Menjawab Seputar Pernikahan Rasulullah dengan Shafiyyah

 Oleh :Muhammad Rizki

Salah satu gugatan dan hujatan para Kufar adalah terkait denga Pernikahan Rasulullah Shollallahu alaihi wassalam dengan Shafiyyah binti Huyai. dan Gugatan dan hujatan tersebut bahwa nabi SAW melakukan perzinahan/pemerkosaan sebelum ia menikahi Shafiyyah binti Huyai.

“Safiyah dilahirkan di Medina. Ia berasal dari suku Yahudi Banu I-Nadir. Ketika suku ini diusir dari Medina tahun 4 AH, Huyai adalah salah… satu dari orang-orang yang menetap di wilayah subur Khaibar bersama Kinana Ibn al-Rabi’ yang menikahi Safiyah sesaat sebelum Muslim menyerang Khaibar. Ia berumur 17 tahun. Sebelumnya ia adalah istri dari Sallam Ibn Mishkam yang menceraikannya. Disinilah, satu mil dari Khaibar, Nabi menikahi Safiyah. Dia dipelihara dan dirawat untuk Nabi oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas Ibn Malik. Mereka menginap disana. Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda Nabi sepanjang malam. Pada saat subuh, Nabi yang melihat Abu Ayyub berjalan hilir mudik itupun bertanya kepadanya apa maksudnya, dan ia menjawab: “Saya khawatir akan engkau karena  perempuan muda itu. Engkau telah membunuh ayahnya, suaminya, dan banyak dari keluarganya, dan dia juga masih seorang kafir. Saya sungguh khawatir terjadi apa-apa karena dia. Nabipun mendoakan Abu Ayyub al-Ansari (Ibn Hisham, p.766). Safiyah telah meminta kepada Nabi untuk menunggu hingga ia telah lebih menjauh dari Khaibar. “Kenapa?” tanya Nabi. “Saya mengkhawatirkan engkau karena orang-orang Yahudi yang masih dekat dengan Khaibar!”

JAWABAN:

Kisah di atas adalah sebuah ringkasan sejarah tentang pasca penaklukkan Khaibar. Entah dasar dari mana, penuding mengartikan literatur di atas, bahwa nabi SAW memiliki sifat tercela seperti (fitnah mereka terhadap) nabi telah melakukan perzinahan atau bahkan pemerkosaan kepada Shafiyyah sebelum beliau SAW mengambilnya jadi istri. Semoga Allah melaknat (mereka) para pendengki dan penghujat agama yang lurus dan nabi yang mulia ini.
Mari perhatikan kata per kata dari literatur tabaqat yang dijadikan rujukan tersebut, lalu kita sejenak berhenti pada kalimat: