Menjawab Tuduhan Soal Qs Nuh :16 tentang Bulan Bercahay

Oleh :Hanina Syahidah 
بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Para Penggugat dan Penghujat Islam sering mempermasalahkan QS.Nuh :16 sebagai ayat Alqur’an yg tidak ilmiah karena mengatakan bulan bercahaya (dalam persepsi mereka bercahaya artinya udah pasti punya cahaya sendiri kayak petromak)

Bagaimana Alqur’an menjelaskan bahwa cahaya bulan hanya pantulan dari cahaya Matahari, sedangkan Matahari menghasilkan cahaya sendiri??? Untuk memahami ini ada baiknya kita jangan hanya berkutat pada satu ayat, pelajarilah Alqur’an secara keseluruhan jangan sepotong-sepotong dan yg paling penting pelajari tinjauan nahwu shorof bahasa Arabnya bukan sekedar melototin terjemahannya


Firman Allah subhanahuwata’ala :

وَجَعَلَ ٱلْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًۭا وَجَعَلَ ٱلشَّمْسَ سِرَاجًۭا
“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya (Nuron) dan menjadikan matahari sebagai pelita (Siroja)?” (QS.Nuh:16)

Kita coba perhatikan juga ayat-ayat senada:
تَبَارَكَ ٱلَّذِى جَعَلَ فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًۭا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَٰجًۭا وَقَمَرًۭا مُّنِيرًۭا

Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanyamatahari bercahaya (sirojan) dan bulan yang meminjam cahayanya (Muniraa)”.(QS. Furqan : 61 )


هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلشَّمْسَ ضِيَآءًۭ وَٱلْقَمَرَ نُورًۭا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍۢ يَعْلَمُونَ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar (dhiya a) dan bulan bercahaya (Nuron) dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS.Yunus:5)

Imam mufassir Al Baidhawi menafsiri ayat ini :
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (QS. Yunus : 5) setelah beliau mejelaskan gambaran matahari dan bulan, “Allah swt memberikan pengetahuan kepada kita, bahwasanya matahari bersinar dengan dirinya sendiri,sementara bulan bersinar karena menerima pantulan sinar matahari dan menyerapnya.”

Baca juga ayat ini:

وَجَعَلْنَا سِرَاجًۭا وَهَّاجًۭا
“dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari),” (QS.An-Naba’:13)

Dalam Al-Qur ‘an Matahari “As-Syams” (ٱلسَّمَآ)  selalu menggunakan  kata “siroja” (سِرَاجًۭا)  yang artinya obor , “dhiya a”(ضِيَآءًۭ) artinya cahaya kemuliaan  atau “wahaj” (وَهَّاجًۭا ) yang berarti lampu yang hidup/terang.

Sedangkan untuk Bulan “Qomar” (قَمَرًۭ ) menggunakan kata “Nur” (نُورًۭ)  yang artinya pantulan cahaya, “Munira” (مُّنِيرًۭا ) yang artinya cahaya yang dipinjamkan. Tidak mungkin Bulan (Qomar) menggunakan kata  “siroja”  atau , “dhiya a” atau “wahaj” selalu menggunakan kata “Nur” atau “Munira”.

Selanjutnya baca juga ayat ini:

ٱلنَّجْمُ ٱلثَّاقِبُ

 “(yaitu) bintang (An-Najm) yang cahayanya menembus(Ats-Tsaqib)”,(QS.At-Thariq :3)

Kata Arab untuk Bintang adalah An-Najm (ٱلنَّجْمُ)  dan cahayanya digambarkan dengan Tsaqib (ٱلثَّاقِبُ), Dia menembus kegelapan dan menghabiskan diri nya sendiri. Jadi, bintang adalah benda angkasa yang memiliki cahayanya sendiri. Dan salah satu dari bintang adalah Matahari, berarti Mataharipun punya cahaya sendiri sama seperti bintang lainnya

 Al-Qur’an membedakan bahwa bulan bercahaya (dari pantulan) dan matahari = pelita (sumber cahaya). Karena Al Qur’an bukan ucapan manusia tapi firman Allah. Matahari & Bulan, keduanya sama-sama menerangi, hanya saja matahari selain menerangi ia juga membawa hawa panas serta menghasilkan cahaya sendiri, adapun bulan memberi cahaya yang tidak ada panasnya dan hanya merupakan pantulan dari matahari. Karena sesuatu tidak akan dikatakan sebagai siroj kecuali selalu disertai dengan panas. Dan yang namanya benda yg bercahaya seperti bulan belum tentu benda itu adalah sumber cahaya, bisa jadi cahayanya berasal dari pantulan cahaya benda lainnya, itu sebabnya kenapa bulan selalu identik dengan Nur bukan Siroj

Adapun ahli falaq (perbintangan) atau yang mengenali dengan dalam tabiat matahari dan bulan, mereka memahami dua gambaran di atas, apabila mereka tahu bahasa arab. Sesungguhnya ayat-ayat di atas memberikan penjelasan bahwa matahari memberikan penerangan dari dalam dirinya sendiri, adapun bulan cahayanya adalah hasil pantulan sinar yang ditangkapnya, ini adalah perbedaan kata yang sangat detail dan teliti, kita tidak menyebut kamar kita dengan siraj karena ia memberikan cahaya atau sinar, tapi kita katakan cahaya kamar adalah pancaran cahaya lampu yang menyinari dari dalam dirinya sendiri, siraj memancarkan sinar dan cahaya dari dirinya sendiri. Jadi tuduhan bahwa QS.Nuh:16 tidak ilmiah adalah SALAH BESAR!!! Justru sangat ilmiah. Itu cuma pemikiran kafir yg sama sekali tidak mengerti tata bahasa Arab hanya bermodalkan terjemahan dari situs-situs penghujat di mbah Google & kedengkian di dalam hati

Tahukah anda apa kata Alkitab tentang Matahari & Bulan? Ternyata menurut Kitab Kejadian dikatakan bahwa Matahari & Bulan adalah sama-sama penerang (benda langit yg punya cahaya sendiri)

Kejadian 1

16 Maka Allah menjadikan KEDUA BENDA PENERANG YANG BESAR ITU, yakni YANG LEBIH BESAR UNTUK MENGUASAI SIANG dan YANG LEBIH KECIL UNTUK MENGUASAI MALAM, dan menjadikan juga bintang-bintang.

Perhatikan kalimat yg saya Capslock & Bold di atas!!!

Ada 2 benda yang sama-sama penerang,:
1. yang lebih besar untuk menguasai siang => Matahari
2. yang lebih kecil untuk menguasai malam => Bulan

Disini tidak ada perbedaan mana yg mempunyai cahaya sendiri dan mana yg bercahaya karena mendapat pantulan, semuanya dikatakan PENERANG yg berarti sama-sama menghasilkan cahaya sendiri, sedangkan kita tahu menurut science Bulan tidak menghasilkan cahaya sendiri tapi mendapat pantulan dari matahari.

Jadi jelas kitab manakah yg tidak ilmiah!!!

Wallhu'alam bishshowab...