SEJARAH PENULISAN AL QURAN

0

Oleh : Faiz


"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat),yang mulia lagi berbakti" (QS. 80:11-16)

"Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh."
(QS. 85:21-22)

"Sesungguhnya Al Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam."
(QS. 56:77-80)


Sesungguhnya Allahlah yang menurunkan Al-Quran dan Allah pula yang akan menjaganya. Berkali-kali Allah menegaskan kesucian Al quran dan jaminan akan kemurnian dan keotentikannya, jaminan keaslian Alquran bukanlah sesuatu yang Allah berikan adakadabra, yang turun begitu saja tanpa dipahami oleh akal manusia. Islam tidak pernah mengatakan bahwa seseorang bisa terinspirasi oleh Tuhan dan menuliskan kembali isi kitab yang hilang atau diubah, sebagaimana dipahami oleh orang orang kristen.

Sejarah penulisan wahyu dan penjagaannya amat mudah dipahami oleh akal, Allah tidak pernah memberikan otoritas kepada satu orangpun didunia ini kecuali Muhammad SAW untuk menulis atau mengajarkan Al-Quran, sehingga tidak ada satupun orang didalam Islam yang bisa mengubah seenaknya isi di dalam Al-Quran dengan alasan mendapat petunjuk, ilham atau apapun juga, kecuali Allah telah memperlihatkan kepada kita semua bahwa Allah menjaga Alquran dengan lintasan sejarah yang gamblang dengan bukti bukti sejarah yang tak terbantahkan serta dengan ilmu yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.


"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (15:9)


Penulisan Al Quran jaman Kenabian

Sejarah mencatat setidaknya ada empat orang sahabat yang diberi otoritas langsung oleh Rasulullah SAW untuk menuliskan wahyu yang diturunkan dengan di diektekan secara langsung oleh Rasulullah SAW.

"Dari Qatadah ia berkata, saya bertanya kepada Anas Ibnu Malik : "Siapa yang mengumpulkan Alquran pada zaman nabi ?, dia berkata : " empat orang, mereka semua dari kaum anshar : Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zayd. (Bukhari, Kitab Fada�ilu�l-Qur�an)

Beberapa orang mengunjungi Zaid bin Tsabit, dan memintanya untuk menceritakan beberapa cerita mengenai Rasulullah. Dia menjawab : " Saya adalah tetangga Rasulullah Saw, dan ketika wahyu datang kepadanya dia memanggilku dan aku datang kepadanya dan aku menuliskannya (wahyu tersebut) untuknya .(Tirmidhi, Mishkat al-Masabih, No. 5823)


Disamping itu banyak sahabat yang juga , menulis sendiri apa yang dia dapat dari Rasulullah SAW.

Rasulullah Saw ketika di madinah mempunyai 48 penulis yang bertugas menulis untuknya (M.M.Azami, Kuttab al-Nabi,Beirut, 1974)

"Dan berkata kepada kami Yahya bin yahya Attamiimy ia mengatakan saya belajar dari malik dari Zaid bin Aslam dar al-Qa 'qaa' bin Hakim dari Abi Yunus pembantu Aisyah dia mengatakan : Aisyah menyuruhku menulis untuknya mushaf dan ia mengatakan jika sudah sampai pada ayat ini maka panggilah saya "Jagalah oleh kalian Sholat-sholat kalian dan shalat pertengahan", maka ketika sudah sampai pada ayat ini aku memanggilnya (Aisyah) dan ia mendiktekannya kepadaku "Jagalah oleh kalian shalat shalat kalian dan shalat pertengahan serta shalat ashar dan berdirilah dengan khusyu", Aisyah mengatakan saya mendengarnya dari Rasulullah SAW"(HR. Muslim)

Penulisan Quran juga tidak berlangsung lama berselang setelah wahyu turun tapi segera Rasul menyuruh untuk menuliskannya, ini untuk menjaga orisinalitas Quran itu sendiri.

"Dari Ubaidullah kepada kami dari musa dari israil dari abi ishaq dari al barraa' ia mengatakan Ketika turun ayat "Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri dari para mukmin dengan mereka yang berjihad dijalan Allah", nabi SAW berkata panggilkan untukku Zaid dengan membawa batu tulis dan tinta serta tulang, atau tulang dan tinta kemudian berkata : Tulislah "Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri dari para mukmin dengan mereka yang berjihad dijalan Allah"
(HR. Bukhari)

Tidak hanya itu Rasulullah juga memerintahkan para sahabat untuk tidak menuliskan sesuatupun yang berasal dari mulut beliau kecuali Alquran.

Berkata kepada kami dari haddaab bin Khaalid al Azdy, berkata kepada kami hammaam dari zaid bin Aslam dar Athaa bin Yasar dar Abi Sa'id Al khudry, bahwa Rasulullah Saw bersabda : "Janganlah kalian menulis apa apa dariku, barangsiapa yang menulis dariku selain al-Quran maka hendaklah ia menghapusnya, dan berbicaralah tentang diriku dan itu diperbolehkan, dan barangsiapa dengan sengaja berbohong atas diriku maka bersiap siaplah untuk tinggal diatas neraka" (HR. Muslim)

Hal ini menjadi wajar dan amat tepat sebab tidak ada yang bisa menjamin bahwa Hadits dan Al-Quran tidak bercampur aduk satu sama lainnya sehingga untuk mencegah hal ini maka Rasulullah dengan petunjuk Allah melarang penulisan apapun dari Rasul kecuali Al-Quran.


Para penghafal Al-Quran

Selain penulisan Alquran, sejarah keotentikan Al quran juga tidak bisa lepas dari para penghafal Quran, beberapa riwayat dengan jelas dan gamblang menyatakan bahwa banyak sahabat yang menghapal al Quran dan membacanya di hadapan Rasulullah Saw:

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas'ud r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda kepadaku: Bacakan al-Quran kepadaku. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, adakah aku harus membacakan al-Quran kepada kamu, sedangkan al-Quran itu diturunkan kepada kamu! Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain. Lantas aku membaca surah An-Nisa' sehinggalah aku sampai pada ayat: Yang bermaksud: Dan kami datangkan kamu (wahai Muhammad) untuk menjadi saksi terhadap mereka (umatmu). Kemudian aku mengangkatkan kepalaku atau secara tiba-tiba seseorang berada di sampingku, ketika itu aku mengangkatkan kepala dan aku melihat baginda mengalirkan air matanya (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad, Tirmidzi)

Diriwayatkan daripada Abdullah Ibnu Mas'ud r.a katanya: Ketika aku berada di Himis beberapa orang penduduk berkata kepadaku: Bacakan al-Quran kepada kami. Lalu aku membaca Surah Yusuf di hadapan mereka. Abdullah berkata lagi: Lalu salah seorang dari kaum itu berkata: Demi Allah! Bukan demikian ianya diturunkan. Aku mengatakan kepada mereka: Celaka kamu! Demi Allah, Sesungguhnya aku pernah membaca sebegitu di hadapan Rasulullah s.a.w. Baginda berkata kepadaku: Kamu bagus!
(HR. Bukhari-Muslim)

Allah bahkan melalui rasulnya memberikan reward yang amat besar kepada para penghapal Quran sehingga ini menjadi semacam motivator bagi para sahabat untuk berlomba lomba menghapal Al quran.

"Barangsiapa yang menghapal Al Quran, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya"
"Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga diantara manusia, para sahabat bertanya, "Siapakah mereka ya Rasulullah ? Rasul menjawab, "Para ahli Quran dan merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya."
Rasul juga membedakan perlakuan terhadap para penghapal Quran sehingga antara satu dengan yang lainnya derajatnye terletak kepada siapa yang paling baik hapalannya.
(HR. Hakim)

"Adalah nabi mengumpulkan diantara dua orang syuhada uhud kemudian beliau bersabda, " Manakah diantara kedua orang ini yang lebih banyak hapal Al Quran, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya diliang lahat"
(HR. Ahmad)

"Dari Abu hurairah ia berkata, "telah mengutus Rasulullah Saw, sebuah delegasi yang banyak jumlahnya,kemdian Rasul mengetes hapalan mereka, kemudian satu persatu disuruh membaca apa yang sudah dihapal, maka sampailah beliau kepada shahabat yang paling muda usianya, beliau nertanya, "Surat apa yang kau hapal? ia menjawab, "Aku hapal surat ini .... dan surat Al baqarah. "benarkah kau hapal surat Al Baqarah?� , tanya nabi lagi. Shahabat itu lalu, menjawab "Benar". Nabi bersabda, "Berangkatlah kamu dan kamulah pimpin delegasi."
(HR. Bukhari)

Mungkin yang kemudian menjadi pertanyaan bagi kita apakah tidak mungkin seorang penghapal Quran melupakan hapalannya?, sehingga itu mungkin saja berpengaruh kepada proses kodifikasi Al Quran pada zaman Shahabat?.(HR Atturmudzi dan An Nasa'i)

Jawaban dari semua itu adalah Rasulullah sudah berulangkali menegaskan bahwa para penghapal Quran telah diberikan suatu peringatan tentang hapalan mereka yang bisa kemungkinan besar akan menghilang.

"Selalulah kalian bersana Al Quran, Demi jiwa muhammad yang berada ditangan-Nya, sesungguhnya Al Quran itu lebih cepat hilangnya daripada tali onta dalam ikatannya." (HR. Mutafaqun 'alaihi)

Oleh karenanya Rasul selalu mengingatkan bahwa Al Quran tidak saja untuk dihapal, akan tetapi untuk selalu dibaca berulang ulang kali sehingga ia tidak melupakan apa yang dia hapal.


"Apabila penghapal Al Quran itu membacanya pada waktu shalat malam dan siang ia akan selalu mengingatnya, dan jika tidak melakukannya ia akan melupakannya." (HR muslim)

"Alangkah jeleknya orang yang mengatakan :Saya lupa ayat ini dan ayat itu.." tetapi hendaknya ia mengatakan: "Saya telah dilupakan." Dan ingatlah kembali hafal Quran itu (dengan mengulangnya), karena itu ia akan mudah lepas dari dada orang yang menghapalnya daripada hewan yang digembala." (HR. Bukhari)

Dari Abu umamah Ra. Ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw . "Bacalah olehmu Al Quran , sesungguhnya ia akan memberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya" (HR. Muslim)

Saking seringnya Rasulullah menyuruh seseorang untuk mengulang bacaannya para sahabat memberi catatan khusus tentang ini diantaranya Ibnu Mas'ud yang berkata:

"Seyogyanya para penghapal Quran dapat diketahui pada waktu malamnya, apabila orang lain sedang tertidur." (Ia berjaga untuk Shalat Tahajud dan membaca Al Quran)

Bahkan Rasul memberi peringatan yang keras bagi para penghapal yang melupakan hapalannya:

"Semua pahala umatku diperlihatkan kepadaku, sampai pahala orang yang membuang kotoran(debu) didalam masjid, dan semua dosa umatku juga akan diperlihatkan kepadaku. Maka aku tidak melihat dosa yang paling besar daripada dosa seseorang yang hapal suatu surat atau ayat Al Quran lalu dia melupakannya" (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Inilah yang kemudian menjadikan Al Quran hidup ditengah kaum muslimin ia hidup bukan hanya didalam kitab kitab yang kemudian hanya dibaca ketika diperlukan akan tetapi ia hidup didalam dada kaum muslimin sehingga tidak sulit bagi kita untuk menemukan para penghapal Quran sejak zaman kenabian hingga sekarang sebagai bukti nyata bahwa Al Quran tidak akan hilang dari peradaban besar kaum muslimin.

Oleh karena banyaknya para penghapal quran maka Ibnu Taimiyah berkata:

"Umat kita tidaklah sama dengan ahli kitab yang tidak mau menghapal kitab suci mereka. Bahkan jikalau seluruh mushaf ditiadakan maka Al Quran tetap tersimpan didalam hati kaum muslimin."

Bahkan tradisi menghapal Quran mempunyai riwayat dan asal usul yang jelas sehingga seorang yang sudah menghapal Quran biasanya mempunyai seorang guru yang membimbingnya dan mengajarinya dalam menghapal Quran, bahkan sang guru biasanya mempunyai sanad yang kemudian bersambung sampai Rasulullah Saw. Sehingga hapalannya tidak menyimpang dari apa yang diajarkan Rasulullah. Sebagai contoh seorang hafidzh Quran dapat dilacak keaslian hapalannya dari sanad yang ia terima, salah satu contohnya adalah sanad yang dipunyai Pimpinan Pesantren Al Munawwariyyah Sudimo-Bululawang-Malang.

H. Muhammad Maftuh Sa'id Malang, Ayahnya H. Muhammad Sa'id Mu'in Gresik, Gurunya Kyai Munawwar Sadayu Gresik, Abdul karim bin Umar al Bari Al Dimyati, Ismail, Ahmad Rasyidi, Mushthafa Al Azimiry, Hijazy, Ali bin Sulaiman Al Mansyuri, Shultom Al Mahzy, Saifudin bin Atho'llah Al Fudhoily, Syahadzah Al Yamany, Nashirudin Al Thoblawy, Zakaria Al Anshory, Ahmad Ashuyuti, muhammad Al Jazry, Imam Abi Abdillah Muhammad bin Khaliq al nashri as Syafii, Abi al Hasan bin syuja bin Salim bin Ali bin Musa Al Abbas Al Mashry, Abi Al Qasim As Syathiby, Abi Al Hasan bin Hudzail, Imam bin Daud bin sulaiman bin Naijah, Al Hafidz Abi Umar Al Dany, Abi Al Hasan Al Ashnany, Ubaidilah As Shibagh, Imam Hafsh, Imam Ashim, Abdurahman As Sullamy, Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Tsabit, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka'ab, Rasulullah Saw
(Islam Dihujat, Irene Handono, Bima Rodheta, Jakarta)

Bahkan sampai sekarang tradisi menghapal Quran masih terlihat dengan jelas pada pesantran-pesantren, majelis penghapalan Quran seperti terlihat di masjid Al Hikmah Bangka mampang Jakarta Selatan, bahkan sejumlah perguruan tinggi Islam mempersyaratkan hapalan seluruh isi Quran untuk kelulusannya, contoh dalam hal ini adalah Institut Ilmu-ilmu Al Qur�an di daerah Ciputat, Tangerang.


PENULISAN QURAN DIZAMAN ABU BAKAR

Penulisan Al Quran sebenarnya sudah dilakukan pada zaman Rasulullah Saw, sedangkan Abu bakar hanya sekedar mengumpulkan shuhuf/catatan yang tercecer dan mengumpulkan para Hufadz yang kemudian di salin kedalam bentuk mushaf yang kemudian menjadi induk dari proses penulisan Quran setelahnya.

Berkata kepada kami dari Musa bin Isma'il dari Ibrahim bin Sa'ad, berkata kepada kami dari Ibnu Syihab dari 'Ubaid bin As-Sibaq bahwa Zaid bin Tsabit ra mengatakan : Telah datang kepadaku dari abu bakar shiddiq setelah peperangan di yamamah, kebetulan Umar bin Khattab bersamanya, Abu bakar mengatakan : Sungguh Umar telah datang kepadaku dan berkata : "Peperangan telah menyebabkan kematian beberapa penghapal Al Quran, dan saya sangat khawatir jika kematian meluas kebeberapa Qurra' di daerah daerah hingga menyebabkan hilangnya kebanyakan Al Quran, dan saya berpendapat agar engkau segera memerintahkan kodifikasi atas Al Quran". Saya mengatakan kepada Umar : "bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw ?, Umar berkata : Demi Allah ini adalah sesuatu yang sangat baik", maka Umar tetap memintaku hingga Allah melapangkan dadaku atas hal itu dan aku melihat , masalah itu sebagaimana yang umar lihat ". Zaid Berkata : Bahwa Abu bakar mengatakan : "Sesungguhnya engkau seorang yang masih muda lagi cerdas, bukannya kamu menuduhmu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah Saw, maka cermatilah Al Quran dan lakukanlah kodifikasi ". Maka demi Allah seandainya mereka memerintahkanku memindahkan salah satu dari beberapa gunung tidaklah lebih berat dari perintah kodifikasi Quran. Saya berkata bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw.?, Berkata Abu Bakar : "Demi Allah inilah yang terbaik". Abu Bakar tetap memintaku hingga Allah melapangkan dadaku untuk dapat memahami pendapat Abu Bakar dan Umar, maka segera kulakukan penelusuran dan pengumpulan Al Quran dari rumput dan pelepah pohon serta hafalan para Qurra', sampai saya temukan akhir dari surat At taubah pada Abu Khuzaimah Al Anshary yang tidak terdapat pada surat yang lainnya, Lembaran-lembaran tersebut berada ditangan Abu Bakar hingga beliau wafat, kemudian Umar dan kemudian ditangan Hafsah binti Umar bin Khattab.
(HR. Bukhari)

Jadi proses pengumpulan serta penelusuran Al Quran telah berlangsung di zaman Abu Bakar yang di awasi langsung oleh asisten pribadi Rasul dalam menulis wahyu Zaid bin Tsabit, proses penulisan tidak saja berlangsung dari satu sumber akan tetapi melalui pengecekan yang mengakibatkan keabsahan mushaf Al Quran tersebut tidak dapat diganggu gugat karena telah mencerminkan representasi dari berbagai macam sumber yang dapat dipertanggung jawabkan keakuratannya.

Dalam menjalankan tugasnya Zaid bin Tsabit mempunyai pedoman dalam menentukan keotentikan dalam menentukan suatu naskah artinya ada beberapa faktor yang harus dipenuhi apabila suatu teks bisa dimasukkan sebagai bagian dari Al Quran atau bukan. Penelitian keabsahan suatu teks harus memenuhi syarat-syarat yang Rasulullah ajarkan diantarannya adalah.


1. Materi tersebut harus benar benar tertulis dalam keadaan Rasulullah Saw hadir ketika penulisan Quran itu berlangsung. Tidak ada satupun materi yang ditulis setelah Rasulullah, dan ditulis sendiri oleh sahabat bisa diterima.

Hal ini dapat dimengerti sebab tidak tertutup kemungkinan adanya pencampuran antara Al Quran dan Hadits dalam ingatan para sahabat jika hanya mengandalkan hapalan. Oleh karenanya keberadaan teks dalam bentuk tertulis sangat dibutuhkan.

Berkata kepada kami dari haddaab bin Khaalid al Azdy, berkata kepada kami hammaam dari zaid bin Aslam dar Athaa bin Yasar dar Abi Sa'id Al khudry, bahwa Rasulullah Saw bersabda : "janganlah kalian menulis apa apa dariku, barangsiapa yang menulis dariku selain al-Quran maka hendaklah ia menghapusnya, dan berbicaralah tentang diriku dan itu diperbolehkan, dan barangsiapa dengan sengaja berbohong atas diriku maka bersiap siaplah untuk tinggal diatas neraka" (HR. Muslim)

Zayd ibn Ts�bit berkata: �Kami mencatat Alquran dihadapan Rasul saw. diatas lembaran kulit atau kertas" (HR. Alhakim)

Rasulullah telah memberikan petunjuk bahwa Al Quran adalah satu satunya materi yang diperintahkan untuk ditulis. Sehingga keberadaan teks Quran dalam bentuk materi tulisan adalah suatu hal yang niscaya.

Pendapat ini juga dibenarkan Al Hakim : "menurut pendapat dua imam (Bukhari dan Muslim) tradisi ini selalu dilakukan, sekalipun mereka tidak menyebutkannya .( Muhammad b. ' Abd Allah al-Hakim al-Nisapiuri, Al-Mustadrak 'ala al-Sahihayn fi al-Hadith wa fi Dhaylihi Talkhis al-Mustadrak, 4 vols. (Riyadh: Maktabat wa Matba'at al-Nasr al-Hadithah, n.d.), vol. 2, p. 611)

Quran telah diturunkan pada priode 23 tahun dan telah ditulis semuanya pada saat Rasulullah masih hidup, sekalipun ayat ayat tersebut tidak disatukan dalam satu mushaf pada saat itu .

Adalah kebiasaan Rasulullah Saw untuk meminta penulis wahyu untuk membaca kembali ayat tersebut setelah menuliskannya, menurut Zaid bin Tsabit, jika ada kesalahan dari penulisan dia membetulkannya, setelah selesai barulah Rasulullah Saw membolehkan menyebarkan ayat tersebut.


Ibn Abu Daud meriwayatkan melalui Yahya bin Abdurrahman bin Hatib, yang mengatakan : ` Umar datang lalu berkata: `Barang siapa menerima dari Rasulullah sesuatu dari Qur`an, hendaklah ia menyampaikannya.` Mereka menuliskan Qur`an itu pada lembaran kertas , papan kayu dan pelepah kurma. (Al-Katani, V.2, p.384)

2. Materi tulisan tersebut harus dikonfirmasikan oleh dua orang saksi, mereka harus bersaksi telah bahwa mereka telah mendengar teks tersebut dari Rasulullah Saw sendiri .

Al Quran adalah sesuatu yang mutawatir, sebab Al Quran itu sendiri merupakan Wahyu dari Allah yang harus disampaikan.

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. 3:164)

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS. 4:170)

Maka bagaimana mungkin hanya satu orang saja yang mendengarkan ayat yang Allah turunkan?, dari logika ini saja dapat dikatakan amat tidak mungkin bila ada seseorang yang seorang diri saja mendengar dan bersaksi bahwa ia telah mendengar ayat ini dan ayat itu tanpa sahabat lain mendengarnya secara langsung. Bagaimanapun juga percampuran antara hadits dengan Quran bisa terjadi bila hal itu hanya diingat oleh hanya satu orang.

Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 524:
Narrated 'Abdullah (bin Mas'ud) :
By Allah other than Whom none has the right to be worshipped!
There is no Sura revealed in Allah's Book but I know at what place it was revealed; and there is no Verse revealed in Allah's Book but I know about whom

Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 521:
Narrated Masriq:
'Abdullah bin 'Amr mentioned 'Abdullah bin Masud and said, "I shall ever love that man, for
I heard the Prophet saying, 'Take (learn) the Qur'an from four: 'Abdullah bin Masud, Salim, Mu'adh and Ubai bin Ka'b.' "

Inilah yang kemudian mengharuskan Zaid bin Tsabit mencari ayat terakhir dari surat At Taubah pada sahabat lainnya sebab dia sendiri harus memenuhi persyaratan ini, walaupun ia sendiri telah menghapal Al Quran.

Zaid bin Tsabit telah menghapal seluruh Al Quran kedalam ingatannya (Labib as-Said, The Recited Koran, tr. Bernard Weiss, et al., 1975, p. 21)

"Sampai saya temukan akhir dari surat At taubah pada Abu Khuzaimah Al Anshary yang tidak terdapat pada surat yang lainnya" (Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 509)

Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata pada Umar dan Zaid: `Duduklah kamu berdua dipintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, maka tulislah yang dimaksudkan ialah kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapan Rasulullah; atau dua orang saksi itu menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara yang dengan itu Qur`an diturunkan "(HR. Bukhari)


Proses Kodifikasi Quran Pada Zaman Utsman

Berkata kepada kami Musa, berkata kepada kami ibrahim, berkata kepada kami Ibnu Syihab bahwa Anas bin Malik mengatakan kepadanya: "khuzaifah bin Al yaman datang kepada Utsman, dan sebelumnya ia memerangi warga syam dalam menaklukan Armenia dan Azarbaizan bersama warga irak, maka terkejutlah Khuzaifah akan adanya pebedaan mereka dalam hal perbedaan Al Qur'an, maka berkatalah Khuzaifah kepada Utsman : "Wahai pemimpin orang-orang yang beriman, beritahulah umat ini sebelum mereka berselisih dalam masalah kitab sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani", Utsman lalu berkirim surat kepada Hafsah : "Kirimkan kepada kami lembaran lembaran untuk kami tulis dalam Masahif ( bentuk plural dari Mushaf ), kemudian kami kembalikan kepadamu", Hafsah segera mengirimkannya kepada Utsman, maka Utsman segera memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit, Abdulah bin Zubair, Sa'id bin A'sh, serta Abdurahman bin Al-Harits bin Hisyam untuk menyalinnya kedalam mushaf-mushaf, dan dia (Utsman) mengatakan kepada ketiga otoritas Qurasy tersebut diatas : "Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit tentang masalah Quran maka tulislah Al Quran dengan lisan Qurasy sebab Al Quran diturunkan dengan dialek mereka". dan mereka melakukan hal itu, maka ketika mereka selesai menyalin lembaran lembaran kedalam beberapa Mushaf, Utsman segera mengembalikan lembaran lembaran tersebut kepada Hafsah, kemudian mengirim ketiap tempat satu Mushaf yang telah mereka salin, dan memerintahkan agar selain Mushaf tersebut entah berupa lembaran sahifah atau sudah berupa mushaf untuk dibakar (HR Bukhari)

"Kalimat huzaifah bin Al yaman yang menyatakan : "Wahai pemimpin orang-orang yang beriman, beritahulah umat ini sebelum mereka berselisih dalam masalah kitab sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani"
Sebenarnya adalah persoalan awal kenapa terjadi kodifikasi lanjutan dizaman Utsman, jika pada awalnya kodifikasi Quran dimaksudkan untuk mencegah hilangnya Al Quran sebab banyak para penghapal Quran yang meninggal dalam peperangan, maka dizaman khalifah Utsman maka persoalannya menjadi berbeda, oleh karenanya akan sangat dapat dipahami sikap Utsman yang kemudian menjadikan mushaf induk yang telah ada pada zaman khalifah Abu bakar menjadi rujukan utama bagi setiap perbedaan mengenai Al Quran.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa terjadi perbedaan dan bukankah perbedaan itu sendiri di perbolehkan oleh Rasulullah Saw?, jawaban yang dapat kita analisis pada kasus ini adalah bahwa ada beberapa fakta yang menyebabkan hal itu terjadi:

1. Yang dimaksud oleh Hudzaifah ini adalah perbedaan mengenai Quran yang mempengaruhi makna ayat hal ini yang kemudian menyebabkan ia menjadi kaget, "dan sebelumnya ia memerangi warga Syam dalam menaklukan Armenia dan Azarbaizan bersama warga Irak, maka terkejutlah Huzaifah akan adanya pebedaan mereka dalam hal perbedaan Al Qur'an. Harus kita fahami bahwa sahabat sudah banyak yang mahfum mengenai qiraah saba'ah namun yang dimaksud Hudzifah disini adalah perbedaan qiraat yang menyebabkan perbedaan makna inilah yang kemudian dipermasalahkan olehnya.

2. Perbedaan Qiraat yang menyebabkan perbedaan makna memang sejak awal dicurigai ada dikarenakan adanya pengaruh Qiraat dari negeri-negeri yang merupakan hasil ekspansi dari dakwah Islam, yang menyebabkan keotentikan Qiraat menjadi dipertanyakan, sebab percampuran antara qiraat satu dengan yang lainnya menjadi suatu hal yang niscaya. hal ini yang kemudian menyebabkan berkembangnya qiraat yang walaupun menisbatkan dirinya kepada para sahabat akan tetapi justru menyimpang jauh dari apa yang kemudian diajarkan para sahabat bukti otentik dari hal ini adalah kesaksian beberapa tabiin tentang mushaf yang di nisbatkan kepada Ibnu Mas'ud. Ibnu Ishaq misalnya yang meneliti beberapa mushaf yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas'ud tidak menemukan satupun redaksional masing masing mushaf yang sama persis satu dengan yang lainnya, Demikian pula Ibnu al-Nad�m dalam al-Fihritsnya bahwa ia melihat sebuah salinan mushaf Ibnu Mas��d yang terdapat di dalamnya, surah al-F�tihah berbeda dengan keyakinan beberapa orang bahwa beliau tidak mencantumkannya dalam mushafnya .(Muhammad �Abd All�h Dir�z, Madkhal il� al-Qur`�n al-Kar�m. Kuwait: D�r al-Qalam, 1993, cet. II, hal 44-45)

Sekali lagi berkembangnya bacaan yang diyakini bersumber dari bacaan Rasulullah yang tanpa mempunyai bentuk fisik materi dalam bentuk tulisanlah yang kemudian menjadi biang keladi munculnya penyimpangan bacaan yang berimplikasi pada makna tersebut .Hal ini membuktikan kepada kita bahwa banyak sekali perbedaan yang disebabkan ketidak jelasan sumber dikarenakan interaksi qiraat yang memang rasulullah ajarkan dengan qiraat yang menjadi kebudayaan bangsa bangsa yang baru masuk kedalam daerah kekuasaan Islam.

3. Disamping berita dari Huzaifah sebenarnya Utsman juga khawatir akan perbedaan bacaan yang kemudian berakibat pada perpecahan umat dan pengkafiran satu sama lainnya. Ibn Jarir : `Ya`kub bin Ibrahim berkata kepadaku: Ibn `Ulyah menceritakan kepadaku: Ayyub mengatakan kepadaku: bahwa Abu Qalabah berkata: pada masa kekahlifahan Usman telah terjadi seorang guru qiraat mengajarkan qiraat seseorang, dan guru qiraat lain mengajarkan qiraat pada orang lain. Dua kelompok anak-anak yang belajar qiraat itu suatu ketika bertemu dan mereka berselisih, dan hal demikian ini menjalar juga kepada guru-guru tersebut.` Kata A yyub: aku tidak mengetahui kecuali ia berkata: `sehingga mereka saling mengkafirkan satu sama lain karena perbedaan qiraat itu,` dan hal itu akhirnya sampai pada khalifah Usman. Maka ia berpidato: `Kalian yang ada dihadapanku telah berselisih paham dan salah dalam membaca Qur`an. Penduduk yang jauh dari kami tentu lebih besar lagi perselisihan dan kesalahannya. Bersatulah wahai sahabat-sahabat Muhammad, tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur`an pedoman) saja ! (Ibn 'Abd al-Muttaqi, Muntakhab Kanz al- 'Ummal in the margin of Ibn Hanbal, Musnad, vol. 2)


Pertanyaan kedua adalah mengapa Utsman menggunakan logat Quraisy ?, "Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit tentang masalah Quran maka tulislah Al Quran dengan lisan Quraisy sebab Al Quran diturunkan dengan dialek mereka". Bukankah Rasul sendiri telah membolehkan Al Quran ditulis dalam tujuh harf?

Diriwayatkan daripada Umar bin al-Khattab r.a katanya: Aku mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surah al-Furqan tidak sama dengan bacaanku yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w kepadaku. Hampir-hampir aku mencela beliau ketika masih dalam pembacaannya. Namun aku masih dapat menahan kemarahanku ketika itu. Setelah selesai aku mendekati Hisyam lalu ku pegang kain serbannya. Kemudian aku mengajaknya menghadap Rasulullah s.a.w. Aku berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya tadi aku mendengar orang ini membaca surat al-Furqan tidak sebagaimana yang kamu bacakan kepadaku. Rasulullah s.a.w bersabda: Suruhlah dia membacanya sekali lagi. Hisyam pun memenuhi permintaan Rasulullah s.a.w tersebut. Dia membaca sebagaimana sebelumnya. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: Memang demikianlah surah itu diturunkan. Kemudian baginda menyuruhku pula: Bacalah! Aku pun membacanya. Baginda pun bersabda: Demikianlah surah itu diturunkan. Sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dengan tujuh huruf (kaedah bacaan) maka kamu bacalah yang mudah bagi kamu (HR. Bukhari)

Betul Rasulullah telah memperbolehkan tujuh bacaan adalam penulisan dan pembacaan Al quran, akan tetapi itu sebatas kompensasi yang beliau pinta kepada Allah Azza Wa Jalla. Sebab awalnya memang Al Quran turun hanya pada satu bacaan yaitu bacaan Quraisy (Sahih Bukhari, Volume 6, Book 61, Number 507):

Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Jibril a.s pernah membacakan kepadaku dengan satu bacaan. Aku minta supaya dia mengulangi bacaannya itu, selalu juga aku minta supaya dia menambahnya dan permintaanku itu dipenuhi hinggalah berakhir dengan tujuh bacaan (HR. Bukhari-Muslim) --- (lihat Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 513).

Dari Ubay bin Kaab mengatakan : Rasulullah bertemu dengan Jibril, maka beliau berkata: "
Wahai Jibril sesungguhnya saya diutus kepada kaum yang buta huruf. diantara mereka ada orang tua dan sudah uzur, anak-anak, wanita hamba sahaya, serta orang-orang yang tidak pernah membaca buku sama sekali", Jibril berkata: "Wahai Muhammad sesungguhnya Al Qur'an diturunkan atas tujuh macam huruf(HR. Ibnu Majah)

Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 514:
Narrated 'Umar bin Al-Khattab:
I heard Hisham bin Hakim reciting Surat Al-Furqan during the lifetime of Allah's Apostle and I listened to his recitation and noticed that he recited in several different ways which Allah's Apostle had not taught me. I was about to jump over him during his prayer, but I controlled my temper, and when he had completed his prayer, I put his upper garment around his neck and seized him by it and said, "Who taught you this Sura which I heard you reciting?" He replied, "Allah's Apostle taught it to me." I said, "You have told a lie, for Allah's Apostle has taught it to me in a different way from yours." So I dragged him to Allah's Apostle and said (to Allah's Apostle), "I heard this person reciting Surat Al-Furqan in a way which you haven't taught me!" On that Allah's Apostle said, "Release him, (O 'Umar!) Recite, O Hisham!" Then he recited in the same way as I heard him reciting. Then Allah's Apostle said, "It was revealed in this way," and added, "Recite, O 'Umar!" I recited it as he had taught me. Allah's Apostle then said, "It was revealed in this way.
This Qur'an has been revealed to be recited in seven different ways, so recite of it whichever (way) is easier for you (or read as much of it as may be easy for you)."

Ini berarti bahwa tujuh macam dialek diturunkan atas permintaan Rasul Saw. Dari Hadits diatas jelas dinyatakan bahwa Al Quran memang diturunkan awalnya dalam dialek Quraisy.

Sahih Bukhari Volume 6, Book 61, Number 512:
Narrated Al-Bara:
There was revealed: 'Not equal are those believers who sit (at home) and those who strive and fight in the Cause of Allah.' (4.95) The Prophet said, "Call Zaid for me and let him bring the board, the inkpot and the scapula bone (or the scapula bone and the ink pot)."' Then he said, "Write: 'Not equal are those Believers who sit..",
and at that time 'Amr bin Um Maktum, the blind man was sitting behind the Prophet . He said, "O Allah's Apostle! What is your order For me (as regards the above Verse) as I am a blind man?" So, instead of the above Verse, the following Verse was revealed: 'Not equal are those believers who sit (at home) except those who are disabled (by injury or are blind or lame etc.) and those who strive and fight in the cause of Allah.' (4.95)

Dalam narasi hadis diatas ditunjukkan bahwa seorang butapun (pada masa-masa belum terkompilasinya Al-Quran) ternyata memilki dialek Quran tersendiri. Namun akhirnya dialek-dialek ini disatukan kembali pada masa pemerintahan kalifah Utsman.

Sahih Bukari Volume 6, Book 61, Number 507:
Narrated Anas bin Malik:
(The Caliph 'Uthman ordered Zaid bin Thabit, Said bin Al-As, 'Abdullah bin Az-Zubair and 'Abdur-Rahman bin Al-Harith bin Hisham to write the Quran in the form of a book (Mushafs) and said to them. "
In case you disagree with Zaid bin Thabit (Al-Ansari) regarding any dialectic Arabic utterance of the Quran, then write it in the dialect of Quraish, for the Quran was revealed in this dialect." So they did it.

Pertanyaan ketiga apakah para sahabat telah menyetujui pendapat Utsman tersebut hingga tidak mendapat pertentangan yang keras dari para sahabat ?. Perintah Utsman agar kaum muslimin hanya menggunakan satu bacaan saja merupakan ijtihad yang amat diperlukan mengingat pertentangan yang akan membesar jika hal tersebut tetap dibiarkan.

Suwaid bin Gaflah berkata: `Ali mengatakan: `Katakanlah segala yang baik tentang Usman. Demi Allah apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Qur`an sudah atas persetujuan kami. (Fathul bahri)

Riwayat diatas menunjukkan bahwa langkah Utsman telah mendapat persetujuan dari para sahabat Hal ini diperkuat dengan riwayat riwayat lainnya yang mengatakan bahwa langkah Utsman adalah tepat dan mendapat persetujuan dari mayoritas kaum muslimin pada masa itu.

Ali berkata jika aku berada di tempat Utsman sekarang maka aku akan melakukan hal yang sama. (Al-Hadis)

Musab ibnu Sa'ad ibnu Waqqas berkata: "Aku melihat orang-orang berkumpul dalam jumlah yang besar ketika Utsman melakukan pembakaran Quran, dan mereka terlihat senang dengan tindakannya, dan tidak ada satupun yang berbicara menentangnya (HR. Abu Dawud)

Satu-satunya penolakan yang ada adalah dari Abdullah bin Mas'ud yang menolak untuk membakar mushaf yang dimiliki olehnya dengan mengatakan :

Bagaimana mungkin kalian menyuruhku membaca qiraat Zayd. Ketika Zayd masih kecil bermain dengan kawan sebayanya saya telah menghafal lebih dari tujuh puluh surah langsung dari lisan Rasulullah (Ibn Abi Da'ud, Kitab a-Masahif)

Yang menarik dari riwayat ini adalah kita sama sekali tidak melihat satupun riwayat Utsman untuk memaksa Abdullah bin Mas'ud untuk menyerahkan Mushafnya, ini sekaligus memperlihatkan kebijaksanaan Utsman yang kemudian mematahkan tuduhan bahwa Utsman bersikap Aristrokat seperti yang dikatakan Robert Morey, padahal Abu Dawud juga meriwayatkan Abdullah bin Mas'ud mengumumkan kepada pengikutnya (orang-orang yang memegang mushaf Ibnu Masud) untuk tidak menyerahkan Mushaf mereka. Bahkan yang terjadi adalah semua orang mengikuti perintah Utsman untuk membakar Salinan Mushaf miliknya.

Musab ibnu Sa'ad ibnu Waqqas berkata: "Aku melihat orang-orang berkumpul dalam jumlah yang besar ketika Utsman melakukan pembakaran Quran, dan mereka terlihat senang dengan tindakannya, dan tidak ada satupun yang berbicara menentangnya
(HR. Abu Dawud)

Perkataan "Terlihat senang dengan tindakannya " menunjukkan tidak adanya pemaksaan atau ancaman atas tindakan yang menentang perintah tersebut, tidak ada satupun riwayat yang menyatakan adanya seseorang yang dhukum atas tindakan penentangan terhadap perintah Utsman.

Bahkan berulang kali Utsman menegaskan bahwa dia tidak menolak bacaan bacaan Quran yang berlangsung secara oral yang dia ingin satukan adalah bacaan dalam bentuk tertulis untuk menghindari perpecahan dan penyimpangan makna.

�Adapun Alquran, saya tidak akan menghalangi kalian, hanya saja saya khawatir bila terjadi perpecahan di antara kalian (sebab perbedaan bacaan Alquran) dan silakan kalian membaca (Alquran) dengan harf yang menurut kalian mudah�. (Muhammad �Abd All�h Dir�z, op.cit. 42)

Kemudahan yang diberikan Utsman inilah yang kemudian menyebabkan kita dapat menemukan bacaan-bacaan yang bersumber dari Rasulullah Saw walaupun hanya berpegang pada riwayat ahad. hal inilah yang kemudian memberikan bukti kepada kita semua bahwa Allah Azza Wajalla yang menurunkan Al Quran dan Dialah yang akan menjaganya.

sumber :mrdnet.110mb.com

Sebuah pernyataan dan kesaksian bahwa Al-Quran tidak mengalami perubahan

0

(dikutip dari SEJARAH HIDUP MUHAMMAD oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL)

Pertanyaan kritis: Mengapa AlQuran tidak dibukukan (dijadikan sebuah kitab) sejak masa Muhammad SAW?

Soal mengapa atau kenapa ini harus dipahami dulu konteksnya bahwa adalah dengan alasan/urgensi apa sesuatu itu harus dibukukan jika isi AlQuran dari A sampa Z sudah melekat di otak dan di hati banyak orang Islam? Lagi pula tidak ada kebiasaan menulis saat itu. Orang yang pandai menghapal memiliki pengaruh dan kedudukan terpandang di dalam masyarakat saat itu.

Kalau sesuatu itu sudah dihapal diluar kepala dan diamalkan sehari-hari untuk apalagi ditulis? AlQuran dibaca sebagai tadarusan tiap malam dan dibaca dalam shalat yang panjang-panjang bacaannya, bahkan ada yang tamat/khatam membaca Quran dalam satu hari saja, kemudian isinya diamalkan sehari-hari..

Apakah tidak takut lupa?

Dalam masa-masa wahyu diturunkan maka Allah SWT dan nabi SAW mengadakan berbagai cara agar ayat-ayat tersebut tidak terlupakan, yaitu misal memberikan bonus bagi yang hapal alQuran, menjadikan bacaan dalam shalat, mengulang/repitisi dua kali dalam setahun untuk ayat-ayat Quran dan berbagai cara lainnyas sehingga akhirnya orang-orang Islam dapat menghapal Quran hingga diluar kepala. Silahkan simak bagian kedua dari artikel ini (next article, next) dalam daftar isi untuk memahami penjelasan akan hal ini.

Kemudian dalam generasi selanjutnya, yaitu sesudah generasi pertama (orang-orang pertama yang hapal AlQuran diluar kepala) banyak dari orang-orang Islam, seperti misalnya Ibnu Taimiyah telah sanggup hapal seluruh isi AlQuran pada umur 10 tahun, imam Bukhari hapal ribuan hadis. Jadi untuk apalagi ditulis? Intinya sesuatu itu ditulis jika perlu ditulis atau tidak ditulis jika tidak perlu ditulis, dan tidak perlu ditulis kalau memang tidak ada urgensi atau kepentingan yang menyebabkan atau mendasarinya...Mari kita tengok ayat dalam Bibel:

  • yohanes 1:1-14

    1:1. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. 1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. 1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia...1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,

Alquran adalah firman Allah yang telah menyatu pada manusia pada generasi-generasi awal umat Islam, sehingga umat Islam atau Muhammad SAW tidak pernah diperintahkan untuk membukukan AlQuran. Namun bukannya tulisan-tulisan suci (firman Allah) itu tidak ada (telah juga ditulis misal diatas batu, diatas tulang, diatas daun lontar, dll karena kertas baru dikenal secara umum pada abad-abad selanjutnya), hanya belum dibukukan menjadi apa yang dikenal sebagai kitab suci karena kenyataannya firman Allah telah menyatu kepada manusia...:)

Kemudian dari sisi teknis sendiri penyusunan Al-Qur'an dalam satu jilid utama (master volume) akan menjadi suatu tantangan berat karena nasikh mansukh yang muncul kemudian dan perubahan ketentuan hukum maupun kata-kata dalam ayat tertentu memerlukan penyertaan ayat lain secara tepat. Hilangnya satu format halaman saja akan sangat merendahkan penyertaan ayat-ayat yang baru serta surahnya karena wahyu tidak berhenti untuk beberapa saat sebelum nabi Muhammad wafat. Akan tetapi dengan wafatnya nabi Muhammad berarti wahyu berakhir untuk selamanya. Tidak akan terdapat ayat lain, perubahan hukum, serta penyusunan ulang. Ini berarti kondisi itu telah mapan dalam waktu yang tepat guna memulai penyatuan Al-Qur'an ke dalam satu jilid.

Daniel A Madigan salah seorang orientalis memberikan sebuah pendapat yang cukup bagus tentang hal ini:

"Istilah kitab menjadi berbahaya ketika dipahami sebagai sesuatu yang tetap dan statis sebagai sebuah buku. Bagi sebagian orang-orang yang beriman, klaim implisit kepada totalitas dan kesempurnaan di dalam kata `buku' menjadi dasar kepada fundamentalisme yang mengedit (kata tersebut) untuk mengambang dari hikmah tradisi yang berkembang. AI-Qur'an tidak mengizinkan konsepsi petunjuk Ilahi yang terbatas seperti itu. Sebaliknya, bagi para pemerhati Islam, gagasan buku ini, teks yang terbatas ini, yang mengklaim sebagai totalitas dari kalam llahi kepada manusia hanya menampakkan kesombongan."

Mengembangkan lebih jauh isu mengenai kompilasi Al­Qur'an dalam sebuah kitab, Daniel berpendapat bahwa makna kitab di dalam Al­Qur'an bukan merujuk kepada sebuah mushaf ataupun buku. Dalam pandangannya, kitab Al-Qur'an bukanlah sebuah buku yang umumnya diterima dengan makna mushaf tertutup. Ia lebih merupakan simbol dari sebuah proses keterlibatan Tuhan dan manusia yang berterusan-keterlibatan yang kaya dan beragam, namun langsung dan spesifik di dalam ucapannya yang hal tersebut tidak akan dapat dipahami di dalam sebuah kanon yang tetap atau terbatas kepada diantara dua sampul.

Setidaknya pendapat ini dapat mewakili bahwa memang tidak ada suatu alasan yang membuat Al-Qur'an harus dibukukan pada masa Rasulullah SAW karena tradisi lisan merupakan sumber informasi yang banyak dipakai atau digunakan dalam masyarakat di masa-masa terdahulu. (Info terkait: answering wikiislam.com)


MENGAPA ALQURAN TIDAK DITURUNKAN SEKALIGUS JADI

  • Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS. 25:32 )

AlQuran itu tidak sekedar suatu kitab untuk dibaca, akan tetapi juga menjadi bacaan dalam shalat. Karena itu harus diturunkan pelan-pelan seperti seorang siswa yang belajar bahasa Inggris disekolahnya supaya mudah dihapal, diresapi dan dipraktekkan. Hal seperti ini yang tidak didapati dalam keyakinan dan ritual Nasrani dan Yahudi dan dikomplain banyak orang di forum FFI.

Hikmah diturunkan Al Quran secara berangsur-angsur:

1. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari diriwayatkan oleh Aisyah.

2. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi sehingga akan mengesankan dan lebih berpengaruh dihati.

3. Memudahkan penghafalan.

4. Adanya hal-hal nasikh mansukh.

5. Diantara ayat-ayat itu ada yang merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagai dikatakan oleh Ibnu Abbas ra. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau AlQuran diturunkan sekaligus.

Dan hal-hal ini tidak dapat dibandingkan dengan Taurat yang diturunkan langsung jadi tapi hasilnya malah kaumnya sendiri (bani Israel) bukan menjadi kaum yang paham kitab (yang diturunkan langsung jadi) tetapi menjadi kaum yang hipokrit dan tidak mengamalkan ajaran kitabnya. Bahkan dalam Injilpun kitab-kitab seperti Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes ditulis satu abad setelah diangkatnya Yesus.

Ada lagi yang mempermasalahkan bahwa nabi SAW menerima wahyu (Quran) tidak ada saksi. Memang benar untuk wahyu pertama, akan tetapi untuk wahyu-wahyu berikutnya banyak orang yang tahu bahwa nabi sedang menerima wahyu, yaitu saat melihat tubuh beliau mengalami seperti kejang atau berkeringat (firman Allah sedang menyatu dalam tubuh manusia). Apakah juga ada saksi bahwa Musa selama 40 hari dibalik awan mendapat inspirasi dari TUHAN atau dari setan-setan? Meski Musa berangkat dengan Yosua, tidak ada indikasi dalam ayat-ayat bahwa Yosua ikut juga menemani Musa dibalik awan selama 40 hari.

  • keluaran 3:2

    Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.

Mana saksi bahwa Musa benar-benar ditemui oleh malaikat? Tidak ada yang melihat bukan?

Hal ini sama dengan yang dialami oleh nabi SAW:

  • Sahih Bukhari Volume 4, Book 55, Number 605:
    Narrated 'Aisha:
    The Prophet returned to Khadija while his heart was beating rapidly. She took him to Waraqa bin Naufal who was a Christian convert and used to read the Gospels in Arabic Waraqa asked (the Prophet), "What do you see?" When he told him, Waraqa said, "That is the same angel whom Allah sent to the Prophet) Moses. Should I live till you receive the Divine Message, I will support you strongly."

Wahyu pertama sendiri telah diakui sebagai sesuatu yang benar adanya. Hal ini telah dimaklumatkan sendiri oleh Waraqah, paman nabi seperti telah disebut diatas.

  • Sahih Bukhari Volume 1, Book 1, Number 2:
    Narrated 'Aisha:
    (the mother of the faithful believers) Al-Harith bin Hisham asked Allah's Apostle "O Allah's Apostle! How is the Divine Inspiration revealed to you?" Allah's Apostle replied, "Sometimes it is (revealed) like the ringing of a bell, this form of Inspiration is the hardest of all and then this state passes ' off after I have grasped what is inspired. Sometimes the Angel comes in the form of a man and talks to me and I grasp whatever he says." 'Aisha added: Verily I saw the Prophet being inspired Divinely on a very cold day and noticed the Sweat dropping from his forehead (as the Inspiration was over).


PENDAPAT MUIR

Sebenarnya apa yang diterangkan kaum Orientalis dalam hal ini cukup banyak. Tapi coba kita ambil apa yang ditulis oleh Sir William Muir dalam bukunya "The Life of Mohammad" supaya mereka yang sangat berlebih-lebihan dalam memandang sejarah dan dalam memandang diri mereka yang biasanya menerima begitu saja apa yang dikatakan orang tentang pemalsuan dan perubahan Qur'an itu, dapat melihat sendiri. Muir adalah seorang penganut Kristen yang teguh dan yang juga berdakwah untuk itu. Diapun ingin sekali tidak akan membiarkan setiap kesempatan melakukan kritik terhadap Nabi dan Qur'an, dan berusaha memperkuat kritiknya.

Ketika bicara tentang Qur'an dan akurasinya yang sampai kepada kita, Sir William Muir menyebutkan:

Sebenarnya apa "Wahyu Ilahi itu adalah dasar rukun Islam. Membaca beberapa ayat merupakan bagian pokok dari sembahyang sehari-hari yang bersifat umum atau khusus. Melakukan pembacaan ini adalah wajib dan sunah, yang dalam arti agama adalah perbuatan baik yang akan mendapat pahala bagi yang melakukannya. Inilah sunah pertama yang sudah merupakan konsensus. Dan itu pula yang telah diberitakan oleh wahyu. Oleh karena itu yang hafal Qur'an di kalangan Muslimin yang mula-mula itu banyak sekali, kalau bukan semuanya. Sampai-sampai di antara mereka pada awal masa kekuasaan Islam itu ada yang dapat membaca sampai pada ciri-cirinya yang khas. Tradisi Arab telah membantu pula mempermudah pekerjaan ini. Kecintaan mereka luar biasa besarnya. Oleh karena untuk memburu segala yang datang dari para penyairnya tidak mudah dicapai, maka seperti dalam mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan nasab keturunan dan kabilah-kabilah mereka, sudah biasa pula mereka mencatat sajak-sajak itu dalam lembaran hati mereka sendiri. Oleh karena itu daya ingat (memori) mereka tumbuh dengan subur. Kemudian pada masa itu mereka menerima Qur'an dengan persiapan dan dengan jiwa yang hidup. Begitu kuatnya daya ingat sahabat-sahabat Nabi, disertai pula dengan kemauan yang luar biasa hendak menghafal Qur'an, sehingga mereka, bersama-sama dengan Nabi dapat mengulang kembali dengan ketelitian yang meyakinkan sekali segala yang diketahui dari pada Nabi sampai pada waktu mereka membacanya itu."

"Sungguhpun dengan tenaga yang sudah menjadi ciri khas daya ingatnya itu, kita juga bebas untuk tidak melepaskan kepercayaan kita bahwa kumpulan itu adalah satu-satunya sumber. Tetapi ada alasan kita yang akan membuat kita yakin, bahwa sahabat-sahabat Nabi menulis beberapa macam naskah selama masa hidupnya dari berbagai macam bagian dalam Qur'an. Dengan naskah-naskah inilah hampir seluruhnya Qur'an itu ditulis. Pada umumnya tulis-menulis di Mekah sudah dikenal orang jauh sebelum masa kerasulan Muhammad. Tidak hanya seorang saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan surat-surat itu. Tawanan perang Badr yang dapat mengajarkan tulis-menulis di Mekah sudah dikenal orang jauh sebelum masa kerasulan Muhammad. Tidak hanya seorang saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan surat-surat itu. Tawanan perang Badr yang dapat mengajarkan tulis-menulis kepada kaum Anshar di Medinah, sebagai imbalannya mereka dibebaskan. Meskipun penduduk Medinah dalam pendidikan tidak sepandai penduduk Mekah, namun banyak juga di antara mereka yang pandai tulis-menulis sejak sebelum Islam. Dengan adanya kepandaian menulis ini, mudah saja kita mengambil kesimpulan tanpa salah, bahwa ayat-ayat yang dihafal menurut ingatan yang sangat teliti itu, itu juga yang dituliskan dengan ketelitian yang sama pula."

"Kemudian kitapun mengetahui, bahwa Muhammad telah mengutus seorang sahabat atau lebih kepada kabilah-kabilah yang sudah menganut Islam, supaya mengajarkan Qur'an dan mendalami agama. Sering pula kita membaca, bahwa ada utusan-utusan yang pergi membawa perintah tertulis mengenai masalah-masalah agama itu. Sudah tentu mereka membawa apa yang diturunkan oleh wahyu, khususnya yang berhubungan dengan upacara-upacara dan peraturan-peraturan Islam serta apa yang harus dibaca selama melakukan ibadat."

PENULISAN QUR'AN PADA ZAMAN NABI

"Qur'an sendiripun menentukan adanya itu dalam bentuk tulisan. Begitu juga buku-buku sejarah sudah menentukan demikian, ketika menerangkan tentang Islamnya Umar, tentang adanya sebuah naskah Surat ke-20 (Surah Taha) milik saudaranya yang perempuan dan keluarganya. Umar masuk Islam tiga atau empat tahun sebelum Hijrah. Kalau pada masa permulaan Islam wahyu itu ditulis dan saling dipertukarkan, tatkala jumlah kaum Muslimin masih sedikit dan mengalami pelbagai macam siksaan, maka sudah dapat dipastikan sekali, bahwa naskah-naskah tertulis itu sudah banyak jumlahnya dan sudah banyak pula beredar, ketika Nabi sudah mencapai puncak kekuasaannya dan kitab itu sudah menjadi undang-undang seluruh bangsa Arab."

BILA BERSELISIH KEMBALI KEPADA NABI

"Demikian halnya Qur'an itu semasa hidup Nabi, dan demikian juga halnya kemudian sesudah Nabi wafat; tetap tercantum dalam kalbu kaum mukmin. Berbagai macam bagiannya sudah tercatat belaka dalam naskah-naskah yang makin hari makin bertambah jumlahnya itu. Kedua sumber itu sudah seharusnya benar-benar cocok. Pada waktu itu pun Qur'an sudah sangat dilindungi sekali, meskipun pada masa Nabi masih hidup, dengan keyakinan yang luarbiasa bahwa itu adalah kalam Allah. Oleh karena itu setiap ada perselisihan mengenai isinya, untuk menghindarkan adanya perselisihan demikian itu, selalu dibawa kepada Nabi sendiri. Dalam hal ini ada beberapa contoh pada kita: 'Amr bin Mas'ud dan Ubayy bin Ka'b membawa hal itu kepada Nabi. Sesudah Nabi wafat, bila ada perselisihan, selalu kembali kepada teks yang sudah tertulis dan kepada ingatan sahabat-sahabat Nabi yang terdekat serta penulis-penulis wahyu."

PENGUMPULAN QUR'AN LANGKAH PERTAMA

"Sesudah selesai menghadapi peristiwa Musailima - dalam perang Ridda - penyembelihan Yamama telah menyebabkan kaum Muslimin banyak yang mati, di antaranya tidak sedikit mereka yang telah menghafal Qur'an dengan baik. Ketika itu Umar merasa kuatir akan nasib Qur'an dan teksnya itu; mungkin nanti akan menimbulkan keragu-raguan orang bila mereka yang telah menyimpannya dalam ingatan itu, mengalami suatu hal lalu meninggal semua. Waktu itulah ia pergi menemui Khalifah Abu Bakr dengan mengatakan: "Saya kuatir sekali pembunuhan terhadap mereka yang sudah hafal Qur'an itu akan terjadi lagi di medan pertempuran lain selain Yamama dan akan banyak lagi dari mereka yang akan hilang. Menurut hemat saya, cepat-cepatlah kita bertindak dengan memerintahkan pengumpulan Qur'an."

"Abu Bakr segera menyetujui pendapat itu. Dengan maksud tersebut ia berkata kepada Zaid bin Thabit, salah seorang sekretaris Nabi yang besar: "Engkau pemuda yang cerdas dan saya tidak meragukan kau. Engkau adalah penulis wahyu pada Rasulullah s.a.w. dan kau mengikuti Qur'an itu; maka sekarang kumpulkanlah.''

"Oleh karena pekerjaan ini terasa tiba-tiba sekali diluardugaan, mula-mula Zaid gelisah sekali. Ia masih meragukan gunanya melakukan hal itu dan tidak pula menyuruh orang lain melakukannya. Akan tetapi akhirnya ia mengalah juga pada kehendak Abu Bakr dan Umar yang begitu mendesak. Dia mulai berusaha sungguh-sungguh mengumpulkan surah-surah dan bagian-bagiannya dari segenap penjuru, sampai dapat juga ia mengumpulkan yang tadinya di atas daun-daunan, di atas batu putih, dan yang dihafal orang. Setengahnya ada yang menambahkan, bahwa dia juga mengumpulkannya dari yang ada pada lembaran-lembaran, tulang-tulang bahu dan rusuk unta dan kambing. Usaha Zaid ini mendapat sukses."

"Ia melakukan itu selama dua atau tiga tahun terus-menerus, mengumpulkan semua bahan-bahan serta menyusun kembali seperti yang ada sekarang ini, atau seperti yang dilakukan Zaid sendiri membaca Qur'an itu di depan Muhammad, demikian orang mengatakan. Sesudah naskah pertama lengkap adanya, oleh Umar itu dipercayakan penyimpanannya kepada Hafsha, puterinya dan isteri Nabi. Kitab yang sudah dihimpun oleh Zaid ini tetap berlaku selama khilafat Umar, sebagai teks yang otentik dan sah.

"Tetapi kemudian terjadi perselisihan mengenai cara membaca, yang timbul baik karena perbedaan naskah Zaid yang tadi atau karena perubahan yang dimasukkan ke dalam naskah-naskah itu yang disalin dari naskah Zaid. Dunia Islam cemas sekali melihat hal ini. Wahyu yang didatangkan dari langit itu "satu," lalu dimanakah sekarang kesatuannya? Hudhaifa yang pernah berjuang di Armenia dan di Azerbaijan, juga melihat adanya perbedaan Qur'an orang Suria dengan orang Irak."

MUSHAF USMAN

"Karena banyaknya dan jauhnya perbedaan itu, ia merasa gelisah sekali. Ketika itu ia lalu meminta agar Usman turun tangan. "Supaya jangan ada lagi orang berselisih tentang kitab mereka sendiri seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani." Khalifahpun dapat menerima saran itu. Untuk menghindarkan bahaya, sekali lagi Zaid bin Thabit dimintai bantuannya dengan diperkuat oleh tiga orang dari Quraisy. Naskah pertama yang ada di tangan Hafsha lalu dibawa, dan cara membaca yang berbeda-beda dari seluruh persekemakmuran Islam itupun dikemukakan, lalu semuanya diperiksa kembali dengan pengamatan yang luarbiasa, untuk kali terakhir. Kalaupun Zaid berselisih juga dengan ketiga sahabatnya dari Quraisy itu, ia lebih condong pada suara mereka mengingat turunnya wahyu itu menurut logat Quraisy, meskipun dikatakan wahyu itu diturunkan dengan tujuh dialek Arab yang bermacam-macam."

"Selesai dihimpun, naskah-naskah menurut Qur'an ini lalu dikirimkan ke seluruh kota persekemakmuran. Yang selebihnya naskah-naskah itu dikumpulkan lagi atas perintah Khalifah lalu dibakar. Sedang naskah yang pertama dikembalikan kepada Hafsha."

PERSATUAN ISLAM ZAMAN USMAN

"Maka yang sampai kepada kita adalah Mushhaf Usman. Begitu cermat pemeliharaan atas Qur'an itu, sehingga hampir tidak kita dapati -bahkan memang tidak kita dapati- perbedaan apapun dari naskah-naskah yang tak terbilang banyaknya, yang tersebar ke seluruh penjuru dunia Islam yang luas itu. Sekalipun akibat terbunuhnya Usman sendiri - seperempat abad kemudian sesudah Muhammad wafat - telah menimbulkan adanya kelompok-kelompok yang marah dan memberontak sehingga dapat menggoncangkan kesatuan dunia Islam - dan memang demikian adanya - namun Qur'an yang satu, itu juga yang selalu tetap menjadi Qur'an bagi semuanya. Demikianlah, Islam yang hanya mengenal satu kitab itu ialah bukti yang nyata sekali, bahwa apa yang ada di depan kita sekarang ini tidak lain adalah teks yang telah dihimpun atas perintah Usman yang malang itu.

"Agaknya di seluruh dunia ini tak ada sebuah kitabpun selain Qur'an yang sampai empatbelas abad lamanya tetap lengkap dengan teks yang begitu murni dan cermatnya. Adanya cara membaca yang berbeda-beda itu sedikit sekali untuk sampai menimbulkan keheranan. Perbedaan ini kebanyakannya terbatas hanya pada cara mengucapkan huruf hidup saja atau pada tempat-tempat tanda berhenti, yang sebenarnya timbul hanya belakangan saja dalam sejarah, yang tak ada hubungannya dengan Mushhaf Usman."

"Sekarang, sesudah ternyata bahwa Qur'an yang kita baca ialah teks Mushhaf Usman yang tidak berubah-ubah, baiklah kita bahas lagi: Adakah teks ini yang memang persis bentuknya seperti yang dihimpun oleh Zaid sesudah adanya persetujuan menghilangkan segi perbedaan dalam cara membaca yang hanya sedikit sekali jumlahnya dan tidak pula penting itu? Segala pembuktian yang ada pada kita meyakinkan sekali, bahwa memang demikian. Tidak ada dalam berita-berita lama atau yang patut dipercaya yang melemparkan kesangsian terhadap Usman sedikitpun, bahwa dia bermaksud mengubah Qur'an guna memperkuat tujuannya. Memang benar, bahwa Syi'ah kemudian menuduh bahwa dia mengabaikan beberapa ayat yang mengagungkan Ali. Akan tetapi dugaan ini tak dapat diterima akal. Ketika Mushhaf ini diakui, antara pihak Umawi dengan pihak Alawi (golongan Mu'awiya dan golongan Ali) belum terjadi sesuatu perselisihan faham. Bahkan persatuan Islam masa itu benar-benar kuat tanpa ada bahaya yang mengancamnya. Di samping itu juga Ali belum melukiskan tuntutannya dalam bentuknya yang lengkap. Jadi tak adalah maksud-maksud tertentu yang akan membuat Usman sampai melakukan pelanggaran yang akan sangat dibenci oleh kaum Muslimin itu. Orang-orang yang memahami dan hafal benar Qur'an seperti yang mereka dengar sendiri waktu Nabi membacanya mereka masih hidup tatkala Usman mengumpulkan Mushhaf itu. Andaikata ayat-ayat yang mengagungkan Ali itu sudah ada, tentu terdapat juga teksnya di tangan pengikut-pengikutnya yang banyak itu. Dua alasan ini saja sudah cukup untuk menghapus setiap usaha guna menghilangkan ayat-ayat itu. Lagi pula, pengikut-pengikut Ali sudah berdiri sendiri sesudah Usman wafat, lalu mereka mengangkat Ali sebagai Pengganti."

"Dapatkah diterima akal - pada waktu kemudian mereka sudah memegang kekuasaan - bahwa mereka akan sudi menerima Qur 'an yang sudah terpotong-potong, dan terpotong yang disengaja pula untuk menghilangkan tujuan pemimpin mereka?! Sungguhpun begitu mereka tetap membaca Qur'an yang juga dibaca oleh lawan-lawan mereka. Tak ada bayangan sedikitpun bahwa mereka akan menentangnya. Bahkan Ali sendiripun telah memerintahkan supaya menyebarkan naskah itu sebanyak-banyaknya. Malah ada diberitakan, bahwa ada beberapa di antaranya yang ditulisnya dengan tangannya sendiri."

"Memang benar bahwa para pemberontak itu telah membuat pangkal pemberontakan mereka karena Usman telah mengumpulkan Qur'an lalu memerintahkan supaya semua naskah dimusnahkan selain Mushhaf Usman. Jadi tantangan mereka ditujukan kepada langkah-langkah Usman dalam hal itu saja, yang menurut anggapan mereka tidak boleh dilakukan. Tetapi di balik itu tidak seorangpun yang menunjukkan adanya usaha mau mengubah atau menukar isi Qur'an. Tuduhan demikian pada waktu itu adalah suatu usaha perusakan terang-terangan. Hanya kemudian golongan Syi'ah saja yang mengatakan itu untuk kepentingan mereka sendiri."

"Sekarang kita dapat mengambil kesimpulan dengan meyakinkan, bahwa Mushhaf Usman itu tetap dalam bentuknya yang persis seperti yang dihimpun oleh Zaid bin Thabit, dengan lebih disesuaikan bahan-bahannya yang sudah ada lebih dulu dengan dialek Quraisy. Kemudian menyisihkan jauh-jauh bacaan-bacaan selebihnya yang pada waktu itu terpencar-pencar di seluruh daerah itu."


MUSHAF USMAN CERMAT DAN LENGKAP

"Tetapi sungguhpun begitu masih ada suatu soal penting lain yang terpampang di depan kita, yakni: adakah yang dikumpulkan oleh Zaid itu merupakan bentuk yang sebenarnya dan lengkap seperti yang diwahyukan kepada Muhammad? Pertimbangan-pertimbangan di bawah ini cukup memberikan keyakinan, bahwa itu adalah susunan sebenarnya yang telah selengkapnya dicapai waktu itu:"

"Pertama - Pengumpulan pertama selesai di bawah pengawasan Abu Bakr. Sedang Abu Bakr seorang sahabat yang jujur dan setia kepada Muhammad. Juga dia adalah orang yang sepenuhnya beriman pada kesucian sumber Qur'an, orang yang hubungannya begitu erat sekali dengan Nabi selama waktu duapuluh tahun terakhir dalam hayatnya, serta kelakuannya dalam khilafat dengan cara yang begitu sederhana, bijaksana dan bersih dari gejala ambisi disamping putrinya adalah seorang istri dari Muhammad, sehingga baginya memang tak adalah tempat buat mencari kepentingan lain. Ia beriman sekali bahwa apa yang diwahyukan kepada kawannya itu adalah wahyu dari Allah, sehingga tujuan utamanya ialah memelihara pengumpulan wahyu itu semua dalam keadaan murni sepenuhnya."

Pernyataan semacam ini berlaku juga terhadap Umar yang sudah menyelesaikan pengumpulan itu pada masa khilafatnya. Pernyataan semacam ini juga yang berlaku terhadap semua kaum Muslimin waktu itu, tak ada perbedaan antara para penulis yang membantu melakukan pengumpulan itu, dengan seorang mu'min biasa yang miskin, yang memiliki wahyu tertulis di atas tulang-tulang atau daun-daunan, lalu membawanya semua kepada Zaid. Semangat mereka semua sama, ingin memperlihatkan kalimat-kalimat dan kata-kata seperti yang dibacakan oleh Nabi, bahwa itu adalah risalah dari Tuhan. Keinginan mereka hendak memelihara kemurnian itu sudah menjadi perasaan semua orang, sebab tak ada sesuatu yang lebih dalam tertanam dalam jiwa mereka seperti rasa kudus yang agung itu, yang sudah mereka percayai sepenuhnya sebagai firman Allah. Dalam Qur'an terdapat peringatan-peringatan bagi barangsiapa yang mengadakan kebohongan atas Allah atau menyembunyikan sesuatu dari wahyuNya. Kita tidak akan dapat menerima, bahwa pada kaum Muslimin yang mula-mula dengan semangat mereka terhadap agama yang begitu rupa mereka sucikan itu, akan terlintas pikiran yang akan membawa akibat begitu jauh membelakangi iman."

"Kedua - Pengumpulan tersebut selesai selama dua atau tiga tahun sesudah Muhammad wafat. Kita sudah melihat beberapa orang pengikutnya, yang sudah hafal wahyu itu di luar kepala, dan setiap Muslim sudah hafal sebagian, juga sudah ada serombongan ahli-ahli Qur'an yang ditunjuk oleh pemerintah dan dikirim ke segenap penjuru daerah Islam guna melaksanakan upacara-upacara dan mengajar orang memperdalam agama. Dari mereka semua itu terjalinlah suatu mata rantai penghubung antara wahyu yang dibaca Muhammad pada waktu itu dengan yang dikumpulkan oleh Zaid. Kaum Muslimin bukan saja bermaksud jujur dalam mengumpulkan Qur'an dalam satu Mushhaf itu, tapi juga mempunyai segala fasilitas yang dapat menjamin terlaksananya maksud tersebut, menjamin terlaksananya segala yang sudah terkumpul dalam kitab itu, yang ada di tangan mereka sesudah dengan teliti dan sempurna dikumpulkan."

"Ketiga - Juga kita mempunyai jaminan yang lebih dapat dipercaya tentang ketelitian dan kelengkapannya itu, yakni bagian-bagian Qur'an yang tertulis, yang sudah ada sejak masa Muhammad masih hidup, dan yang sudah tentu jumlah naskahnyapun sudah banyak sebelum pengumpulan Qur'an itu. Naskah-naskah demikian ini kebanyakan sudah ada di tangan mereka semua yang dapat membaca. Kita mengetahui, bahwa apa yang dikumpulkan Zaid itu sudah beredar di tangan orang dan langsung dibaca sesudah pengumpulannya. Maka logis sekali kita mengambil kesimpulan, bahwa semua yang terkandung dalam bagian-bagian itu, sudah tercakup belaka. Oleh karena itu keputusan mereka semua sudah tepat pada tempatnya. Tidak ada suatu sumber yang sampai kepada kita yang menyebutkan, bahwa para penghimpun itu telah melalaikan sesuatu bagian, atau sesuatu ayat, atau kata-kata, ataupun apa yang terdapat didalamnya itu, berbeda dengan yang ada dalam Mushhaf yang sudah dikumpulkan itu. Kalau yang demikian ini memang ada, maka tidak bisa tidak tentu terlihat juga, dan tentu dicatat pula dalam dokumen-dokumen lama yang sangat cermat itu; tak ada sesuatu yang diabaikan sekalipun yang kurang penting."

"Keempat - Isi dan susunan Qur'an itu jelas sekali menunjukkan cermatnya pengumpulan. Bagian-bagian yang bermacam-macam disusun satu sama lain secara sederhana tanpa dipaksa-paksa atau dibuat-buat."

"Tak ada bekas tangan yang mencoba mau mengubah atau mau memperlihatkan keahliannya sendiri. Itu menunjukkan adanya iman dan kejujuran sipenghimpun dalam menjalankan tugasnya itu. Ia tidak berani lebih daripada mengambil ayat-ayat suci itu seperti apa adanya, lalu meletakkannya yang satu disamping yang lain."

"Jadi kesimpulan yang dapat kita sebutkan dengan meyakinkan sekali ialah, bahwa Mushhaf Zaid dan Usman itu bukan hanya hasil ketelitian saja, bahkan - seperti beberapa kejadian menunjukkan - adalah juga lengkap, dan bahwa penghimpunnya tidak bermaksud mengabaikan apapun dari wahyu itu. Juga kita dapat meyakinkan, berdasarkan bukti-bukti yang kuat, bahwa setiap ayat dari Qur'an itu, memang sangat teliti sekali dicocokkan seperti yang dibaca oleh Muhammad."

Penjelasan diatas adalah mengutip kalimat-kalimat Sir William Muir seperti yang disebutkan dalam kata pengantar The Life of Mohammad (p.xiv-xxix). Dengan apa yang sudah dikutip itu tidak perlu lagi rasanya kita menyebutkan tulisan Lammens atau Von Hammer dan Orientalis lain yang sama sependapat. Secara positif mereka memastikan tentang persisnya Qur'an yang umat muslimin baca sekarang, serta menegaskan bahwa semua yang dibaca oleh Muhammad adalah wahyu yang benar dan sempurna diterima dari Tuhan. Kalaupun ada sebagian kecil kaum Orientalis berpendapat lain dan beranggapan bahwa Qur'an sudah mengalami perubahan, dengan tidak menghiraukan alasan-alasan logis yang dikemukakan Muir dan sebagian besar Orientalis, yang telah mengutip dari sejarah Islam dan dari sarjana-sarjana Islam, maka itu adalah suatu dakwaan yang hanya didorong oleh rasa dengki saja terhadap Islam dan terhadap Nabi. Betapapun pandainya tukang-tukang tuduh itu menyusun tuduhannya, namun mereka tidak dapat meniadakan hasil penyelidikan ilmiah yang murni. Dengan caranya itu mereka takkan dapat menipu kaum Muslimin, kecuali beberapa pemuda yang masih beranggapan bahwa penyelidikan yang bebas itu mengharuskan mereka mengingkari masa lampau mereka sendiri, memalingkan muka dari kebenaran karena sudah terbujuk oleh kepalsuan yang indah-indah. Mereka percaya kepada semua yang mengecam masa lampau sekalipun pengecamnya itu tidak mempunyai dasar kebenaran ilmiah dan sejarah.

MEMBUKTIKAN BAHWA QURAN ADALAH BENAR-BENAR ASLI FIRMAN ALLAH DAN TIDAK BERUBAH ESENSINYA (kalau terjemahannya memang bisa berubah-ubah namun sumbernya (inti kalimat dalam bahasa Arab) tidaklah pernah berubah)

1. Cara membuktikannya adalah dengan melihat nubuat-nubuat dan cerita-cerita dalam Quran bisa dibuktikan apa nggak (selama tidak mengandung unsur mukjizat, misal menghidupkan orang mati)..

2. Cara kedua adalah dengan melakukan tes secara matematis misalnya sebagai berikut:

MATHEMATICAL DESIGN OF THE BASMALLAH , http://64.23.108.103/fakir60/mathematical_design_of_the_basma1.htm

A MIRACLE WITHIN THE MIRACLES OR ONE MORE DECEIT WITHIN THE DECEITS?, http://mostmerciful.com/miracle-or-deceit.htm

Importance of No 19, http://64.23.108.103/fakir60/importanceof19.htm

Prime numbers in quran, http://64.23.108.103/fakir60/prime_numbers_in_the_holy_quran.htm

How would you reply to Rashad Khalifa's number 19 theory, where he removed 2 Noble Verses from the Noble Quran because their references were not multiples of the number 19? , http://64.23.108.103/19.htm

MATHEMATICAL MIRACLE OF THE QURAN, http://64.23.108.103/fakir60/fakir60.htm


Persaksian tentang keaslian Al-Quran

Ibnu Abbas sendiri mengatakan:

Sahih Bukhari Volume 9, Book 92, Number 461:
Narrated Ubaidullah:
Ibn 'Abbas said, "Why do you ask the people of the scripture about anything while your Book (Quran) which has been revealed to Allah's Apostle is newer and the latest?
You read it pure, undistorted and unchanged, and Allah has told you that the people of the scripture (Jews and Christians) changed their scripture and distorted it, and wrote the scripture with their own hands and said, 'It is from Allah,' to sell it for a little gain. Does not the knowledge which has come to you prevent you from asking them about anything? No, by Allah, we have never seen any man from them asking you regarding what has been revealed to you!"

Sebuah pernyataan dan kesaksian dari Ibnu Abbas bahwa Al-Quran tidak mengalami perubahan dalam segi makna dan segi keterpeliharaan materi penyusun awal Al-Quran.

sumber :mrdnet.110mb.com/