhammad SAW "mengampuni" (tanpa memberi hukuman) seorang laki-laki buta yang telah membunuh gundiknya karena membela rasul dan seorang laki-laki yang membunuh seorang Yahudi juga tidak dihukum:

- Sahih Muslim Book 38, Number 4348:
Narrated Abdullah Ibn Abbas:
A blind man had a slave-mother who used to abuse the Prophet (peace_be_upon_him) and disparage him. He forbade her but she did not stop. He rebuked her but she did not give up her habit. One night she began to slander the Prophet (peace_be_upon_him) and abuse him. So he took a dagger, placed it on her belly, pressed it, and killed her. A child who came between her legs was smeared with the blood that was there. When the morning came, the Prophet (peace_be_upon_him) was informed about it.
He assembled the people and said: I adjure by Allah the man who has done this action and I adjure him by my right to him that he should stand up. Jumping over the necks of the people and trembling the man stood up.
He sat before the Prophet (peace_be_upon_him) and said: Apostle of Allah! I am her master; she used to abuse you and disparage you. I forbade her, but she did not stop, and I rebuked her, but she did not abandon her habit. I have two sons like pearls from her, and she was my companion. Last night she began to abuse and disparage you. So I took a dagger, put it on her belly and pressed it till I killed her. Thereupon the Prophet (peace_be_upon_him) said: Oh be witness, no retaliation is payable for her blood.

Respon Kasus 1:

1. Wanita tersebut setiap hari kerjanya memaki-maki orang lain. Hal ini bukanlah kelihatan sebagai hal yang wajar jika ini dilakukan.

2. Nabi SAW tidak mengetahui bahwa laki-laki buta tersebut telah membunuh gundiknya. Jika beliau tahu bisa saja wanita tsb akan disembuhkan dari penyakit "kronis"nya tsb. Keterlanjuran membunuh oleh laki-laki tadi bukanlah peristiwa yg diketahui dan dikehendaki oleh rasul.

3. Majikan buta tsb kelihatan seperti seorang yg tidak terpelajar. Jika rasul menghukum laki-laki tsb karena membela rasul, maka bisa jadi dikhawatirkan akan timbul fitnah baik bagi kaum muslimin maupun keimanan orang buta itu sendiri.

4. Dari sisi hukum Islam, status majikan adalah lebih tinggi dari budak/gundik tersebut, karena Qishas harus terjadi dgn status yg setara:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. (QS. 2:178 )


- Sahih Muslim Book 38, Number 4349:
Narrated Ali ibn AbuTalib:
A Jewess used to abuse the Prophet (peace_be_upon_him) and disparage him. A man strangled her till she died. The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) declared that no recompense was payable for her blood.

Respon Kasus 2:

Konteks peristiwa ini hanya menjelaskan bahwa hukum Qishas atau diyat tidak berlaku atau tidak terjadi jika yang terbunuh adalah seorang non muslim. Namun harus dipahami bahwa secara konteks, situasi saat itu adalah tidaklah mungkin bagi nabi SAW untuk mencegah atau mengontrol setiap orang agar tidak membunuh seseorang yang lain, karena nabi SAW sendiri tidak selalu berada di tempat kejadian perkara. Karena dalam narasi hadis diatas tidak dijelaskan bahwa Yahudi yang terbunuh tidak meninggalkan keluarga, maka dapat diasumsikan bahwa Yahudi tersebut tidaklah meninggalkan keluarga.

Meski begitu, jika yang terbunuh (non muslim) meninggalkan keluarga, maka keluarga ahli warisnya berhak mendapat diyat (denda/ganti rugi) sebesar 1/3 dari diyat orang Islam jika yang terbunuh adalah orang Nasrani/Yahudi, dan 3/10 dari diyat orang Islam jika yang terbunuh adalah orang Majusi.

  • Sahih Bukhari Volume 9, Book 83, Number 36:
    Narrated Sahl bin Abi Hathma:
    (a man from the Ansar) that a number of people from his tribe went to Khaibar and dispersed, and then they found one of them murdered. They said to the people with whom the corpse had been found, "You have killed our companion!" Those people said, "Neither have we killed him, nor do we know his killer." The bereaved group went to the Prophet and said, "O Allah's Apostle! We went to Khaibar and found one of us murdered." The Prophet said, "Let the older among you come forward and speak." Then the Prophet said, to them, "Bring your proof against the killer." They said "We have no proof." The Prophet said, "Then they (the defendants) will take an oath." They said, "
    We do not accept the oaths of the Jews." Allah's Apostle did not like that the Blood-money of the killed one be lost without compensation, so he paid one-hundred camels out of the camels of Zakat (to the relatives of the deceased) as Diya (Blood-money).


Sumber tambahan:

Refuting Emotionalism: MUHAMMAD, ISLAM, AND TERRORISM

16. Sirat Rasul Allah, Al-Tabaqat, dan The History of Tabari,

Quote:
The Sirat Rasul Allah was written by Ibn Ishaq in 750 A.D. It was edited and abridged by Ibn Hisham in 830 and translated by Alfred Guillaume under the title, The Life of Muhammad in 1955 by Oxford Press. Referred to as the Sira, or Biography, Ishaq’s Hadith Collection is comprised of oral reports from Muhammad and his companions. It provides the only written account of Muhammad’s life and the formation of Islam composed within two centuries of the prophet’s death. There is no earlier or more accurate source.

The History of al-Tabari, called the Ta’rikh, was written by Abu Muhammad bin al-Tabari between 870 and 920 A.D. His monumental work was translated and published in 1987 through 1997 by the State University of New York Press. Tabari’s History is comprised entirely of Islamic Hadith. It is arranged chronologically. Tabari is Islam’s oldest uncensored source.

[Ishaq:550] "Muhammad ordered that certain men should be assassinated even if they were found behind the curtains of the Ka'aba. Among them was Abdallah bin Sa'd [the Qur'an's one and only scribe]. The reason that Allah's Messenger ordered that he should be slain was because he had become a Muslim and used to write down Qur'an Revelation. Then he apostatized [rejected Islam]."

[Tabari VIII:40] "The Messenger commanded that furrows should be dug in the ground for the Qurayza. Then he sat down. Ali and Zubayr began cutting off their heads in his presence."

[Tabari VIII:38] "The Messenger of Allah commanded that all of the Jewish men and boys who had reached puberty should be beheaded. Then the Prophet divided the wealth, wives, and children of the Banu Qurayza Jews among the Muslims."

[Tabari vol.vii, pp.97-98] Rasul Allah berkata, “Yahudi manapun yang jatuh ke tanganmu, bunuh dia.” Jadi ketika Muhayyish b. Masud bertemu Ibn Sunaynah, yakni seorang pedagang Yahudi yang kenal dekat dengan mereka dan biasa berdagang dengan mereka, Muhayyish pun lalu membunuh Ibn Sunaynah. Kakak laki Muhayyish yang bernama Huwayyish b. Masud belum memeluk Islam saat itu dan ketika Huwayyish tahu akan pembunuhan yang dilakukan adiknya Muhayyish, dia lalu mulai memukuli Muhayyish sambil berkata, “O musuh Tuhan, kau membunuh dia? Demi Tuhan, perutmu itu jadi gemuk karena kekayaan dari dia (Ibn Sunaynah).” Muhayyish berkata, “Kukatakan padanya, ‘Demi Tuhan, jika dia yang memerintahku untuk membunuhnya (Ibn Sunaynah) lalu memerintahku untuk membunuhmu, maka aku akan memancung kepalamu.’” Dan demi Tuhan, itu adalah saat awal Huwayyish menerima Islam. Dia (Huwayyish) berkata, “Jika Muhammad memerintahmu untuk membunuhku, apakah kau akan membunuhku?” dan aku jawab, “Ya, demi Tuhan, jika dia memerintahku untuk membunuhmu, aku akan memancung kepalamu.” “Demi Tuhan,” kata dia (Huwayyish), “sungguh luar biasa imanmu itu.” Lalu Huwayyisah memeluk Islam.

[Ibn Sa’d, vol. ii p.201] Muhammad mengirim al-Dahak ibn Sufyan ke al-Zuji untuk mengajak orang2 B. Kilab memeluk Islam. Ketika mereka menolak, tentara2 Muslim menyerang mereka dan memaksa mereka berlarian pergi ketakutan. Diantara para Muslim terdapat seorang Jihadis tulen bernama al-Asyad . Dia bertemu dengan ayahnya yang bernama Salamah yang sedang mengendarai kuda. Al-Asyad meminta ayahnya masuk Islam. Tapi ayahnya malah menegurnya karena memeluk Islam. Al-Asyad jadi marah dan dia memotong kuda ayahnya. Ketika ayahnya terjatuh, dia lalu menangkapnya sampai para Muslim yang lain tiba di tempat itu dan membunuhnya .

[Tabari, vol. viii, p.55] Ketika terjadi pertikaian antara orang2 Muslim Ansar (dipimpin oleh Abd Allah ibn Ubayy) dan Muslim Muhajidin, anak laki Abd Allah ibn Ubayy yakni Abd Allah b. Abd Allah b. Ubayy datang menghadap Muhammad dan menawarkan diri untuk membunuh ayahnya sendiri. Dia berkata, “Rasul Allah, aku diberitahu bahwa kau ingin membunuh Abd Allah b. Ubayy karena apa yang dikabarkan padamu tentang dirinya. Jika kau memang ingin melakukan itu, perintahkan aku untuk melakukannya dan aku akan membawa kepalanya padamu. Demi Tuhan, al-Khazraj tahu bahwa tidak ada seorang pun diantara mereka yang lebih berbakti kepadanya ayahnya daripada aku. Aku khawatir engkau akan memerintah orang lain untuk membunuh ayahku dan dia akan melakukannya; dan aku akan tidak tahan melihat pembunuh Abd Allah b. Ubayy berjalan diantara orang2. (Karena itu) Aku bersedia membunuhnya, membunuh seorang Muslim untuk membalas dendam seorang kafir, dan karenanya (aku) akan masuk Api [neraka].”

[Ibn Sa'd page 249] The apostle of Allah and his companions ate from it. It (goat) said: "I am poisoned." He [Muhammad] said to his Companions, "Hold you hands! because it has informed me that it is poisoned!" They withdrew their hands, but Bishr Ibn al-Bara expired. The apostle of Allah sent for her (Jewess) and asked her, "What induced you to do what you have done?" She replied, "I wanted to know if you are a prophet, in that case it will not harm you and if you are a king, I shall relieve the people of you. He gave orders and she was put to death.

[Ibn Hisham Al Sira Al-Nabawia, Bahagian 4, ms.180] "Tatkala Nabi Muhammad telah wafat, ramai 'penganut-penganut' Islam di kota Mekkah dengan cepatnya ingin meninggalkan Islam. Maka telah bangunlah Suhayl bin 'Amru, dia berkata: ‘Siapa saja yang meninggalkan Islam, kami akan pancung kepalanya!' Ramai orang pun membatalkan niatnya karena takut dibunuh."

Respon:

Sumber-sumber hadis dari Al Tabari, Ibnu Ishaq, Ibnu S'ad dan beberapa lainnya tidaklah termasuk hadis-hadis otentik karena hadis-hadis ini juga tidak mempunyai sanad dan atau isnad. Jadi tidak bisa dipakai sebagai argumentasi. Apalagi Tabari juga menyebut dalam pembukaan kitab Tarikhnya bahwa beliau tidak menyaring berita-berita yang ada. Komentar selengkapnya dapat dilihat di:

http://www.islamic-awareness.org/Polemics/sverses.html (Tabari's Disclaimer)

Penutup:

Banyak non muslim yang menyatakan bahwa orang-orang muslim dijaman nabi membunuh atau nabi SAW sendiri membunuh karena untuk kepentingan atau keegoisan nabi SAW. Hal ini tidak benar, karena nabi SAW tidaklah membunuh atau memerintahkan seperti itu atas kepentingan sendiri, tetapi hanya semata-mata perintah dari Allah SWT. Hal ini ditunjukkan dalam hadis berikut:

  • Sahih Bukhari Volume 4, Book 56, Number 760:
    Narrated 'Aisha:
    Whenever Allah's Apostle was given the choice of one of two matters, he would choose the easier of the two, as long as it was not sinful to do so, but if it was sinful to do so, he would not approach it.
    Allah's Apostle never took revenge (over anybody) for his own sake but (he did) only when Allah's Legal Bindings were outraged in which case he would take revenge for Allah's Sake.

  • Sahih Bukhari Volume 4, Book 56, Number 840:
    Narrated Anas bin Malik:
    Allah's Apostle reached Khaibar in the early morning and the people of Khaibar came out with their spades, and when they saw the Prophet they said, "Muhammad and his army!" and returned hurriedly to take refuge in the fort. The Prophet raised his hands and said, "Allah is Greater! Khaibar is ruined ! If we approach a nation, then miserable is the morning of those who are warned."


Nabi SAW juga sudah mewanti-wanti agar umat sesudahnya tidak mudah menumpahkan darah di antara sesamanya atau sesama muslim:

  • Sahih Bukhari Volume 9, Book 83, Number 8:
    Narrated Abu Zur'a bin 'Amr bin Jarir:
    The Prophet said during Hajjat-al-Wada', "
    Let the people be quiet and listen to me. After me, do not become disbelievers, by striking (cutting) the necks of one another."

  • Sahih Bukhari Volume 9, Book 83, Number 14:
    Narrated Al-Ahnaf bin Qais:
    I went to help that man (i.e., 'Ali), and on the way I met Abu Bakra who asked me, "Where are you going?" I replied, "I am going to help that man." He said, "
    Go back, for I heard Allah's Apostle saying, 'If two Muslims meet each other with their swords then (both) the killer and the killed one are in the (Hell) Fire.' I said, 'O Allah's Apostle! It is alright for the killer, but what about the killed one?' He said, 'The killed one was eager to kill his opponent."

  • Sunan Abu Dawud Book 38, Number 4350:
    Narrated AbuBakr:
    AbuBarzah said: I was with AbuBakr. He became angry at a man and uttered hot words. I said: Do you permit me, Caliph of the Apostle of Allah (peace_be_upon_him), that I cut off his neck? These words of mine removed his anger; he stood and went in. He then sent for me and said: What did you say just now? I said: (I had said:) Permit me that I cut off his neck. He said: Would you do it if I ordered you? I said: Yes. He said: No,
    I swear by Allah, this is not allowed for any man after Muhammad (peace_be_upon_him).

  • Sashih Bukhari Volume 3, Book 49, Number 856:
    Narrated Anas:
    It was said to the Prophet "Would that you see Abdullah bin Ubai." So, the Prophet went to him, riding a donkey, and the Muslims accompanied him, walking on salty barren land. When the Prophet reached 'Abdullah bin Ubai, the latter said, "Keep away from me! By Allah, the bad smell of your donkey has harmed me." On that an Ansari man said (to 'Abdullah), "By Allah! The smell of the donkey of Allah's Apostle is better than your smell." On that a man from 'Abdullah's tribe got angry for 'Abdullah's sake, and the two men abused each other which caused the friends of the two men to get angry, and the two groups started fighting with sticks, shoes and hands. We were informed that the following Divine Verse was revealed (in this concern):--
    "And if two groups of Believers fall to fighting then, make peace between them." (49.9)


Karena itu pendapat yang dikemukakan oleh non muslim bahwa orang-orang Islam tega membunuh sesama saudara muslim gara-gara ajaran Islam yang diajarkan oleh nabi SAW adalah tidak berdasar karena nabi SAW sendiri sudah pernah memperingatkan agar tidak mudah menggunakan cara-cara kekerasan.

sumber :faithfreedomwatch.r8.org