BUKTI-BUKTI KENABIAN NABI MUHAMMAD

oleh Sa'di Salafy Al-Asqary

Di Antara Tanda-Tanda Kenabian
Allah Ta’ala berfirman:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ
“Hari kiamat telah dekat dan bulan telah terbelah.” (QS. Al-Qamar: 1)
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:
انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْقَتَيْنِ فِرْقَةً فَوْقَ الْجَبَلِ وَفِرْقَةً دُونَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْهَدُوا
“Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bulan pernah terbelah menjadi dua bagian. Sebagian berada di atas bukit dan sebagian lagi berada di bawahnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saksikanlah!” (HR. Al-Bukhari no. 4486 dan Muslim no. 2800)



Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia bercerita:
أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرِيَهُمْ آيَةً فَأَرَاهُمْ انْشِقَاقَ الْقَمَرِ
“Penduduk (kaum musyrikin) Makkah pernah meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau menunjukkan tanda kenabian. Maka beliau menunjukkan kepada mereka terbelahnya bulan”. (HR. Al-Bukhari no. 3365 dan Muslim no. 2802)
Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma dia berkata:
عَطِشَ النَّاسُ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ يَدَيْهِ رِكْوَةٌ فَتَوَضَّأَ فَجَهِشَ النَّاسُ نَحْوَهُ فَقَالَ مَا لَكُمْ قَالُوا لَيْسَ عِنْدَنَا مَاءٌ نَتَوَضَّأُ وَلَا نَشْرَبُ إِلَّا مَا بَيْنَ يَدَيْكَ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي الرِّكْوَةِ فَجَعَلَ الْمَاءُ يَثُورُ بَيْنَ أَصَابِعِهِ كَأَمْثَالِ الْعُيُونِ فَشَرِبْنَا وَتَوَضَّأْنَا قُلْتُ كَمْ كُنْتُمْ قَالَ لَوْ كُنَّا مِائَةَ أَلْفٍ لَكَفَانَا كُنَّا خَمْسَ عَشْرَةَ مِائَةً
“Pada saat hari Hudaibiah, orang-orang merasa kehausan sementara di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada sebuah bejana air yang terbuat dari kulit. Beliau berwudhu, maka para sahabat mendatangi beliau. Beliau bertanya, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami tidak memiliki air untuk berwudhu dan untuk minum kecuali air yang anda pakai”. Maka beliau meletakkan tangan beliau di atas bejana kulit tersebut, maka tidak lama kemudian air pun memancar dari sela-sela jari beliau bagaikan mata air. Maka kami pun minum dan berwudu darinya.” Aku (Salim) bertanya, “Berapa jumlah kalian saat itu?” Dia (Jabir) menjawab, “Seandainya jumlah kami saat itu seratus ribu pasti air itu tetap akan mencukupi kami. Saat itu jumlah kami seribu lima ratus orang”. (HR. Al-Bukhari no. 3576)
Jabir bin Abdullah radliallahu ‘anhu berkata;
كَانَ الْمَسْجِدُ مَسْقُوفًا عَلَى جُذُوعٍ مِنْ نَخْلٍ فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ يَقُومُ إِلَى جِذْعٍ مِنْهَا فَلَمَّا صُنِعَ لَهُ الْمِنْبَرُ وَكَانَ عَلَيْهِ فَسَمِعْنَا لِذَلِكَ الْجِذْعِ صَوْتًا كَصَوْتِ الْعِشَارِ حَتَّى جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهَا فَسَكَنَتْ
“Dahulu masjid (Nabawi) tiang-tiangnya dibuat dari batang-batang pohon kurma dan apabila Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhuthbah beliau maka berdiri pada salah satu batang-batang pohon kurma tersebut. Ketika beliau telah dibuatkan mimbar dan beliau tengah berkhuthbah dengan berdiri di atasnya, kami mendengar suara dari batang kayu tersebut (seperti tangisan) bagaikan suara unta yang hampir beranak. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang menghampirinya kemudian meletakkan tangan beliau pada batang kayu tersebut hingga akhirnya batang kayu itu diam (berhenti menangis).” (HR. Al-Bukhari no. 3585)
Penjelasan ringkas:
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus para nabi dan menurunkan juga bersama mereka tanda-tanda yang menunjukkan mereka adalah betul-betul utusan dari Allah Ta’ala. Ini termasuk rahmat Allah Ta’ala kepada para makhluk karena Allah tidak ingin jika mereka mengingkari para nabi -akibat tidak adanya tanda kenabian mereka- sehingga karena mereka bisa mendapatkan siksaan dari-Nya.
Hanya saja yang perlu dicamkan bahwa adanya mukjizat BUKANLAH satu-satunya tanda yang bisa digunakan untuk mengetahui kenabian seseorang, sebagaimana yang diyakini oleh kaum Mu’tazilah. Ini adalah kesesatan yang nyata, dan sebagai akibat dari keyakinan mereka ini, lahirlah kesesatan yang lain yaitu mereka menolak adanya sihir dan menolak bahwa jin bisa merasuk ke dalam tubuh manusia. Adapun Ahlussunnah, maka mereka meyakini bahwa mukjizat hanyalah salah satu dari beberapa tanda kenabian seorang nabi. Bahkan tanda kenabian yang terbesar adalah terlihat dari akhlak dan perilaku dari nabi tersebut, baik sebelum maupun setelah diangkat sebagai nabi. Karenanya Khadijah radhiallahu anha telah beriman bahwa suaminya adalah nabi yang telah didatangi Jibril, dan dalil yang beliau gunakan untuk meyakini suaminya adalah nabi bukanlah dengan mukjizat (karena waktu itu Nabi belum mempunyai mukjizat), akan tetapi Khadijah berdalil dengan budi pekerti suaminya yang luhur. Beliau berkata:
كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka membantu orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan sentiasa mendukung kebenaran.” (HR. Al-Bukhari no. 4572 dan Muslim no. 231)
Dan di antara hikmah Allah Ta’ala, Allah Ta’ala memberikan mukjizat kepada setiap nabi sesuai dengan apa yang berkembang pada zamannya saat itu. Tatkala yang berkembang di zaman Nabi Musa adalah sihir, maka mukjizat beliau mirip dengan sihir, tapi sama sekali bukan sihir. Tatkala yang berkembang di zaman Nabi Isa adalah pengobatan, maka mukjizat beliau adalah kemampuan menyembuhkan penyakit bahkan menghidupkan sementara orang yang telah mati. Dan tatkala yang berkembang di zaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah kebanggaan dengan kefasihan bahasa Arab, maka mukjizat beliau berupa ucapan yang tidak bisa ditiru oleh seluruh makhluk.
Kemudian, tanda-tanda kenabian terkadang Allah datangkan terkadang secara langsung dan terkadang karena permintaan dari umat dari Nabi tersebut. Contoh secara langsung adalah terdengarnya tangisan kayu yang dulunya merupakan tempat beliau berkhutbah, dan selainnya. Sementara contoh mukjizat yang datang karena permintaan umatnya adalah adalah terbelahnya bulan dan mengalirnya air dari sela-sela jari jemari beliau.
Mukjizat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sangatlah banyak, sampai-sampai para ulama mengarang kitab yang tebal khusus menyebutkan mukjizat-mukjizat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Apa yang tersebut dalam dalil-dalil di atas hanyalah sebagian kecil di antaranya.