Benarkah Nabi Muhammad pernah thawaf telanjang bersama para pagan lainnya?

Para penghujat islam melemparkan tuduhan keji kepada nabi Muhammad saw. Mereka menuduh bahwa Nabi sebelum masa kenabian juga melakukan Thawaf dengan telanjang. Penulis coba menelusuri sumber tuduhan tersebut. Dan akhirnya ketemu juga,rupanya mereka merujukan pada tulisanSalah satu Netter Faithfreedom Indonesia (Rebbeca)

Agar lebih jelas inilah Tuduhan Rebbeca,akan saya copy paste :

Mari kita cerna kedua hadist berikut ini. Di situ tertulis, sebelum muhammad melakukan ritual haji yang TERAKHIR, abubakar diperintahkannya untuk menulis perintah untuk MELARANG orang-orang PAGAN dan ORANG-ORANG BUGIL melakukan ritual Tawaf.

Kenapa ada perintah tersebut, TENTUNYA hanya ada satu kesimpulannya. Di ritual2 haji sebelumnya, muhammad melakukan tawaf bersama pagan-pagan yang memiliki kebiasaan BUGIL dalam mengelilingi kabah!... Pertanyaannya adalah apakah muhammad mengikuti kebiasaan BUGIL tersebut?

BUKHARI, Volume 1, Book 8, Number 365:
Narrated Abu Huraira:
On the Day of Nahr (10th of Dhul-Hijja,
in the year prior to the last Hajj of the Prophet when Abu Bakr was the leader of the pilgrims in that Hajj) Abu Bakr sent me along with other announcers to Mina to make a public announcement: "No pagan is allowed to perform Hajj after this year and no naked person is allowed to perform the Tawaf around the Ka'ba. Then Allah's Apostle sent 'All to read out the Surat Bara'a (At-Tauba) to the people; so he made the announcement along with us on the day of Nahr in Mina: "No pagan is allowed to perform Hajj after this year and no naked person is allowed to perform the Tawaf around the Ka'ba."


BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 689:
Narrated Abu Huraira:
n the year prior to
the last Hajj of the Prophet when Allahs Apostle made Abu Bakr the leader of the pilgrims, the latter (Abu Bakr) sent me in the company of a group of people to make a public announcement: 'No pagan is allowed to perform Hajj after this year, and no naked person is allowed to perform Tawaf of the Kaba.' (See Hadith No. 365 Vol. 1)


Ada kemungkinan BESAR muhammad ikut BUGIL BERSAMA dengan para pagan tersebut. Sudah pengetahuan umum muhammad MENG-COPY habis budaya pagan dan mem-spritualisasikan menjadi ajaran islam. Kebiasaan puasa paganpun DILAKUKAN muhammad. BAHKAN muhammad mensabotase simbol-simbol pagan, Safa dan Marwa, sebagai simbol2nya allah!.


Volume 5, Book 58, Number 172:
Narrated 'Aisha:
'Ashura' (i.e. the tenth of Muharram) was a day on which the tribe of Quraish used to fast in the pre-lslamic period of ignorance. The Prophet also used to fast on this day. So when he migrated to Medina, he fasted on it and ordered (the Muslims) to fast on it. When the fasting of Ramadan was enjoined, it became optional for the people to fast or not to fast on the day of Ashura.

BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 706:
Narrated 'Urwa:

I asked 'Aisha : "How do you interpret the statement of Allah,. : Verily! (the mountains) As-Safa and Al-Marwa are among the symbols of Allah, and whoever performs the Hajj to the Ka'ba or performs 'Umra, it is not harmful for him to perform Tawaf between them (Safa and Marwa.) (2.158). By Allah! (it is evident from this revelation) there is no harm if one does not perform Tawaf between Safa and Marwa." 'Aisha said, "O, my nephew! Your interpretation is not true. Had this interpretation of yours been correct, the statement of Allah should have been, 'It is not harmful for him if he does not perform Tawaf between them.' But in fact, this divine inspiration was revealed concerning the Ansar who used to assume lhram for worship ping an idol called "Manat" which they used to worship at a place called Al-Mushallal before they embraced Islam, and whoever assumed Ihram (for the idol), would consider it not right to perform Tawaf between Safa and Marwa.

When they embraced Islam, they asked Allah's Apostle (p.b.u.h) regarding it, saying, "O Allah's Apostle! We used to refrain from Tawaf between Safa and Marwa." So Allah revealed: 'Verily; (the mountains) As-Safa and Al-Marwa are among the symbols of Allah.' " Aisha added, "
Surely, Allah's Apostle set the tradition of Tawaf between Safa and Marwa, so nobody is allowed to omit the Tawaf between them." Later on I ('Urwa) told Abu Bakr bin 'Abdur-Rahman (of 'Aisha's narration) and he said, 'i have not heard of such information, but I heard learned men saying that all the people, except those whom 'Aisha mentioned and who used to assume lhram for the sake of Manat, used to perform Tawaf between Safa and Marwa.

When Allah referred to the Tawaf of the Ka'ba and did not mention Safa and Marwa in the Quran, the people asked, 'O Allah's Apostle! We used to perform Tawaf between Safa and Marwa and Allah has revealed (the verses concerning) Tawaf of the Ka'ba and has not mentioned Safa and Marwa. Is there any harm if we perform Tawaf between Safa and Marwa?' So Allah revealed: "
Verily As-Safa and Al-Marwa are among the symbols of Allah." Abu Bakr said, "It seems that this verse was revealed concerning the two groups, those who used to refrain from Tawaf between Safa and Marwa in the Pre-lslamic Period of ignorance and those who used to perform the Tawaf then, and after embracing Islam they refrained from the Tawaf between them as Allah had enjoined Tawaf of the Ka'ba and did not mention Tawaf (of Safa and Marwa) till later after mentioning the Tawaf of the Ka'ba.'


BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 710:
Narrated 'Asim:
I asked Anas bin Malik: "Did you use to dislike to perform Tawaf between Safa and Marwa?" He said, "
Yes, as it was of the ceremonies of the days of the Pre-lslamic period of ignorance, till Allah revealed: 'Verily! (The two mountains) As-Safa and Al-Marwa are among the symbols of Allah. It is therefore no sin for him who performs the pilgrimage to the Ka'ba, or performs 'Umra, to perform Tawaf between them.' " (2.158)


Jika muhammad dengan seenaknya mensabotase simbol-simbol pagan menjadi simbol allah, dan TANPA MERASA BERSALAH mengikuti puasa pagan, Ashura, MAKA sangat besar KEMUNGKINAN sebelum haji muhammad yang terakhir, MUHAMMAD BUGIL bersama para pagan bugil melakukan ritual haji!

Tanggapan :

Dari beberapa hadist yang diajukan tidak ada satupun yang bisa dijadikan sandaran/bukti Kuat bahwa Nabi Muhammad sebelumnya pernah melakukan Thawaf telanjang.

Hadist hadist tersebut hanya menunjukan Adanya orang Arab Jahiliyah yang melakukan Thawaf secara telanjang ,dan kemudian kebiasaan buruk tersebut dilarang oleh Nabi Muhammad saw.

Agar lebih jelas saya akan menyampaikan hadist yang subtansinya dijadikan dasar tuduhan para Kufar tersebut dengan menyampaikan dalam bahasa Asalnya plus terjemahan bahasa indonesia.

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ قَالَ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَمِّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ

بَعَثَنِي أَبُو بَكْرٍ فِي تِلْكَ الْحَجَّةِ فِي مُؤَذِّنِينَ يَوْمَ النَّحْرِ نُؤَذِّنُ بِمِنًى أَنْ لَا يَحُجَّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ وَلَا يَطُوفَ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ثُمَّ أَرْدَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا فَأَمَرَهُ أَنْ يُؤَذِّنَ بِبَرَاءَةٌ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ مَعَنَا عَلِيٌّ فِي أَهْل مِنًى يَوْمَ النَّحْرِ لَا يَحُجُّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ وَلَا يَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ

Telah menceritakan kepada kami [Ishaq] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim] berkata, telah menceritakan kepada kami [anak saudara Ibnu Syihab] dari [Pamannya] berkata, telah mengabarkan kepadaku [Humaid bin 'Abdurrahman bin 'Auf] bahwa [Abu Hurairah] berkata, "Pada hari Nahr (Idul Adlha) Abu Bakar mengutusku kepada para pemberi pengumuman saat pelaksanaan haji, di Mina kami umumkan bahwa orang Musyrik tidak boleh berhaji setelah tahun ini dan tidak boleh thawaf dengan keadaan telanjang." Humaid bin 'Abdurrahman berkata, "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membonceng Ali pada tunggangannya dan memerintahkannya untuk mengumumkan surat Al Bara'ah (At-Taubah)." Abu Hurairah berkata, "'Ali lalu mengumumkan bersama kami pada penduduk Mina di hari Nahar, bahwa orang Musyrik tidak boleh berhaji setelah tahun ini dan tidak boleh thawaf dengan keadaan telanjang."[HR Bukhori no :356 Bab Shalat )

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأَخْبَرَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ

بَعَثَنِي أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي تِلْكَ الْحَجَّةِ فِي الْمُؤَذِّنِينَ بَعَثَهُمْ يَوْمَ النَّحْرِ يُؤَذِّنُونَ بِمِنًى أَنْ لَا يَحُجَّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ وَلَا يَطُوفَ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ قَالَ حُمَيْدٌ ثُمَّ أَرْدَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَأَمَرَهُ أَنْ يُؤَذِّنَ بِبَرَاءَةَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ مَعَنَا عَلِيٌّ فِي أَهْلِ مِنًى يَوْمَ النَّحْرِ بِبَرَاءَةَ وَأَنْ لَا يَحُجَّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ وَلَا يَطُوفَ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ

Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] Telah menceritakan kepada kami [Al Laits] Telah menceritakan kepadaku ['Uqail] [Ibnu Syihab] berkata; Maka telah mengabarkan kepadaku [Humaid bin 'Abdur Rahman] bahwa [Abu Hurairah] berkata; Abu Bakr mengutusku pada haji tersebut, tepatnya pada hari kurban untuk mengumumkan bersama orang-orang di Mina bahwa tidak boleh orang musyrik melakukan haji setelah tahun tersebut, dan tidak boleh orang telanjang melakukan thawaf di Ka'bah." Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di bonceng oleh Ali bin Abu Thalib, lalu beliau menyuruhnya untuk mengumumkan mengenai ayat Bara'ah. Abu Hurairah berkata; Maka Ali bersama kami mengumumkan di Mina pada hari kurban mengenai ayat Bara'ah dan orang musyrik tidak boleh melakukan haji setelah tahun tersebut, dan orang telanjang tidak boleh melakukan thawaf di Ka'bah."

Dan sangat jelas tuduhan tersebut dasar utamanya adalah ASUMSI,hingga Rebecca dalam postingannya menyatakan :

MAKA sangat besar KEMUNGKINAN sebelum haji muhammad yang terakhir….

Asumsi tersebut sesungguhnya membuktikan bagaimana kepicikan hati dan pengetahuan mereka .

Kalau saja mereka ‘mau serius’ mempelajari hadist hadist lain yang membahas tentang adanya “thawaf telanjang’ pada masa Jahiliyah,maka tuduhan tersebut sama sekali tidak pantas disampaikan.

Untuk lebih jelas lagi saya akan menyampaikan HADIST lain yang membuktikan Bahwa Nabi muhammad Saw tidak pernah melakukan Thawaf secara telanjang

PERHATIKAN SECARA SEKSAMA HADIST INI !!

حَدَّثَنَا فَرْوَةُ بْنُ أَبِي الْمَغْرَاءِ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ قَالَ عُرْوَةُ كَانَ النَّاسُ يَطُوفُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ عُرَاةً إِلَّا الْحُمْسَ وَالْحُمْسُ قُرَيْشٌ وَمَا وَلَدَتْ وَكَانَتْ الْحُمْسُ يَحْتَسِبُونَ عَلَى النَّاسِ يُعْطِي الرَّجُلُ الرَّجُلَ الثِّيَابَ يَطُوفُ فِيهَا وَتُعْطِي الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ الثِّيَابَ تَطُوفُ فِيهَا فَمَنْ لَمْ يُعْطِهِ الْحُمْسُ طَافَ بِالْبَيْتِ عُرْيَانًا وَكَانَ يُفِيضُ جَمَاعَةُ النَّاسِ مِنْ عَرَفَاتٍ وَيُفِيضُ الْحُمْسُ مِنْ جَمْعٍ قَالَ وَأَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ نَزَلَتْ فِي الْحُمْسِ

{ ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ }

قَالَ كَانُوا يُفِيضُونَ مِنْ جَمْعٍ فَدُفِعُوا إِلَى عَرَفَاتٍ

Telah menceritakan kepada kami [Farwah bin Abu Al Maghra'] telah menceritakan kepada kami ['Ali bin Mushir] dari [Hisyam bin 'Urwah], ['Urwah] berkata: "Pada masa Jahiliyah orang-orang melakukan thawaf dengan telanjang kecuali Al KHUMS dan istilah Al KHUMS adalah orang-orang Quraisy dan keturunan mereka. Dahulu Al Humus membeda-bedakan manusia, diantara kaum lelakinya ada yang memberi pakaian kepada kaum lelaki sehingga dia thawaf mengenakan pakaian, begitu juga diantara wanitanya memberi pakaian kepada para wanita sehingga dia thawaf dengan pakaian itu. Sedangkan bagi orang yang tidak diberi pakaian oleh Al Humus (quraisy) maka dia thawaf dengan telanjang. Rambongan orang-orang biasanya bertolak dari 'Arafah sedangkan Al Humus (quraisy) dari Jama', atau Muzdalifah. Dia berkata; bapakku telah mengabarkan kepada saya dari ['Aisyah radliallahu 'anha] bahwa ayat ini (QS Al Baqarah ayat 199) turun tentang Al Humus (yang artinya): ("Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang banyak"). 'Urwah berkata: "Awalnya mereka selalu bertolak dari Jama', kemudian diperintahkan bertolak dari 'Arafah".[HR Bukhori,Kitab Haji ]

و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

كَانَتْ الْعَرَبُ تَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرَاةً إِلَّا الْحُمْسَ وَالْحُمْسُ قُرَيْشٌ وَمَا وَلَدَتْ كَانُوا يَطُوفُونَ عُرَاةً إِلَّا أَنْ تُعْطِيَهُمْ الْحُمْسُ ثِيَابًا فَيُعْطِي الرِّجَالُ الرِّجَالَ وَالنِّسَاءُ النِّسَاءَ وَكَانَتْ الْحُمْسُ لَا يَخْرُجُونَ مِنْ الْمُزْدَلِفَةِ وَكَانَ النَّاسُ كُلُّهُمْ يَبْلُغُونَ عَرَفَاتٍ قَالَ هِشَامٌ فَحَدَّثَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ الْحُمْسُ هُمْ الَّذِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِمْ

{ ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ }

قَالَتْ كَانَ النَّاسُ يُفِيضُونَ مِنْ عَرَفَاتٍ وَكَانَ الْحُمْسُ يُفِيضُونَ مِنْ الْمُزْدَلِفَةِ يَقُولُونَ لَا نُفِيضُ إِلَّا مِنْ الْحَرَمِ فَلَمَّا نَزَلَتْ

{ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ }

رَجَعُوا إِلَى عَرَفَاتٍ

Dan Telah meceritakan kepada kami [Abu Kuraib] Telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] Telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari [bapaknya] ia berkata; Orang-orang Arab zaman dahulu thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang bulat, kecuali Al Khums. Al Khums ialah orang-orang Quraisy dan turunannya. Orang-orang Arab itu thawaf dalam keadaan telanjang, kecuali apabila mereka diberi pakaian oleh orang Quraisy, yang laki-laki memberi pakaian kepada yang laki-laki dan perempuan kepada perempuan. Orang-orang Quraisy tidak berangkat dari Muzdalifah, tetapi orang banyak semuanya pergi ke 'Arafah. Hisyam berkata; telah menceritakan kepadaku bapakku, dari [Aisyah] radliallahu 'anha, ia berkata; Al Hums adalah orang-orang Quraisy yang menyebabkan Allah menurunkan ayat pada mereka, "Kemudian berangkatlah kamu dari tempat berangkatnya orang banyak..." (Al Baqarah: 199). Aisyah berkata; Orang banyak berangkat dari Arafah, sedangkan mereka (Al Hums) berangkat dari Muzdalifah. Kata mereka, "Kami tidak akan berangkat melainkan dari tanah haram." Maka ketika ayat di atas turun, mereka sama-sama pergi ke Arafah.[HR Muslim Kitab Haji]

Kesimpulannya

Dengan melihat bukti hadist sahih yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim,maka jelas tuduhan para kufar adalah tuduhan ngawur.


karena sangat jelas bahwa dalam 2 hadist tersebut ada kelompok dari orang Arab yang tidak ikut ikutan Thawaf telanjang,memberi baju kepada orang orang Arab lainnya yang melakukan Thawaf secara telanjang dan kelompok tersebut adalah Alkhums,yaitu : orang-orang Quraisy dan turunannya.

dan fakta TAK TERBANTAHKAN bahwa nabi Muhammad Saw adalah termasuk dari bagian kelompok Alkhums tersebut. jadi tuduhan mereka tidak sesuai dengan fakta dan data hadist tersebut .

Tuduhan yang mencerminkan hati mereka terkuasai oleh kebencian yang luar biasa terhadap Junjungan kita nabi Muhammad saw.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca untuk menepis FITNAH dari para KUFAR

Wassalam

Id amor

All about Tabari, menjawab fitnah FFI

0
Secara historis, masa hidup al-Tabari sarat dengan aroma peradaban Islam di panggung sejarah, wilayah Islam telah menyebar di belahan dunia, para ilmuwan dengan berbagai disiplin ilmu yang mereka kuasai turut membentuk cara pandang masyarakat Islam dimana mereka berdomisili. Gerakan keilmuan yang “murni” ilmiah hingga yang telah “terpolusi” dengan aktivitas politik turut memberikan andil besar dalam bentukan sejarah peradaban Islam pada saat itu, bermula dari disiplin ilmu hadis, yang pada gilirannya banyak memunculkan varian keilmuan lainnya, seperti fiqh, tafsir, rija>l al-hadi>s| dan sejarah, meski belum nampak jelas corak independensinya.
Sementara pada saat yang sama, sejumlah mazhab fiqh dan tafsir bermunculan tidak hanya di satu wilayah, tetapi ke berbagai wilayah yang dahulu pernah dibangun oleh para faqih (ahli fiqh) sebelumnya, sebagai suatu upaya memperluas fondasi sunnah dan fiqihnya. Itulah sebabnya para pengikut mazhab tak henti-hentinya untuk mencari dan mengumpulkan hadis sebanyak-banyaknya dengan target mampu mengkompilasi hadis hasil temuan mereka, yang tentu saja memiliki banyak corak dan bentuknya. Institusi-institusi keagamaan yang bersifat kajian yang berada di Bagdad, Kufah, Ray, Naisabur, Siria dan Mesir serta kota-kota penting lainnya dipenuhi oleh ahli hadis. Indikasi keberhasilan mereka dibuktikan dengan munculnya kitab-kitab yang memiliki banyak ragam karakteristik seperti kita kenal seperti sekarang ini, seperti kitab Ja>mi’, Musnad, S}ah}i>h}, Mustadrak, Musannaf dan sebagainya.
Sebenarnya terdapat kecenderungan komunitas muslim awal pada awal sejarah Islam, yaitu munculnya paham Syi’ah yang cenderung kepada Ali as. sampai pada doktrin-doktrin ekstrem kaum Gulat dan beberapa sekte lainnya seperti Zaidiyah, Imamiyah dan Isma’iliyah. Di sisi lain, kelompok Khawarij yang muncul sejak terjadinya perang Siffin dan Nahrawan. Dan kelompok lain yang populer dalam sejarah Islam adalah kelompok Murji’ah – meski tak sepopuler kelompok-kelompok sebelumnya – yang mulai membentang sayap pengaruhnya pada akhir abad I H dan abad II H. Sementara muncul kecenderungan lain, yang kita kenal dengan kelompok Ahl al-Sunnah, yang dipropagandakan oleh kaum Usmaniyah dan Amawiyah atas nama penguasa yang didirikan Mu’awiyah dan para pendukung beratnya. Ciri utama doktrin ini adalah kepercayaan pada superioritas relatif ketiga Khalifah pertama sesuai kronologi suksesi kepemimpinan dan penolakan terhadap ‘Ali sebagai khalifah yang sah dan perbedaan pendapatnya dengan Ahl al-Bayt.
Namun, kontroversial tak terhindarkan dengan doktrin kaum penguasa adalah keyakinan para fuqaha’ dan ahl al-hadis di Hijaz dan Irak, juga Iran yang tidak mengambil doktrin ‘Usmani dan sangat menghormati Ali.9 Hal ini mengindikasikan secara kuat kecenderungan yang berlangsung pada saat itu, kareana Usmaniyah menuduh setiap orang yang meriwayatkan apa saja yang datang dari Ali sebagai Syi’i atau Rafidi (‘Alid extremists).
Pada dasarnya istilah Ahl al-Sunnah tidak digunakan untuk menunjukkan identitas sektarian seseorang sebelum tahun 150 H (767M) dan barangkali baru sekitar tahun 200 H (815 M) dan setelahnya barulah istilah ini mulai memiliki pengertiannya seperti sekarang. Dengan demikian, Ahl as-Sunnah sebagai suatu kelompok religius melambangkan sebuah kecenderungan baru dalam beragama di kalangan masyarakat umum yang menolak semangat Usmani yang lebih dulu berkembang, sekitar abad 3 H (9 M).
Situasi berubah lebih memanas, ketika Khalifah al-Ma’mun berkuasa (awal abad 3 H/9), terjadilah kebangkitan Syi’i dan ‘Usmaniyah, yang pada saat itu muncul dalam bentuk kelompok Ahl al-Hadis dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, bahkan berlanjut hingga masa al-Mutawakkil (232/846), tampillah pembela Ahl al-Hadis dengan Ahmad bin Hanbal sebagai figur utamanya, sehingga gebyar sejarah semakin semarak yang melakukan perlawanan terhadap paham Syi’i dan I’tizal – kemudian menjadi mazhab Mu’tazilah - dan lantaran itulah muncul kelompok garis keras Ahl al-Hadi>s| yang selanjutnya dikenal dengan predikat Hanabilah atau kelompok Hanbali (pengikut setia Imam Ahmad bin Hanbal). Kemudian kelompok ini menjadi salah satu aliran pemikiran utama di Bagdad pada era al-Tabari, dan pada gilirannya terlibat konflik yang cukup hebat dengan al-Tabari.
Deskripsi singkat tentang situasi Bagdad pada masa al-Tabari, dicatat oleh al-Maqdisi dalam Ahsan al-Taqa>sim, halaman 126 dengan ungkapannya: “… dan di Bagdad didominasi kaum ekstremis yang amat menentang kecintaan kepada Mu’awiyah, Musyabbihah (paham antropomorfisme) dan Barbahariyah” 10
Implikasi dari perebutan pengaruh dan dominasi doktrin inilah, akhirnya mayoritas penduduk Bagdad sangat kental dengan paham Hanbali, meski tetap diakui juga kelompok Mu’tazilah dan Syi’ah masih tetap eksis, kendatipun dalam posisi lemah yang tidak cukup memiliki kekuatan. Tetapi pada masa-masa berikutnya ketika kelompok Syi’ah telah menunjukkan kekuatannya baru muncullah perlawanan serius yang menentang kaum Hanbali.
Karya Tabari:
a. Zayl al-Muzayyil (setelah 300 H), mengenai riwayat para sahabat dan tabi’in
b. Ta>ri>kh al-Umam wa al-Muluk (294 H), kitab sejarah yang amat terkenal
c. Tahzib al-Asar
Sejumlah buku yang belum sempat terpublikasikan antara lain:
1. Ahkam syara’I al-Islam
2. ‘Ibarat al-ru’ya
3. Al-Qiyas (yang direncanakan pada akhir hayatnya)
Tafsir al-Tabari, dikenal sebagai tafsir bi al-ma’sur, yang mendasarkan pada dominasi riwayat-riwayat otoritas-otoritas awal, tetapi biasanya tidak memeriksa rantai periwayatannya meskipun dia kerap memberikan kritik sanad dengan melakukan ta‘dil dan tajrih tentang hadis-hadis itu sendiri tanpa memberikan paksaan apapun kepada pembaca.32 Dalam kenyataannya penggunaan ra’yu tak terhindarkan, ketika harus menetapkan pilihan dalam usaha ketepatan dalam memaknai suatu ayat.
http://www.islamic-shield.com/2007/12/t ... is-it.html

Tareekh At-Tabari - How Reliable is it?
The following reply was directed towards the Shia, however, it is a great reply to those who post 'verses' from Tabari to ridicule Islam.

In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful.

All Praise is due to Allah, Lord of all the worlds.

Tareekh at-Tabari was a voluminous text compiled by Imam Ibn Jarir at-Tabari (may Allah be pleased with him). Imam at-Tabari followed the classic methodology of early Islamic historians, a process which differed greatly from modern day historical writers. Islamic historians would simply compile all the known narrations about a certain event, regardless of how authentic or reliable each of those narrations were. They would copy the Isnads (chains of transmitters) into their books, in order that the Muhaditheen (scholars of Hadith) could determine which narration was Sahih/Hasan (authentic/good) and which was Dhaeef (weak) or even Mawdoo (fabricated). In other words, the historians compiled the narrations, and the Muhaditheen authenticated them.
Therefore, based on the above, we find that Tareekh at-Tabari is simply a collection of narrations on certain events; some of these narrations are accurate, whereas others are not. The authenticity of each narration depends on the Isnad (chain of transmitters): if the narration was transmitted by reliable narrators, then it would be accepted as valid, but if it was transmitted by unreliable people, then the narration was to be disregarded. As such, we find that it is ignorant of the enemies of Islam that they assume that we Sunnis accept every narration in Tareekh at-Tabari as valid, when in fact this is not the case nor has any Sunni scholar ever accepted this–not even Imam at-Tabari himself! Imam at-Tabari clearly says in the introduction of his book that the narrations found in his book are only as good as the people who narrate them. If the compiler of the book does not view all of the narrations as authentic, then it is indeed absurd for the Shia to assume that we accept each and every single narration in Tareekh at-Tabari. Tabari says in a disclaimer in the introduction of his book:

I shall likewise mention those (narrators) who came after them, giving additional information about them. I do this so that it can be clarified whose transmission (of traditions) is praised and whose information is transmitted, whose transmission is to be rejected and whose transmission is to be disregarded…The reader should know that with respect to all I have mentioned and made it a condition to set down in this book of mine, I rely upon traditions and reports which have been transmitted and which I attribute to their transmitters. I rely only very rarely upon (my own) rationality and internal thought processes. For no knowledge of the history of men of the past and of recent men and events is attainable by those who were not able to observe them and did not live in their time, except through information and transmission produced by informants and transmitters. This knowledge cannot be brought out by reason or produced by internal thought processes. This book of mine may contain some information mentioned by me on the authority of certain men of the past, which the reader may disapprove of and the listener may find detestable, because he can find nothing sound and no real meaning in it. In such cases, he should know that it is not my fault that such information comes to him, but the fault of someone who transmitted it to me. I have merely reported it as it was reported to me.

(Tareekh at-Tabari, Vol.1, Introduction)

Imam at-Tabari’s book was simply an attempt to place Hadiths into a chronological order so that they would read out like a historical narrative; therefore, Tabari–like Ibn Ishaq–did a wonderful job of creating one of the first books which placed Hadiths in a chronological order. However, Imam at-Tabari only placed them in the right order, but he did not authenticate them, nor did he claim that. It should be known that to the Sunnis, the only two books of Hadith which are considered completely authentic are the Sahihayn (Bukhari and Muslim). After these two books, there are four other books which are considered reliable, but which contain some authentic and some unauthentic Hadiths. As for Tareekh at-Tabari, it is considered less reliable than any of these six books of Hadith! Tareekh at-Tabari is not even a book of Hadith, but it is lower than that: it is a book of history, and as is well-known, the scholars of Hadith would criticize the historians for their lack of scruples when it came to using weak narrations.

Therefore, it is not at all surprising that Tareekh at-Tabari would contain some narrations that the Shia would use against us; this was a consequence of Imam at-Tabari’s decision to compile both Sunni and Shia narrations, without commenting on their authenticity. Of course, the accusations against Imam at-Tabari that he was a Shia Rafidhi were one hundred percent incorrect; there is no doubt that Imam at-Tabari was a very respectable Imam of the Sunnis. He merely included Shia narrations/narrators based on the tradition of Islamic historians to simply compile Hadiths and to leave the authenticating to the Muhaditheen. So while we do not question the “Sunni-ness” of Imam at-Tabari, we bring up the point that people accused him of being a Shia Rafidhi to prove that the narrations found in Tareekh at-Tabari were never accepted by the mainstream Muslims as being one hundred percent authentic, and whoever would claim such a thing is a liar. The Shia narrations found in Tareekh at-Tabari were rejected back then, as they are now.

Not only did Imam at-Tabari include Shia narrations in his book, but he also included Christian and Zoroastrian accounts. This was in line with his belief of compiling a “balanced” book that would document all the various accounts from a variety of segments of the society. It is for this reason that some of the narrations in his book with regards to the story of Creation are not in line with the Islamic belief. Indeed, as we have stated repeatedly, not all the narrations in Tareekh at-Tabari can be accepted.

The Shia are allied with the other enemies of Islam when they use weak narrations in Tareekh at-Tabari in order to attack the mainstream Muslims. It was, after all, Salman Rushdie who used a narration in Tareekh at-Tabari to prove the story of the “Satanic verses.” And yet, we know that even though this narration is found in Tareekh at-Tabari, it is unauthentic as mentioned by Ibn Katheer and others.

To conclude, we say as Ibn Katheer said:

In these volumes, he [Tabari] reported the various narrations as they were transmitted and by whom. His discussion is a mixed bag of valuable and worthless, sound and unsound information. This is in keeping with the custom of many Hadith scholars who merely report the information they have on a subject and make no distinction between what is sound and what is weak.

(Ibn Katheer, al-Bidayah wa al-Nihayah, Vol.5, p.208)

As for the narration in Tareekh at-Tabari that the questioner mentioned, it is undoubtedly unauthentic. We will expound on this in a later article, Insha-Allah.

And Allah is the Source of all Strength

IMAM TABARI’S STRANGE CONFESSION: “I am writing this book as I hear from the narrators. If anything sounds absurd, I should not be blamed or held accountable. The responsibility of all blunders rests squarely on the shoulders of those who have narrated these stories to me.” So, Tabari wrote nothing but hearsay. Mazhabi Dastanain Aur Un Ki Haqeeqat by Allama Habib-ur-Rahman Siddiqui Kandhalwi, Ar-Rahman Publishing Trust, Karachi
Tareekhil Umam Wal Mulook (The History of Nations and Kings) popularly called “The Mother of All Histories” is the first ever “History of Islam” written by ‘Imam’ Tabari (839-923 CE) at the junction of the third and fourth century AH. He died in 310 AH, three centuries after the exalted Prophet. What were his sources? Not a scrap of paper! “He told me this who heard it from him who heard it from her and she heard it from so and so,” and so on. By compiling his 13 Volume History and his 30 Volume Exposition of the Quran under royal patronage, Tabari became the Super Imam. The later historians until this day have persisted in following the trails of the Super Imam. Imam Zahri Wa Imam Tabari, Tasweer Ka Doosra Rukh by Muhaddith-ul-‘Asr Jaame’-ul-‘Uloom Hazrat Allama Tamanna Imadi Phulwari, Ar-Rahman Publishing Trust, Karachi

IMAM IBN KATHIR’S CONFESSION: “Had Ibn Jareer Tabari not recorded the strange reports, I would never have done so.” Tafseer Ibn Katheer, Khilaafat-e-Mu’awiya-o-Yazeed, Mahmood Ahmed Abbasi

IMAM RAZI’S HORRIBLE CONFESSION: Most Muslims have heard of one of the most ancient and famous Tafseer-e-Kabeer (The Great Exposition of the Quran) by Imam Fakhruddin Razi. This Tafseer is one of the tops being followed by our Mullahs till this day. After writing his 300 volumes, ‘the great and authoritative’ Imam confesses: “All my intellectual and supposedly logical statements in the explanation of the Quran turned out to be lame. All the explanations of the Quran done by the so-called Imams (Tabari, Zamakhshari, Ibne Kathir, Bukhari, Muslim etc) are misguided and misleading. All of us were the tools of Satan. Our souls were polluted by our physical desires. All our endeavors and works of this world promise to bring upon us nothing but eternal humiliation, torture and doom.”
Hadith-Ul-Quran by Allama Inayatullah Khan Al-Mashriqi, 1954 edition, Pg 190.

banyaknya orang yang salah paham dengan kitab-kitab sejarah Islam. Kebanyakan orang menganggap bahwa kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para sejarawan muslim otomatis valid dan kuat data-datanya. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu.
Diantara kitab-kitab sejarah Islam itu terdapat karya-karya sejawaran yang sifatnya hanya mengumpulkan seluruh informasi sebuah peristiwa tanpa memperdulikan sahih dan tidaknya informasi tersebut.
Di samping itu, juga terdapat karya-karya yang hanya mementingkan alur cerita daripada kesahihan fakta dan validitas data. Para penulis sejarah yang termasuk dalam kategori ini di kenal dengan sebutan sejawaran akhbari, karena lebih banyak mengungkapkan informasi-informasi sejarah. Sudah barang tentu informasi dari kitab-kitab ini tidak bisa begitu saja dijadikan rujukan dalam penulisan sejarah.
“Hampir seluruh sejarawan Akhbari tidak luput dari penilaian para kritikus hadits. Hasilnya, mereka tidak hanya dinyatakan lemah dalam periwayatan hadits, tapi juga cenderung tendensius karena menganut ideologi-ideologi yang berkembang setelah masa fitnah” tegas pria alumnus Universitas Madinah ini.
Hal ini tidak mengherankan, karena seluruh sejarawan tersebut lahir setelah masa fitnah dan periode awal Bani Umayyah yang menandai kemunculan aliran-aliran ideologis dalam Islam, baik bermotif agama maupun politik, atau keduanya.
Asep juga menunjukkan kelemahan beberapa sejarawan akhbari seperti Muhammad ibn Sa’ib al-Kalbi (w.146H), Abu Mikhnaf Luth ibn Yahya (w.157H), dan Nashr ibn Muzahim al-Tamimi (w.212H). Menurutnya, mereka adalah sejarawan yang tendensius dan pengantut syi`ah fanatik. Afiliasi ideologis ini sangat berpengaruh terhadap bobot riwayat mereka. Tentang Ibn Sa’ib al-Kalbi misalnya, Ibn Hajar menyatakan dia adalah penganut syi`ah fanatik dan mendustakan riwayat. Abu Mikhnaf dinilai lebih parah lagi, bukan sekadar periwayatan haditsnya yang sangat lemah, melainkan juga riwayat sejarahnya.
Dalam karya DR. Yahya al-Yahya yang berjudul Marwiyyat Abi Mikhnaf fi Tarikh al-Thabari disimpulkan, bahwa Abu Mikhnaf adalah seorang penganut Syi`ah yang sangat fanatik, riwayatnya matruk (diabaikan), suka berdusta (kadzdzab), suka mencaci sahabat Nabi saw. dan banyak memalsukan riwayat atas nama perawi-perawi tsiqah (terpercaya). Sedangkan Ibn Muzahim adalah seorang penganut Syi`ah ekstrim fanatik. Al-Dzahabi menyebutnya "seorang penganut rafidhah ekstrim (rafidhi jalad). Menurut al-`Uqaili, Ibn Muzahim adalah penganut Syi`ah, riwayatnya tidak konsisten dan banyak kesalahan. Sedangkan menurut Abu Khaitsamah, dia banyak berbohong".
Padahal Abu ihnaf inilah sumber utama Tabari. para sejarawan ini sangat mengerti permasalahan riwayat sejarwan akhbari.
Oleh sebab itu, mereka membingkai periwayatan dari sejarawan Akhbari dengan perangkat yang sangat penting sehinga memungkinkan riwayat tersebut dapat dikritisi dengan mudah, yaitu isnad (mata rantai narator atau sumber yang menyampaikan riwayat). Ini berarti para sejarawan tersebut mengakui, riwayat-riwayat sejarawan Akhbari yang mereka kutip banyak yang tidak kuat, bahkan tidak benar, dan tidak layak dijadikan argumentasi untuk menyimpulkan sebuah fakta sejarah.Pengakuan Al-Thabari dalam menyikapi riwayat akhbari ini dalam pendahuluan karyanya, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, "Apabila ada berita tentang peristiwa yang dialami oleh sebagian generasi masa lalu yang disebut dalam karyaku ini yang tidak dapat diterima oleh pembacanya, atau dianggap berlebihan oleh pendengarnya, disebabkan tidak ada bukti yang mendukung autentisitasnya, ataupun tidak sesuai fakta. Maka katahuilah, berita itu bukan berasal dari kami, melainkan dari orang yang menyampaikannya kepada kami. Kami hanya mencantumkan sesuai yang disampaikannya kepada kami". siapa pun yang meneliti buku-buku sejarah Islam khususnya sejarah Islam klasik, akan menemukan banyak riwayat sejarah yang memang tidak jelas atau lemah sumbernya.
Penulis buku sejarah klasik – seperti al-Thabari, Ibn Sa`ad, dan lain-lainnya- sengaja mencantumkan berbagai riwayat dan sekaligus menjelaskan sumber masing-masing riwayat (sanad) tersebut. Dengan itu, pembaca diharapkan dapat menilai mana riwayat yang kuat dan mana yang lemah. Riwayat-riwayat itu tidak jarang saling bertentangan dan mustahil dikompromikan. Sejarawan yang baik dan ikhlas akan dengan mudah memilihnya. Jadi, tidak semua cerita yang dimuat kitab-kitab tersebut dapat diterima sebagai fakta sejarah Islam, melainkan sebagai informasi sejarah yang harus dikaji lagi dan diseleksi guna membangun konstruksi sejarah Islam yang valid dan kredibel”.
“Agar para peneliti sejarah tidak selalu terjebak dengan riwayat-riwayat akhbari tersebut, maka tidak salah kalau sekarang mulai dikembangkan penerapan metode kritik ahli hadits pada riwayat-riwayat sejarah Dengan begitu, riwayat-riwayat yang tidak jelas sumbernya dapat dihindari dalam karya-karya sejarah Islam. Meskipun tidak seketat kritik ilmu hadits, paling tidak metode ini akan mampu menyaring mana riwayat yang sahih, hasan, dan dhoif, dalam sebuah peristiwa sejarah.
Justru metode inilah yang sekarang sedang dikembangkan oleh para ahli sejarah Islam di Timur Tengah. Banyak karya sejarah Islam yang sudah lahir dari penerapan metode ini, misalnya karya Prof. DR. Akram al-Umari `Ashr al-Khilafah al-Rasyidah: Muhawalah li Naqd al-Riwayah al-Tarikhiyah wafq Manahij al-Muhadditsin (1995), karya DR. Muhammad Amahzun Tahqiq Mawaqif al-Shahabah fi al-Fitnah min Riwayat al-Imam al-Thabari wa al-Muhadditsin, karya Muhammad Abdullah al-Ghabban Fitnat Maqtal Utsman ibn Affan, karya Muhammad al-`Awaji Khilafat Utsman ibn Affan, karya Yahya al-Yahya Marwiyyat Abi Mikhnaf fi Tarikh al-Thabari, dan masih banyak karya-karya lainnya.
Gagasan penerapan metode ini tidak lepas dari peran Prof. DR. Akram al-Umari, yang dikenal paling gigih berupaya melakukan kajian-kajian mendalam terhadap riwayat-riwayat sejarah Islam klasik. Pengalamannya mengajar materi sejarah Islam di Universitas Baghdad dan Universitas Islam Madinah selama lebih dari tiga puluh tahun, telah menghasilkan puluhan tesis master dan disertasi tentang kajian sejarah Islam dari sejumlah mahasiswa pasca sarjana yang dibimbingnya. Karya-karya itu telah menggeser dan mencounter tulisan-tulisan sejarah Islam sebelumnya yang cenderung memojokkan Islam dan tokoh-tokohnya. Seperti karya-karya yang disebutkan di muka -karya Dr. Amazhun, Al-Ghabban, Al-Awaji dan Al-Yahya- merupakan karya yang menjelaskan fitnah di sekitar pembunuhan Khallifah Utsman bin Affan R.A.
Dari karya-karya tersebut dapat diketahui banyaknya riwayat-riwayat palsu yang bersumber dari para pembenci sahabat Rasulullah SAW. dan khususnya Utsman RA. Sehingga tidak heran jika beliau digambarkan sangat buruk dalam kepemimpinannya.
Sayangnya, tegas Asep Sobari, karya-karya seperti ini tidak banyak beredar di Indonesia sehingga pandangan sejawaran Islam Indonesia tidak banyak berubah terhadap para sahabat Nabi, khususnya Khalifah Usman. Hal ini bisa dilihat dari kata-kata mereka ketika mengomentari buku Kebenaran yang Hilang, karya Farag Fouda.
Buku yang jelas-jelas menghina Khalifah Utsman dan para sahabat lainnya ini, mereka justru memberinya sederet apresiasi tinggi sebagai karya yang kritis, obyektif, autentik dan komprehensif. Bahkan mengharuskan masyarakat muslim Indonesia meminjam “kaca mata kuda” Fouda untuk memahami sejarah Islam.
Padahal jelas-jelas dari hasil kajian Asep Sobari, buku ini tidak layak disebut karya ilmiah, karena penuh dengan pemalsuan data, sembrono mengambil riwayat dan cenderung memfitnah para sahabat. Semoga kita diselamatkan dari orang-orang yang dzolim. (MM)


sumber:answering-ff.org

Siapakah Muhammad Ibn Abdullah .....?

0

Muhammad adalah seorang manusia, Agung dalam segala hal

Oleh: DR. Yahya Ibrahim Yahya

Beliau agung dalam segala hal .....
agung dalam segala kesempatan dan tempat, agung dalam akhlaknya.

“Rasulullah Saw. tidak pemarah”.

“Rasulullah Saw. tidak pernah mengingkari janji”.

“Rasulullah Saw. tidak pernah mempersulit dirinya”.

“Rasulullah Saw. Tidak pernah berdusta”.

Sebelum di utus menjadi Nabi beliau sudah di kenal dengan kejujurannya, setelah beliau di utus Aisyah menyebutnya sebagai orang yang terpercaya dia mengatakan: “akhlak beliau adalah al Qur’an”. (HR. Imam Ahmad ,25302) sanadnya shahih dengan syarat Bukhary dan Muslim.

Agung dalam hal berpolitik, suatu hari beliau bersabda setelah perang khandaq, “hari ini kita memerangi mereka dan mereka tidak akan memerangi kita” (HR. Bukhary, 4109-4110).

Agung sifat ruhaniyahnya, beliau melakukan shalat sampai memar, bengkak kedua kakinya, kemudian beliau bersabda: “apakah aku bukan hamba yang bersyukur??”. (HR. Bukhary dan Muslim).

Agung ketika memaafkan musuh-musuhnya,” silahkan kalian pergi karena kalian bebas”, hadits ini di lemahkan oleh Syekh al Bany dalam kitabnya as Silsilatu dhaifah (silsilah hadits lemah) (1163).

Agung dalam menanamkan rasa optimis pada jiwa manusia,: “ Demi Allah, hal ini pasti akan tercapai seperti tercapainya siang dan malam, sehingga seorang wanita keluar dari rasa bingung seorang diri kerumahnya dan dia tidak merasa takut kecuali kepada Allah Swt”. (HR. Ahmad (16957) sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim).

Agung atas keberaniannya, ketika beliau bersabda: “saya adalah seorang nabi dan bukan suatu kebohongan, saya cucu Abdul Muttalib”, pada perang Hunain”. (HR. Bukhary dan Muslim).

Agung dengan kemampuan beliau mengumpulkan manusia berada di sekitarnya, …….beliau mengetahui kemampuan yang dimiliki seorang manusia, beliau menempatkan setiap dari mereka yang sesuai dengan posisinya masing-masing.

Agung bersama para pemuda, beliau mengumpulkan para kaum muda sahabat-sahabat beliau dan mengadakan perlombaan memanah, beliau bersabda: “memanahlah wahai Bani ismail karena nenek moyang kalian adalah ahli dalam memanah, sedangkan saya bersama si fulan dan fulan melawan fulan dan fulan….maka senantiasa kelompok Rasulullah saw. Menyerang (memanah) sementara kelompok yang lain tidak menyerang, kemudian Rasulullah saw. Bertanya kepada mereka “ kepada kalian tidak menyerang”? lalu mereka menjawab: “ bagaimana kami bisa menyerang sementara anda ya Rasulullah bersama dengan mereka”, lalu Rasulullah saw. Bersabda: “ silahkan menyerang dan saya bersama dengan kalian semua”. (HR. Bukhary dan Muslim).

Agung di mata isteri beliau, kesaksian khadijah sebagai isteri beliau : “ sekali-kali tidak Demi Allah, Allah tidak akan menghinakan engkau sedikitpun”.

Muhammad Saw. adalah seorang pemaaf

Oleh: Syekh Faragh Hady

Siapa yang membaca dan meniliti sejarah kehidupan orang-orang besar dan para pemimpin yang telah meraih kemenangan setelah mengalami kekalahan, dia akan mendapati pada diri mereka satu sifat yang di miliki oleh mereka semua, tidak ada yang selamat dari sifat tersebut kecuali para Nabi yaitu sifat pembalasan dendam.

Akan tetapi Muhammad Saw. telah memberikan satu contoh yang sangat ideal ketika telah meraih kemenangan, walaupun beliau telah terusir dari Mekkah dan tertahan semua harta bendanya dan teraniya oleh penduduk mekkah dengan penganiyaan yang sangat pedih di permulaan kenabian beliau, akan tetapi setelah beliau meraih kemenangan, jiwanya yang agung dan akhlaknya yang mulia tidak memperkenankan untuk membalas dendam, bahkan beliau memaafkan setiap yang telah menzaliminya dan memaafkan setiap orang dengan pemaafan yang umum, sementara beliau mampu untuk membalas dendam kepada mereka dengan pembalasan yang pedih.

Beliau bersabda kepada mereka: “Pergilah kalian! Karena kalian bebas..”.

Demikianlah Islam telah mendidik Muhammad Saw. dan para pengikutnya dengan akhlak yang mulia ini, yang terbebas dari segala ikatan sifat egois. Bagaimana tidak, sementara kitabnya yang di turunkan kepadanya mengatakan: “ Jadilah engkau pemaaf! Dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. (QS. Al A’raaf: 199).

Muhammad Rasulullah Saw. adalah seorang yang menyukai kemudahan

Muhammad Saw. senang mempermudah urusan orang lain, dan tidak menyukai sikap keras terhadap orang lain dan mempersulit urusan mereka.

Beliau Saw. bersabda kepada para pengikutnya: “gembirakanlah mereka dan jangan bersikap keras terhadap mereka, mudahkanlah mereka dan jangan persulit”.

Beliau juga bersabda: “sesungguhnya kalian di utus untuk mempermudah mereka, dan kalian tidak di utus untuk mempersulit mereka”.

Adalah sebaik-baik teladan dalam hidup anda

Oleh : DR. Yahya Ibrahim Yahya

Hanya beliau dalam catatan sejarah yang menjadi suri teladan dalam segala aspek.

· Jika anda seorang hartawan, teladanilah Rasulullah Saw. Ketika beliau berdagang dengan membawa barang dagangan antar Hijaz dan Syam, dan menguasai perbendaharaan Bahrain…

· Jika anda termasuk orang yang kurang mampu dalam hal materi, maka ikutilah Rasulullah Saw. Yang tereksklusif oleh rakyat Abi Thalib, ketika beliau meninggalkan tempat tinggalnya berhijrah ke Madinah beliau tidak membawa harta benda sedikitpun…

· Jika anda seorang penguasa maka ikutilah sunnah beliau dan perbuatan-perbuatannya, ketika beliau menjadi penguasa orang arab, beliau menguasai beberapa negeri dan menjadikan penguasa-penguasa mereka tunduk kepada beliau …, dan beliau adalah pemimpin pertama yang meletakkan dasar-dasar hidup kerukunan antar umat beragama yang terkenal dengan threaty madinah .

· Jika anda seorang rakyat lemah, anda bisa mengambil dari Rasulullah saw. Teladan yang baik, ketika beliau teraniaya di Mekkah di bawah kekuasaan orang-orang musyrik…

· Jika anda seorang pemenang, anda juga bisa mengambil contoh dari kehidupan Rasulullah saw. Ketika beliau menang melawan musuh-musuhnya pada perang Badar, Hunain dan fathu Makkah…

· Jika anda seorang yang kalah .., ambillah contoh dari Rasulullah Saw. Ketika beliau sedang berperang pada perang Uhud beliau berada di tengah-tengah sahabatnya yang terbunuh dan yang kelemahan karena terluka…

· Jika anda seorang pengajar, maka anda dapat mengambil contoh darinya, beliau mengajar para sahabatnya di mesjid… beliau adalah SANG GURU nan bijak .....

· Jika anda seorang murid yang terpelajar, maka anda dapat membayangkan bagaimana keadaan beliau ketika beliau berguru kepada Jibril as.

· Jika anda seorang penasihat dan pembimbing yang terpercaya, maka dengarkanlah Rasulullah saw. Ketika beliau menasihati para sahabatnya di masjid Nabawi…

· Jika anda seorang yatim piatu, ayah beliau meninggal ketika beliau masih di dalam kandungan, kemudian ibunya meninggal ketika masih berumur 6 tahun… dan beliau juga dipanggil dengan sebutan ayahnya anak-anak yatim .

· Jika anda seorang anak-anak, perhatikan ketika beliau masih kecil di susukan oleh Halimah Sa’diah dengan penuh kasih sayang…

· Jika anda seorang pemuda, maka bacalah perjalanan seorang penggembala Makkah…

· Jika anda seorang pedagang yang melakukan perjalanan membawa barang dagangan, maka perhatikanlah keadaan pemimpin kafilah yang hendak menuju Basrah…

· Jika anda seorang hakim, maka perhatikan kebijaksanaan beliau menangani permasalahan ketika para pembesar Makkah saling berselisih dan hampir berperang untuk memperebutkan meletakkan hajar aswad pada tempatnya, mari kita melihat bagaimana beliau menyelesaikan perkara dengan penuh kearifan ketika beliau berada di halaman mesjid Madinah, beliau tidak pilih kasih dan menyamakan hak antara orang kaya dan miskin.

· Jika anda seorang suami, maka bacalah sejarah dan kehidupan yang jujur dan adil terhadap suami Khadijah dan Aisyah, jika anda seorang ayah terhadap anak-anak anda maka belajarlah terhadap apa yang telah di lakukan oleh ayah Fatimah az Zahra atau kakek Hasan wal Husein…

Di posisi manapun anda dan bagaimanapun keadaan yang anda alami, siang dan malam yang anda lalui maka anda bisa mencontoh kehidupan Muhammad Saw. Sebagai petunjuk dan teladan yang baik yang dapat mencerahkan kehidupan anda, kemudian dapat memperbaiki urusan-urusan anda yang membingungkan. Beliau adalah pribadi yang agung di dunia ini.

Washalli llahumma 'ala sayyidina Muhammad wa'ala aalihi washahbihi wasallam tasliman katsiran..

Rasulullah Saw. adalah gambar bentuk aplikasi nyata terhadap agama ini

Rasulullah saw. Adalah gambaran aplikasi nyata bagi agama ini, bagaimana petunjuk beliau, perbuatannya, perintah dan larangannya.

Beliau melakukan perdamaian juga berperang, beliau tinggal juga melakukan perjalanan, beliau menjual juga membeli, beliau memberi dan menerima, beliau tidak hidup dengan sendiri, dan tidak melakukan perjalanan dengan sendiri.

Orang-orang islam tidak tertimpa musibah kecuali karna di sebabkan mereka lalai dari mengikuti Rasulullah saw., tidak mengambil petunjuk beliau, dan mengabaikan sunnah beliau dengan menambah-nambahi atau membuat jalan baru , sementara Allah swt. Telah menegaskan di dalam Al Qur’an dengan firmanNya “sungguh Rasulullah saw. Bagi kalian adalah suri tauladan yang paling baik ”.

Sebagian muslim hanya membaca sejarah Rasulullah saw. Di tempat-tempat pertemuan, di acara-acara tertentu dan tidak lebih dari itu, sementara yang di inginkan dari membaca sejarah Rasulullah saw. Ialah agar bisa di jadikan petunjuk dan bentuk aplikasi di dalam kehidupan ini, dan sebagian lagi ada yang membacanya hanya untuk mendapatkan berkah darinya, atau sekedar ingin mengetahui kejadian-kejadian di dalamnya, atau sekedar hanya untuk menghafal peperangan beliau, hari-harinya, utusan-utusan beliau, dan pasukan muslim yang di kirim ke negeri lain.

Hal ini semua mungkin di karenakan ketidak tahuan mengenai dasar bentuk bagaimana mengikuti Rasulullah saw., petunjuknya dan meneladaninya, dan tidak mengetahui bahwa hal ini adalah termasuk rukun kecintaan kepada Rasulullah saw. Atau tidak mengetahui hal-hal apa yang patut di contoh dari Rasulullah saw. Dari sejarah beliau, karena lemahnya kemampuan untuk mengeluarkan hukum dari hal tersebut atau karena kurang membaca kitab-kitab para alim ulama, dari sinilah pentingnya mengeluarkan pelajaran-pelajaran kemudian menyimpulkan faidah-faidah serta nasihat-nasihat melalui pelajaran sejarah Rasulullah Saw.

Sejarah Rasulullah saw. Di pelajari bukan untuk sekedar mengutip darinya kejadian-kejadian atau kisah-kisah yang terdapat di dalamnya, atau hanya untuk mengetahui tahun kejadian terjadinya kejadian-kejadian yang terdapat di dalamnya, atau membacanya hanya karena ingin mengetahui para pahlawan atau sang juara di dalamnya, hal tersebut adalah salah satu contoh mempelajari sejarah tanpa ingin mengambil faidah darinya, sementara seorang muslim mempelajari sejarah Nabi karena beberapa alasan, di antaranya :

Satu: Rasulullah saw. Adalah suri tauladan, hal tersebut merupakan hal yang harus di taati dan di ikuti, Allah swt. Berfirman : “ sesungguhnya telah ada pada diri Rasullah saw. Itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “. ( Q.S. al Ahzab ayat 21). Di dalam surah yang lain Allah Swt. Berfirman : “ dan jika kamu ta’at kepadanya niscaya kamu dapat petunjuk “. (Q S. an Nur ayat 54 ). Allah swt. Berfirman : “ barang siapa yang menta’ti Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah swt.”. (Q S. an Nisaa’ ayat 80 ). Allah swt. Berfirman : “ katakanlah : ‘jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. “ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. Ali’imran ayat 31 ).

Beliau adalah bentuk, gambar aplikasi nyata terhadap islam, tanpa mempelajari sejarah Rasulullah saw. Kita tidak tahu bagaimana menta’ati Allah dan menyembah-Nya.

· Dengan sejarah Rasulullah saw. Para da’i mengambil cara-cara berdakwah dan fase-fasenya, dengan hal tersebut mereka mengetahui (para dai) bagaimana kerja keras, kesungguhan Rasulullah saw. Berdakwah demi untuk menegakkan, meninggikan kalimat Allah swt. Dan bagaimana menyikapi kesulitan-kesulitan yang menghadang serta bagaimana sikap yang benar ketika berhadapan dengan ujian dan cobaan.

· Dengan mempelajarinya kita dapat mengetahui cara-cara pendidikan yang benar.

· Dengan mempelajarinya kita dapat mengetahui cara menjadi pemimpin yang benar.

· Dengan mempelajarinya kita dapat mengetahui cara hidup yang sederhana atau zuhud dan tujuannya.

· Dengan mempelajarinya kita dapat mengetahui cara berdagang yang baik, tatanannya.

· Orang-orang yang tertimpa ujian dapat mengambil faidah dari mempelajari sejarah Nabi Saw. Bagaimana tingkatan-tingkatan sabar dan tetap punya pendirian yang kuat dengan tetap berjalan sesuai dengan metode beliau dengan keyakinan kepada Allah swt. Bahwa kemenangan akan di raih oleh orang-orang yang bertakwa.

· Para alim ulama dapat mengambil faidah dari mempelajari sejarah Rasullah saw. Yaitu membantu mereka memahami kitab Allah Swt. Mereka mendapatkan di dalam sejarah tersebut ilmu-ilmu yang benar tentang ilmu-ilmu islam yang beraneka ragam. Dengannya mereka mengetahui ilmu naasikh wal mansuukh, asbabun nuzuul, dan ilmu-ilmu yang lain.

· Dengan sejarah Rasulullah saw. Seluruh umat secara universal dapat mengetahui akhlak dan etika-etika yang terpuji.

Oleh karena itu Ibnu katsir mengatakan: “ seni ini harus di perhatikan dengan baik, dan mengambil I’tibar dengan perintahnya, dan mempersiapkan diri untuk hal tersebut, sebagaimana yang telah di riwayatkan oleh Muhammad bin Umar al Waaqidy dari Abdullah bin Umar bi Aly dari Ayahnya aku mendengar Aly bin Husain berkata: “ kami mempelajari sejarah perjuangan Rasulullah Saw. Sebagaimana kami mempelajari surah dari Al Qur’an “. Al Waaqidy berkata: “ dan aku telah mendengar Muhammad bin Abdullah berkata: “ aku telah mendengar pamanku az Zuhry berkata: “ di dalam ilmu sejarah perjuangan Rasulullah saw. Terdapat ilmu dunia dan akhirat “.

Ismail bin Muhammad bin Sa’ad bin Abi waqqas berkata: “ ayahku telah mengajari kami Sejarah perjuangan Rasulullah saw. Dan berpesan kepada kami, dengan mengatakan: “ ini adalah karya nenek moyang kalian maka janganlah kalian menyia-nyiakan dengan tidak mengingatnya ”.

Sejarah telah mencatat berapa banyak orang hebat seperti raja, patriot, penyair dan filosof, namun siapa di antara mereka yang meninggalkan suri tauladan yang di teladani umat sedunia??? Sejarah telah selesai mencatat mereka tidak ada yang tersisa dari mereka sedikitpun, sekalipun sebagian dari mereka nama-namanya masih ada.

Banyak sejarah orang-orang besar yang hanya menjadi bahan tertawaan orang-orang di sepanjang sejarah : di mana raja Namrud yang telah berkata kepada Nabi Ibrahim as. “saya dapat menghidupkan dan mematikan”. (QS. Al Baqarah ayat 258 ). Dimana perkataan Fir’aun yang mengatkan: “ saya adalah tuhan kalian yang paling tinggi” ( QS. An Naazi’aat ayat 24 ). Dan dia berkata lagi : “ dan berkata Fir’aun: Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku ”. ( QS. Al Qashash ayat 38 ). Orang-orang tersebut yang telah menjadi orang hebat pada zamannya justru sekarang menjadi bahan cemohan dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak, orang dewasa, orang berilmu dan yang tidak berilmu, jika mereka dapat menipu dan menakut-nakuti kaum mereka di zamannya lalu kaumnya tunduk kepadanya, namun setelah mereka lengser dan hancur muncullah kebiadaban mereka, dan mereka menjadi bahan cemohan di sepanjang zaman.

Sesungguhnya sejarah Rasulullah Saw. Datang untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik dan akhlak serta kerusakan ibadah dan perbuatan kepada cahaya Tauhid, iman dan amal saleh , “Hai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi ”. (QS. Al Ahzaab ayat 45-46 ).

Kedua: kita mempelajari sejarah Nabi Saw. Agar makin bertambah iman dan keyakinan kita dengan kebenarannya. Dengan memperhatikan mukjizat beliau serta tanda-tanda kenabiannya membuat semakin bertambahnya iman dan keyakinan kita tentang kebenaran Rasulullah saw. Maka mempelajari sejarah Nabi Saw. Dan kejadian-kejadian yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah Nabi Saw. Dan kehidupan beliau secara sempurna, menunjukkan tentang kemuliaan beliau dan kebenarannya.

Ketiga: agar tertanam di hati kita rasa cinta, terhadap apa yang di catat oleh sejarah mengenai akhlak beliau yang mulia, interaksi beliau yang ramah, kesungguhan beliau agar manusia mendapatkan petunjuk untuk kebaikan mereka, beliau mengorbankan tenaga, harta dan jiwanya untuk mengeluarkan manusia dari alam kegelapan kepada alam yang penuh dengan cahaya (tauhid), membawa umatnya dari keadaan yang buruk menjadi keadaan yang bahagia, dan kesungguhan Rasulullah Saw. Untuk menjauhkan umatnya dari kesulitan yang di alami mereka dan menentramkannya.

Washalli llahumma 'ala sayyidina Muhammad wa'ala aalihi washahbihi wasallam tasliman katsiran..

Bagaimana sikap Rasulullah Saw. dalam bergaul dengan para isterinya

Mungkin kita bertanya bagaimanakah keadaan Rasulullah saw. Bersama para isterinya? Bagaimana sikap beliau dalam bergaul dengan mereka? Bagaimana sikap adil beliau terhadap mereka?

Rasulullah saw. Telah memberikan kebahagian kepada mereka semua, karena beliau sangat mengetahui bagaimana cara bergaul dengan seorang wanita, dan telah tertanam dalam jiwa beliau sifat kelembutan, beliau memanggilnya dengan penuh rasa kasih sayang dan membantunya bekerja untuk agama dan dunianya.

Bagaimanakah dengan mereka para isteri-isteri yang mulia tersebut…yang sebagai ibu para orang-orang mukmin..jika kita membuka kitab-kitab sejarah dan kitab-kitab yang menceritakan tentang isteri-isteri Rasulullah saw. Maka kita akan menemukan bahwa pada umumnya kitab-kitab tersebut menyebutkan bahwa sifat para isteri Rasulullah saw. Saling mempunyai kemiripin…yaitu banyak berpuasa dan bertanggung jawab..sebab mereka telah menikmati kedekatannya kepada Allah Swt. Dan munajatnya di waktu malam oleh karena itu mereka berhak mendapatkan kedudukan yang agung ini…mereka berhak menjadi ibu para mukmin, isteri-isteri tercinta Rasullah saw. Di dunia dan akhirat, mereka memperbaiki hubungan diantara mereka dan hubungannya dengan Allah Swt. Maka Allah Swt. Memperbaiki urusan dunia dan akhirat mereka.

Lantas bagaiman tentang kita, kita saling bersaudara??

Saya mengetahui bahwasanya kebanyakan yang membaca artikel saya adalah orang yang telah menikah, atau bahkan orang yang belum menikah dia memperhatikan kehidupan rumah tangga melalui kedua orang tuanya atau dari teman-temannya, kenapa jarang terdapat kebahagian dalam kehidupan rumah tangga sekarang? Apakah hal ini adalah suatu aib pada saat-saat sekarang ini? Sama sekali tidak…tapi yang cacat atau yang aib adalah diri kita masing-masing (laki-laki dan perempuan), kita sibuk dengan urusan materi dan peradaban,dan kita melupakan agama kita sendiri dan peradaban kita yang islami, kita semakin jauh dengan ajaran tuntunan Rasulullah saw. ..juga semakin jauh dari cinta Allah Swt. Kita melakukan maksiat secara diam-diam dan terang-terangan, kita tidak pernah sadar bahwa setiap kali kita melakukan maksiat, maka tidak akan terlepas dari pengawasan Allah Swt.

Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, sementara kita mengharapkan terciptanya kembali rasa cinta dalam kehidupan rumah tangga?

Caranya Cuma satu…yaitu cara Allah Swt. Dan Rasul-Nya….dengan cara tersebut kita akan menemukan kenikmatan dalam kehidupan rumah tangga dan arti kebahagian berumah tangga yang Allah Swt. Telah berikan, akan tetapi kita tidak mengetahui hal tersebut dan meninggalkannya.

Dari sini muncul ide saya wahai saudaraku untuk membuat rangkaian mengenai "Di rumah Rasulullah Saw." Saya hadiahkan bagi setiap suami dan isteri yang terjadi kerengganan di antara keduanya sementara keduanya mengharapkan terciptanya kembali rasa cinta diantara mereka..saya harap anda mengikuti rangkaian saya mengenai hal tersebut..! semoga Allah Swt. Membalas anda dengan kebaikan!

Washalli llahumma 'ala sayyidina Muhammad wa'ala aalihi washahbihi wasallam tasliman katsiran..

Keadilan Rasulullah saw. diantara isteri-isterinya

Adapun sikap adil beliau terhadap isteri-isterinya,gambarannya seperti yang telah saya paparkan sebelumnya mengenai keadilannya dalam hal cinta, keramahan, senda gurau, dan hal menepati janji, keadilan beliau muncul karena rasa tanggung jawab, dan dari fitrahnya terhadap kebenaran dan keadilan yang Allah Swt telah berikan kepadanya, dan beliau di utus dengan kedua hal tersebut.

1. Aisyah ra. Berkata: “wahai anak saudariku, Rasullah saw. tidak pernah melebihkan sebagian di antara kami dengan yang lain dalam hal pembagian di mana beliau akan tidur pada malam harinya, beliau senantiasa membagi waktunya untuk kami semua, beliau mendekati setiap isterinya tanpa ada sifat politisir, sehingga jatah hari untuk si dia (isterinya) telah sampai maka beliau saw. bermalam di tempatnya, Saudah binti Zam’ah ra. ketika telah berusia lanjut dan berniat untuk pisah (ranjang) dengan Rasulullah saw. dia berkata Wahai Rasulullah saw. berikanlah jatah hariku untuk Aisyah ra. Kemudian Rasulullah saw. menerima hal tersebut darinya…

(perawi: Aisyah ra., derajat hadits : sakata ‘anhu (Abu Daud tidak memberikan komentar) – beliau telah menjelaskan di dalam suratnya kepada orang-orang Mekkah bahwa hadits yang beliau tidak berikan komentar adalah hadits shoolih, al Muhaddits: Abu Daud, Sumber: Sunan Abu Daud, hal/no: 2135).

2. Keadilan Rasulullah saw. terhadap isteri-isterinya tidak pernah berubah dalam keadaan apapun baik ketika beliau dalam kondisi menetap atau sedang dalam perjalanan, bahkan keadilan beliau ketika sedang dalam perjalanan sama ketika beliau tidak melakukan perjalanan, sebagaimana yang telah di kisahkan Aisyah ra. Dia berkata: “ bahwasanya Rasulullah saw. ketika hendak melakukan perjalanan beliau mengundi nama isteri-isterinya, siapa di antara mereka yang keluar namanya maka dia yang akan menemani Rasulullah saw., beliau membagi untuk para isterinya waktunya, kecuali Sauda’ binti Zam’ah ra. dia memberikan jatah harinya kepada Aisyah ra. (Isteri Rasulullah saw). beliau melakukan hal tersebut demi untuk meraih ridho Rasulullah saw.

(perawi: Aisyah, hadits sahih, muhaddits: Imam Bukhary, sumber: al jaami’ Sshahih, hal/no: 2593).

Sauda’ binti zam’a melakukan hal tersebut ketika sudah tua, dan tidak ada hasrat lagi dengan laki-laki.

3. Diantara keadilan beliau terhadap isteri-isterinya yaitu ketika beliau menikahi seorang janda maka beliau tinggal bersamanya selama tiga hari untuk menyenangkannya, kemudian Rasulullah saw. membagi harinya untuk isteri tersebut seperti bagian jatah hari isteri-isteri yang lain, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Ummu Salamah ra. “ bahwasanya Rasulullah saw. tinggal bersamanya selama tiga hari, kemudianRasulullah saw. berkata kepadanya: “ jika kamu mau saya akan tinggal bersamamu selama tujuh hari, dan juga saya akan tinggal bersama mereka selama tujuh hari, dan jika kamu ingin saya akan tinggal bersamamu selama tiga hari, kemudian dia mengatakan: tiga hari”.

(perawi: Abu Bakar bin Abdurrahman, hadits sahih, muhaddits: Bukhary, sumber; Tarikh kabier, hal/no: 1/47).

4. Keadilan Rasulullah saw. terhadap isteri-isterinya sangat besar sehingga tidak ada yang tersia-siakan walaupun ketika beliau dalam keadaan sakit , beliau masih mengunjungi isteri-isterinya di rumah-rumah mereka sesuai dengan waktunya masing-masing, Ummul mukminin Aisyah ra. Berkata: “ ketika Rasulullah saw. sakit keras, beliau minta izin kepada para isterinya untuk di rawat di rumahku, lalu beliau di izinkan, lalu beliau keluar di antara dua laki-laki melangkahkan kedua kakinya di tanah, yaitu antara Abbas dan seorang laki-laki lain, lalu Ubaidillah ra. Mengatakan: aku mengatakan kepada Ibn Abbas ra. Apa yang telah di katakan Aisyah ra., kemudian dia mengatakan kepada saya : apakah kamu tahu siapa laki-laki yang tidak di sebutkan Aisyah ra. Tersebut? Aku menjawab: tidak, dia mengatakan : dia itu Ali bin Abi Thalib ra.

(perawi: Aisyah ra.,derajat hadits: hadits Sahih, muhaddits: Bukhary, Sumber: al Jaami’ shahih, hal/no: 2588).

5. Dalam satu riwayat, Aisyah ra. mengatakan: “bahwasanya Rasulullah saw. bertanya ketika beliau sedang sakit keras, beliau saw. mengatakan: di mana saya besok, di mana saya besok? Beliau menginginkan harinya Aisyah ra.(agar di rawat dirumahnya), kemudian para isterinya mengizinkan beliau untuk dirawat di manapun beliau kehendaki, maka beliau berada di rumahnya Aisyah ra. Sampai beliau wafat di sisinya…

(perawi : Aisyah ra., derajat hadits: sahih, Muhaddits: Bukhary, sumber: al Jaami’ Sahih, hal/no: 4450).

6. Bagaimanapun usaha keras Rasulullah saw. untuk selalu adil dengan seadil-adilnya dengan sesuai kemampuannya (dengan apa yang beliau miliki) terhadap isteri-isteri beliau, namun beliau tetap meminta ampunan kepada Allah Swt. Terhadap apa yang beliau tidak sanggupi, yang di luar dari kemampuan beliau, sebagaimana yang di katakan oleh Aisyah ra. : “Rasulullah saw. membagi waktunya dan adil, lalu beliau saw. berdo’a:” ya Allah inilah pembagianku yang sesuai yang aku miliki maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki dan aku tidak memilikinya”.

(Perawi: Aisyah ra., derajat hadits: di riwayatkan oleh Hammad bin Zaid dari Abi Ayyub dari Qilaabah dengan Mursal, sumber: ilal kabier, hal/no: 156).

Yang di maksud dalam hadits tersebut adalah masalah hati sebagaiamana yang telah di tafsirkan oleh Abi Daud.

Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah: cinta dan kasih sayang sebagaimana yang telah di tafsirkan oleh Imam Tirmidzi, artinya: bahwasanya pembagian secara kongkrit dan nyata telah di lakukan oleh Rasulullah saw. dengan sesempurna mungkin karena hal ini sesuai dengan kesanggupan beliau, akan tetapi hati berada di tangan Allah Swt., sehingga cintanya terhadap Aisyah ra. lebih besar di bandingkan kepada yang lain, dan hal ini di luar dari keinginan dan kemampuan beliau saw.

Bersamaan dengan hal tersebut beliau tetap memohon kepada Allah Swt. Agar beliau tidak di cela oleh Allah Swt. Terhadap apa yang beliau tidak miliki, sementara urusan hati tidak di haruskan untuk berlaku adil di dalamnya, akan tetapi yang di wajibkan untuk berlaku adil di dalamnya ialah dalam hal pembagian jatah malam dan nafkah, Allah Swt. Berfirman:

” Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka ”. (QS. Al Mu’minuun, ayat: 60).

Diantara dalil yang menjelaskan bahwasanya hal adil terhadap isteri-isteri adalah suatu hal yang sangat besar dan penting, Rasulullah saw. menjelaskan dalam hadits yang lain beliau bersabda:

“ Barang siapa yang mempunyai dua orang isteri sementara dia lebih memperhatikan salah satunya saja, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan badan yang miring”.

(perawi: Abu hurairah ra. Kesimpulan derajat hadits: mustaqim, Muhaddits: Ibn ‘Addy, sumber: al kaamil fi ddhua’afa, hal/no: 8/446).

Mengenai pergaulan Rasulullah saw. (terhadap isteri-isterinya) hal ini adalah suatu teladan bagi seluruh mukmin, dan mereka wajib untuk mengetahuinya dan meneladaninya, Allah Swt. Berfirman:

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah saw. itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzaab, ayat: 21).

Sebab perbuatan Rasulullah saw. sama halnya dengan perkataan dan pengakuan beliau, sebagai bentuk syari’at dan petunjuk bagi mereka, dan suatu keharusan bagi umat islam untuk mengikuti beliau saw. selama perbuatan tersebut tidak di khususkan buat diri beliau saw. saja.

Rasululullah saw. bersama keluarganya[/b]

Oleh: Syekh Faragh Hady

Orang yang memperhatikan kehidupan Muhammad saw. secara khusus, maka dia akan takjub karena beliau berasal dari lingkungan padang pasir, pegununungan yang keras atau pedalaman yang pada umumnya penduduknya tidak berpendidikan dan anarchi, akan tetapi beliau meraih keberhasilan yang sangat menakjubkan dalam menata keluarganya yang tidak ada bandingannya.

Muhammad saw. memberikan kasih sayang kepada keluarganya, memberikan kehangatan bagi mereka, dan beliau mempunyai perasaan yang sangat halus.

Beliau sangat memprioritaskan kasih sayangnya terhadap keluarganya, beliau bercanda dan bersenda gurau dengan isteri-isterinya dan memberikan kehangatan bagi mereka, salah satu contoh yang indah dari beliau yang menumbuhkan rasa cinta di hati isterinya Aisyah ra. Terhadapnya, yaitu beliau saw. sengaja meletakkan mulutnya di tempat yang sama pada bejana yang telah di minum oleh isterinya Aisyah ra. Hal ini membuat hati Aisyah ra. Bahagia dan membangkitkan perasaannya. Contoh seperti ini banyak terjadi dalam kehidupan Rasulullah saw.

Sebagaimana juga Muhammad saw. mencontohkan cinta yang tulus dalam keluarga yang bahagia, beliau tidak pernah melupakan isterinya Khadijah ra. Yang telah meninggal, bahkan beliau senantiasa menyebut kemuliaannya serta berbuat baik terhadap kerabatnya, beliau akan marah jika ada yang menjelek-jelekkanya di depannya, di riwayatkan oleh Abu Nujaih tentang kisah permintaan izin Halah binti Khuwailid saudari Khadijah (Aisyah berkata: Maka aku mengatakan: “ Allah Swt. Telah menggantikan untukmu perempuan yang tua –yang dia maksud Khadijah- dengan seorang gadis muda, lalu beliau marah, sehingga aku mengatakan: “ Demi yang telah mengutusmu denga Hak, saya tidak akan menyebut dia (Khadijah ra. ). Setelah ini kecuali dengan baik”.

Bagaimanapun letih dan beratnya tanggung jawab Muhammad saw. sebagai pemimipin Negara, komandan tentara dan pemandu pikiran dan akhlak terhadap umatnya akan tetapi beliau tidak pernah lupa untuk memberikan kasih sayang terhadap keluarganya, beliau membantu isteri-isterinya dalam mengerjakan urusan rumah, agar mereka merasakan kedudukan seorang isteri atau perempuan serta derajatnya yang tinggi dalam agamanya yaitu islam.

Dari al Aswad beliau berkata: “ aku bertanya kepada Aisyah ra.: “ apa yang di kerjakan Rasulullah saw. terhada keluarganya? Aisyah menjawab: “ beliau membantu keluarganya (isteri-isterinya) dalam mengerjakan pekerjaannya, jika telah masuk waktu shalat maka beliau berangkat untuk shalat”. (HR. Bukhary).

Rasulullah saw. bersikap lemah lembut kepada isteri-isterinya

Diantara sikap bergaul dengan lemah lembut kepada isteri, ialah dengan memanggil nama mereka dengan nama yang paling di sukainya, atau dengan mentashgirkan atau memendekkan namanya agar penyebutannya lebih indah, Rasulullah saw. Memanggil Aisyah ra. Dengan panggilan: wahai Aisy, jibril datang menyampaikan salam untukmu, Aisyah menjawab : salam balik atasnya Rahmat Allah dan berkah-Nya, engkau melihat apa yang aku tidak lihat, beliau maksud Rasulullah saw. (Hadits riwayat Aisyah, Muhaddits Muslim (muttafaq 'alaih), hadits shahih, terdapat di dalam kitab: al Musnad as Shahih , hal: 2447).

Beliau juga memanggil Aisyah dengan sebutan: 'ya Humaira' yang artinya " wahai yang kemerah-merahan".

Kata humaira' adalah bentuk tashgir (pengurangan atau diminutif) hamra' yang berarti putih, sesuai yang dikatakan oleh Ibn Katsir dalam kitab anNihayah, Imam Az zahabi mengatakan : kata al hamra' dalam bahasa orang hijaz berarti putih yang agak kemerah-merahan, hal ini jarang pada mereka. Oleh karena itu Rasulullah saw. Bersikap lemah lembut kepada Aisyah dan beliau memanggilnya dengan nama-nama yang di pendekkan namun terdengar indah. Imam Muslim meriwayatkan dari Hadits Aisyah tentang puasa , Aisyah berkata: Rasulullah saw. Mencium salah satu isterinya ketika beliau sedang berpuasa , kemudian dia (isterinya) tertawa". (HR. Muslim, shahih, sumber: Musnad shahih hal: 1106).

Dalam hadits yang lain yang di riwayatkan oleh Aisyah, beliau berkata: Rasulullah saw. Bersabda: " Sesungguhnya diantara kesempurnaan iman orang-orang Mukmin ialah mereka yang paling bagus akhlaknya dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya". (HR. Tirmidzi, shahih namun tidak diketahui apakah Abi kilabah mendengarnya dari Aisyah, sumber: Sunan Tirmidzi hal: 2612).

Dari hadits-hadits ini kita bisa memperhatikan dengan jelas perhatian Rasulullah saw. Terhadap isteri-isterinya, beliau bergaul dengan mereka dengan baik, salah satu contohnya beliau bergaul dengan Aisyah dengan pergaulan yang baik.

Diantara contoh kasih sayang, senda gurau terhadap keluarga ialah memberikan makanan, dalam satu riwayat di terangkan: " Rasulullah saw. Datang berziarah kepada saya (yang di maksud di sini adalah Sa'ad bin Abi Waqqash) ketika saya berada di mekkah, beliau tidak senang meninggal di tempat di mana beliau berhijrah, beliau bersabda: (semoga Allah merahmati Ibn Afra'), saya mengatakan : Wahai Rasulullah, apakah saya boleh mewasiatkan seluruh hartaku? Beliau menjawab: jangan, saya bertanya: setengahnya?, beliau menjawab: jangan, saya bertanya: sepertiga? , beliau menjawab: (maka sepertiga dan sepertiga itu banyak, sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya adalah lebih baik dari pada engkau tinggalkan mereka dalan keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang-orang, dan sesungguhnya apapun yang engkau nafkahkan adalah termasuk sedekah, walaupun itu hanya sesuap nasi yang engkau suapkan kemulut isterimu, semoga Allah mengangkat derajatmu, lalu setiap orang akan mengambil manfaat dari kamu ….) pada waktu itu beliau masih anak-anak. (di riwayatkan oleh Sa'ad bin Abi waqqash, hadits sahih, al muhaddits Bukhary, sumber: al jaami' sshahih, hal: 2742).

Walaupun hanya sesuap nasi yang anda suapkan kemulut isteri anda, hal itu akan di nilai sebagai sedekah, bukan hanya sekedar usaha hati,atau bergaul dengan bagus terhadap isteri-isteri, namun semua hal tersebut akan di balas dengan nilai sedekah oleh Allah Swt.

Oleh karena itu di antara sikap kasih sayang terhadap isteri ialah memberi mereka makan, berapa banyak isteri karena hal semacam ini dia menjadi simpatik, saya ingin bertanya kepada anda wahai saudaraku, wahai kaum pria…apa yang membebani anda melakukan hal tersebut? Tidak ada, kecuali mengikuti teladan yang bagus , mencari pahala, bergaul dengan baik dan untuk membangun jiwa. Bergaul dengan baik yang di sertai kasih sayang adalah suatu hal yang mana syariat memerintahkan anda untuk melakukannya yang akan menimbulkan rasa kasih sayang di hati.

Kita banyak membaca mengenai sejarah Rasulullah saw. Dalam berbagai bidang di antaranya bidang pendidikan, iman, politik, militer atau ekonomi…namun sedikit kita temukan mengenai sejarah Rasulullah saw. Di rumahnya dan cara-cara interaksi beliau dengan para isterinya. Sesungguhnya orang yang secara cermat mengamati sejarah Rasulullah saw. Dalam hal hubungan keluarga beliau dia akan menemukan bahwasanya di sana terdapat banyak makna, yang kita sangat membutuhkannya di saat-saat sekarang ini, dan jika kita mengaplikasikan hal tersebut maka akan tercipta hubungan suami istri yang harmonis atau rumah tangga yang harmonis. Kami akan memberikan beberapa contoh dalam artikel ini mengenai sikap hormat Rasulullah saw. Terhadap perasaan isteri-isterinya dan penjelasan bagaimana besar rasa cinta beliau terhadap isteri-isterinya.

Seorang suami mempunyai tabiat atau cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaannya yang berbeda dengan cara dan tabiat seorang isteri. Karena seorang istri jika ingin mengungkapkan perasaannya maka dia akan mengungkapkannya dengan mengatakan "saya mencintai kamu" atau "saya rindu kepadamu" …"saya sangat membutuhkanmu"..dll. kalimat-kalimat seperti ini sering sekali di ucapkan oleh seorang isteri kepada suaminya. Akan tetapi seorang suami mempunyai cara tersendiri ketika ingin mengungkapkan perasaannya maka dia mengungkapkannya melalui perbuatan sedikit sekali yang mengungkapkannya dengan perkataan. Jika seorang suami ingin mengabarkan kepada isterinya bahwa dia mencintainya, maka dia akan membeli apa yang di inginkan sang isteri atau membeli beberapa makanan dan minuman atau barang-barang mewah…inilah praktek seorang suami dalam mengungkapkan rasa cintanya.

Hal seperti ini adalah suatu cara yang berlainan dengan cara yang di lakukan Rasulullah saw.karena Rasulullah saw. Mengungkapkan cinta dan kasih sayangnya melalui perkataan kepada Aisyah ra. Hal ini berarti beliau bersikap lemah lembut kepada isterinya dan memberikan kepada isteri hal yang sangat ingin ia dengarkan dari suaminya secara langsung , hal ini adalah suatu posisi yang tinggi dalam hal interaksi antar suami isteri, Ibn Asaakir meriwayatkan dari Aisyah ra. Bahwasanya Rasulullah saw. Berkata kepadanya: " apakah engkau rela menjadi isteriku dunia akhirat? Beliau menjawab: ya aku rela. Lalu Rasulullah saw. Berkata: engkau adalah isteri saya dunia dan akhirat". (perawi: Aisyah, hadits shahih, al muhaddits al bany, sumber: silsilatus sahih hal: 2255).

Akan bagaimanakah jiwa dan perasaan Aisyah ra. Ketika beliau mendengar kalimat-kalimat tersebut yang akan memberinya rasa aman dengan cinta dan kasih sayang dunia akhirat?............

Beberapa buku menerangkan sikap hormat orang barat terhadap isterinya. Seperti seorang suami membukakan pintu mobil untuk isterinya, secara dzahir hal ini adalah bentuk penghormatan, akan tetapi di sisi lain para pengamat mengungkapkan bahwasanya sebenarnya mereka itu menghina dan tidak menghormat perempuan. Kita sebagai orang muslim tidak mempunyai pengadilan pertentangan antara suami dan isteri, akan tetapi setiap dari keduanya saling melengkapi, oleh karena itu sikap saling menghormati di tuntut dari kedua pasangan suami isteri, kami akan memberikan contoh dari Rasulullah saw. Ketika beliau di kungjungi oleh isterinya Shafiyah dan beliau sedang melakukan I'tikaaf di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan. Shafiyah ngobrol bersama dengan Rasulullah saw. Setelah itu beliau pamit pulang, Rasulullah saw.pun Berdiri lalu mengantarnya sampai kepintu, dalam riwayat yang lain beliau berkata kepadanya: " jangan terlalu cepat-cepat supaya saya bisa mengantarmu" , rumah Shafiyah berada di Dar usamah, Rasulullah saw.pun keluar mengantarnya, lalu beliau bertemu dengan dua orang dari Anshar, keduanya memandang ke arah Rasulullah saw. Lalu melintas, kemudian Rasulullah saw. Berkata kepada kedua orang tersebut: " silahkan kesini dia ini adalah Shafiyah binti Hayy ", kemudian keduanya berkata: " Maha Suci Allah ya Rasulullah, Rasulullah saw. Bersabda: Sesungguhnya Syaithon mengalir pada diri manusia seperti mengalirnya darah, dan saya khawatir hal tersebut terjadi pada diri kalian berdua ". (perawi: Shafiyah binti Hayy, hadits shahih, al muhaddits: Imam Bukhary, sumber: al jaami' shahih musnad hal: 2038).

Oleh karna itu kami berharap semoga tercipta sikap saling menghormati dalam kehidupan rumah tangga, karena sikap saling menghormati adalah suatu rahasia terciptanya rasa kasih sayang sehingga menghasilkan rumah tangga yang sakinah.

Alangkah indahnya kehidupan berumah tangga jika suami dan isteri saling menghormati? Dan kita sangat butuh untuk membuka halaman-halaman sejarah kehidupan Rasulullah saw. Dan islam agar kita bisa menemukan teori-teori yang bagus dalam hal rumah tangga.

Muhammad saw. seorang yang benar dan adil

Oleh: Syekh faragh hady

Muhammad saw.adalah seorang yang senang dengan kebenaran dan keadilan dan memutuskan suatu hukum dengannya, beliau tegas dalam menegakkan kebenaran, beliau tidak berbuat baik terhadap seseorang karena pangkatnya, hartanya atau nasabnya, bahkan yang lemah akan menjadi kuat di sisinya dan memperoleh haknya sementara yang kuat akan menjadi lemah sehingga dia mengembalikan hak orang lain.

Beliau sangat adil dan berpegang teguh dengan kebenaran beliau tidak membela seseorang walaupun dia adalah termasuk orang-orang yang di cintainya, pada suatu ketika seorang perempuan dari kalangan bangsawan yang di hormati di kaumnya telah mencuri dan ia harus di kenakan sanksi karena kejahatannya tersebut, maka keluarganyapun berangkat kepada seseorang dari pengikut Muhammad saw. –dan orang tersebut termasuk orang yang sangat di sayanginya- untuk menjadi penengah bagi mereka agar perempuan tersebut terbebas dari hukuman, maka orang tersebut berangkat dan memaparkan kepada Muhammad saw. mengenai hal yang terjadi, lantas Muhammad saw. sangat marah mengenai usaha yang di lakukan orang tersebut karena telah melanggar kehormatan keadilan setelah dia mengenal islam, sekalipun orang yang datang tersebut adalah termasuk orang yang di sayanginya.

Ketika datang Usamah bin Zaid mengusulkan agar diberikan keringanan hukuman bagi seorang perempuan dari Bani Mahzum yang mencuri, padahal Rasulullah SAW bermaksud untuk memotong tangannya. Rasulullah bersabda kepada Usamah: “Apakah Anda bermaksud hendak meringankan (membebaskan) hukuman terhadap seorang yang telah menjadi ketentuan Allah, Hai Usamah? Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti akan kupotong tangannya.” (HR. Bukhari, Muslim)

Begitulah Rasulullah saw meletakkan dasar hukum keadilan ..................................

Washalli llahumma 'ala sayyidina Muhammad wa'ala aalihi washahbihi wasallam tasliman katsiran..


Sumber :Answering-ff.org

Menjawab tuduhan Soal Allah Berkuasa Menyesatkan Manusia

Di beberapa Forum Diskusi Keagamaan banyak Misionaris yang menyoal masalah Allah menyesatkan Manusia.bagi mereka Bahwa itu tidak mungkin dilakukan Oleh Tuhan ,karena dalam Pandangan mereka Tuhan adalah Maha Baik maka tidak mungking melakukan hal hal yang tidak baik.

Untuk lebih jelasnya kita lihat beberapa Ayat Al Qur’an yang menyampaikan Allah berkuasa Menyesatkan orang orang yang dikehendakinya

1.Allah Berkuasa atas segala sesuatu,berkuasa memberi petunjuk orang orang yang dipilih-Nya maupun menyesatkan orang-orang tertentu.

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْلاَ أُنزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِّن رَّبِّهِ قُلْ إِنَّ اللّهَ يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ

audio[13:27] Orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mu’jizat) dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkansiapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

audio[14:4] Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاءُ

mengenai menyesatkan ini didalam Terjemahan Depag,penerjemah memberikan foot note

“Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah.”

setidaknya siapa yang disesatkan ada ayat Al Qur’an yang menyebut secara spesifik,yaitu orang yang Zalim.

[14:27] Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat

dan kemudian klo dikaitkan dengan penciptaan Iblis/ Syetan,banyak selali ayat yang mengingatkan supaya Manusia jangan mengikuti langkah-langkah Syetan.
bahkan didalam Al qur’an kisah pembangkangan Iblis diulang sebanyak 6 kali

Iblis adalah salah satu contoh kongkrit tentang makhluk yang disesatkan Oleh Allah disebabkan kezalimannya sendiri,yaitu menolak bersikap tunduk dan patuh terhadap Perintah Allah disebabkan oleh kesombongannya yang lebih mengedepankan Asal usul.

jadi sangat jelas sekali bahwa makhluk Allah yang disesatkan tersebut diakibatkan oleh ulah mereka sendiri yang bersikap Zalim

Bagaimana menurut Alkitab,apakah Allah tidak berkuasa Menyesatkan Manusia?

mengenai hal ini ada uraian menarik dari salah satu teman di Forum Swaramuslim,Yaitu Jones yang mencoba menguraikan masalah ini

Menurut Kitab Job (Ayub)

Ayub 12:24 Dia menyebabkan para pemimpin dunia kehilangan akal????, dan membuat mereka tersesat???? di padang belantara??? yang tidak ada jalannya. TB

Dilalukan-Nya hati dari dalam penghulu-penghulu di atas bumi; disesatkan-Nya mereka itu di gurun???? yang tiada jalannya. TL

12:24 He taketh away the heart of the chief of the people of the earth, and causeth them to wander in a wilderness where there is no way. KJV

He changeth the heart of the princes of the people of the earth, and deceiveth them that they walk in vain where there is no way. Douay-Rheims

Terjemahan mana yang benar?

Check hebrew bible

24 ‏מֵסִ֗יר לֵ֭ב רָאשֵׁ֣י עַם־הָאָ֑רֶץ וַ֝יַּתְעֵ֗ם בְּתֹ֣הוּ לֹא־דָֽרֶךְ׃

mecir lebb ra`s ‘am ha aretz wa yata`em be tohuw lo` dareka.

mecir = (dia) pencabut

lebb = hati (pl)

ra’sy = kepala (pl)

‘am = penduduk (ingat istilah ra`is ‘aam)

ha aretz = bumi

wa = dan

yata’em dia (masc.) menyesatkan mereka

ta’ berasal dari akar kata ta’ah a primitive root; to vacillate, i.e. reel or stray (literally or figuratively); also causative of both:–(cause to) go astray, deceive, dissemble, (cause to, make to) err, pant, seduce, (make to) stagger, (cause to) wander, be out of the way.

be = dengan/ dalam keadaan

tohuw = kekacauan/ kebingungan
from an unused root meaning to lie waste; a desolation (of surface), i.e. desert; figuratively, a worthless thing; adverbially, in vain:–confusion, empty place, without form, nothing, (thing of) nought, vain, vanity, waste, wilderness.

bandingkan arti tohuw dengan genesis (kejadian 1:2)

2 wa ha aretz hayatah tohuw wa bohu ……etc

1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong;……………dst.

lo` = tidak

dareka = jalan/arah
from ‘darak’; a road (as trodden); figuratively, a course of life or mode of action, often adverb:–along, away, because of, + by, conversation, custom, (east-)ward, journey, manner, passenger, through, toward, (high-) (path-)way(-side), whither(-soever)

Berdasarkan lexicon diatas, terjemahan literal Job 12:24 adalah:

Dia pencabut hati para pemimpin bumi dan Dia menyesatkan mereka dalam keadaan kacau tidak berarah.

Ternyata statement yata`em be tohuw lo` dareka- Dia menyesatkan mereka dalam keadaan kacau tidak berarah.. juga tercatat dalam kitab Psalm (Mazmur) 107:40

sofeka buz ‘al nadibim wa yata’em be tohuw lo’ dareka:

107:40 Ditumpahkan-Nya kehinaan ke atas orang-orang terkemuka, dan dibuat-Nya mereka mengembara????? di padang tandus???? yang tiada jalan; TB

107:40 Maka dicurahkan-Nya kehinaan atas raja-raja, disesatkan-Nya mereka itu di tempat sunyi senyap???? yang tiada jalannya. TL

Check juga septuagint

12:24 διαλλασσων καρδιας αρχοντων γης επλανησεν δε αυτους οδω η ουκ ηδεισαν

Diallasson kardias archonton ges eplanesen de autous odo e ouk edeisan.

επλανησεν eplanesen verb – aorist active indicative – third person singular = dia menyesatkan

lemma planao: planao from plane; to (properly, cause to) roam (from safety, truth, or virtue):–go astray, deceive, err, seduce, wander, be out of the way.

plane feminine of – planos (as abstractly); objectively, fraudulence; subjectively, a straying from orthodoxy or piety:–deceit, to deceive, delusion, error.

planos of uncertain affinity; roving (as a tramp), i.e. (by implication) an impostor or misleader; –deceiver, seducing.

de a primary particle (adversative or continuative); but, and, etc.:–also, and, but, moreover, now (often unexpressed in English).

autous = contracted for heautou; self (in some oblique case or reflexively, relation):–her (own), (of) him(-self), his (own), of it, thee, their (own), them(-selves), they. = mereka

odo = οδω noun – dative singular feminine
hodos : a road; by implication, a progress (the route, act or distance); figuratively, a mode or means — journey, (high-)way.

e a primary particle of distinction between two connected terms; disjunctive, or; comparative, than:–and, but (either), (n-)either, except it be, (n-)or (else), rather, save, than, that, what, yea.

ouk = tidak

edeisan = mengetahui ηδεισαν verb – pluperfect active indicative – third person
eido i’-do: to see; by implication, (in the perfect tense only) to know
a primary verb; used only in certain past tenses, the others being borrowed from the equivalent – optanomai and orao ; properly, to see (literally or figuratively); by implication, (in the perfect tense only) to know:–be aware, behold, X can (+ not tell), consider, (have) know(-ledge), look (on), perceive, see, be sure, tell, understand, wish, wot. Compare – optanomai .

Terjemahan Septuagint Job 12:24 (bold) berdasarkan lexicon diatas adalah:

…….Ia (theos) menyesatkan mereka (dari) jalan, tanpa arah.

Juga Psalm 107(106):40 versi Septuagint……………….. επλανησεν αυτους εν αβατω και ουχ οδω

terjemahan literal: …….Dia menyesatkan mereka dalam kekeringan dan tanpa arah.

Apakah menurut bible Tuhan menyesatkan para pemimpin bumi dalam arti literal, hanya sekedar kesasar?

Apa artinya dareka?? (lihat diatas).

Ayat lain

למה תתענו יהוה מדרכיך תקשיח לבנו מיראתך שוב למען עבדיך שבטי נחלתך׃

Isaiah 63:17 lammah tata’enuw yahweh mi darakeyka taqasicha libenuw mi yiri`ateka sub lema’an ‘abadeyka sibatei nachalateka:

63:17 Ya TUHAN, mengapa Engkau biarkan kami sesat???? dari jalan-Mu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepada-Mu? Kembalilah oleh karena hamba-hamba-Mu, oleh karena suku-suku milik kepunyaan-Mu!

tata’enuw = engkau menyesatkan kami

darakeyka = jalanmu

Terjmahan literal Isaiah 63:17:
63:17 Ya TUHAN, mengapa Engkau menyesatkan kami dari jalan-Mu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepada-Mu? Kembalilah oleh karena hamba-hamba-Mu, oleh karena suku-suku milik kepunyaan-Mu!

Maka berdasarkan semua diatas, ternyata menurut bible Tuhan memang menyesatkan para pemimpin bumi yang disebut dalam Job 12:24 dan juga manusia dari jalan Tuhan.

Check juga PB

2:11 και δια τουτο πεμψει αυτοις ο θεος ενεργειαν πλανης εις το πιστευσαι αυτους τω ψευδει

Kai dia touto pempsei autois o theos energeian planes eis to pisteusai autois to pseudei

2 thes 2:11 Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan yang besar (energeian planes) atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta,

Check juga ayat ini

Psa 58:3 (58-4) Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.

Siapakah yang menetapkan pendusta sesat sejak dari dalam kandungan?

Kesimpulan

berdasarkan Uraian diatas maka sudah sangat Jelas bahwa Menurut Al Qur’an maupun alkitab yang diakui kebenaran isinya oleh para Misionaris,Bahwa Allah berkuasa Menyesatkan Manusia.

kalau masih ada Misionaris Kristen yang masih mempersoalkan tentang Kuasa Allah yang menyesatkan Manusia maka

1. Kalau ia tahu ayat ayat di alkitab Bahwa Allah juga Menyesatkan orang orang tertentu maka Misionaris yang mempersoalkan tentang Allah yang berkuasa Menyesatkan Manusia adalah didorong oleh sikap iri dan kedengkian mereka terhadap Islam

2. kalau ia tidak tahu terhadap ayat ayat tersebut disebabkan minimnya pengetahuan mereka terhadap kitab mereka sendiri maka gugatan mereka didasari oleh kebodohan mereka sendiri